Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga

Jika dilihat dalam rujukan fatwa para ulama mengenai hukum dasar ibu bekerja semua menyimpulkan boleh dengan syarat. Syarat tersebut yang berkaitan dengan hal-hal yang menjaga kemuliaan para wanita agar jangan sampai wanita bekerja justru menghilangkan status kemuslimahannya. Intinya boleh, apalagi bagi wanita yang pekerjaannya dibutuhkan oleh umat, seperti dokter kandungan atau perawat dan pekerjaan lain yang memang membutuhkan wanita. “Mana yang lebih utama?” Jika membahas tentang keutamaan maka bukan berarti pilihan yang lainnya merupakan kehinaan. Keutamaan hanya menunjukkan lebih tinggi dengan yang lain, itupun dengan syarat. Sebab banyak hadits yang membahas tentang keutamaan-keutamaan. Misal hadits “muslim yang kuat lebih dicintai daripada muslim yang lemah”. Apakah muslim yang lemah itu hina? TIDAK. Hanya memang lebih utama muslim yang kuat. Begitupun perihal ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Maka jawabannya berdasarkan Al-qur’an dalam surat Al Ahzab: 33 “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, ….”

Ibu lebih utama di rumah. Apakah keutamaan ini terikat satu poin saja, tidak, sebab bersyarat. Ibu di rumah lebih utama jika menjalankan fungsi keibuan. Ibu rumah tangga akan mendapatkan sisi yang positif, mendapatkan derajat yang baik jika menjalankan fungsi keibuan.

Apa yg harus dimiliki seorang ibu terkait fungsi keibuan??
Dalam sebuah H.R. Muslim, Rosul menyebutkan,”Nikahilah olehmu seorang wanita yang
a. Al Walud (subur, untuk perbaikan keturunan agar bisa dibanggakan Rosulullah di hari akhir); dan
b. Al Wadud, akar katanya Al Wudd (Q.S Maryam : 96 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”) Memiliki makna yang sama dengan al mawaddah (Q.S ArRum ayat 21″…Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang…”).

Jika Al Mawaddah bermakna kasih dan sayang untuk pasangan, maka Al Wadud bermakna kasih dan sayang untuk anak yang menyebabkan seorang anak ingin selalu mendekat kepada ibu.

Indikator saat kita menjalankan fungsi keibuan adalah ketika anak selalu ingin menempel pada ibunya. Inilah yang akan kita bahas dan kita evaluasi apakah ibu rumah tangga dan ibu bekerja memiliki Al Wadud ini.

Jika fungsi keibuan yaitu Al Wadud dijalankan, ciri keberhasilannya adalah apakah ibu dirindukan atau tidak? Sebab petaka pertama pengasuhan adalah ketika ibu tak lagi dirindukan. Ibu bekerja dan ibu rumah tangga sama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi ibu yang dirindukan. Bukan lagi membahas mana yang lebih utama, karena saat ini banyak ibu rumah tangga namun tak dirindukan sebab hilangnya sifat Al Wadud.

Awal seorang ibu memiliki anak sifat Al Wadud masih kuat. Bagaimana agar Al Wadud terjaga? Agar ibu tetap menjadi yang dirindukan, anak selalu ingin bersama ibunya, maka lihat ciri-cirinya. Saat anak dipeluk atau didekati apakah ia menolak atau merasa nyaman? Indikasi kedua ketika anak tak mau bercerita karena kecelakaan bagi orang tua adalah ketika anak tak lagi bercerita dan memiliki wilayah privasi yang orang tua tidak boleh mengetahuinya. Misi pertama ibu adalah mengikat hati anak agar anak takluk hatinya. “Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota tubuh ibarat anggotanya” (Majmu al Fatawa)

Tips Mengikat Hati Anak:

1. Senantiasa berpikir dan berperasaan positif

Terlepas ibu adalah seorang pekerja atau yang di rumah, jika emosi ibu negatif seperti bau busuk yang membuat anak tak mau mendekat. Anak membaca bahasa tubuh ibu. Maka tugas ibu adalah senantiasa berpikir dan berperasaan positif. Ketika ibu mulai memiliki perasaan negatif, maka menghindar dari anak adalah lebih baik. Sekaligus ibu mencari cara bagaimana agar ibu bisa berpikir dan berperasaan positif. Ibu harus memiliki beberapa skill salah satunya menulis, terutama bagi ibu-ibu yang memiliki kecenderungan berpikir dan berperasaan negatif. Ibu yang sering menulis emosinya lebih stabil. Seperti perkataan Iman An-Nawawi “menulis itu mencerahkan pikiran dan mencerahkan batin”. Sebab jika ibu tidak menulis kecenderungan untuk melakukan hal buruk pada anak sangat besar.

2. Belajar menjadikan anak prioritas

(Al-‘Isrā’):26 – Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, ….
(Ar-Rūm):38 – Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, ….
Jika ibu bekerja bisa bersabar menghadapi klien maka seharusnya bisa lebih sabar dalam menghadapi anak. Jika ibu bekerja sebagai guru TK dan sangat sabar menghadapi murid-murid, maka semestinya anak ibu lebih berhak mendapatkan kesabaran ibu.
Cara melatih agar anak selalu menjadi prioritas adalah sering melihat wajah anak ketika bayi. Jika sudah muncul amarah pada anak, mengingat wajah bayinya membuat kita akan menjadi lebih sabar.

3. Manajemen waktu

  • Me time adalah hak wanita, istri Rosulullah memiliki ‘me time’ untuk solat, berdoa, berpuasa dan ibadah lain saat ia tidak mendapat giliran. Ibu berhak solat, membaca alqur’an tanpa harus diburu oleh tangisan anak, dan ibu berhak melakukan kesenangan yang dibolehkan oleh agama ini. Suami ambil alih sementara untuk menjaga anak.
  • Couple time, untuk memberikan kekuatan energi pada ibu. Penting bagi ibu untuk punya waktu berdua dengan suami untuk berdiskusi, bercengkerama, bercanda tanpa menyertakan anak. Saat ibu mulai kehilangan al wadudnya, yang pertama kali harus dievaluasi adalah suami, sebab artinya itu mewakili perasaan bahwa ia sedang tidak bahagia dengan suaminya. Penting bagi suami membuat ibu bahagia agar al wadud tak hilang dari ibu.
  • Family time, berkumpul dengan keluarga.
  • social time, ibu berhak untuk berkumpul bersama teman-temannya.

4. Skill dasar seorang ibu

  • Memasak, hal yang membuat anak selalu rindu kepada ibu adalah masakan ibu.
  • Menulis (sudah dibahas)
  • Memijat, agar anak selalu merasa dekat pada ibu. Sebab ketika anak nyaman dipijat oleh ibu di daerah tertentu, seperti perut, punggung dan telapak tangan, maka anak akan lancar bercerita dan cenderung terbuka.
  • Mendengar, jadilah pendengar setia dengan respon terbaik, bukan sekadar menasehati ketika anak bercerita.

5. Merebut golden moment

Ada 3 waktu yang ibu tidak boleh absen, terutama bagi ibu yang bekerja.

  • Hadirlah saat anak sedih, sebab ketika anak sedih ia memerlukan sandaran jiwa, siapapun yang hadir saat itu akan dianggap sebagai pahlawannya, maka ibu wajib menjadi pahlawan yang mendengar kesedihannya apapun dan bagaimanapun kondisi ibu saat itu. Jika tidak mendapati ibunya, maka ia akan mencari ‘orang lain’ yang bisa jadi berbahaya bagi dirinya. Dicontohkan oleh Rosulullah yang hadir saat ada seorang anak yang sedih karena kehilangan burung pipitnya.
  • Hadirlah saat anak sakit, saat anak sakit yang sakit bukan sekadar fisiknya tapi juga jiwanya.
  • Hadirlah saat anak unjuk prestasi, anak akan tidak percaya pada ibunya jika ibu tidak datang saat anak unjuk prestasi. Maka bagi ibu yang bekerja, serepot apapun agendakan dengan sekolah sang anak kapan jadwal unjuk prestasi. Hal ini dicontohkan oleh Rosulullah yang selalu hadir saat anak sedang mementaskan prestasinya, Rosulullah hadir saat bani Aslam sedang melakukan lomba memanah.

Maka ibu wajib menjadikan 5 poin ini sebagai pegangan, sudahkah dirindukan, sudahkah anak dekat dengan kita.
Membahas kesadaran bersama bagi para ibu yaitu bahwa anak adalah prioritas. Profesi ibu adalah yang utama, sisanya SAMBILAN saja.

Ada 7 indikasi yang ditunjukkan anak sebagai syarat bahwa mau tidak mau ibu harus kembali ke rumah, ibu tidak bisa memaksakan bekerja saat sudah tampak bahwa anak memiliki 7 indikasi kerusakan;

  1. Anak selalu membangkang
    Ibu yang gagal mengikat hati anak karena sibuk bekerja, indikasinya adalah anak selalu membangkang. Sebab anak yang dekat dengan ibunya akan taat meskipun dalam keadaan terpaksa.
  2. Anak tidak hormat pada ibunya terutama ketika ibu dalam keadaan marah. Jika ibu marah dan anak tambah melawan dan membantah, maka sangat disarankan lebih baik off bekerja daripada kehilangan momen.
  3. Anak punya privasi, saat anak memiliki banyak rahasia maka ini menunjukkan indikator bahaya. jika anak memiliki banyak rahasia dari ibunya, hak tersebut adalah tanda bahwa anak tidak nyaman dengan ibunya.
  4. Ketika anak tidak pernah mendengar nasehat ibunya sebagau rujukan. Indikator anak yang dekat dengan ibunya adalag ketika anak selalu menjadikan ibu sebagai rujukan.
  5. Saat anak tidak betah ada di rumah. Sebab rumah memiliki ratu bernama ibu, jika ibu tak lagi dirindukan maka anak tidak akan betah di rumah.
  6. Anak sudah berani mengatakan kriteria jodoh “asal bukan seperti ibu”.
  7. Ketika anak tak memahami bahasa tubuh orang tua, bahkan cenderung membiarkan kita tersakiti.

Indikator-indikator ini mohon jadikan sebagai bahan evaluasi. Jangan menunggu 7 hal ini terjadi, selalu perbaiki kedekatan bersama anak agar menjadi ibu yang dirindukan.

Kenapa banyak ibu yang dimusuhi anaknya “sebab ada peran yg tertukar” antara ibu dengan ayah. Peran ibu adalah sebagai pemberi rasa aman, sedangkan peran ayah sebagai penegak aturan. Q.S An Nisa: 34 “laki-laki adalah pemimpin bagi wanita…”
Makna pemimpin dari ayat ini adalah sebagai penegak aturan. Ibu jangan mengambil alih peran ini.

Para ayah wajib bantu istri agar tidak kehilangan al wadudnya. Istri jangan mengambil wilayah aturan. Suami wajib mengingatkan istri bahwa yang menegakkan aturan adalah suami, maka jika ibu ingin memiliki aturan untuk anak, sampaikan pada suami. Istri hanya memberikan usulan. Anak rusak, itu tanggung jawab suami.

Semoga hal ini bisa menjadikan perbaikan bagi rumah tangga, ketika ibu dan ayah menjalankan fungsinya. Ibu dengan kasih sayang, ayah dengan ketegasannya.
Lakukan diskusi bersama. Penting agar ibu dan ayah selalu melakukan harmonisasi. Sebab biasanya permasalahan anak hanya 20% sisanya karena komunikasi ibu dan bapak yang tak selesai. Banyak anak yang tidak patuh pada orang tuanya karena sering melihat pemandangan konflik antara ibu dan ayahnya. Ayah wajib bantu ibu menjadi yang dirindukan terlepas ibu bekerja atau di rumah dengan memfasilitasi agar ibu memiliki pikiran dan perasaan yang positif.

Oleh : Ustadz Bendri Jaisyurrahman

Advertisements

Pola Asuh Anak yang Ibunya Bekerja

Yang hilang dari ibu bekerja adalah:

1. Attachment (kelengketan)
Bukan dari segi fisik melainkan dari jiwa ke jiwa. Dengan kurangnya attachment ini, maka rangsangan ke otak juga berkurang. Saat discan, anak dengan attachment yang cukup akan lebih berwarna dibandingkan yang kurang.

2. Waktu
Waktu terbagi dua yaitu real time dan moment. Moment anak mulai berjalan, mulai bicara. Ada kebutuhan anak yang tidak dapat dipenuhi oleh ibu di sini.

3. Komunikasi
Saat anak beranjak dewasa, komunikasi biasanya lebih banyak menggunakan media HP. Tidak ada ekspresi yang bisa ditangkap.
Kita harus menyadari tiga poin yang hilang tersebut. Otak akan bekerja sesuai dengan kebiasaan terbentuk. Pada ibu yang bekerja, dalam otaknya mau tidak mau porsi pikirannya akan lebih didominasi oleh masalah pekerjaan. Akhirnya porsi anak juga akan jadi berkurang secara otomatis. Switching harus didorong oleh kesadaran yang besar, dukungan keluarga, dan upaya dari orang yang bersangkutan.

Bagaimana menyiasatinya?

1. Attachment
Saat pulang, ambillah jarak antara pekerjaan dengan tanggungjawab sebagai ibu/ayah. Lepaskan semua beban pekerjaan di tempat kerja, entah itu tugas yang masih belum terselesaikan atau kemacetan di jalan yang membuat stres. Kita harus selalu ingat bahwa ketika diamanahi seorang anak, maka kita bertanggung jawab penuh pada Allah. Gunakan waktu untuk lebih banyak mengobrol, memeluk, membaca bahasa tubuh, dan mendengarkan perasaannya. Ini bukan masalah quality time versus quantity time. Tidak akan mungkin ada quality time tanpa ada quantity time.

2. Komunikasi
Harus pandai membaca bahasa tubuh dan menebak perasaannya agar anak merasakan adanya penerimaan.

30 menit sebelum sampai rumah, kita harus fokus. Tinggalkan semua pikiran tentang gadget.

Camkan dalam hati, ‘anakku sudah menunggu di rumah, anakku yang merupakan titipan dari Allah, anakku bisa saja sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya, saya harus memenuhi atau membayar waktu kala tidak berada di sampingnya.’

Jika tubuh terlalu lelah sedangkan anak terlalu cranky, beri batasan pada anak, ‘Maaf ya, Nak. Ibu/Ayah capek, kalau kamu begitu terus, ibu/ayah bisa marah, sebentar ya.’ Lalu usahakan untuk cooling down diri sendiri, bisa dengan shalat, mandi, atau hal lainnya. Pikirkan lagi dalam-dalam bahwa hutang waktu pada anak harus dibayar.

Jika amat terpaksa menggunakan baby sitter, maka camkan dalam hati bahwa dia hanyalah asisten. Kita juga harus telusuri riwayat baby sitter dengan baik. Bagaimana latar belakang keluarganya? Pola asuh ayah dan ibunya? Karena secara langsung akan memengaruhi caranya merawat anak kita. Jangan lupa pula untuk cek HPnya untuk mengetahui adanya pornografi atau tidak. Hal yang terakhir adalah poin yang kerap terlewatkan pada kebanyakan keluarga saat ini. Wallahu’alam

Oleh : Ibu Elly Risman, Psi

Mau dibawa kemana keluarga kita ?

Ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab saat memulai rumah tangga : mau dibawa kemana keluarga kita? Pertanyaan ini akan menggiring kita kepada sikap dan cara berumah tangga. Jika kita menjawabnya mengalir bagai air, seraya berharap mengalir ke danau jernih meskipun ternyata ngalirnya ke got atau septic tank, maka sikap kita dalam berumah tangga cenderung reaktif layaknya pemadam kebakaran. Hanya sibuk memadam masalah yg tiba-tiba muncul. Inilah model keluarga survival. Hidup yang penuh adrenalin. Berdebar debar, khususnya dirasakan para istri. Hanya menerka nerka apa gerangan yg terjadi esok sambil siapin mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Jika Anda naik roller coaster semenit aja bisa muntah-muntah, maka model keluarga seperti ini dijamin akan membuat cemas dan berpeluang stroke.

Lain halnya jika Anda jelas tujuannya mau kemana. Dan tau jalan menuju tujuan itu. Meskipun berliku-liku dan ada turbulensi dan guncangan sepanjang jalan, tetap kan tegar. Karena telah memprediksi kejadian tersebut sebelumnya. Inilah keluarga yg punya visi. Bukan berarti gak punya masalah. Namun tau apa yg dilakukan saat menghadapi masalah karena jelas tujuan dan arahnya.

Maka, visi berkeluarga menjadikan kita menikmati setiap irama hidup berumah tangga. Baik iramanya dangdut koplo atau black metal. Masing-masing telah dipahami pola nadanya. Saat berkelimpahan tau sikap yg dilakukan, saat berkesusahan mengerti strategi yg diterapkan. Tetap optimis sampai ke tujuan. Tidak saling menyalahkan. Sebab masing masing anggota paham rute dan medannya.

Itulah kenapa perintah agama senantiasa mengajak kita untuk membuat visi dalam berbagai hal khususnya dalam berkeluarga. Allah katakan dalam alquran surat al hasyr ayat 18 : Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah tiap tiap diri melihat apa yang akan dilakukannya esok hari. Maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”

Ayat ini memakai kalimat تنظر dari kata نظر yang maknanya melihat dengan jelas. Ini menandakan bahwa masalah visi adalah bukan sekedar dalam pikiran namun terimajinasikan hingga seolah-olah kita melihatnya. Dengan melihat jelas itulah kita melihat dua hal : peluang sekaligus tantangan. Peluang kita jadikan alat untuk meraih tujuan dan tantangan kita sikapi dengan antisipasi sedari awal. Inilah keluarga yang selamat.

Karena itu, sebelum biduk dikayuh hendaknya masing masing anggota keluarga saling mengingatkan tujuan, ‘kita mau kemana?’ Jangan sampai energi mengayuh habis sepanjang jalan hanya untuk siap siap tenggelam karena tidak mengerti arah dan tujuan bersandar.

Sebagai muslim, Allah telah membuat panduan visi dalam keluarga. Visi umum ini mutlak kita ikuti. Tinggal misi operasionalnya yg berbeda antar keluarga. Visi yang dimaksud di antaranya : 1. Terbebas dari siksa api neraka (At tahrim : 6) 2. Masuk surga sekeluarga (ath thur : 21)

Kedua visi ini memberi petunjuk kita bahwa urusan akherat adalah prioritas. Bukan sambilan. Apalagi dianggap penghambat kesuksesan dunia. Jangan sampai muncul kalimat : ngajinya libur dulu ya, besok kamu mau UN. Ntar UN nya keganggu lagi. Ini menunjukkan bahwa kita telah gagal menempatkan akherat sebagai prioritas. Padahal urusan akherat itu yg utama sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al qososh ayat 77(silahkan buka sendiri ayatnya)

Untuk menjaga visi berkeluarga agar sesuai dgn petunjuk quran tersebut, maka mulailah dari dominasi tema dialog dalam rumah tangga kita. Ada sebuah ungkapan masyhur yg diucap Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tarikhnya “dialog yg sering dibicarakan antar rakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya”. Kesimpulan ini beliau ucapkan setelah meneliti visi para pemimpin di zaman dinasti umayyah, mulai dari Sulaiman bin Abdul Malik, Walid bin Abdul Malik hingga ke Umar bin Abdul Aziz. Apa yg dibicarakan rakyat menunjukkan visi pemimpinnya. Saat rakyat banyak dialog tentang jumlah anak istri dan cucu ternyata sesuai dengan visi Sulaiman yg memang concern kepada urusan pernikahan dan keluarga. Begitupun saat rakyat banyak berdialog tentang uang dan harta di masa Walid, sebab memang visinya walid seputar materi dan pembangunan.

Dan anehnya begitu di masa Umar bin Abdul Aziz rakyat lebih banyak dialog tentang iman dan amal sholeh. Tersebab memang pemimpinnya, yakni umar, kuat visinya akan akherat,

Dengan demikian, coba perhatikan dialog dalam keluarga kita, khususnya anak anak sebagai ‘rakyat’ dalam keluarga, Itulah visi asli kita. Jika lebih banyak bicarakan liburan dan makanan sebab visi keluarga mungkin seputar wisata kuliner. Sebaliknya jika sudah mulai bicarakan hal hal seputar agama, itu tanda visi akherat dari ortu telah sampai kepada mereka.

Mulailah dari perbaikan lisan (al ahzab : 70) lewat dialog yg bernuansakan akherat, maka kelak akan terperbaiki amalan kita menuju cita cita : masuk surga bersama. Inilah sejatinya keluarga. Yakni ketika kumpul bersama di surga. Dan terhindar dari keluarga broken home, dimana bukan yg tercerai berai di dunia, namun keluarga yg tak mampu kumpul bersama di surga. Semoga Allah kabulkan pinta kita tuk ajak sanak famili kumpul bersama di jannahNya. Aamiin

Oleh : Ustadz Bendri Jaisyurrahman

Membangun Keluarga Harus Punya Visi yang Jelas

Keluarga adalah lingkup terkecil dari sebuah komunitas kehidupan. Dalam keluarga terdapat tatanan model pemerintahan yang sederhana. Namun, kesederhanaan ‘pemerintahan’ tersebut tidak bisa dianggap remeh. Sebab, justru kesejahteraan sebuah negara, tergantung pada kesejahteraan tatanan sosial, yang dibentuk dari ‘pemerintahan’ terkecil, yakni keluarga.

Selama ini setiap muslim yang menikah, sangat sedikit sekali yang memahami esensi dari sebuah pernikahan tersebut. Pemahaman menikah hanya sebatas sebuah kebutuhan biologis atas dasar cinta dengan lawan jenis untuk mencari kebahagiaan dan ketentraman hati. Tidak salah memang, namun nilai ketauhidannya sungguh kurang, sehingga banyak sekali kasus yang tidak seharusnya timbul dalam kerumahtanggan, timbul.. seperti tingkat perceraian yang tinggi, orientasi berumah tangga yang tak jelas, kesibukan dan kebutuhan yang tak kunjung selesai kepadatannya seiring berjalannya roda kehidupan, dan kasus-kasus lain. Penyebabnya adalah ilmu. Kurangnya ilmu menyebabkan salahnya tujuan dan salah dalam praktik untuk mencapai tujuan.

Manusia itu memiliki kecenderungan yang terbagi menjadi 3, yaitu intimacy, passion, and commitment. Intimacy adalah rasa cinta kepada saudara, keluarga, dan teman. Rasa itu menghasilkan sebuah ikatan emosional dalam tatanan sosial skala umum dengan intensitas masing-masing, seperti rasa cinta pada keluarga memiliki feel yang berbeda dengan cinta kepada teman, namun masih dalam lingkup intimacy.

Lalu Passion adalah rasa cinta atau gairah yang menggebu terhadap sesuatu. “Perasaan cinta inilah yang mengawali fitrah manusia suka kepada lawan jenisnya. Apabila tidak terkendali, maka akibatnya adalah melakukan pacaran, penuh nafsu.”

Terakhir commitment, yakni tekad terhadap sesuatu untuk suatu alasan. Konteks commitment di sini adalah tekad terhadap pasangan membangun keluarga, untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan lahir dan batin.

“Di sinilah keluarga itu terbentuk. Rasa cinta yang disalurkan secara benar dengan komitmennya terhadap pasangan adalah dibuktikan dengan sebuah pernikahan, bukan pacaran,”

Sejatinya, secara ilmiah dalam tubuh manusia, ketika kita merasakan perasaan cinta, nyaman, bugar, bergairah, terdapat hormon yang bekerja. Hormon tersebut bernama endorphine. Ketika hormon ini bekerja, di sinilah letak persimpangan kemana akan menuju, apakah cara yang berkah atau tidak.

Cara yang berkah tentunya adalah cara yang sesuai dengan syariat, dan akan sulit ditempuh jika tidak memiliki pemahaman tauhid yang murni di dalam dada. Jadi, dasar pokok agar rasa cinta kita menuju pernikahan yang penuh berkah, adalah dengan tauhid (berketuhanan) yang bukan sekedar tauhid (iman) biasa, namun juga yang murni, yaitu yang seluruh tuntunan syariat, terpenuhi dengan baik sehingga visi hidupnya jelas. Sementara cara yang tidak berkah adalah sebaliknya, yang tidak sesuai dengan syariat.

Memilih pasangan harus dengan iman. Bencana terbesar di dunia pernikahan dalam hidup adalah ketika memilih pasangan yang tak beriman, tidak menegakkan ibadah-ibadah yang menunjukkan keimanannya seperti ibadah basic/pokok yang termaktub pada rukun islam.

Setelah menikah nanti, dalam memilih tempat tinggal juga harus menggunakan ketajaman mata hati dengan penuh pertimbangan keimanan. “Pilihlah rumah yang lebih utama adalah berdekatan dengan masjid, dan bertetangga dengan orang-orang shalih, bukan rumah yang walau bebas banjir tapi di lingkungan kafir”

Dra. Wirianingsih, Msi. memberikan tips bagaimana membangun keluarga, yakni harus memiliki visi yang jelas. Tidak Cuma modal cinta, tapi sebuah tanggung jawab dan kerja sama antara suami dan istri yang saling mendukung.

Bu Wiwi sempat bercerita tentang keluarganya. Ia bersyukur mampu mendidik anak-anaknya untuk mencintai Al-Qur’an sejak dini. Alhamdulillah hampir seluruh putra putrinya mampu menghafalkan 30 juz. Subhanallah!

“Anak-anak pada usia 0 – 7 adalah masa-masa emas, seperti tanah lempung, di mana kita bisa membentuk sesuai yang kita fikirkan dan arahkan sebagaimana hadist nabi : Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi.”

Bu Wiwi juga memberikan tips mengatur jadwal untuk anak-anak dan keluarga. “Buatlah jadwal yang konsisten untuk putra putri kita, kalau perlu ditulis dan ditempelkan”, paparnya. “Jadwal saya dengan anak-anak mengaji dan tidak bisa diganggu gugat adalah ba’da maghrib dan ba’da subuh. Di dalam jadwal itu, ada mengaji dan talaqi serta murajaahnya anak-anak.”

“Ini berkat kedekatan kita dengan Al-Qur’an, Dia (Al-Qur’an) itu sumber inspirasi yang tak pernah habis, apalagi jika ditambahkan dengan sirah nabawiyah serta cerita-cerita para orang shalih seperti Imam Maliki, Imam Ghazali, Imam Syafi’i, dan lain-lain. Dengan meneladani kisah-kisah mereka, insya Allah kita bisa sukses dalam kehidupan ini.”

Sumber : Ar-Rahman Pre Wedding Academy

Agar Cinta Bersemi Indah

Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah Ta’ala telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.

Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Di pesawat misalnya, kita punya waktu luang yang sangat banyak untuk membaca. Tetapi karena tidak kita sadari –dan akhirnya tidak kita manfaatkan dengan baik—beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.

Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.

Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.

Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak ada dalam diri kita.
Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.

Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?

Tetapi…

Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.

Banyak suami-istri yang tidak punya waktu untuk ngobrol ringan berdua, tetapi sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. Seakan-akan mereka sedang menikmati kebersamaan, padahal yang kerapkali terjadi sesungguhnya mereka sedang menciptakan ke-sendirian bersama-sama. Secara fisik mereka berdekatan, tetapi pikiran mereka sibuk sendiri-sendiri.

Tentu saja bukan berarti tak ada tempat bagi suami istri untuk melihat tayangan bergizi, dari TV atau komputer (meski saya dan istri memilih tidak ada TV di rumah karena sangat sulit menemukan acara bergizi. Sampah jauh lebih banyak). Tetapi ketika suami-istri telah terbiasa menenggelamkan diri dengan tayangan TV untuk menghapus penat, pada akhirnya bisa terjadi ada satu titik ketika hati tak lagi saling merindu saat tak bertemu berminggu-minggu. Ada pertemuan, tapi tak ada kehangatan. Ada perjumpaan, tapi tak ada kemesraan. Bahkan percintaan pun barangkali tanpa cinta, sebab untuk tetap bersemi, cinta memerlukan kesediaan untuk berbagi waktu dan perhatian.

Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan.

Tentang bagaimana menyemai cinta di rumah kita, silakan baca kembali Agar Cinta Bersemi Indah (Gema Insani Press, 2002, edisi revisi insya Allah akan diterbitkan Pro-U Media). Selebihnya, di atas cara-cara menyemai cinta, yang paling pokok adalah kesediaan kita untuk meluangkan waktu dan memberi perhatian. Tidak ada pendekatan yang efektif jika kita tak bersedia meluangkan waktu untuk melakukannya.

Nah.

Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, ia cenderung akan memiliki kesediaan untuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami. Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta?

Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta. Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar-bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya.

Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja membuat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak. Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki semangat yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak.

Cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 

Tarbiyah Anak

Mendidik anak kadang mirip mengasah sebuah pisau. Butuh ketelitian dan kehati-hatian. Kalau tidak, bukan sekadar pisau yang akan menjadi tajam; tangan pun bisa luka tergores.

Setiap ibu ingin punya anak yang saleh. Taat pada Allah, bakti sama orang tua. Kalau anak bisa seperti itu, ibu mana pun akan senang. Selain karena sukses menunaikan amanah Allah, kelak di masa tua pun bisa menenteramkan.

Namun, tidak semua keinginan baik punya jalan gampang. Karena anak bukan seperti mainan lilin yang bisa dibentuk cuma dengan gerakan jari tangan. Ada hal lain yang harus diperhatikan. Butuh kesabaran, juga keteladanan. Hal itulah yang kini dirasakan Bu Cici.

Ibu dua anak ini mungkin di antara mereka yang beruntung. Betapa tidak, Allah menganugerahinya dua anak yang baik dan cerdas. Yang balita sudah bisa baca Alquran, yang di SD hafal tiga juz. Subhanallah.

Namun, kondisi itu tidak bikin Bu Cici berpuas diri. “Masih banyak yang harus dilakukan!” ucap Bu Cici mengomentari ancungan jempol seorang temannya.

Satu hal yang sangat ingin dilakukan Bu Cici adalah menjadikan sulungnya bisa berdalih dengan Alquran. Dalam hal apa pun. Mulai dari urusan sehari-hari, hingga seputar keindahan alam semesta. Semua harus didasarkan Alquran. Di surah mana, dan ayat keberapa.

Bu Cici berharap, sulungnya kelak bukan sekadar bisa hafal teks Alquran, tapi juga mampu memahami dan menghubungkannya dengan dunia nyata. “Apa nggak terlalu berat, Mi?” tanya suami Bu Cici suatu kali. Dengan mantap Bu Cici mengatakan, “Tidak!”

Mulailah hari-hari perjuangan buat si sulung. Mau tidak mau, ia harus akrab dengan Alquran terjemah. Kalau dapat hadiah dari ibunya, ia bukan sekadar harus mengucapkan ‘alhamdulillah’. Tapi, mesti bisa menyebutkan surah dan ayat tentang itu.

Biasanya, Bu Cici memberikan kemudahan. Sebagai awalan, ia menyebut nama surahnya. Dan ayatnya harus dicari sendiri oleh si anak. “Cari di surah Adh-dhuhaa!” ucap Bu Cici sambil merapikan buku-buku dongeng si bungsu. “Ketemu?” tanya Bu Cici beberapa saat kemudian. “Ada, Mi. Di ayat kesebelas! ‘Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur),” ujar si sulung begitu bersemangat. Dan, Bu Cici pun mengangguk ringan.

Kalau sedang marah pun Bu Cici tetap mengkondisikan anaknya melihat Alquran. “Nak, kamu harus nurut apa kata Abi dan Umi,” ujar Bu Cici agak ketus. “Ayatnya?” sergah si sulung santai. “Lihat surah Al-Israh ayat kedua puluh tiga dan dua puluh empat. Hafalkan!” tegas Bu Cici lebih serius.

Kadang, Bu Cici yang harus menerima pertanyaan dari si sulung. “Mi, kenapa bulan dan matahari cahayanya beda. Ada nggak ada dalam Alquran?” ucap Si Sulung sesaat setelah menatap cahaya bulan purnama dari balik jendela.

Deg. Bu Cici agak gugup. Pertanyaan itu di luar dugaannya. Ia agak bingung mau jawab gimana. Tapi, Bu Cici tidak kehilangan cara. Ia pun tersenyum sambil berlalu meninggalkan si sulung. “Umi mau kemana?” tanya si sulung agak heran. “Umi mau ke belakang sebentar!” jawabnya setengah berteriak.

Saat itulah, Bu Cici buka-buka indeks Alquran. Dahinya mulai berkerut ketika pencarian belum juga selesai. Ia khawatir kalau si sulung mendapatinya dalam kebingungan. Dan, “Alhamdulillah, ketemu juga!” gumam Bu Cici sambil melangkah menuju si sulung yang masih asyik menatap bulan.

“Umi kok lama amat!” ucap si sulung tanpa basa basi. “Ada yang Umi kerjakan di belakang!” jawab Bu Cici ringan. “Tadi pertanyaannya apa, ya, Nak?” tambahnya sambil berlagak lupa. Dan si sulung pun mengulangi pertanyaannya.

Sejenak, Bu Cici seperti berpikir keras. “Oh iya. Umi hampir lupa. Soal sinar matahari dan bulan disebut Alquran dalam surah Yunus ayat kelima,” jawab Bu Cici tanpa memperlihatkan kesulitan sedikit pun. Ia pun membaca ayat itu beserta terjemahannya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)…

“Anakku. Ayat itu menjelaskan bahwa mataharilah yang bersinar, sementara bulan hanya bercahaya. Itulah kenapa matahari lebih terang dari bulan,” jelas Bu Cici begitu meyakinkan. “Subhanallah!!” sambut si sulung begitu takjub.

Karena dirasa berhasil, Bu Cici dapat penghargaan dari suami tercinta. Hadiahnya begitu berharga buat Bu Cici. Sebuah ponsel. Wow, sesuatu yang selama ini cuma dalam khayalan Bu Cici. “Alhamdulillah, ya Allah!” ucap Bu Cici sambil sujud syukur. Sejak itu, kemana pun Bu Cici keluar rumah, ponselnya tak pernah ketinggalan.

Hingga suatu kali, Bu Cici tergopoh-gopoh pulang dari suatu majelis taklim yang belum selesai. Ia ingin mengambil ponselnya yang ketinggalan. Ketika di rumah, Bu Cici tambah bingung. Soalnya, ponselnya tidak ada di tempat biasa.

“Nak, kamu lihat HP Umi?” tanya Bu Cici ke sulungnya. “Lihat!” jawab si sulung enteng. “Mana?” tanya Bu Cici cepat. “Udah dikasih pengemis!” jawab si sulung masih dengan nada ringan. Bu Cici kaget. “Apa? Kamu kasih orang?” sergahnya agak marah. “Kenapa, Nak?”

“Lihat surah Ali Imran ayat ke sembilan puluh dua. Hafalkan!” ucap si sulung menirukan gaya ibunya. (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…)

Oleh : Muhammad Nuh

Masuk Surga Sekeluarga

Masuk surga sekeluarga tentunya menjadi dambaan setiap keluarga muslim. Akan tetapi dalam mewujudkannya diperlukan ilmu yg bisa mengantarkan kita sampai pada cita-cita tertinggi tersebut. Beberapa hal penting yg harus diperhatikan setiap keluarga Muslim agar menjadi “Keluarga Surga” bahkan bisa merasakan “Surga” sejak di dunia adalah sebagai berikut :

1. Menjadikan “Masuk Surga” sebagai visi bersama di Keluarga.

Ceritakan kepada anak dan pasangan tentang gambaran keindahan surga yg sudah dituliskan dalam Al-Qur’an. Surga itu indahnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah pula didengar permisalannya dengan telinga, dan tidak pernah pula dibayangkan oleh benak. Tidak ada lagi kata tidak boleh didalam surga.

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yg menanti, yg indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yg mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah : 17)

Nikmatnya masuk surga sekeluarga:
“Dan orang-orang yg beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Q.S. Ath-Thur : 21)

Ulangi kalimat ‘masuk surga sekeluarga yuk’ agar menjadi keinginan dan tujuan bersama. Saling mengingatkan untuk masuk surga bersama. Bikin grup keluarga agar bisa intens berkomunikasi.

2. Memaksimalkan fungsi rumah
Jadikan rumah sebagai tempat bagi seluruh anggota keluarga untuk menambah keimanan dan ketaqwaan sekaligus menjadi tempat menyiapkan “bekal” ketika berkiprah dan bekerja diluar rumah dengan menjadikan rumah memiliki 4 fungsi berikut :

  • Rumah ibadah

Salah satu fungsi rumah dalam islam adalah harus menjadi rumah ibadah, rumah untuk menegakkan keimanan kepada Allah SWT dan untuk melaksanakan ibadah dari yang wajib sampai yang sunnah-sunnah.

  • Rumah Ilmu

Kalau ingin masuk surga sekeluarga, setelah menjadi rumah ibadah harus menjadikan Rumah kita nanti harus menjadi rumah ilmu. Ilmu adalah alamat yang bisa mengantarkan kita kepada Allah. Orang tua harus mengajarkan anak agar kenal dengan Allah. Harus dibacakan 1 ayat 1 hari kepada anak-anak, harus dibacakan hadis bersama”.

  • Rumah Pembentukan Karakter

Jadikan rumah kita rumah pembinaan karakter bagi anak. Karakter anak yang bertaqwa. Kalau rumah itu mau baik dan masuk surga sekeluarga harus sering-sering disebut “nak, kata Allah” atau “nak, kata Rasulullah..” karena seorang anak itu narasinya kuat. 3 hal yg harus diajarkan orang tua kepada anak :Tauhid, Menghindari syirik, Berserah diri pada Allah. Pendidikan aqidah (larangan syirik) Pendidikan self control (ma’rifatullah) Pendidikan etika/adab (birrul walidain) Pembentukan karakter/pembiasaan (shalat, amar makruf nahi munkar, bersabar dan memiliki kekuatan tekad) Pendidikan interaksi sosial (tawadhu’/tidak sombong) Pendidikan bersikap moderat (cara bicara, berjalan dan bersikap).

  • Tempat Ketenangan dan Ketentraman

Ada jin yang tidak suka rumah tangga harmonis. Ada juga orang yang tidak suka dengan rumah tangga orang dan ingin mengganggu rumah tangga tersebut. Bagaimana agar keluarga dan rumah kita tidak diganggu? Caranya adalah dengan biasakan masuk rumah dan kamar dengan mengucapkan salam serta meminta pertolongan dengan kebesaran Allah. Jadikan cengkrama di rumah mirip dengan cengkramanya para penduduk surga. Sejak di dunia cengkramanya harus seperti obrolannya penduduk surga. Biasakan ngobrol tentang surga dikeluarga. Saling mengingatkan akan azab di neraka. (As shaffat : 50-61)

Oleh : Ust. Bachtiar Nasir, Lc