Kenali Profil Risiko Investasi Kita

Profil risiko seseorang dapat terbentuk dari komponen-komponen seperti:

  1. Umur dan tahapan kehidupan. Semakin muda seseorang, pada umumnya dia akan lebih agresif. Meski investasi lebih berisiko, investor muda akan lebih berani untuk masuk karena mengharap imbal hasil yang lebih tinggi.
  2. Kebutuhan likuiditas. Jika kita tipe orang yang baru merasa aman jika punya dana tunai yang siap sedia, maka kita termasuk konservatif. Beberapa investasi dengan risiko tingggi juga bisa likuid, tetapi nilai investasinya belum tentu sesuai dengan apa yang kita harapkan, saat kita mau menjualnya.
  3. Tingkat imbal hasil yang kita cari. Semakin inggi tingkat imbal hasil yang dicari, maka semakin agresif kita dalam berinvestasi.
  4. Toleransi terhadap risiko investasi. Jika kita bisa jantungan saat melihat nilai investasi naik turun dalam jangka pendek, maka profil kita semakin konservatif.
  5. Tingkat literasi keuangan. Seperti dikatakan sebelumnya, rasa takut muncul karena perasaan aman yang minim. Dengan begitu, kita akan mencari aman dengan berinvestasi di tempat yang “aman-aman” saja dari  sudut pandang, nilai investasi tidak mungkin turun dan kapan pun bisa dilikuidasi.
  6. Jangka waktu investasi. Semakin lama jangka waktu yang kita miliki, maka kita bisa menolerir kesalahan-kesalahan dalam berinvestasi.

Secara umum, investor terbagi menjadi tiga karakter utama, yaitu konservatf, moderat, dan agresif. Apabila kita selalu jantungan melihat nilai investasi kita naik turun dan menjadi tidak bisa tidur nyenyak, maka besar kemungkinan kita tergolong investor dengan profil risiko konservatif. Sedangkan, bila kita tergolong masih di usia produktif dan sangat ingin melihat nilai inestasi kita tumbuh diatas rata-rata bunga deposito, maka besar kemungkinan kita tergolong investor dengan profil risiko agresif.

Sumber : Buku Menjadi Cantik, Gaya dan Tetap Kaya (Prita Ghozie)

Advertisements

Panduan Mudah untuk Disiplin Mengatur Anggaran

Kunci anggaran yang sukses adalah relistis dan disiplin. Berikut panduan yang cukup mudah untuk menerapkan disiplin:

  1. Buat rekening-rekening terpisah untuk urusan belanja bulanan, bayar tagihan utilitas, rekening investasi, dan rekening khusus seperti “My shopping account”  atau “Spa for me” . Kita harus punya instruksi debit otomatis ke masing-masing rekening. Namun, bisa juga setiap tanggal gajian langsung disebarkan dananya menurut anggaran ke rekening-rekening tersebut.
  2. Jka tidak terbiasa dengan transaksi elektronik, gunakan metode amplop. Isilah amplop sesuai dengan anggaran bulan itu.

Adapun indikator yang dapat memberikan sinyal bahwa seseorang itu boros adalah:

  1. Tidak pernah berhasil memiliki sisa arus kas untuk tabungan dan investasi.
  2. Arus kas sangat ketat di akhir bulan dan bahkan defisit.

Sumber : Buku Menjadi Cantik, Gaya dan Tetap Kaya (Prita Ghozie)

Membuat Prioritas dengan Metode ZAPFIN

Setiap pendapatan yang kita terima sebaiknya digunakan dengan pembagian sebagai berikut:

  1. Zakat.  Di dalam semua pendapatan dan harta yang diperoleh terdapat hak milik orang lain. Kita harus dapat membersihkan bagian tersebut dalam bentuk zakat, infak, sumbangan, sedekah, ataupun wakaf.
  2. Assurance. Dalam perencanaan hidup, kita harus mampu mengalokasikan sebagian pendapatan untuk kebutuhan yang sifatnya tidak terduga. Uang yang diperoleh harus dapat disisihkan dalam bentuk Dana Darurat dan Pembayaran Premi Asuransi.
  3. Present Consumption. Pendapatan yang kita peroleh harus dapat disisihkan untuk kebutuhan hidup saat ini secara wajar. Artinya, kita harus memiliki sejumlah uang untuk membeli makanan, pakaian, dan sarana hidup lainnya.  Harta yang kita sisihkan untuk keperluan ini disebut simpanan.
  4. Future Spending. Cara terbaik untuk memperoleh berbagai keinginan dalam hidup adalah melalui konsep menabung. Menabung secara harfiah disebutkan sebagai menyisihkan sebagian pendapatan untuk keperluan konsumsi di masa mendatang. Tabungan yang kita bentuk ini akan digunakan untuk keperluan hidup dalam jangka waktu dibawah 5 tahun. Harta yang kita sisihkan untuk keperluan ini disebut tabungan.
  5. Investment. Last but not least, investaso mutlak dilakukan sebagai sarana untuk memenuhi keperluan jangka panjang atau pada masa sudah tidak produktif lagi. baik karena faktor usia maupun faktor kesehatan. Investasi adalah menempakan sebagian harta yang merupakan sisa hasil penyisihan pendapatan dan akumulasi harta pada suatu kegiatan ekonomi dengan tujuan mendapatkan tambahan nilai di masa mendatang. Harta yang kita sisihkan untuk keperluan ini disebut investasi.

Sebagai patokan umum, kita bisa mengalokasikan :

  • 2.5% untuk zakat
  • Minimal 5% untuk membangun dana darurat dan 5% untuk membayar premi asuransi
  • Alokasi untuk bulan ini (termasuk pengeluaran gaya hidup) sebaiknya tidak lebih dari 60%
  • Paling tidak 15% dari penghasilan dapat ditujukan untuk tabungan dan investasi
  • Bila masih punya cicilan utang, maka porsinya jangan lebih dari 30%. Jika ada, maka yang dikorbankan adalah biaya hidup bulanan.

Sumber : Buku Menjadi Cantik, Gaya dan Tetap Kaya (Prita Ghozie)