Apa itu Nusyuz ??

Nusyuz adalah tindakan/perilaku seorang isteri yang tidak bersahabat pada suaminya. Istreri yang nusyuz adalah isteri yang tidak lagi menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya. Isteri yang tidak lagi komitmen pada ikatan suci pernikahan. Jika seorang suami melihat ada gejala isterinya hendak nusyuz, hendak menodai ikatan suci pernikahan, maka Al-Qur’an memberikan tuntunan bagaimana seorang suami harus bersikap untuk mengembalikan isterinya ke jalan yang benar, demi menyelamatkan keutuhan rumah tangganya.

“Sebab itu, maka wanita yang saleh ia yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa : 34)

Dalam QS. An-Nisa : 34 , disitu Al-Qur’an memberikan tuntunan melalui 3 tahapan:

  1. Menasihati isteri dengan baik-baik, dengan kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hatinya sehingga dia bias segera kembali ke jalan yang lurus. Sama sekali tidak diperkenankan mencela isteri dengan kata-kata kasar. Baginda Rasulullah melarang hal itu. Kata-kata kasar lebih menyekitkan daripada tusukan pedang.
  2. Jika dengan nasihat tidak juga mempan, Al-Qur’an memberikan jalan kedua, yaitu pisah tempat tidur dengan isteri. Dengan harapan isteri yang mulai nusyuz itu bias merasa dan interospeksi. Seorang isteri yang benar-benar mencintai suaminya dia akan sangat terasa dan mendapatkan teguran jika sang suami tidak mau tidur dengannya. Dengan teguran ini diharapkan isteri kembali salehah. Dan rumah tangga tetap utuh harmonis.
  3. Namun jika ternyata sang isteri memang bebal. Ia tidak mau juga berubah setelah diingatkan dengan dua cara tersebut barulah menggunakan cara ketiga, yaitu memukul.

Yang sering tidak dipahami oleh orang banyak adalah cara memukul yang dikehendaki Al-Qur’an ini. Tidak boleh sembarangan. Suami boleh memukul dengan syarat:

  1. Telah menggunakan dua cara sebelumnya namun tidak mempan. Tidak diperbolehkan langsung main pukul. Isteri salah sedikit main pukul. Ini jauh dari Islam, jauh dari tuntunan Al-Qur’an. Dan Islam tidak bertanggung jawab atas tindakan kelaliman seperti itu.
  2. Tidak boleh memukul muka. Sebab muka seseorang adalah segalanya bagi manusia.
  3. Tidak boleh menyakitkan. Boleh memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan (ghairu mubrah). Para ulama tafsir menjelaskan kriteria ‘ghairu mubrah’ atau tidak menyakitkan yaitu tidak sampai meninggalkan bekas, tidak sampai membuat tulang retak, dan tidak dibagian tubuh yang berbahaya jika terkena pukulan.

Bab Al af’al bag 1

📚 Dars 24

Bismillahirrahmanirrahim

قَالَ الْمُصَنِّفُ رحمه الله تعالى

بَابُ الْأَفْعَالِ : الْأَفْعَالُ ثَلاَثَةٌ : مَاضٍ ،وَمُضَارِعٌ ، وَاَمْرٌ، نَحْوُ : ضَرَبَ وَيَضْرِبُ وَاضْرِبْ ;فَالْمَاضِي مَفْتُوْحُ الآخِرِ أَبَدًا

Berkata Mushannif, yaitu Ibnu Ajurum Ash-Shonhajiy, rahimahullahu Ta’ala, bab tentang fi’il-fi’il

🔶 Fi’il itu ada tiga:

  1. Fi’il madhi
  2. Fiil mudhari
  3. Fiil amr

Contohnya: ضَرَبَ – يَضْرِبُ – اِضْرِبْ

فَالْمَاضِي مَفْتُوْحُ الآخِرِ أَبَدًا

Maka fiil madhi itu difathahkan akhirnya selama-lamanya

الشَّرْحُ :

Penjelasan :

يَنْقَسِمُ الْفِعْلُ إِلَى : مَاضٍ وَ مُضَارِعٍ وَ اَمْرٍ ، فَالْمَاضِي نَحْوُ : ضَرَبَ ،وَ الْمُضَارِعُ نَحْوُ : يَضْرِبُ ، وَ الاَمْرُ نَحْوُ : اِضْرِبْ ،وَ لِكُلِّ فِعْلٍ مِنْ هَذِهِ الْأَفْعَالِ أَحْكَامٌ خَاصَّةٌ بِهِ

Fiil itu terbagi menjadi fiil madhi, fiil mudhari, dan fiil amr.

Maka madhi contohnya:  ضَرَبَ

Dan mudhari, contohnya:  يَضْرِبُ

Dan amr, contohnya:  اِضْرِبْ

Dan bagi setiap fiil ini memiliki hukum² yang khusus.

1⃣ أَوَّلاً : اَلْفِعْلُ الْمَاضِي : حُكْمُهُ : يُبْنَى دَائِمًا،

Fiil madhi itu hukumnya dimabniykan selama²nya.

Artinya fiil madhi dari هو sampai نحن, seluruhnya adalah mabniy. Hanya saja mabniynya ini nanti beda-beda, ada yg mabniynya fathah  (مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ), ada yang  مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ  (mabniy dhammah), ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ (mabniy sukun).

وَ لَهُ ثَلاَثُ حَلاَتٍ :

Dan kondisi mabniynya itu ada tiga keadaan.

🌹 Kondisi yang pertama:

١. يُبْنَى عَلَى الْفَتْحِ

dimabniykan di atas fathah,

Kapan fiil madhi itu dimabniykan atas fathah?

: إِذَا لَمْ يَتَّصِلْ بِهِ شَيْءٌ ،نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى {قَالَ رَبُّكَ}

🌸 Yang pertama apabila tidak bersambung dengannya sesuatu apapun.

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : قَالَ رَبُّكَ  Dalam surat Al Baqarah ayat 30.

Lihat disini, قَالَ Lam-nya jelas-jelas fathah.

Maka kita katakana مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ

🌸 Kemudian yang kedua:

أَوْ اتَّصَلَتْ بِهِ تَاءُ التَّأْنِيْثِ السَّاكِنَةُ

Atau apabila bersambung dengan ta’ ta’nist yang sukun.

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى {قَالَتْ نَمْلَةٌ}

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : قَالَتْ نَمْلَةٌ Ini dalam Surat An Naml ayat 18.

Lihat,  قَالَتْ Ini lam-nya tetap berharakat fathah.

قَالَتْ Makanya kita katakana مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ

🌸 Kemudian yang ketiga

أَوْ اَلِفُ الإِثْنَيْنِ ،

Atau alif mutsanna

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ Ini dalam surat An Naml ayat 15.

Perhatikan..

قَالَا Ini lam-nya bersambung dengan alif mutsanna…

Kalau kita tasrif itu kan,

قَالَ – قَالَا – قَالُوا

Maka قَالَا Ini مَبْنِيٌ عَلَى الفَتحِ

Karena lam-nya itu jelas² fathah.

🌹 Kemudian yang kedua, keadaan dimana fi’il madhi itu dimabniykan atas dhammah

٢ – يُبْنَى عَلَى الضَّمِّ :

Kapan? Hanya pada satu keadaan saja, yaitu:

إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ وَاوُ الجَمَاعَةِ ،

🍀 Apabila bersambung dengan wawu jama’ah

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : { وَقَالُوا سَمِعْنَا } Ini dalam surat Al Baqarah ayat 285

Perhatikan. قَالُوا  Lam-nya ini dhammah, makanya kita katakan  مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ

🌹 Kemudian yang ketiga:

٣- يُبْنَى عَلَى السُّكُوْنِ :

Dimabniykan atas sukun, kapan saja?

إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ تَاءُ الفَاعِلِ ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى : { مَاقُلْتُ لَهُمْ }

🌸 Yang pertama apabila bersambung dengan ta’ fail.

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : مَاقُلْتُ لَهُمْ Ini surat Al Maidah ayat 117

Lihat perhatikan, قُلْتُ لَهُمْ Lam-nya sukun, makanya kita katakan مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

Dan definisi ta’ fail itu ada banyak. Kalau dalam fiil madhi, ta’ fail itu mencakup dari أنت  sampai أنتنّ, bahkan أناnya pun masuk ya. Jadi misalkan kalau نَصَرَ Berarti ta’ failnya itu :

نَصَرْتَ

نَصَرْتُمَا

نَصَرْتُمْ

نَصَرْتِ

نَصَرْتُمَا

نَصَرْتُنَّ

نَصَرْتُ

Pokoknya semua ta’ itu disebut dengan ta’ fail.

Lihat مَاقُلْتُ لَهُمْ

قُلْ Lam-nya sukun makanya kita katakan مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

🌸 Kemudian yang kedua, keadaan yang mengharuskan fiil madhi mabniy atas sukun

أَوْ نَا الفَاعِلِيْنَ ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى : { وَقُلْنَا لَهُمْ }

Atau bersambung dengan نَا fail.

Contohnya firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَقُلْنَا لَهُمْ Ini dalam surat An Nisa ayat 154

قُلْنَا Lihat, sukun lam-nya

🌸 Kemudian yang ketiga,

أَوْ نُوْنُ الإِنَاثِ ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى : { وَقُلْنَ حَاشَ لِلّهِ }

Atau bersambung dengan nun muannats

Contohnya firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَقُلْنَ حَاشَ لِلّهِ

Lihat, قُلْنَ Ini lam-nya sukun, makanya kita katakan  مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ Ini surat Yusuf ayat 31

————————————————–

فَوَاءِدُ وَتَنْبِيْهَاتٌ

Faedah² dan catatan khusus

الفَائِدَةُ الأولَى

1⃣ Faidah yang pertama,

١ـ مِنَ العُلَمَاءِ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّ المَاضِيَ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ فِيْ سَائِرِ أَحْوَالِهِ

Diantara para ulama nahwu ada yang berpendapat bahwasanya fiil madhi itu dimabniykan atas fathah pada seluruh keadaannya.

Tadi di syarah kita lihat, fiil madhi itu ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ ada yang عَلَى الضَمِّ ada yang عَلَى السُّكُونِ.

Tapi ada diantara ulama nahwu yang berpendapat, bahwasanya fiil madhi itu apapun keadaannya, kita bilangnya مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ Alasannya apa?

Disini dikatakan:

لَكِنَّ الفَتْحَ

Akan tetapi fathahnya itu

إِمَّا ظَاهِرٌ كَضَرَبَ،

Adakalanya dzhahir,  nampak, seperti ضَرَبَ Ini kan fathahnya nampak

أَوْ مُقَدَّرٌ لِلتَّعَذُّرِ كَرَمَى،

Atau fathahnya itu ditakdirkan karena udzur, seperti: رَمَى

أَوْ لِلثِّقَلِ كَضَرَبْتُ،

Atau karena berat, seperti  ضَرَبْتُ

Ini kan berat ya, memberikan harakat fathah menjadi ضَرَبَتُ, misalkan. Ini berat disini.

أَوْ لِلْمُنَاسَبَةِ كَضَرَبُوْا

Atau karena untuk menyesuaikan harakat seperti ضَرَبُوْا

Ini kan kalau kita cari tau alasannya, kenapa ضَرَبُوْا Dibaca ضَرَبُوْا Karena menyesuaikan wawunya.

Sebagaimana kalau alif itu sebelumnya fathah, ya’ sebelumnya kasrah, maka wawu sebelumnya dhammah.

Jadi bagi yang berpendapat bahwasanya fiil madhi itu selalu مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ Ini alasannya.

Jadi dia tetap mengatakan مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ Cuma ada yang

🔷 ظَاهِرٌ , ada yang

🔷 التَّعَذُّرِ , ada yang

🔷 الثِّقَلِ , ada yang

🔷 الْمُنَاسَبَة

وَقَدْ سَارَ الْمُصَنِّفُ عَلَى هَذَا المَذْهَبِ كَمَا هُوَ ظَاهِرُ قَوْلِهِ : ( المَاضِيْ مَفْتُوْحُ الآخِرِ أَبَدًا )

Dan sungguh Mushannif, yaitu Ibnu Ajurum Ashshonhaji, pengarang  kitab Jurumiyyah, ia memilih pendapat ini.

Sebagaimana nampak dalam perkataannya  المَاضِيْ مَفْتُوْحُ الآخِرِ أَبَدًا (Fiil madhi itu, difathahkan akhirnya selamanya).

لَكِنَّ الَّذِيْ ذَكَرَنَاهُ  فِيْ الشَرْحِ هُوَ الأَيْسَرُ عَلَى المُبْتَدِئِيْنَ، فَاخْتَرَنَاهُ لِذَالِكَ.

Akan tetapi telah kami sebutkan dalam syarah, maksudnya yang dalam penjelasan bahwasanya fiil madhi itu ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ, ada yang عَلَى الضَمِّ, ada yang عَلَى السُّكُونِ

Ini merupakan pendapat yang paling mudah untuk المُبْتَدِئِيْنَ (Untuk para pemula).

Oleh karena itulah kami memilih pendapat ini.

Yakni, pendapat yang mengatakan bahwa fiil madhi itu ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ, عَلَى الفَتحِ, dan عَلَى السُّكُونِ

Kemudian  الفَائِدَةُ الثَّانِية

2⃣ Faidah yang kedua,

٢ـ ( رَمَوا ، وَدَعَوْا ، وَتَوَاصَوْا )

رَمَوا Ini yang bersambung dengan wawu jamaah

رَمَى –  رَمَيَا –  رَمَوا

دَعَا – دَعَوَا – دَعَوْا

تَوَاصَى – تَوَاصَا – تَوَاصَوْا

أَفْعَالٌ مَاضِيَةٌ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الضَّمِّ المُقَدَّرِ

Adalah fiil madhi, mabniy atas dhammah yang ditakdirkan.

__________________

. يُنْظَرُ جَامِعُ الدُّرُوْسِ (١٦٧/٢).

Silahkan dilihat kitab Jaami’ Durus jilid 2 halaman 167.

__________________

Tadi kan dikatakan kalau fiil madhi bersambung dengan wawu jamaah, maka dia dimabniykan atas dhammah , seperti  قَالُوا

Lalu bagaimana kalau kasusnya seperti

رَمَوا ، وَدَعَوْا ، وَتَوَاصَوْا

Ini kan nampaknya,lihat رَمَوا Mim-nya fathah

دَعَوْا ‘ain-nya fathah

تَوَاصَوْا Shad-nya fathah

Jadi bukannya رَمُوا  , دَعُوْا  , تَوَاصُوْا

Ini menurut pengarang kitab Al-Mumti’ ini,

رَمَوا – دَعَوْا – تَوَاصَوْا

Ini fiil madhi → مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ المُقَدَّرِ

Yang ditakdirkan

——————————————————————

2⃣ ثَانِيًا : الْفِعْلُ الأَمْرُ :

🔶  _Yang kedua : Keadaan Fiil Amr_ 🔶

Jadi tadi sudah dijelaskan keadan fi’il madhi, kalau fiil madhi semua mabniy, tinggal ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ,yang عَلَى الضَمِّ, dan عَلَى السُّكُونِ.

Sekarang fiil amr

ثَانِيًا : الْفِعْلُ الأَمْرُ :

Ini ada suatu musykilah disini, karena fiil amr itu, agak sulit kalau kita membacanya

الْفِعْلُ الأَمْرُ Karena sulit kita menerjemahkan fiil yang amr

Yang tepat insya Allah adalah  فِعْلُ الأَمْرِ  Bukan الْفِعْلُ الأَمْر

قَالَ الْمُصَنِّفُ : وَالأَمْرُ : مَجْزُوْمٌ أَبَدًا

Berkata Mushannif, dan Amr itu dijazmkan selama-lamanya

الشَّرْحُ :

💠 Penjelasan :

فِعْلُ الأَمْرِ  (Fiil amr)

حُكمُهُ : يَكُونُ مَبْنِيًّا دَائِمًا

Sama seperti fiil madhi, fiil amr pun

مَبْنِيًّا دَائِمًا

Dimabniykan selama-lamanya.

وَلَهُ اَرْبَعُ حَالَاتٍ :

Dan fiil amr itu punya 4 keadaan:

1⃣ Yang pertama:

١ـ يُبْنَى عَلَى السُّكُوْنِ

Dimabniykan atas sukun.

Kapan fil amr dimabnikan atas sukun?

: إِذَا كَانَ صَحِيْحَ الآخِرِ وَلَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيءٌ

==> Yang pertama apabila ia merupakan fiil yang shahih akhirnya, artinya bukan fiil mu’tal naqish.

وَلَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيءٌ

Dan tidak bersambung dengan akhiran sesuatu apapun.

أَوِ اتَّصَلَتْ بِهِ نُوْنُ الإِنَاثِ،

==> Atau  bersambung dengan nun muannats

نَحْوُ قَولِهِ تَعاَلَى: وَاذْكُرْ رَبَّكَ

Ini dalam surat Al Kahfi ayat 24

اُذْكُرْ Lihat ra-nya sukun. Maka dikatakan مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

Dan juga firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَقَولِهِ  : وَاذْكُرْنَ مَا يُطْلَى Ini dalam surat Al Ahzab ayat 34

Perhatikan, وَاذْكُرْنَ Ini kan bersambung dengan nun muannats

اُذْكُرْنَ Lihat  ra-nya sukun. Maka kita katakan اُذْكُرْنَ Ini مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

💐 Jadi ada dua keadaan dimana fiil amr

مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

  1. Kalau fiilnya shahih akhirnya dan tidak bersambung dengan sesuatu, contohnya: اُذْكُرْ
  2. Kalau fiil tersebut bersambung dengan nun muannats, contohnya اُذْكُرْنَ

Itu kita bilang mabniy atas sukun.

2⃣ Kemudian keadaan  yang kedua

٢ـ يُبْنَى عَلَى حَذْفِ حَرْفِ العِلَّةِ

Dimabniykan atas membuang huruf illat, kapan?

: إِذَا كَانَ مُعْتَلَّ الآخِرِ،

==> Apabila ia diakhiri oleh huruf illat, maksudnya fiil mu’tal naqish.

 

نَحْوُ قَولِهِ تَعَالَى : اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ Ini dalam surat An Nahl ayat 125

Asalnya kalau fi’il mudharinya : يَدْعُو  Ada wawu-nya.

Ketika fiil amr اُدْعُ Kalau kita I’rab, kita katakan

اُدْعُ : فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ حَرْفِ العِلَّةِ

Seperti itu kita mengi’rabnya.

وَقَولِهِ

Dan firman Allah Subhānahu wa Ta’āla :

اِتَّقِ اللّٰهَ

Asalnya fi’il mudharinya يَتَّقِي  Kemudian karena dia fiil amr, dibuang ya’nya, jadi اِتَّقِ

Ini dalam surat Al Baqarah ayat 206

وَقَولِهِ: وَاِنْهَ عَنِ المُنْكَرِ

Dan juga firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَاِنْهَ عَنِ المُنْكَرِ

Kita katakan

اِنْهَ : فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ حَرْفِ العِلَّةِ

Dan ini contoh yang sangat lengkap.

اُدْعُ  Ini mewakili yang membuang huruf illat wawu

اِتَّقِ  Ini membuang huruf illat ya.

اِنْهَ  Ini yang membuang huruf illat alif.

3⃣ Kemudian keadaan yang ketiga

٣. يُبْنَى عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ

Dimabniykan atas membuang nun. Kapan?

: إِذَا اتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ الاثْنَيْنِ أَوْ وَاوُ الجَمَاعَةِ أَوْ يَاءُ المُخَاطَبَةِ،

==> Apabila bersambung dengan alif mutsanna, atau wawu jama’, atau ya’ mukhatabah.

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى  : وَكُلَا مِنْهَا

Contohnya firman Allah Subhānahu wa Ta’āla :وَكُلَا مِنْهَا Ini dalam surat Al Baqarah ayat 35.

كُلَا  Ini contoh  fiil amr yang bersambung dengan alif tatsniyah/mutsanna

كُلَا مِنْهَا

Maka dia kita katakana مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ

Kemudian,

وَقَوْلِهِ

Dan juga firman Allah Subhānahu wa Ta’āla :

كُلُوا وَاشْرَبُوا

كُلُوا Dan اِشْرَبُوا Disini merupakan contoh  مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ . Dan ini bersambung dengan wawu jamaah.

وَقَوْلِهِ : فَكُلِي وَاشْرَبِي

كُلِي –  وَاِشْرَبِي

Ini merupakan contoh untuk yang bersambung dengan ya mukhatabah.

Cara mengi’rabnya kita katakan  ::

كُلِي: فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ

4⃣ Kemudian keadaan yang keempat fiil amr,

٤. يُبْنَى عَلَى الفَتْحِ

Dimabniykan atas fathah. Kapan?

إِذَ اِتَّصَلَتْ بِهِ نُوْنُ التَّوْكِيْدِ

==> Apabila bersambung dengan nun taukid

نَحْوْ : اُشْكُرَنَّ اللَّهَ

Contohnya اُشْكُرَنَّ اللَّهَ  Asalnya  اُشْكُرْ

شَكَرَ – يَشْكُرُ – اُشْكُرْ

Ini bersambung dengan nun taukid.

*Nun taukid adalah nun yang memberi pengaruh pada penekanan makna*.

Kalau kita katakan اُشْكُرِ اللَّهَ Ini maknanya biasa, bersyukur kepada Allah

Tapi kalau ada nun taukid dibelakangnya,

اُشْكُرَنَّ اللَّهَ  Maka ini adalah penekanan, hendaknya kamu benar-benar bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Maka kalau fiil amr bersambung dengan nun taukid, kita katakan dia مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ

Keterangan tentang dimabniykan atas fathah ini, bisa dilihat  di:

حَاشِيَةُ الْخُضَرِيَ

Jilid 1 halaman 50

Kemudian dalam kitab اَلْقَوَاعِدُ اَلأَسَاسِيَّةُ, halaman 42

Dan juga dalam kitab اَلنَّحْوُ اَلوَافِي, jilid 1 halaman 80

—————————————————————

الفَوَائِدُ وَتَنْبِيْهَاتٌ:

🔶 Faidah-faidah dan catatan khusus (peringatan) :

1⃣ ١. اُعْتُرِضَ عَلَى المُصَنِّفِ قَوْلُهُ: الأَمْرُ مَجْزُوْمٌ،

Disini mushanif, ditolak perkataannya,

اَلأَمْرُ مَجْزُوْمٌ

Maksudnya, ada sesuatu dalam perkataannya.

اَلأَمْرُ مَجْزُوْمٌ

Padahal fiil amr merupakan mabniy, tapi kenapa beliau, yakni Ashshonhaji, pengarang kitab Jurumiyyah, mengatakan

وَالأَمْرُ : مَجْزُوْمٌ

Seakan-akan fiil amr itu tidak mabniy melainkan mu’rab karena dikatakan majzum.

Istilah marfu, manshub, majrur, majzum, tidaklah diberikan kecuali kepada sesuatu yang mu’rab.

Lalu kenapa  Ashshonhaji, mengatakan الأَمْرُ مَجْزُوْمٌ

Karena ada disini jawabannya:

وَأُجِيْبُ عَنْهُ بِأَنَّ المُصَنِّفَ جَرَى عَلَى مَذْهَبِ الكُوْفِيِّيْنَ القَائِلِيْنَ بِأنَّ الأَمْرَ قِطْعَةٌ مِنَ المُضَارِعِ مَجْزُوْمٌ عَلَى مَا يُجْزَمُ بِهِ مُضَارِعُهُ. الفُتُوْحَاتُ القَيُّوْمِيَّةُ ص (٨٩)

Jadi alasan kenapa pengarang Jurumiyah mengatakan :

الأَمْرُ مَجْزُوْمٌ

Dijawab bahwasanya Mushannif, yakni Ibnu Ajurum Ashshonhaji, ia memilih pendapat madzhab Ulama Kufah, yang mengatakan bahwasanya fiil amr merupakan bagian dari fiil mudhari, yang dijazmkan sebagaimana fiil mudharinya dijazmkan.

Dan ini merupakan salah satu pendapat ya.

Hanya saja yang kuat Insya Allah, yang mengatakan, bahwasanya fiil amr itu mabniy. Dan mabniynya itu sesuai dengan kondisi fiil mudharinya.

2⃣ Kemudian, faidah yang kedua

الفَائِدَةُ الثَّانِية

٢. يَنْبَغِيْ لِلْمُعْرَبِ أَنْ يَقُوْلَ فِيْ إِعْرَابٍ نَحْوُ: (وَاغْفِر ْلَنَا) اِغْفِر ْ: فِعْلُ دُعَاءٍ وَلَا يَقُوْلُ فِعْلُ أَمْرٍ؛ تَأَدُّبًا.

Afwan ini bukan مُعْرَبِ , tapi يَنْبَغِيْ لِلْمُعْرِبِ

Seyogyanya atau sepatutnya bagi orang yang melakukan i’rob, yang mengi’rab, agar ia berkata, ketika mengirab, misalkan ayat

وَاغْفِرلَنَا

Dan ampunilah kami

وَاغْفِر ْلَنَا ذُنُوبَنَا

misalkan ini kan doa kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Maka sebagai bentuk, تَأَدُّبًا, sebagai bentuk adab kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla. Ketika kita mengi’rab

اِغْفِر ْلَنَا

Ini jangan dibilang,

اِغْفِر : فِعْلُ أَمْرٍ

Tapi bilangnya

فِعْلُ دُعَاءٍ

Jadi kita kitakan

اِغْفِر : فِعْلُ دُعَاءٍ

Fiil yang menunjukkan makna doa, permohonan.

وَلَا يَقُوْلُ فِعْلُ أَمْرٍ

Dan janganlah ia mengakatan fiil amr

تَأَدُّبًا Sebagai bentuk adab kita kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Tapi ini hanya salah satu pendapat saja.

Jadi, kalau ada perintah dalam alquran yang bentuknya merupakan doa kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla jangan dibilang fiil amr.

Kenapa? Karena tidak mungkin kita sebagai seorang hamba memerintah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla. Yang ada kita berdoa. Makanya jangan dibilang fiil amr, tapi فِعْلُ دُعَاءٍ

Tapi ini merupakan salah satu qaul.

_________________

Yang ketiga

3⃣ الفَائِدَةُ الثَّالِثَة

٣. تَوْكِيْدُ فِعْلِ الإَمْرِ بِالنُّوْنِ لَمْ يَقَعْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ. دِرَاسَاتٌ لِأُسْلُوْبِ القُرْآنِ (١٧/١)

Taukid fiil amr dengan nun tidak ada dalam Al Qur’an, lihat pada Dirosat li Uslubil Qur’an juz 1 halaman 17.

✒ Materi Program BINAR

Al Mu’rabat Bilhuruf 4 – Fi’il yang 5

📚 Dars 23

Bismillahirrahmanirrahim

Sebagaimana yang sudah dibahas, bahwasanya المُعْرَبَاتُ بِالحُرُوفِ, ada empat, yaitu:

  1. Mutsanna
  2. Jamak mudzakkar salim
  3. Isim yang lima,

dan sekarang yang kita bahas,

4.    Fi’il yang lima, الأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ

رَابِعًا : الأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ

Yang ke-4, yaitu kelompok kata yang mu’rabnya dengan huruf (yang berubah-ubah hurufnya, adapun harakatnya sama) adalah:

الأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ

FI’IL-FI’IL YANG LIMA

تَعْرِيْفُهَا :

Definisi fi’il yang lima adalah:

هِيَ كُلُّ فِعْلٍ مُضَارِعٍ اِتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ الْاِثنَيْنِ، أَوْ وَاوُ الْجَمَاعَةِ، أَوْ يَاءُ الْمُخَاطَبَةِ

Adalah setiap fi’il mudhari yang bersambung dengan alif mutsanna/tatsniyah, atau wawu jama’, atau ya’ mukhatabah.

وَهِيَ : يَفْعَلَانِ، تَفْعَلَانِ، يَفْعَلُوْنَ، تَفْعَلُوْنُ، تَفْعَلِيْنَ

🔹 Dan fi’il yang lima itu adalah:

١. يَفْعَلَانِ

٢. تَفْعَلَانِ

٣. يَفْعَلُوْنَ

٤. تَفْعَلُوْنُ

٥. تَفْعَلِيْنَ

Ini adalah wazan bagi fi’il yang lima.

Artinya kalau نَصَرَ, berarti: نَصَرَ kan يَنْصُرُ

١. يَنْصُرَانِ

٢. تَنْصُرَانِ

٣. يَنْصُرُوْنَ

٤. تَنْصُرُوْنُ

٥. تَنْصُرِيْنَ

Adapun kalau ضَرَبَ – يَضْرِبُ, maka fi’il yang limanya adalah:

١. يَضْرِبَانِ

٢. تَضْرِبَانِ

٣. يَضْرِبُوْنَ

٤. تَضْرِبُوْنُ

٥. تَضْرِبِيْنَ

☘ Jadi yang dimaksud dengan alif tatsniyah, yaitu:

١. يَفْعَلَانِ

٢. تَفْعَلَانِ

Disitu ada alifnya, sebelum nun.

☘ Kemudian wawu jama’, yang dimaksud:

٣. يَفْعَلُوْنَ

٤. تَفْعَلُوْنُ

☘ Dan ya’ mukhatabah, yang dimaksud adalah ya’ pada contoh:

٥. تَفْعَلِيْنَ

✏ Ini yang dimaksud dengan  :

– alif mutsanna,

– wawu jama’, dan

– ya’ mukhatabah

حُكْمُهَا :

Hukum i’robnya

تُرْفَعُ بِثُبُوْتِ النُّوْنِ وَتُنْصَبُ وَتُجْزَمُ بِحَذْفِهَا

📌 Dirofa’kan dengan tetap nunnya, dan

📌 Dinashabkan dan dijazmkan dengan membuangnya nunnya.

Jadi asalnya يَفْعَلَانِ – تَفْعَلَانِ – يَفْعَلُوْنَ – تَفْعَلُوْنُ – تَفْعَلِيْنَ

Ini hukum asalnya, marfu’.

Adapun ketika misalkan diawali oleh huruf nashab atau diawali oleh huruf jazm, maka nunnya dibuang.

🔸 Ketika ada huruf nashab, seperti لَنْ misalkan, menjadi:

لَنْ يَفْعَلَا – لَنْ تَفْعَلَا – لَنْ يَفْعَلُوْا – لَنْ تَفْعَلُوْا – لَنْ تَفْعَلِيْ

🔸 Begitu pula ketika diawali oleh huruf jazm. Misalkan لَمْ,

Maka dibuang pula nunnya, seperti ketika nashab.

لَمْ يَفْعَلَا – لَمْ تَفْعَلَا – لَمْ يَفْعَلُوْا – لَمْ تَفْعَلُوْا – لَمْ تَفْعَلِيْ

_____________________

فَمِثَالُهَا فِيْ حَالَةِ الرَّفْعِ :

قَوْلُهُ تَعَالَى : (تُؤْمِنُوْنَ بِاللّهِ) (١)

وَقَوْلُهُ تَعَالَى : (وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ) (٢)

وَقَوْلُهُ : (أَتَعْجَبِيْنَ مِنْ أَمْرِاللَّهِ) (٣).

Jadi contoh fi’il yang lima ketika rofa’, adalah,

firman Allah Subhānahu wa Ta’āla

١.  تُؤْمِنُوْنَ بِاللّهِ

🍁 تُؤْمِنُوْنَ   Ini adalah fi’il mudhari yang bersambung dengan wawu jama’ah

Dan  firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:

٢.  وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

🍁 Dan  يَسْجُدَانِ  Fi’il mudhari yang bersambung dengan alif tatsniyah

Dan  firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:

٣.  أَتَعْجَبِيْنَ مِنْ أَمْرِاللَّهِ

🍁 تَعْجَبِيْنَ  ini fi’il mudhari yang bersambung dengan ya’ mukhatabah.

تُؤْمِنُوْنَ بِاللّهِ

1  Ini diambil dari Surat As-Shaf ayat 11

Kemudian, وَالنَّجْمُ وَالشّجَرُ يَسْجُدَانِ

2  ini Ar-Rahman ayat 6

Kemudian أَتَعْجَبِيْنَ مِنْ أَمْرِ اللّٰهِ

3  Ini merupakan surat Hud ayat 73

فَفِي الآيَةِ الأُوْلَى كَلِمَةُ (تُؤمِنُونَ)  مِنَ الأفْعَلِ الخمْسَةِ ؛ وَهِيَ فِعْلٌ مُضَارِعٌ اِتَّصَلَتْ بِهِ وَاوُ الجَمَاعَةِ وَ هُوَ مَرْفُوعٌ؛ لِتَجَرُدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالجَازِمِ، وَعَلَامَةُ رَفعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ نِياَبَةً عَنِ الضَّمَّةِ

1⃣ Maka pada ayat yang pertama, kata

🍁 kata  تُؤمِنُونَ  dalam ayat تُؤْمِنُوْنَ بِاللّهِ

Merupakan termasuk fi’il yang lima. Dan dia adalah fiil mudhari’ yang bersambung dengan wawu jama’ah dan dia marfu’.

Kenapa marfu’?

لِتَجَرُدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالجَازِمِ،

Karena ia terbebas dari penashab dan penjazm.

✏ Jadi simple saja, karena dia tidak ada huruf nashabnya, tidak ada huruf jazm, maka dia marfu. Ini alasannya. Karena hukum asal setiap fiil mudhari itu adalah marfu’.

Fiil mudhari bisa menjadi nashab atau menjadi jazm, kalau ada amilnya. Ada faktor yg meyebabkan dia menjadi manshub dan juga majzum.

وَعَلَامَةُ رَفعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ

☘ Dan tanda rofa’nya adalah tetap nunnya, (artinya tidak dibuang),

نِياَبَةً عَنِ الضَّمَّةِ

sebagai ganti dari dhammah

✏ Nah ini memang kalau kita mengi’rab, semua tanda selain tanda asli, artinya ;

– kalau kita i’rab rofa’ selain dhammah,

– nashab selain fathah, jar selain kasrah,

– dan jazm selain sukun,

Ini ditambahkan نِياَبَةً dibelakangnya. Kecuali nanti  i’rabnya pakai muqaddarah, ini tidak perlu pakai نِياَبَةً.

وَ كَلِمَةُ (يَسْجُدَانِ) فِيْ الْآيَةِ الْثَانِيَةِ مِنَ الْأفْعَالِ الْخَمْسَةِ،

2⃣Kata يَسْجُدَانِ dalam ayat yg kedua  وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُيَسْجُدَانِ juga termasuk fiil yang lima.

وَ هِيَ فِعْلٌ مُضَارِعً اِتَّصَلَتْ بِهِ أَلِفُ الْاِثْنَيْنِ،

Dan يَسْجُدَانِ adalah fiil mudhari yg bersambung dengan alif tatsniyah.

وَ هُوَ مَرْفُوْعٌ،

☘ Dan dia di rafakan. Kenapa? Sama alasannya,

لِتَجَرَّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالْجَازِمِ،

karena dia terbebas dari penashab dan penjazm.

وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ نِيَابَةًعَنِ الضَّمَّةِ

☘ Tanda rafanya adalah tetap nunnya sebagai ganti dari dhommah.

وَكَلِمَةُ ( تَعْجَبِيْنَ ) فِيْ الآيَةِ الثَّالِثَةِ مِنَ الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ،

3⃣ Dan kata تعجبين dalam ayat  أَتَعْجَبِيْنَ مِنْأَمْرِ اللّٰهِ  Ini juga termasuk fiil yg lima.

وَهِيَ فِعْلٌ مُضَارِعٌ اِتَّصَلَتْ بِهِ يَاءُ المُخَاطَبَةِ،

🍁  تَعْجَبِيْنَ ini adalah fiil mudhari yang bersambung dengan ya (ي) mukhattabah. تعجبين ini adalah dhomir anti.

” Apakah kamu heran/takjub dengan urusan Allah? “.

Dan “ي” nya dengan ya’ mukhattabah.

وَهُوَ مَرْفُوْعٌ؛ Dan dia di rofakan. Sama alasan nya.

لِتَجَرَّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَ الجَازِمِ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ

______________________

Kemudian setelah selesai contoh yang rofa. Pensyarah Kitab al-Mumti’ ini melanjutkan dengan memberikan contoh ketika nashob dan jazm.

وَمِثَالُ الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ فِيْ حَالَتِي النَّصْبِ وَالجَزْمِ: قَوْلُهُ تَعَالَى { فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا } (٤)

Dalam surah Al Baqarah ayat 24.

Dan contoh fi’il yang lima dalam keadaan nashob dan jazm adalah firman Allah  Subhānahu wa Ta’āla

dalam satu ayat lansung ada 2 huruf disini

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْ.

1⃣ … فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا  ini لَمْ huruf jazm

➡ Asalnya تَفْعَلُوْنَ, karena ada لَمْ dibuang nun nya. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا

2⃣… Kemudian yg kedua وَلَنْ تَفْعَلُوْا.

➡ Asalnya تَفْعَلُوْنَ , kemudian ada huruf nashab disini dibuang pula nunnya menjadi وَلَنْ تَفْعَلُوْا

فَفِي الآيَةِ الفِعْلَانِ

Maka dalam ayat tersebut ada dua fiil. Yaitu:

لَمْ تَفْعَلُوْا dan  لَنْ تَفْعَلُوْا

مِنَ الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ،

Dan Kedua nya merupakan fiil yg lima

وَهُمَا فِعْلَانِ مُضَارِعَانِ اِتَّصَلَ بِهِمَا وَاوُ الجَمَاعَةِ،

dan kedua nya adalah fiil mudhari yg bersambung dengan wawu jamaah.

وَالأَوَّلُ مَجْزُوْمٌ بِ (لَمْ)

☘ Yang pertama فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا

yang  لَمْ تَفْعَلُوْا di jazm kan dengan لَمْ

وَعَلَامَةُ جَزْمِهِ حَذْفُ النُّوْنِ نِيَابَةً عَنِ السُّكُوْنِ،

☘ Dan tanda jazm nya adalah membuang nun sebagai ganti daripada sukun.

Karena hukum asal jazm adalah sukun. Makanya kita katakan

نِيَابَةً عَنِ السُّكُوْنِ

وَالثَّانِي مَنْصُوْبٌ بِ (لَنْ)

☘ Ayat وَلَنْ تَفْعَلُوْا Ini dinashabkan dengan adanya huruf لَنْ

وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ حَذْفُ النُّوْنِ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ.

☘ dan tanda nashab nya adalah membuang nun sebagai ganti fathah.

_______________________

Selanjutnya di halaman 55.

Kita melihat Adanya مَحَطَّطٌ bagan yg menjelaskan fiil2 yg lima.

الأَفْعَالُ الخَمْسَةُ هِيَ:

كُلُّ فِعْلٍ مُضَارِعٍ اِتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ الإثْنَيْنِ أَوْ وَاوُ الجَمَاعَةِ أَوْ يَاءُ المُخَاطَبَةِ .

🔹 Fiil yang lima adalah:

setiap fi’il mudhori yang bersambung dengan alif tatsniyah, wawu  jamak atau ya mukhattabah.

Disini beliau menunjukkan bagan.

1⃣ Misalkan :يَفْعَلُ

Bersambung dengan alif tasniyyah

🔹 يَفْعَلَانِ➖تَفْعَلَانِ

Bersambung dengan Waw jamak

🔹 يَفْعَلُوْنَ➖تَفْعَلُوْنَ

Bersambung dengan ya mukhattabah

🔹 تَفْعَلِيْنَ

Ini kedaan ketika rofa. Jadi yang pertama ini, keadaan ketika rofa’

2⃣ Kemudian keadaan yang kedua يَفْعَلُ kalo ada لَنْ huruf nashab maka dia

_kalo يَفْعَلُ ini kan tidak bersambung dengan akhir sesuatu_ maka nasab nya fathah.

➡ Menjadi لَنْ يَفْعَلَ.

Untuk fiil yang lima nya, asalnya يَفْعَلَانِ – تَفْعَلَانِ – يَفْعَلُوْنَ – تَفْعَلُوْنُ – تَفْعَلِيْنَ

🌾 Kemudian dibuang (ketika nashab) menjadi: لَنْ يَفْعَلَا – لَنْ تَفْعَلَا – لَنْ يَفْعَلُوْا – لَنْ تَفْعَلُوْا – لَنْ تَفْعَلِيْ

🌾 Begitu juga ketika jazm:

Asalnya يَفْعَلُ , kalo ada لَمْ menjadi ➡ لَمْ يَفْعَلْ

Tapi kalo fiil yang lima nya, sama dengan ketika ia nashab, dibuang nun nya.

لَمْ يَفْعَلَا – لَمْ تَفْعَلَا – لَمْ يَفْعَلُوْا – لَمْ تَفْعَلُوْا – لَمْ تَفْعَلِيْ

__________________

Terakhir yang kita bahas adalah masalah irob. Kalau yang tadi irob yang ringkasnya.

Ini adalah irob  yang lebih lengkapnya.

الإِعْرَابُ (I’rab) :

١ – (تُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ)

تُؤْمِنُوْنَ : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلَامَةُ رَفْعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ ، وَوَاوُ الجَمَاعَةِ : ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ.

1⃣ Jadi kalau fiil mudhari itu تُؤْمِنُوْنَ

jangan kita katakan fail nya antum, meskipun memang تُؤْمِنُوْنَ ini, kembali kepada antum. Tapi kalo cara ngi’rob nya

🔸 fail nya adalah wawu nya. Jadi wawu dalam lafadz تُؤْمِنُوْنَ ini adalah failnya.

Meskipun kalau kita tanya lagi wawunya ini kembali kepada siapa?

🔸 Jelas sekali bahwa ini kembali kepada antum.

بِااللهِ : البَاءُ : حَرْفُ جَرٍّ ،اللّٰهِ : لَفْظُ الْجَلَالَةِ اِسْمٌ مَجْرُورٌ بِالْبَاءِ وَ عَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ وَالْجَارُ وَالْمَجْرُوْرُ مُتَعَلِّقَانِ بِالْفِعْلِ

٢.- وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

2⃣ “dan bintang dan pohon kedua nya bersujud”

النَّجْمُ :  مُبْتَدَأٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ .

🔹 Jadi النَّجْمُ sebagai mubtada.

Untuk وَالشَّجَرُ karena ada wawu athof

disini, maka jelas dia pasti athaf ma’thuf. Dan memang secara konteks kalimat ini adalah bentuk athof mathuf.

الْوَاوُ: حَرْفُ عَطْفٍ،  الشَّجَرُ : مَعْطُوْفٌ عَلَى النَّجْمِ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ.

Perhatikan ❗

Kenapa fiil nya يَسْجُدَانِ ?

🔸 Karena memang disini, failnya adalah  النَّجْمُ dan الشَّجَرُ (dua) maka fiil yg di pilih adalah yang mustanna.

Karena ini jumlah ismiyyah, maka fiil harus mengikuti failnya, harus mengikuti mubtada. Yang mana _pada asal nya_ mubtada adalah failnya.

🔸 يَسْجُدَانِ Cara mengirobnya.

يَسْجُدَانِ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ  مَرْفُوْعٌ وَ عَلَامَةُ رَفْعِهِ ثُبُوْتُ النُونِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ ، لِأَ نَّهُ مِنَ الأَ فْعَالِ الخَمْسَةِ.

وَأَلِفُ الْاِثْنَيْنِ :

🔸 Yakni Alif dalam lafadz يَسْجُدَانِ

ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُكُونِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ

Dhomir alif pada يَسْجُدَانِ merupakan dhomir  bersambung yang dimabniykan atas sukun dalam keadaan rofa menjadi failnya.

Jadi ini cara mengirob fiil yang lima.

▶ يَسْجُدُوْنَ mana fail nya? wawu “و” nya.

▶ Dan  يَسْجُدَانِ , mana fail nya?  alif “ا” nya.

وَالجُمْلَةُ مِنَ الفِعْلِ و الفَاعِلِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ خَبَرُ المُبْتَدَأِ

🔸 Dan keseluruhan kalimat يَسْجُدَانِ

Jumlah dari fiil dan failnya ini, dalam keadaan/kedudukan rofa menjadi khobar mubtada.

Karena النَّجْمُ itu kan mubtada nya. Nah tipsnya kalo kita mengirob itu,

✏ ketika kita ketemu *mubtada* maka harus kita cari mana *khabar* nya.

✏ Begitupun jika kita menemukan *fiil* maka  mencari mana *failnya*.

✏ Dan jika *fiil mutaadi* maka cari mana *mafulbih nya*.

٣- أَتَعْجَبِيْنَ مِنْ أَمْرِ اللّٰهِ

3⃣ ” Apakah engkau takjub dengan urusan Allah?”

أَتَعْجَبِيْنَ:

أَ: الهَمْزَةُ لِلاِسْتِفْهَامِ،

▫Hamzahnya istifham

تَعْجَبِيْنَ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ لأَنَّهُ مِنْ الأَفعَالِ الخَمْسَةِ، وَ يَاءُ المُخَاطَبَةِ: ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ.

▫ Mana fail تَعْجَبِيْنَ? Yaitu  “ي” nya. Sekalipun kalau kita tanya Ya’ nya kembali kepada siapa? Jelas kembali kepada anti. Tapi ini cara irob. Fiil mudhari itu cara mengi’rab nya seperti ini.

مِنْ أَمْرٍ : مِنْ حَرْفُ جَرٍّ، أَمْرٍ اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِ(مِنْ)  وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ

Kalo mengirob :

▪ boleh kita bilang أَمْرٍ ➡ namanya kita mengutip, membaca sesuai dengan yang ada di ayat

▪ atau kalo  أَمْرٌ , boleh juga. Kita anggap dia sebagai mubtada

اللّه : لَفْظُ الجَلَالَةِ مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُوْرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ

٤-  ﴿فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا﴾

فَإِنْ : الفَاءُ,  تُعْرَبُ حَسَبَ مَا قَبْلَهَا ،

4⃣ dan (ف) itu diirab sesuai dengan apa yang sebelumnya. Kemudian

إِنْ: حَرْفُ شَرْطٍ وَ جَزْمٍ.

🔹. إِنْ adalah huruf syarat dan huruf jazm.

لَمْ تَفْعَلُوْا : لَمْ : حَرْفُ نَفْيٍ وَ جَزْمٍ وَ قَلْبٍ،

🔹  “لم” adalah huruf nafi dan hurf jazm dan huruf qolb.

Huruf qolbin ini maksudnya huruf mustaqbal, ini yang berlaku dimasa yang akan datang.

Jadi kalau kita bilang لَمْ تَفْعَلُوْا, belum.

تَفْعَلُوْا : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُوْمٌ بِ (لَمْ) وَ عَلَامَةُ جَزْمِهِ حَذْفُ النُّوْنِ لِأَنَّهُ مِنَ الأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ،

🔹 Jadi  asalnya تَفْعَلُوْانَ

Jadi asalnya تَفْعَلُوْانَ , tapi karena ada لَمْ  jadi majzum dan tanda jazm nya adalah buang nun, dibuang ن nya.

وَ وَاوُالجَمَاعَةِ: ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِىٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفَعٍ فَاعِلٌ، وَ(لَمْ تَفْعَلُوْا) فِيْ مَحَلِّ جَزْمٍ بِ(إِنْ)

Jadi dia dijazmkan dengan إِنْ .

Kalimat  وَ (لَمْ تَفْعَلُوْا) فِيْ مَحَلِّ جَزْمٍ بِ (إِنْ)

ini hanya tambahan saja.

Kemudian,

وَ لَنْ تَفْعَلُوْا : اَلْوَاوُ: اِعْتِرَاضِيَةُ

(اِعْتَرَضَتْ بَيْنَ الشَّرْطِ وَجَوَابِهِ وَهُوَ (فَاَتَّقُوْا النَّارَ))

🔹 Jadi wawu dalam kalimat  لَنْ تَفْعَلُوْا  adalah wawu i’tirodiyah.

*Wawu i’tirodiyah adalah wawu yang menujukkan bahwa itu adalah kalimat yang berada diantara dua kalimat yang lain*.

Karena لَنْ تَفْعَلُوْا ini, ada diantara

فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا dan فَاَتَّقُوْا النَّار

ini yang disebut dengan i’tirodiyah. Yaitu adanya kalimat dalam dua kalimat.

Jadi antara فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا dan فَاَتَّقُوْا النَّار

tadikan ayat utuhnya

📌 (فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ … Dst )

ini adalah wawu i’tirodiyah

اِعْتَرَضَتْ بَيْنَ الشَّرْطِ وَجَوَابِهِ

yang berada diantara syarat.

📌 syarat nya ini kan ➡ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا

📌 dan jawabnya ➡ فَاتَّقُوا النَّارَ

seperti itu.

لَنْ : حَرْفُ نَفْيٍ وَ نَصْبٍ وَ اِسْتِقْبَالٍ،

🔹 لَنْ  adalah huruf nafi, huruf nashab dan huruf istiqbal,

تَفْعَلُوْا : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَنْصُوْبٌ بِ(لَنْ) وَ عَلَامَةُ نَصْبِهِ حَذْفُ النُوْنِ لَِأَنَّهُ مِنَ الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ وَ وَاوُ الْجَمَاعَةِ : ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ.

jadi ini adalah cara mengirab ayat

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا

ini in syaa  Allah mudah

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا

dimana تَفْعَلُوا ini asalnya تَفْعَلُوانَ

➡  karena ada لَمْ menjadi تَفْعَلُوا

Begitupun yang kedua

َلَنْ تَفْعَلُوا

Asalnya تَفْعَلُوانَ

➡ ada لَنْ menjadi تَفْعَلُوا

dan failnya adalah wawu nya.

—————————-

Terakhir kita bisa lihat semacam kesimpulan di halaman 58.

Jadwal (tabel).

جَدْوَلٌ : بَيْنَ أَنْوَاعِ الْإِعْرَابِ وَ عَلَامَتِهِ وَ مَوَاضِعِهَا فِيْ الْأَسْمَاءِ وَالْأَفْعَالِ

Tabel yang menujukkan yang menjelaskan macam-macam i’rab dan tanda-tandanya dan kedudukan-kedudukannya di dalam isim-isim dan fiil-fiil.

Jadi semacam kesimpulan bahwa,

I’rab itu ada empat macam, yaitu ada ::

  1. rofa,
  2. nashab,
  3. jarr, dan
  4. jazm.

♻ Kemudian rofa punya empat tanda, yaitu

  1. dhommah,
  2. wawu,
  3. alif, dan
  4. tetap nun

♻ Nashab punya lima tanda:

  1. fathah,
  2. alif,
  3. kasrah,
  4. ya, dan
  5. buang nun

♻ Jar ada tiga tanda:

  1. kasrah,
  2. ya, dan
  3. fathah

♻ Jazm ada dua tanda:

  1. sukun, dan
  2. membuang,

______, Membuang ini ada dua

  1. Ada membuang huruf ilat, dan
  2. ada membuang nun

Kemudian di  kolom yang ketiga, ditunjukkan apa saja yang ketika rofa itu tandanya dhommah,

√ Untuk isim yang pertama adalah

  1. isim mufrod,
  2. jamak taksir, yang
  3. jamak muannats salim

√ Untuk fiil adalah

  1. fiil mudhari, tentu fiil mudhari yang akhirnya bersambung dengan akhiran sesuatu.

Kemudian yang ketika rofa tandanya wawu, dia ada dua yaitu

  1. jamak mudzakkar salim, dan
  2. isim yang lima.

Jadi ini berlaku untuk isim saja, nggak ada fiil yang tanda rofanya wawu.

Kemudian untuk alif, ini hanya satu,

ketika rofa tandanya alif hanya satu. Yaitu

  1. mutsanna saja.

Adapun tsubutun nun yaitu tetap nun. Ini hanya berlaku untuk fiil , tepatnya pada fiil-fiil yang lima. Adapun isim tidak ada yang rofanya dengan tsubutun nun.

Kemudian untuk nashab,

🌾 yang ketika nashab fathah ini ada tiga. Dua isim satu fiil.

Dua isim yaitu

  1. isim mufrod,
  2. jamak taksir

Kemudian untuk fiil,

  1. fiil mudhari, tentu fiil mudhari yang tidak bersambung dengan akhiran sesuatu.

🌾 Kemudian yang ketika nashab alif, yaitu

  1. isim yang lima saja.

🌾 Adapun yang ketika nashab kasrah. Dan ini suatu keanehan, adalah

  1. jamak muannats salim.

🌾 Dan yang ketika nashab ya’ ada dua,

  1. mutsanna, dan
  2. jamak mudzakkaar salim.

🌾 Dan yang ketika nashab membuang nun hanya satu. Ini hanya berlaku untuk fiil, yaitu untuk

  1. fiil yang lima

🔁 Kemudian yang untuk jarr yang ketika jar tanda nya kasrah _tanda asli_ yaitu ada tiga

  1. isim mufrod
  2. jamak taksir
  3. jamak muannats salim

🔁 kemudian yang ketika jar tandanya ya’ ada tiga juga

  1. isim yang lima
  2. mutsanna
  3. jamak mudzakkar salim

🔁 dan yang ketika jar __aneh ya__ ketika jar malah fathah itu cuma satu

  1. yaitu المَمْنُوْعِ مِنَ الصَّرْفِ

Atau ghairu munsharif

Adapun untuk jazm ini merupakan tanda khusus untuk fiil. Sebagaimana jar tanda khusus untuk isim.

Jazm ini ada dua tanda

  1. sukun
  2. membuang

💥 yang ketika jazm tandanya sukun adalah fiil mudhari yang shohih akhirnya.

💥 Adapun yang ketika jazm membuang ini ada dua

  1. Ada membuang huruf ilat
  2. Ada membuang huruf nun

Yang membuang huruf illat tentu berlaku pada fiil mudhari yang diakhiri oleh huruf illat.

Membuang nun ini berlaku pada fiil yang lima.

*Jadi masyaa Allah ini tabel di halaman 58 silahkan dipelajari dan kalau bisa dihafalkan*.

Kalau bisa dihafalkan karena ini adalah inti dari ilmu nahwu.

Inti Ilmu nahwu itu ada disini. Kita bicara apapun tentang nahwu, kembalinya kesini. Karena kita bicara masalah

أَحْوالُ اَوَاخِرِ الْكَلِمَات

Keadaan akhir dari suatu kata.

Maka kalau kita ingin menguasai nahwu dengan baik. Jangan lupa untuk menghafal  dalam masalah ini. Ini kita tahu bahwasannya irab ada empat.

📌 Kemudian rofa ada 4 tanda,

📌 nashab ada 5 tanda,

📌 jarr  ada 3 tanda,

📌 jazm ada 2 tanda .

Kemudian setelah itu kita harus tahu tandanya,

– yang  ketika rofa dhommah apa saja?

– yang ketika rofa wawu apa saja?, dan seterusnya.

Jadi  memang ini merupakan yang sangat ditekankan untuk di hafalkan.

✒ Materi Program BINAR

Latihan I’rab Isim yang Lima

📚 Dars 22

Bismillahirrahmanirrahim

” الإعراب ”

I’rab dari beberapa ayat al-Qur’an

1⃣

١- {قَالَ أَبُوْهُمْ}

Artinya ” Telah berkata bapak mereka”

☘ Irabnya, Tentu bahwa قَالَ disini adalah fi’il madhi

☘ Kemudian أَبُوْ, ini adalah isim yang lima menjadi fa’il. Tanda rofa’nya adalah wawu. Karena isim yang lima ketika rofa’ dengan wawu

☘ Kemudian  ْهُم adalah mudhaf ilah

🍁 قَالَ : فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.

🍁 أَبُوْهُمْ : فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلَامَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ اْلأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ

🍁 وَ الْهَاءُ : ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ  فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ

🍁 وَ الْمِيْمُ عَلَامَةُ الْجَمْعِ.

Ini adalah contoh mengi’rab yang sempurna.

2⃣ Kemudian ayat yang kedua, yakni

٢. {لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ}

” hendaknya orang-orang yang mamiliki keluasan, berinfaq ”

☘ Disini lam nya adalah lam perintah

☘ Kemudian يُنْفِقْ ini fi’il mudhari majzum, di jazm kan dengan lam amr ini

☘ Kemudian ذُوْ nya, ini merupaka fa’ilnya. Dan dia merupakan isim yang lima.

☘ Dan سَعَةٍ mudhaf ilah.

I’rab lengkapnya,

لِيُنْفِقْ :

🍁 اَلَّامُ : لاَمُّ الْأَمْرِ، حَرْفٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسْرِ،

🍁 يُنْفِقْ : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُوْمٌ بِ (لَّامِ الْأَمْرِ) وَ عَلَامَةُ جَزْمِهِ السُّكُوْنُ.

Jadi لِيُنْفِقْ , lam nya lam amr, dan dia adalah huruf, mabniy alal kasri.

Karena bacanya li makanya مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسْرِ .

يُنْفِقْ : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُوْمٌ بِ (لَّامِ الْأَمْرِ)

Yunfiq adalah fi’il mudhari, dijazm kan dengan lam perintah.

🔹Seperti kita tahu bahwasannya amil jazm itu ada 18.

🔹 وَالجَوَازِمُ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ:

وَهِيَ: لَمْ، وَلَمَّا، وَأَلَمْ، وَأَلَمَّا، وَلامُ الأَمْرِ وَالدُّعَاءِ، ….

Dan seterusnya, Jadi salah satunya adalah َلامُ الأَمْرِ ,  lam perintah, termasuk amil jazm

🍁 وَ عَلَامَةُ جَزْمِهِ السُّكُوْن

☘ Dan tanda jazm nya adalah sukun

📌 لِيُنْفِقْ asalnya  يُنْفِقُ , tapi ada lam amr, majzum jadi sukun لِيُنْفِقْ  .

Kemudian ذُوْ سَعَةٍ

🍁 ذُوْ : فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلَامَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مِنَ اْلأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ.

☘ Dzu adalah fail yang dirofa’kan, tanda rofa’nya adalah wawu sebagai ganti dari pada dhommah.

لِأَنَّهُ مِنَ اْلأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ.

Karena ia termasuk isim-isim yang lima.

📝 Perhatikan kalau kita mengi’rab kata, yang tandanya bukan irab asli, bukan tanda asli, artinya

– ketika rafa’ bukan dhommah,

– ketika nashab bukan fathah,

– ketika jarr bukan kasrah,

– ketika jazm bukan sukun,

Maka kita menambahkan kata “نِيَابَةً”

dan ” ْعَن”  nya ini, “dari” tanda aslinya.

Seperti ذُوْ kenapa disini dikatakan نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ ?

Karena ذُوْ ini dalam kalimat {لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ} menjadi fail marfu’, dan rofa’ itu kan tanda aslinya dhommah. Makanya dikatakan نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ

Kalau sekiranya dia manshub misalkan,

📌 نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ

Kalo majrur

📌 نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

📝 Jadi ini rumusnya

📌 نِيَابَةً + عَنْ + العَلَامَة الأصْلِية

( العَلَامَة الأصْلِية ) = tanda aslinya

Kalau rofa’, ➡ dhommah

Kalau nashab, ➡ fathah

Kalau jar, ➡ kasrah

📝 Kemudian kaidahnya bahwa isim yang lima ini berlaku hukum ini,

Isim yang lima kalau ia idhofah kepada kata yang lain.

Seperti dalam kalimat ini  ذُوْ mudhaf,

Mudhaf ilah nya سَعَةٍ . Jadi

🍁 سَعَةٍ: مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُوْرٌ وَ عَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَتُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.

Ini sangat jelas.

3⃣ Kemudian ayat yang ketiga

٣ـ {جَآءُوْا أَبَاهُمْ}

I’rob nya,

🍁 جَآءُوْا : فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌ عَلَى الضَمِّ؛

🍁 وَوَاوُ الجَمَاعَةِ ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌ فِيْ مَحَلِ رَفْعٍ فَاعِلٌ

جَآءُوْا dari kata جَاءَ ⬅ جَاء ⬅ جَآءُوْا

” mereka mendatangi bapak mereka ”

☘ Maka جَآءُوْا ini adalah fi’il dan fail.

☘ Jadi wawunya adalah failnya.

☘ Kemudian أَبَاهُمْ ini maf’ul bih. I’rab lengkapnya

🍁 جَآءُوْا : فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌ عَلَى الضَمِّ؛ وَوَاوُ الجَمَاعَةِ ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌ فِيْ مَحَلِ رَفْعٍ فَاعِلٌ

🍁 أَبَاهُمْ : أَبَا : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الأَلِفُ لأَنَّهُ مِنَ الأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ،

Kenapa alif ? Karena أبا ini isim yang lima, yang ketika nashab, tandanya adalah alif

🍁 وَالهَاءُ ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌ فِيْ مَحَلِ  جَرٍّ مُضَافٌ اِلَيْهِ؛ وَالمِيْمُ لِلْجَمْعِ

☘ Dan haa (ه), dalam kalimat  {جَآءُوْا أَبَاهُمْ}

Dan أَبَاهُمْ ini, ه nya adalah dhomir yang dimabniykan didalam kedudukan jarr menjadi mudhaf ilah.

🍁 وَالمِيْمُ لِلْجَمْعِ

☘ Dan mimnya, أَبَاهُمْ kan هم ada  “م” nya, Nah “mim”nya ini adalah tanda kalau dia adalah jamak.

4⃣ Kemudian ayat yang ke empat

٤ـ {وَنَحْفَظُ أَخَانَا}

“Dan kami menjaga saudara kami”

🍁 وَنَحْفَظُ : الوَاوُ تُعْرَبُ عَلَى حَسَبٍ مَاقَبْلَهَا،

Jadi wawu ini i’rab nya, di i’rab tergantung apa yang sebelumnya. Karena ini adalah potongan ayat, maka wawu nya ini tergantung ayat yang sebelumnya

Memang kalau kita mengi’rab kutipan ayat, seperti ini (potongan). Maka tentu kita tidak bisa mengatakan kalo wawu ini wawu athaf, atau wawu isti’naf, atau wawu apa.

☘ Karena kita harus melihat kalimat secara utuh. Karena kita tidak melihatnya secara utuh, hanya potongan saja,

{وَنَحْفَظُ أَخَانَا}

maka kita katakan ,

الوَاوُ تُعْرَبُ عَلَى حَسَبِ مَاقَبْلَهَا،

Tergantung kata yang sebelumnya

🍁 نَحْفَظُ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَمَّةُ الظَاهِرَةُ وَالفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِيْرُهُ (نَحْنُ)

☘ Jadi kalimat  نَحْفَظُ , Mana failnya ? jelas kita katakan failnya itu نحن . Cara mengi’rab nya kita katakan

🍁 وَالفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِيْرُهُ (نَحْنُ)

Kita tidak boleh mengatakan, والنون (misalnya).

Jadi kita katakan نَحْفَظُ ini, yang menjadi fail nya adalah nun nya, Tidak ❌

Tapi dhomir yang tersembunyi ✔

🍁 أَخَانَا : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ لِأَنَّهُ مِنَ الأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ،

Sangat jelas, sudah diulang-ulang tadi.

☘ Bahwa أَخَانَا , mafulbih manshub.

Karena ia adalah isim yang lima, maka tanda nashab nya adalah alif. Sebagai ganti dari fathah, karena ini kan mafulbih, manshub tanda aslinya fathah.

Jadi kalau نِيَابَةً itu, setelah عَنْ disebutkan tanda aslinya

☘Dalam kalimat {وَنَحْفَظُ أَخَانَا}  na nya itu,

🍁 وَنَا : ضَمِيْرٌ مُتَّصلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُكُوْنِ فِيْ مَحَلِ جَرٍّ مُضَافٌ اِلَيْهِ.

5⃣ Ayat ke lima

٥- {وَءَاتِ ذَاالْقُرْبَىٰ حَقَّهُ}

” Dan berikanlah kepada orang-orang terdekat ( yang memiliki kedekatan) haknya”

🍁 آتِ:  فِعْلٌ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ حَرْفِ الْعِلَّةِ وَهُوَ الْيَاءُ وَالْكَسْرَةُ دَلِيْلٌ عَلَيْهَا،

☘ Dan ءآتِ fiil amr, dimabnikan atas membuang huruf ilat. Ini asalnya ada huruf ilat ي nya. Tapi karena dia fiil amr, dia mabniy jazm  في محل جزم dan dia disini membuang huruf ilat, asalnya ada ي dibuang menjadi  ءاتِ

🍁 وَالْكَسْرَةُ دَلِيْلٌ عَلَيْهَا،

☘ Dan kasrah pada تِ nya, menujukkan bahwa ada yang dibuang. Karena yang namanya fi’il amr itu hukum asalnya adalah sukun. Adanya harakat kasrah dalam kata ءاتِ menunjukkan bahwa itu ada yang dibuang, yaitu ي.

🍁 وَالْفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِيْرُهُ أَنْتَ.

☘ Setiap fi’il amr, failnya itu terutama yang dhomirnya anta, failnya itu adalah dhomir tersembunyi, wujuuban (secara wajib), takdirnya adalah kamu.

Jadi arti “datangkanlah !”, siapa yang diminta untuk mendatangkan? Kamu. Makannya dikatakan

وَالْفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِيْرُهُ أَنْتَ.

☘ Kemudian ذَا

🍁 ذَا: مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الْفَتْحَةِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ.

☘ Kemudian الْقُرْبَىٰ ini adalah mudhaf ilah, hanya saja karena ia diakhiri oleh huruf ilat, maka cara ngirabnya agak beda. Karena dia adalah pasti muqoddarah. Kita katakan,

الْقُرْبَىٰ: مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُوْرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى الْأَلِفِ لِلتَّعَذُّرِ

Jadi ini hampir sama dengan niyabah, bedanya

🔹 kalau niyabah disebutkan dulu tanda yang kita lihat, seperti misalkan tadi  {نَحْفَظُ أَخَانَا}

Yang kita lihat أَخَانَا ini alif,

walaupun نَصْبِهِ الأَلِفُ ➡

⬅ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ

Tetep dia merujuk ke tanda aslinya.

📝 Begitupun yang muqoddarah. Tetep merujuk kepada tanda aslinya.

📌 Bedanya kalau niyabah itu dibelakangnya  نِيَابَةً عَنْ + baru sebutkan tanda asli.

🔹 Kalau muqoddarah di depannya dulu,

misalkan ذَاالْقُرْبَىٰ kita tahu bahwasannya  الْقُرْبَىٰ ini mudhaf ilah, dan mudhaf ilah itu majrur, dan tanda jarr itu kasrah tanda aslinya. Maka kita katakan

مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُوْرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ ⬅…

Cuma dilanjutkan

…⬅ الْمُقَدَّرَةُ عَلَى الْأَلِفِ لِلتَّعَذُّرِ

Tanda jarrnya adalah kasrah yang ditakdirkan atas alif. Karena apa? Karena udzur

📝 Jadi dalam mengi’rab itu nanti

📌 ada لِلتَّعَذُّرِ

📌 sama لِلثِّقَالِ

Ada yang udzur ada yang tsiqol.

Udzur itu yang berlaku untuk kata yang diakhili alif . Adapun untuk wawu dan ya, bukan udzur istilahnya ( bukan لِلتَّعَذُّرِ ), tapi لِلثِّقَالِ karena berat.

🍁 حَقَّهُ: مَفْعُوْلٌ بِهِ ثَانٍ، وَالْهَاءُ ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ.

6⃣ Kemudian ayat yang ke enam

٦ . { رَجَعُوْا إِلَى أَبِيهٍمْ }

“Mereka kembali kepada bapak mereka”

➡  رَجَعُوْا ini sudah sepaket dengan failnya

🍁 رَجَعُوْا : فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌ عَلَى الضَّمِّ، وَوَاوُ الجَمَاعَةِ ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌّ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ.

إِلَى أَبِيْهِمْ :

🍁 إِلَى : حَرْفُ جَرٍّ،

🍁 أَبِيهِمْ : اسمٌ مَجْرُوْرٌ بِ ( إِلَى ) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ لأَنَّهُ مِنَ الأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ،

Isim yang lima dalam keadaan jar tandanya adalah ya.

🍁 وَ الهَاءُ : ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الكَسْرِ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ

☘ Dan ha (ه) dalam kalimat أَبِيهِمْ adalah dhomir yang dimabniy kan atas kasrah dalam keadaan jar menjadi mudhaf ilah. Ditambahkan

🍁 وَالمِيْمُ : عَلاَمَةُ الْجَمْعِ

☘ Dan mim itu merupakan tanda jamak.

7⃣ Kemudian yang ke tujuh, ayat

٧. {سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيْكَ}

🍁 سَنَشُدُّ : السِيْنُ : حَرْفُ اِسْتِقْبَالٍ ،

Jadi س  itu huruf yang akan datang, istiqbal itu maknanya akan datang. Jadi huruf disitu menunjukkan makna akan datang.

🍁 نَشُدُّ : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَةُ ،

☘ Fi’il mudhari marfu’, kenapa marfu’? Karena nggak ada amil nashab atau amil jazm, maka kembali ke hukum asal. Bahwa fi’il mudhari itu hukum asalnya adalah marfu’.

🍁 وَالفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِيْرُهُ نَحْنُ

☘ Dan failnya adalah dhomir mustatir (tersembunyi) secara wajib takdirnya adalah نَحْنُ

🍁 عَضُدَكَ : عَضُدَ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ ،

وَ الكَافُ : ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ

🍁 بِأَخِيْكَ : البَاءُ : حَرْفُ جَرٍّ ، وَ أَخِيْكَ  : إِسْمُ مَجْرُوْرٍ بِ (البَاءِ) وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ اليَاءُ لأَِنَّهُ مِنَ الأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ ،

🍁 وَالكَافُ ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ

8⃣ Kemudian yang terakhir, yang ke delapan.

٨. {وَلِذِى القُرْبَىٰ}

🍁 لِذِى : اللاَمُ : حَرْفُ جَرٍّ،

🍁 ذِى : اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِ (اللامِ) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ لِأَنَّهُ مِنَ الأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ.

🍁 القُرْبَىٰ : مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُوْرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ المُقَدَّرَةُ عَلَى آخِرِهِ لِلتَّعَذرِ

✒ Materi Program BINAR

Perasaan yang Mendahului Pernikahan

Oleh: Ust. Moh. Fauzil Adhim

DIA adalah Khadijah. Seorang wanita terhormat, bangsawan terpandang dari kalangan Quraisy, klan elit di Makkah. Ia berasal dari keluarga yang mempunyai kedudukan dan kemuliaan. Orang di masanya, pasti tahu siapa Khadijah. Mereka mengenal keagungan, kebesaran dan keutamaannya. Wanita pengusaha yang mandiri dan penuh pengorbanan.

Kalau kemudian ia menikah dengan Muhammad, pemuda miskin yang yatim piatu itu, bukan karena tak ada orang yang meminangnya. Telah banyak yang datang kepadanya, dan sebanyak itulah ia tidak bersedia menjadi istri. Padahal mereka adalah orang-orang kaya, orang-orang berpengaruh, orang-orang terhormat, orang-orang dari kalangan bangsawan dan orang-orang yang sangat diperhitungkan di antara kaumnya.

Ia memilih Muhammad karena ia menyukai. Ia memilih Muhammad karena ia tahu akhlak Muhammad yang tinggidan perilakunya halus. Kepada Muhammad ia mengatakan, “Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu.”

Ketika simpati itu ada, dan perasannya menguat, Khadijah mulai berketetapan bahwa Muhammadlah yang paling berhak untuk menjadi suaminya. Sebaik-baik orang yang pantas untuk didampingi dengan kesetiaan penuh dan kecintaan yang dalam adalah Muhammad.

Ketika perasaan itu menguat dan ketetapan sudah bulat, ia menyuruh pembantu laki-lakinya Maisarah untuk memperhatikan gerak-gerik Muhammad. Ia mengirim utusan kepada Muhammad untuk memintanya berangkat ke Syam membawa barang dagangan Khadijah dalam suatu kafilah.

Khadijah menyer¬takan Maisarah dalam kafilah itu agar dapat memperhatikan gerak-gerik dan tingkah lakunya dari dekat. Sehingga Khadijah memperoleh keterangan dari orang yang benar-benar mengetahui, tidak menurut kabar burung yang belum jelas kebenarannya.

Khadijah kemudian memberanikan diri untuk menawarkan diri kepada Muhammad. Ia berharap Muhammad akan menangapi pikiran dan perasaannya, tetapi ia tidak melihat tanda-tanda yang menunjukkan hal itu pada diri Muhammad. Ia ingin menjajagi bagaimana sesungguhnya pikiran dan perasaan Muhammad. Karena itu, Khadijah kemudian meminta temannya, Nafisah binti Munayyah, menemui Muhammad.

Di sejumlah buku sirah, kita dapati nukilan percakapan antara Nafisah binti Munayyah dengan Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu belum menjadi rasul. Saya tidak berani mengutipkan di sini karena percakapan tersebut tidak memiliki sandaran riwayat yang kuat. Karena itu, saya memilih untuk menyampaikan hal-hal pokok terkait peristiwa ini, yakni atas perantaraan Nafisah binti Munayyah, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam akhirnya berkenan menikah dengan Khadijah al-Kubra. Ketika Muhammad tidak memiliki harta yang cukup untuk disebut besar.

Tepat pada waktu yang telah ditetapkan bersama oleh keluarga dari kedua belah fihak, berangkatlah Muhammad bersama beberapa orang paman beliau, dipimpin oleh Abu Thalib, untuk secara resmi menyampaikan lamaran kepada Khadijah. Ketika masanya tiba, sejarah pun mencatat peristiwa akad nikah yang paling barakah. Tak ada yang lebih barakah dari pernikahan itu sesudahnya.

Begitu kisah pernikahan Siti Khadijah dan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Ada perasaan yang mendahului pada diri Khadijah karena terkesan oleh akhlaknya, kemudian diseriusi dengan usaha untuk mencapai pernikahan. Kelak dari pernikahan ini, lahir manusia-manusia suci yang dimuliakan Allah. Lahir Zainab yang memiliki putri Umamah. Lahir Fathimah yang dari rahim sucinya Allah mengaruniakan keturunan paling mulia, Al-Hasan dan Al-Husain.

Jadi, kalau suatu saat ada rasa simpati yang tumbuh kepada seorang ikhwan, tanyakanlah ke¬sungguhan hati Anda. Jika perasaan itu terus mekar dan memantapkan keinginan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya, periksalah akhlak dan agamanya. Anda bisa mencari seorang Maisarah yang dapat memperhatikan gerak-geriknya dari dekat, sehingga anda mendapatkan informasi mengenai akhlak, agama dan sikapnya dari orang yang memang mengetahui sendiri. Bukan dari cerita-cerita yang tak jelas sum¬bernya. Anda bisa mengingat kisah percakapan Umar dengan orang yang akan menyampaikan informasi mengenai seseorang.

Kalau Anda telah mendapatkan informasi yang semakin meyakinkan Anda, kini saatnya Anda bisa mencari seorang Nafisah binti Munayyah untuk menjajagi perasaan dan pikiran orang yang Anda harapkan. Seorang wanita yang matang lebih bisa membicarakan masalah-masalah gerak hati wanita dan menyelami pikiran laki-laki. Apalagi kalau sudah mempunyai beberapa anak.*

Makna Dzikir Menurut Syekh Ibnu Atha’illah

Menurut Syekh Ibnu Atha’illah, dzikir adalah melepaskan diri dari kelalaian dengan selalu menghadirkan kalbu bersama al-Haqq (Allah). Pendapat lain mengatakan bahwa dzikir adalah mengulang-ulang nama Allah dalam hati maupun melalui lisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengingat lafal jalalah (Allah), sifat-Nya, hukum-Nya, perbuatan-Nya atau suatu tindakan yang serupa. Dzikir bisa pula berupa doa, mengingat para rasul-Nya, nabi-Nya,wali-Nya, dan orang-orang yang memiliki kedekatan dengan-Nya, serta bisa pula berupa takarub kepada-Nya melalui sarana dan perbuatan tertentu seperti membaca, mengingat, bersyair, menyanyi, ceramah, dan bercerita.

Maka, dengan pemahaman seperti ini, mereka yang berbicara tentang kebenaran Allah, atau yang merenungkan keagungan, kemuliaan, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, atau yang mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesungguhnya—dengan berbuat demikian—mereka sedang melakukan dzikir. Dzikir bisa dilakukan dengan lisan, kalbu, anggota badan, ataupun dengan ucapan yang terdengar orang. Orang yang berdzikir dengan menggabungkan semua unsur tersebut berarti telah melakukan dzikir secara sempurna.

Menurut Syekh Ibnu Atha’illah, dzikir lisan adalah dzikir dengan kata-kata semata, tanpa kehadiran kalbu (hudhur). Dzikir ini adalah dzikir lahiriah yang memiliki keutamaan besar seperti yang ditunjukkan oleh beberapa ayat Al-Quran, hadis, dan atsar.

Dzikir lisan terbagi dalam beberapa bagian. Ada yang terikat dengan waktu dan tempat, serta ada pula yang bebas (tidak ditentukan tempat dan waktunya). Dzikir yang terikat, misalnya bacaan ketika shalat dan setelah shalat, bacaan ketika haji, sebelum tidur, setelah bangun, sebelum makan, ketika menaiki kendaraan, dzikir di waktu pagi dan petang, dan seterusnya.

Sementara yang tidak terikat dengan waktu, tempat, ataupun kondisi, misalnya pujian kepada Allah seperti dalam untaian kalimat, “Subhana Allah wa al-hamdu li Allah wa la ilaha illa Allah wa Allah akbar wa la hawla wa la quwwata illa bi Allah al-‘aly al-‘azhim (Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain-Nya, dan Allah Mahabesar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar).” Contoh lainnya adalah dzikir berupa doa seperti, “Rabbana la tu’akhidzna in nasina aw akhtha’na…,” atau munajat lainnya.

Selain itu, terdapat pula bacaan shalawat atas Nabi SAW yang akan memberi pengaruh lebih besar ke dalam kalbu para pemula daripada dzikir yang tidak disertai munajat. Sebab, orang yang bermunajat, kalbunya merasa dekat dengan Allah. Ia termasuk sarana yang memberikan pengaruh tertentu dan menghiaskan rasa takut pada kalbu.

Dzikir lisan ada yang bersifat ri’ayah misalnya ketika mengucapkan kalimat, “Allah bersamaku, Allah melihatku.” Ucapan tersebut mengandung usaha untuk menjaga kemaslahatan kalbu. Ia adalah dzikir untuk memperkuat kehadiran kalbu bersama Allah, memelihara etika di hadapan-Nya, menjaga diri dari sikap lalai, berlindung dari setan terkutuk, dan untuk bisa khusyuk dalam ibadah.”

— Syekh Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah

Mu’rab Bil Huruf 3: Isim Yang 5

📚 Dars 21

Bismillahirrahmanirrahim

Saat ini kita masih dalam pembahasan Al Mu’rabat bil huruf. Kata yang mu’robnya dengan huruf sudah kita bahas sebelumnya yaitu:

  1. Mutsanna
  2. Jamak mudzakkar salim

Dan sekarang kita bahas yang ketiga, yaitu al asmaul khomsah.

ثَالِثًا: الأَسْمَاءُ الخَمْسَةُ:

Yang ketiga yakni mu’rob dengan huruf adalah isim-isim yang lima.

تَعْرِيْفُهَا:

definisi dari isim yang lima adalah

هِيَ أَبُوكَ، وأَخُوْكَ، وَحَمُوكَ، وَفُوكَ، وَذُوْمَالٍ.

Jadi isim yang lima itu apa saja

  1. أَبُوكَ (bapakmu)
  2. أَخُوْكَ (saudaramu)
  3. حَمُوكَ (iparmu)
  4. فُوكَ (mulutmu)
  5. وَذُوْمَالٍ (pemilik harta)

Ini tanbih, peringatan bahwa  ذُوْمَالٍ , ini yang menjadi contoh ذُوْ nya saja bukan ذُو ْمَالٍ nya.  Adapun mudhof ilaihnya bisa apa saja.

Bisa ذُوْمَالٍ , bisa ذُو بَيْتٍ  , bias ذُوْ جَمَلٍ

Dan apapun yang jelas yang jadi isim lima adalah ذُوْ nya pemilik. Adapun yg dimiliki apa, bisa مَالٍ , harta, bisa rumah بَيْتٍ misalkan dan sebagainya.

حُكْمُهَا:

Hukumnya:

تُرْفَعُ بِالْوَاوِ، وَتُنْصَبُ بِالأَلِفِ، وَتُجَرُّ بِاليَاء

Dan ini memang termasuk yang paling lengkap.

Jika mutsanna ketika rofa’ alif ketika nashab dan jar, sama-sama ya’. Jamak mudzakkar salim ketika rofa’ waw ketika nashab dan jar, sama-sama ya’.

Tapi jika isim yang lima ketika rofa’ waw, ketika nashab alif, ketika jar ya’. ini beda-beda semua. Paling lengkap dia.

تُرْفَعُ بِالْوَاوِ،

dirofa’kan dengan waw

وَتُنْصَبُ بِالأَلِفِ،

dinashabkan dengan alif

وَتُجَرُّ بِاليَاء

dijarkan dengan ya’

فَهِيَ تُعْرَبُ بِالْوَاوِ رَفْعًا: نَحْوُ قَوْلِ اللّٰهِ تَعَالَى: {قَالَ أَبُوْهُمْ}(١)، وَقَوْلِهِ: {قَالَ لَهُمْ أَخُوْهُم}(٢), وَقَوْلِهِ: {لِيُنْفِقْ ذُوْسَعَةٍ}(٣).

Maka isim yang lima itu dimu’robkan dengan wawu dalam keadaan rofa’ contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

قَالَ أَبُوْهُمْ

“Berkata bapak mereka.”  Ini dalam surah Yusuf ayat 94.

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

قَالَ لَهُمْ أَخُوْهُمْ

“Dan telah berkata saudara mereka kepada mereka.”  Ini dalam surah Asy-syuara’ dari ayat 106.

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

لِيُنْفِقْ ذُوْسَعَةٍ

“agar orang yang memiliki keluasan berinfaq.” Ini dalam surah Ath-Thalaq dari ayat 7.

وَتُعْرَبُ بِالْأَلِفِ نَصْبًا: نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى: {جَاءُوْا أَبَاهُمْ}(٤)، وَقَوْلِهِ:و {َنَحْفَظُ أَخَانَا}(٥)، وَقَوْلِهِ: {وَءَاتِ ذَاالْقُرْبَى حَقَّهُ}(٦).

Dan isim yang lima itu mu’rob dengan alif ketika nashab.

contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

جَاءُوْا أَبَاهُمْ

“Mereka mendatangi bapak-bapak mereka.”  Ini dalam surah Yusuf ayat 16.

Dan juga dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وََنَحْفَظُ أَخَانَا

“dan kami melindungi atau melihara atau menjaga saudara kami.” Ini dalam surah Yusuf juga dari ayat 65.

Dan juga dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وَءَاتِ ذَاالْقُرْبَى حَقَّهُ

“dan berikanlah orang-orang yang memiliki kedekatan kekerabatan haknya.” Ini surah Al-Isra’ dari ayat 26.

وَتُعْرِبُ بِاليَاءِ جَرًّا : نَحْوُقَوْلِهِ تَعَالَى : {رَجَعُوا إِلَى أَبِيْهِمْ} (٧)، وَقَوْلِهِ : {سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيْكَ} (٨)، وَقَوْلِهِ : {وَلِذِالْقُرْبَى}(٩)

Dan isim yang lima itu mu’rob dengan ya’ ketika jar. Contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ

dengan ya’ bukan dengan إِلَى أَبُوْهُمْ atau إِلَى أَبَاهُمْ

tapi dengan ya’. رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ

“mereka kembali kepada bapak mereka.” Ini surah Yusuf ayat 63.

Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيْكَ

ini dalam surah Al-Qashash dari ayat 35

dan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وَلِذِالْقُرْبَى

ini dalam surah Al-Anfal dari ayat 41

Diperhatikan ketika rofa’ dia wawu,  قَالَ أَبُوْهُمْ  bukan أَبَا atau أَبِيْ

dan ketika nashab dia alif.  جَاءُوْا أَبَاهُمْ bukan  أَبُوْ bukan أَبِيْ.

Kemudian ketika jar, dia ya’  رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ  bukan أَبُوْ bukan أَبَا.

Jadi isim yang lima ini masing-masing memiliki tanda yang berbeda. Ketika rofa’ wawu, ketika nashab alif dan ketika jar ya’.

وَاعْلَمْ أَنَّ الأَسْمَاءَ الخَمْسَةَ لاَتُعْرَبُ بِالحُرُوْفِ إِلاَّ إِذَا تَوَفَّرَ فِيْهَا أَرْبَعَةُ شُرُوْطٍ، نَذْكُرُهَا فِيْمَا يَلِى :

Dan ketahuilah bahwasannya isim yang lima itu tidak dimu’robkan dengan huruf kecuali apabila telah memenuhi empat syarat.

نَذْكُرُهَا فِيْمَا يَلِيْ :

Kami sebutkan sebagai berikut:

Ini adalah syarat-syaratnya.

Tapi sebelum kita baca syaratnya. Kita baca dahulu  فَوَائِدٌ وَ تَنْبِيْهَاتٌ dari halaman 49

🔷 Disini fawaidnya  :

١.(الحَمُو) قَالَ ابْنُ هِشَامُ: الحَمُو:  أَقَارِبُ زَوْجِ المَرْأَةِ، وَ رُبَمَا أُطْلِقَ عَلَى أَقَارِبِ الزَّوجَةِ. قَطْرُ النَّدَى ص( ٦٢)

Ibnu Hisyam berpendapat bahwasannya الحَمُو itu adalah أَقَارِبُ زَوْجِ المَرْأَةِ

yakni saudaranya suami wanita. Saudara dari suami wanita.

Jadi jika seorang wanita punya suami. Suaminya ini punya kakak punya adik. Ini disebut dengan حَمُو.

Makanya lebih tepatnya kita terjemahkan حَمُو ini ipar dan dia dikhususkan untuk wanita. Makanya dalam beberapa kitab bukannya حَمُوكَ tapi حَمُوكِ karena حَمُو sudah pasti untuk wanita.

وَرُبَمَا أُطْلِقَ عَلَى أَقَارِبِ الزَّوجَةِ

tapi terkadang dia dimutlakkan juga untuk saudara saudari dekat si istri. Liat dalam kitab Qothrun Nada halaman 62.

تَقُولُ:جَاءَ حَمُوكِ، وَرَأَيتُ حَمَاكِ، وَسَلَّمْتُ عَلَى حَمِيكِ. وَيَنْظُرُ الصَّبَانِ (١/ ٦٩).

Lihat dalam kitab Ash Shobani jilid I halaman 69

Jadi karena pendapat yang lebih kuat, mengatakan bahwasannya حَمُو ini saudaranya laki-laki. Karena dia saudara laki-laki maka khitabnya selalu wanita. Makanya jika kita katakan جَاءَ حَمُوكَ ini kurang tepat karena حَمُو itu lebih cocok ke ipar. Ipar bagi si istri. Makanya disini contohnya جَاءَ حَمُوكِ telah datang iparmu.

وَرَأَيْتُ حَمَاكِ

“aku telah melihat iparmu”

وَسَلَّمْتُ عَلَى حَمِيكِ

“dan aku telah memberi salam kepada”

حَمِيكِ.

🔷 Kemudian faidah yang kedua

٢ . (فُو) هُوَ الفَمُ ، وَيُشْتَرَطُ أَلَّا يَكُونَ بِالمِيمِ، نَحْوُ: فُوكَ نَظِيفٌ، نَظِّفْ فَاكَ، نَظَرْتُ إِلَى فِيكِ

(فُو) هُوَ الفَمُ

فُو itu artinya adalah mulut الفَمُ

وَيُشْتَرَطُ أَلَّا يَكُونَ بِالمِيمِ

dan disyaratkan jika mau jadi isim lima, tidak boleh dengan mim.

Jika فَمٌ tidak boleh dianggap sebagai isim yang lima.

Yang menjadi isim yang lima itu adalah yang tanpa mim فُو.

Jadi syaratnya فَمٌ dan فُو artinnya sama.

Bedanya kalau فَمٌ bukan isim yang lima. Isim yang lima adalah فُو, فَا, dan فِيْ seperti itu.

نَحْوُ: فُوكَ نَظِيفٌ  contohnya “mulutmu bersih”

نَظِّفْ فَاكَ  “bersihkanlah mulutmu”

نَظَرْتُ إِلَى فِيكِ  “aku melihat mulutmu”

🔷 Faidah yang ketiga

٣. (ذُو) بِمَعْنَى صَاحِبٍ، وَإِنَّمَا قَالَ ذُومَالٍ، وَلَمْ يَقُلْ ذُوْكَ؛ لِأَنَّ (ذُو) لَا تُضَافُ إِلَى الضَّمِيرِ، بَلْ إِلَى اسْمِ جِنْسٍ كَالِمَالِ

(ذُو) بِمَعْنَى صَاحِبٍ

ذُو  ini maknanya adalah shohib, pemilik.

وَإِنَّمَا قَالَ ذُومَالٍ

contohnya misalkan dikatakan  ذُومَالٍ (pemilik harta)

وَلَمْ يَقُلْ ذُوْكَ

dan tidak boleh dikatakan ذُوْكَ (pemilikmu). Tidak boleh.

لِأَنَّ (ذُو) لَا تُضَافُ إِلَى الضَّمِيرِ

*karena ذُو itu tidak boleh diidhofahkan kepada dhomir*

بَلْ إِلَى اسْمِ جِنْسٍ كَالْمَالِ

bahkan yang benar adalah dia diidhofahkan pada isim jenis seperti harta. Jadi ذُو tidak boleh diidhofahkan pada isim dhomir. ذُوْكَ, ذُوْهُ tidak boleh. Tetapi kepada nama-nama jenis seperti ذُومَالٍ pemilik harta, ذُوْبَيْتٍ pemilik rumah dan sebagainya.

🔷 Kemudian kaidah yang keempat

٤ – الكَلِمَةُ الَّتِي تَقَعَ بَعْدَالأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ تُعْرَبُ مُضَافًا إِلَيهِ دَائِمًا، سَوَاءً أَكَانَتْ اسْمًا ظَاهِرًا نَحوُ: رَضِيَ اللهُ عَنْ أَبِي بَكْرٍ، أَمْ ضَمِيرًا نَحْوُ: سَلِّمْ عَلَى أَبِيكَ.

Kata yang terletak setelah isim yang khomsah, isim yang lima itu dii’rob sebagai mudhof ilaih selamanya. Selalu mudhof ilaih. Jika ada isim yang lima, maka setelahnya pasti mudhof ilaih. Sama saja apakah dia isim yg dzhohir baik isimnya yang nampak seperti

رَضِيَ اللهُ عَنْ أَبِي بَكْرٍ.

بَكْرٍ ini isim dzhohir, maka بَكْرٍ adalah mudhof ilaih.

أَمْ ضَمِيرًا

ataupun yang dhomir contohnya سَلِّمْ عَلَى أَبِيكَ.

كَ  disini adalah dhomir maka dia adalah mudhof ilaih. Pokoknya setelah ada isim yang lima. Maka dii’robnya pasti mudhof ilaih.

شُرُوْطُ إِعْرَابِ الاَسْاءِ الخَمْسَةِ بِالحُرُوْفِ

📌 Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengi’rob isim yang lima dengan huruf

١ـ أَنْ تَكُوْنَ مُفْرَدَةً: فَإِنْ ثُنِّيَتْ أُعْرِبَتْ إِعْرَابَ المُثَنَّى

1⃣ Syarat yang pertama, harus dalam keadaan mufradnya.

Maka jika dia dimutsannakan, dia dii’rob dengan i’rob mutsanna.

نَحْوُ: جَاءَ الأَخَوَانِ، وَرَأَيْتُ الأَخَوَيْنِ، وَسَلَّمْتُ عَلَى الأَخَوَيْنِ

Jadi dia harus dalam keadaan mufrod, tidak boleh mutsanna, tidak boleh jamak.

Jadi yang dimaksud dengan isim yang lima. Hanya ketika mufrodnya.

أَبُوكَ, أَخُوْكَ, حَمُوكَ, فُوكَ, ذُوْمَالٍ  ketika mufrodnya.

Ketika أَبٌ berubah menjadi mutsanna ataupun jamak, maka dia tidak lagi menjadi isim yang lima. Dia dii’rob seperti ketika mengi’rob mutsanna.

Contohnya جَاءَ الأَخَوَانِ

kita katakan  الأَخَوَانِ

ini fail, tanda rofa’nya alif.

رَأَيْتُ الأَخَوَيْنِ

kita katakan الأَخَوَيْنِ

ini maful bih, tanda rofa’nya ya’.

Kemudian  سَلَّمْتُ عَلَى الأَخَوَيْنِ  kita katakan adalah isim yang majrur karena diketahui huruf jar, dan tanda jarnya adalah ya’.

Jadi yang disyaratkan bahwa isim yang lima itu harus dalam keadaan mufrod. Jika mutsanna maka dia dihukumi seperti hukum mutsanna.

وَإِنْ جُمِعَتْ أُعْرِبَتْ الجَمْعِ

Dan jika dijamakkan maka dia dii’rob seperti i’robnya jamak.

نَحْوُ: جَاءَ الآبَاءُ، وَرَأَيْتُ الآبَاءَ، وَسَلَّمْتُ عَلَى الآبَاءِ

Maka جَاءَ الآبَاءُ, الآبَاءُ  ini fail tanda rofa’nya dhommah

رَأَيْتُ الآبَاءَ, maful bih tanda nashabnya fathah

سَلَّمْتُ عَلَى الآبَاءِ , majrur tanda jarnya kasroh

📝 Jadi yang dimaksud dengan isim yang lima harus ketika mufrod, lau sudah berubah menjadi mutsanna seperti  أَخٌ telah berubah menjadi أَخَوَيْنِ.  أَبٌ menjadi أَبَوَيْنِ.

Maka أَخَوَيْنِ أَبَوَيْنِ tidak lagi dianggap sebagai isim yang lima.

2⃣ Kemudian yang kedua

٢ـ أَنْ تَكُوْنَ مُكَبَّرَةً

syarat yang kedua isim yang lima itu berlaku, harus mukabbaroh. Harus dalam keadaan mukabbaroh. Nanti kita akan belajar bahwa kata itu ada mukabbaroh ada mushoghghoroh.

أَبٌ

itu mukabbaroh, mushoghghorohnya (yang dikecilkannya) menjadi akhim menjadi أُخَيَّ,

abim menjadi أُبَيَّ

ini namanya tashghir (mengecilkan). Jadi kalau kita mengatakan akhim ini artinya saudaraku kalau ukhoyya artinya saudara kecilku.

فَإِنْ صُغِّرَتْ (كَأُخَيَّ ، وَأُبَيَّ) أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَاتِ الظَّاهِرَةِ

Maka jika dia ditashghirkan seperti أُخَيَّ dan أُبَيَّ maka dia dii’rob dengan harokat yang dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ)

نَحْوُ: جَاءَ أُخَيُّكَ وَ رَأَيْتُ أُخَيَّكَ وَ سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ

Perhatikan.

Kalau dia ditashghir dari أَخٌ menjadi  أُخَيَّ

dia dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ) i’robnya جَاءَ أُخَيُّكَ fail dhommah tandanya.

رَأَيْتُ أُخَيَّكَ

ya’ disini manfuh bih manshub fathah tandanya.

وَ سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ.

أُخَيِّ ini majrur kasroh tandanya.

Jadi syarat yang kedua harus dalam bentuk mukabbaroh lawan dari mushoghghoroh.

Kemudian yang ketiga,

۳- أَنْ تَكُوْنَ مُضَافَةً؛

bahwa isim yang lima itu harus menjadi mudhof

فَإِنْ لَمْ تُضَفْ أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَتِ الظَّاهِرَةِ

maka jika tidak diidhofahkan kepada kata yang selainnya maka dia dii’rob dengan harokat yang dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ).

Seperti نَحْوُ: جَاءَ أَبٌ وَ رَأَيْتُ أَبًا وَ سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

Jadi kalau hanya أَبٌ saja, ini bukan isim yang lima. Isim yang lima itu harus ada idhofahnya.

جَاءَ أَبُوْكَ idhofah kepada dhomir

جَاءَ أَبُوْ زَيْدٍ idhofah kepada isim yang dzhohir.

Tetapi kalau hanya begitu saja tanpa diidhofahkan seperti

جَاءَ أَبٌ, رَأَيْتُ أَبًا, سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

maka ini jelas dii’robnya i’rob yang dzhohir.

Kemudian syarat yang keempat.

٤- أَنْ تَكُوْنَ إِضَافَتُهَا إِلَى غَيْرِ الْيَاءِ

bahwasannya idhofahnya itu kepada selain ya’.

فَإِنْ أُضِيْفَتْ إِلَى اليَاءِ أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَاتِ المُقَدَّرَةِ

maka jika diidhofahkan kepada ya’ dia dii’rob dengan harokat yang muqoddaroh.

نَحْوُ: جَاءَ أَخِيْ، وَ رَأَيْتُ أَخِيْ ، وَسَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

jadi setelah yang ketiga dikatakan bahwa syaratnya harus mudhof-mudhof ilaih, kemudian yang keempat dibatasi lagi. Mudhof ilaihnya itu tidak boleh ya’ khususnya yang mutakallim kepemilikan.

Contohnya :

جَاءَ أَخِيْ

maka kalau جَاءَ أَخِيْ ini bukan isim yang lima.

وَ رَأَيْتُ أَخِيْ ، وَسَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

jadi kalau idhofahnya kepada ya’, maka dia i’robnya dengan harokat yang muqoddaroh.

Ini kita bisa lihat contoh-contoh i’robnya dicatatan kaki.

Disini dikatakan catatan kaki yang pertama

( ١) فَا لأَخَوَانِ : فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

Ini dalam contoh

جَاءَ لأَخَوَانِ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلَامَةُ رَفْعِهِ الأَلفُ

fail yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya adalah alif.

وَ فِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ الأَخَوَيْنِ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ

Jadi dalam contoh

رَأَيْتُ لأَخَوَانِ

yang menjadi maful bih yang dinashabkan

وَ عَلَامَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ

dan tanda nashabnya adalah ya’.

وَ فِيْ المِثَالِ الثَّالِثِ

dan pada contoh yang ketiga

وَ سَلَّمْتُ عَلَى لأَخَوَانِ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَ عَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ

adalah isim yang dijarkan dan tanda jarnya adalah ya’,

 

kemudian catatan kaki yang kedua

٢) فَلأَبَاءُ : فِي المِثَالِ  الأَوَّلِ فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّاةُ الظَّاهِرَةُ

Maka kata

الأَبَاءُ

dalam contoh yang pertama yaitu contoh جَاءَ الأَبَاءُ ini merupakan fail dirofa’kan dan tanda rofa’nya dhommah yang dzhohir.

وَ فِي  المِثَالِ الثَانِي

Pada contoh yang kedua رَأَيْتُ الأَبَاءَ

مَفْعُولٌ بِيْهِ مَنْصُوبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ

وَ فِي  المِثَالِ الثَالِثِ

pada contoh yang ketiga yaitu سَلَّمْتُ عَلَى الأَبَاءِ

إِسْمٌ مَجْرُورٌ وَ علاَمَةُ جَرِّهِ  الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ

Kemudian catatan kaki yang ketiga

Membahas contoh kalimat

جَاءَ أُخَيُّكَ

(٣) فَأُخَيُّكَ: فِي المِثَالِ  الأَوَّلُ فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّاةُ الظَّاهِرَةُ

Jadi jelas dzhohir

جَاءَ أُخَيُّكَ

وَ فِي  المِثَالِ الثَانِي

yakni

رَأَيْتُ أُخَيَّكَ

مَفْعُولٌ بِيْهِ مَنْصُوبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ، وَ فِي  المِثَالِ الثَالِثِ

pada contoh yang ketiga

سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ

إِسْمٌ مَجْرُورٌ وَ عَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ وَالكَافِ فِي  الجَمِيعِ

dan kaaf (ك ) dalam

أُخَيُّكَ أُخَيَّكَ dan أُخَيِّكَ

ضَمِيرٌ فِي مَحَلِّ جَرِّهِ مُضَافٌ إلَيهِ

Dhomir dalam keadaan jar menjadi mudhof ilaih. Thoyyib

Kemudian catatan kaki yang keempat

(٤) فَأَبٌ: فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

yakni dalam contoh

جَاءَ أَبٌ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ

ini jelas sekali.

وَفِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ،

وَفِي المِثَالِ الثَّالِثِ

dan pada contoh yang ketiga yakni

سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ

thoyyib kemudian catatan kaki yang terakhir

(٥) فَأَخِيْ

dalam kalimat

جَاءَ أَخِيْ

telah datang saudaraku,

فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ

lihat cara mengi’robnya.

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ المُقْدَرَةُ عَلَى مَا قَبْلَ يَاءِ المُتَكَلِّمِ لِاِشْتِغَالِ الْمَحَلِّ بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ

Jadi adalah fail yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya adalah dhommah muqoddaroh yang ditakdirkan atas apa yang sebelumnya ya’ mutakallim, karena berebutan tempat.

إِشْتِغَالِ

itu sibuk. Berebutan tempat

بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ

dengan harokat yang sesuai.

Jadi kenapa dibilang جَاءَ padahal  أَخٌ + ya’ mutakallim. Kenapa bukannya جَاءَ أَخُيْ tapi malah جَاءَ أَخِيْ

karena kasroh pada kho disini kenapa berubah dari dhommah, karena asalnya أَخٌ  tambah ya’ mutakallim.

Kenapa tidak jadi أَخُيْ saja tapi malah jadi أَخِيْ

karena dalam kaidah, yang namanya ya’ sukun bertemunya itu kasroh sebagaimana kalau ada waw sukun temannya sebelumnya adalah dhommah dan kalau ada alif sukun, sebelumnya adalah fathah. Karena ini ya’ sukun, maka sebelumnya adalah kasroh. Itulah kenapa, dikarenakan

لِاِشْتِغَالِ الْمَحَلِّ بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ.

وَفِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ

pada contoh yang kedua

رَأَيْتُ أَخِيْ

مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ المُقْدَرَةُ،

وَفِي المِثَالِ الثَّالِثِ

سَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ المُقَدَّرَةُ ، واليَاءُ فِيْ الجَمِيْعِ : ضَمِيْرٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ

Dan ya’ pada semuanya yakni

جَاءَ أَخِيْ, رَأَيْتُ أَخِيْ, سَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

seluruhnya adalah dhomir dalam keadaan jar menjadi mudhof ilaih.

✒ Materi Program BINAR