Perasaan yang Mendahului Pernikahan

Oleh: Ust. Moh. Fauzil Adhim

DIA adalah Khadijah. Seorang wanita terhormat, bangsawan terpandang dari kalangan Quraisy, klan elit di Makkah. Ia berasal dari keluarga yang mempunyai kedudukan dan kemuliaan. Orang di masanya, pasti tahu siapa Khadijah. Mereka mengenal keagungan, kebesaran dan keutamaannya. Wanita pengusaha yang mandiri dan penuh pengorbanan.

Kalau kemudian ia menikah dengan Muhammad, pemuda miskin yang yatim piatu itu, bukan karena tak ada orang yang meminangnya. Telah banyak yang datang kepadanya, dan sebanyak itulah ia tidak bersedia menjadi istri. Padahal mereka adalah orang-orang kaya, orang-orang berpengaruh, orang-orang terhormat, orang-orang dari kalangan bangsawan dan orang-orang yang sangat diperhitungkan di antara kaumnya.

Ia memilih Muhammad karena ia menyukai. Ia memilih Muhammad karena ia tahu akhlak Muhammad yang tinggidan perilakunya halus. Kepada Muhammad ia mengatakan, “Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu.”

Ketika simpati itu ada, dan perasannya menguat, Khadijah mulai berketetapan bahwa Muhammadlah yang paling berhak untuk menjadi suaminya. Sebaik-baik orang yang pantas untuk didampingi dengan kesetiaan penuh dan kecintaan yang dalam adalah Muhammad.

Ketika perasaan itu menguat dan ketetapan sudah bulat, ia menyuruh pembantu laki-lakinya Maisarah untuk memperhatikan gerak-gerik Muhammad. Ia mengirim utusan kepada Muhammad untuk memintanya berangkat ke Syam membawa barang dagangan Khadijah dalam suatu kafilah.

Khadijah menyer¬takan Maisarah dalam kafilah itu agar dapat memperhatikan gerak-gerik dan tingkah lakunya dari dekat. Sehingga Khadijah memperoleh keterangan dari orang yang benar-benar mengetahui, tidak menurut kabar burung yang belum jelas kebenarannya.

Khadijah kemudian memberanikan diri untuk menawarkan diri kepada Muhammad. Ia berharap Muhammad akan menangapi pikiran dan perasaannya, tetapi ia tidak melihat tanda-tanda yang menunjukkan hal itu pada diri Muhammad. Ia ingin menjajagi bagaimana sesungguhnya pikiran dan perasaan Muhammad. Karena itu, Khadijah kemudian meminta temannya, Nafisah binti Munayyah, menemui Muhammad.

Di sejumlah buku sirah, kita dapati nukilan percakapan antara Nafisah binti Munayyah dengan Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu belum menjadi rasul. Saya tidak berani mengutipkan di sini karena percakapan tersebut tidak memiliki sandaran riwayat yang kuat. Karena itu, saya memilih untuk menyampaikan hal-hal pokok terkait peristiwa ini, yakni atas perantaraan Nafisah binti Munayyah, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam akhirnya berkenan menikah dengan Khadijah al-Kubra. Ketika Muhammad tidak memiliki harta yang cukup untuk disebut besar.

Tepat pada waktu yang telah ditetapkan bersama oleh keluarga dari kedua belah fihak, berangkatlah Muhammad bersama beberapa orang paman beliau, dipimpin oleh Abu Thalib, untuk secara resmi menyampaikan lamaran kepada Khadijah. Ketika masanya tiba, sejarah pun mencatat peristiwa akad nikah yang paling barakah. Tak ada yang lebih barakah dari pernikahan itu sesudahnya.

Begitu kisah pernikahan Siti Khadijah dan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Ada perasaan yang mendahului pada diri Khadijah karena terkesan oleh akhlaknya, kemudian diseriusi dengan usaha untuk mencapai pernikahan. Kelak dari pernikahan ini, lahir manusia-manusia suci yang dimuliakan Allah. Lahir Zainab yang memiliki putri Umamah. Lahir Fathimah yang dari rahim sucinya Allah mengaruniakan keturunan paling mulia, Al-Hasan dan Al-Husain.

Jadi, kalau suatu saat ada rasa simpati yang tumbuh kepada seorang ikhwan, tanyakanlah ke¬sungguhan hati Anda. Jika perasaan itu terus mekar dan memantapkan keinginan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya, periksalah akhlak dan agamanya. Anda bisa mencari seorang Maisarah yang dapat memperhatikan gerak-geriknya dari dekat, sehingga anda mendapatkan informasi mengenai akhlak, agama dan sikapnya dari orang yang memang mengetahui sendiri. Bukan dari cerita-cerita yang tak jelas sum¬bernya. Anda bisa mengingat kisah percakapan Umar dengan orang yang akan menyampaikan informasi mengenai seseorang.

Kalau Anda telah mendapatkan informasi yang semakin meyakinkan Anda, kini saatnya Anda bisa mencari seorang Nafisah binti Munayyah untuk menjajagi perasaan dan pikiran orang yang Anda harapkan. Seorang wanita yang matang lebih bisa membicarakan masalah-masalah gerak hati wanita dan menyelami pikiran laki-laki. Apalagi kalau sudah mempunyai beberapa anak.*

Advertisements

Keutamaan Wanita Dunia dibanding Bidadari Surga

Al Imam Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah, bahwa ia Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Yaa Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli..”

Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya bermata jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”

Aku (Ummu Salamah) berkata lagi, “Jelaskanlah padaku Ya Rasulullah, tentang firman-Nya : Laksana mutiara yang tersimpan baik (Al Waqi’ah 23) .. !”

Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia..”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah  : Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik (Ar Rahman 70) ..!”

Beliau menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”

Aku bertanya lagi, “Jelaskanlah padaku firman Allah: Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (Ash Shaffat 49) ..!”

Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yg ada bagian dalam telur dan terlindung dari kulit bagian luarnya, atau yang biasa disebut putih telur.”

Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah: Penuh cinta lagi sebaya umurnya (Al Waqi’ah 37) ..!”

Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yg meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yg lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”

Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridho dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan merekapun masuk surga. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”

Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu diapun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaq nya. Lalu dia berkata, “Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya..”

…Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akirat.”
(HR Ath Thabrani)

Potret Keluarga Teladan dalam AL-Qur’an

Dalam Al-Qur’an banyak terdapat potret keluarga sepanjang zaman. Ada potret keluarga saleh dan ada juga potret keluarga celaka. Potret-potret keluarga tersebut meskipun terjadi pada masa dan lingkungan yang berbeda dengan masa saat ini, akan tetapi ia tetap mengandung banyak hikmah dan pelajaran berharga yang senantiasa kekal sepanjang zaman. Dalam tulisan sederhana ini, kita akan mengetengahkan beberapa potret keluarga teladan dalam Al-Qur’an untuk kemudian kita petik hikmah dan pelajaran-pelajaran berharganya.

Pertama: Keluarga Imran 

Satu-satunya surat dalam Al-Qur’an yang diberi nama dengan nama sebuah keluarga adalah surat Ali Imran (keluarga Imran). Tentunya bukan sebuah kebetulan nama keluarga ini dipilih menjadi salah satu nama surat terpanjang dalam Al-Qur’an. Di samping untuk menekankan pentingnya pembinaan keluarga, pemilihan nama ini juga mengandung banyak pelajaran yang dapat dipetik dari potret keluarga Imran.

Satu hal yang unik adalah bahwa profil Imran sendiri -yang namanya diabadikan menjadi nama surat ini- tidak pernah disinggung sama sekali. Yang banyak dibicarakan justru adalah istri Imran (imra`atu Imran) dan puterinya; Maryam. Hal ini seolah mengajarkan kita bahwa keberhasilan seorang kepala rumah tangga dalam membawa anggota keluarganya menjadi individu-individu yang saleh dan salehah tidak serta merta akan menjadikan profilnya dikenal luas dan kesohor. Boleh jadi dirinya tidak dikenal orang -kecuali hanya sekedar nama- tetapi rumah tangga yang dipimpinnya telah menjadi sebuah rumah tangga yang sukses dan teladan banyak orang. Hikmah ini juga mengingatkan kita pentingnya mensucikan niat dalam setiap amal perbuatan untuk semata-mata mengharap ridha Allah swt., bukan ingin dikenal sebagai seorang kepala tangga yang sukses, ingin dipuji dan sebagainya.

Niat sangat menentukan kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukan. Orang yang niatnya dalam beramal hanya untuk memperoleh sesuatu -baik berupa pujian, penghargaan, materi dan sebagainya- maka amalnya akan berhenti setelah ia merasa telah memperoleh apa yang ia angankan. Berbeda dengan orang yang beramal karena mengharap ridha Allah. Ia akan senantiasa beramal tanpa kenal lelah atau putus asa karena ia tidak tahu apakah ridha Allah yang ia harapkan itu sudah ia gapai atau belum.

Dikisahkan bahwa Imran dan istrinya sudah berusia lanjut. Akan tetapi keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Maka istri Imran bernazar, seandainya ia dikaruniai Allah seorang anak ia akan serahkan anaknya itu untuk menjadi pelayan rumah Allah (Baitul Maqdis). Nazar itu ia ikrarkan karena ia sangat berharap agar anak yang akan dikaruniakan Allah itu adalah laki-laki sehingga bisa menjadi khadim (pelayan) yang baik di Baitul Maqdis. Ternyata anak yang dilahirkannya adalah perempuan. Istri Imran tidak dapat berbuat apa-apa. Allah swt. telah menakdirkan anaknya adalah perempuan dan ia tetap wajib melaksanakan nazarnya. Ia tidak mengetahui bahwa anak perempuan yang dilahirkannya itu bukanlah anak biasa. Karena ia yang kelak akan menjadi ibu dari seorang nabi dan rasul pilihan Allah. Setelah itu, anak perempuan -yang kemudian diberi nama Maryam- tersebut diasuh dan dididik oleh Zakaria yang juga seorang Nabi dan Rasul, serta masih terhitung kerabat dekat Imran. Kisah ini dapat dilihat pada surat Ali Imran ayat 35-37.

Ada beberapa pelajaran berharga yang dapat dipetik dari potret Keluarga Imran ini:

Satu:

Apa yang menjadi keinginan besar dari istri Imran adalah bagaimana anaknya kelak menjadi abdi Allah seutuhnya. Bahkan, sebelum anaknya lahir ia telah bernazar bahwa anaknya akan diserahkan untuk menjadi pelayan di rumah Allah. Selayaknya, setiap orang tua muslim memiliki orientasi seperti halnya ibu Maryam ini. Ia tidak risau dengan nasib anaknya secara duniawi karena ia yakin bahwa setiap anak yang lahir sudah Allah jamin rezekinya. Apa yang menjadi buah pikirannya adalah bagaimana anaknya mendapatkan lingkungan yang baik untuk menjaga agama dan kehormatannya. Dengan orientasi seperti ini tidak mengherankan bila putrinya Maryam tumbuh menjadi seorang wanita yang paling suci di muka bumi. Lebih dari itu, ia dimuliakan oleh Allah dengan menjadi ibu dari seorang Nabi dan Rasul yang mulia; Isa bin Maryam melalui sebuah mukjizat yang luar biasa yaitu melahirkan anak tanpa seorang suami. Maka, orientasi orang tua tehadap anaknya adalah sesuatu yang sangat penting sebagaimana pentingnya membekali mereka dengan nilai-nilai keimanan sejak kecil.

Dua:

Ketabahan dan kesabaran istri Imran dalam menerima takdir Allah swt. ketika anak yang dilahirkannya ternyata perempuan dan bukan laki-laki sebagaimana yang ia harapkan. Kesabaran dan sikap tawakal menerima keputusan Allah ini ternyata menyimpan rahasia yang agung bahwa kelak anak perempuan tersebut akan menjadi ibu seorang Nabi dan Rasul. Alangkah perlunya sikap ini diteladani oleh setiap keluarga muslim, terutama yang akan dikaruniai seorang anak. Boleh jadi apa yang Allah takdirkan berbeda dengan apa yang diharapkan. Namun yang akan berlaku tetaplah takdir Allah, suka atau tidak suka. Maka, kewajiban seorang muslim saat itu adalah menerima segala takdir Allah itu dengan lapang dada dan suka cita, karena Allah tidak akan menakdirkan sesuatu kecuali itulah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Tiga:

Maryam kecil akhirnya diasuh oleh Zakaria yang masih famili dekat dengan Imran. Tentu saja asuhan dan didikan Zakaria -yang juga seorang Nabi dan Rasul ini- sangat berdampak positif bagi pertumbuhan diri dan karakter Maryam, sehingga ia tumbuh menjadi seorang gadis yang suci dan terjaga harga dirinya. Dikisahkan bahwa ketika malaikat Jibril menemuinya dalam rupa seorang lelaki untuk memberi kabar gembira kepadanya tentang ia akan dikaruniai seorang putra, Maryam menjadi sangat takut melihat sosok lelaki asing yang tiba-tiba hadir di hadapannya. Hal itu tak lain karena ia memang tidak pernah bergaul dengan laki-laki manapun yang bukan mahramnya. Inilah sifat iffah (menjaga diri) yang didapat Maryam dari hasil didikan Zakaria. Untuk itu, setiap orang tua muslim selayaknya memilih lingkungan dan para pendidik yang baik bagi anak-anaknya, apalagi di usia-usia sekolah yang akan sangat menentukan pembentukan karakter dan pribadinya di masa-masa akan datang.

Seandainya orang tua keliru dalam memilih lingkungan dan sarana pendidikan bagi anak-anaknya, maka kelak akan timbul penyesalan ketika melihat anak-anaknya jauh dari tuntunan etika dan akhlak yang mulia.

Kedua: Keluarga Nabi Ibrahim AS.

Barangkali dari sekian potret keluarga yang disinggung dalam Al-Qur’an, keluarga Nabi Ibrahimlah yang banyak mendapat sorotan. Bahkan dimulai sejak Ibrahim masih muda ketika ia dengan gagah berani menghancurkan berhala-berhala kaum musyrikin sampai ia dikaruniai anak di masa-masa senjanya. Keluarga Nabi Ibrahim as. termasuk keluarga pilihan di seluruh alam semesta. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 33: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran di seluruh alam semesta.” Akan tetapi, kita hanya akan mengambil beberapa episode saja dari rangkaian sejarah keluarga Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an.

Episode paling terkenal dari kisah Nabi Ibrahim adalah ketika Allah swt. mengaruniakan seorang putra kepadanya di saat usianya sudah sangat lanjut, sementara istrinya adalah seorang yang mandul. Namun Allah swt. Maha Kuasa untuk berbuat apa saja, sekalipun hal itu melanggar undang-undang alam (sunan kauniyah), karena toh alam itu sendiri Dia yang menciptakan.

Ibrahim yang sudah renta dan istrinya yang mandul akhirnya memperoleh seorang putra yang diberi nama Ismail. Penantian yang sekian lama membuat Ibrahim sangat mencintai anak semata wayangnya itu. Tapi, Allah swt. ingin menguji imannya melalui sebuah mimpi -yang bagi para nabi adalah wahyu-. Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Sebelum melaksanakan perintah itu, terjadi dialog yang sangat harmonis dan menyentuh hati antara anak dan bapak. Ternyata, sang anak dengan hati yang tegar siap menjalani semua kehendak Allah. Ia bersedia disembelih oleh ayahnya demi menjalankan perintah Allah swt. Ketegaran sang ayah untuk menyembelih sang anak dan kesabaran sang anak menjalani semua itu telah membuat mereka berhasil menempuh ujian yang maha berat tersebut. Allah swt. menebus Ismail dengan seekor domba, dan peristiwa bersejarah itu diabadikan dalam rangkaian ibadah korban pada hari Idul Adha. Kisah ini direkam dalam Al-Qur’an surat ash-Shaffaat ayat 100-107.

Ada beberapa pelajaran yang ingin kita petik dari penggalan kisah keluarga Nabi Ibrahim as. ini:

Satu:

Dialog yang baik dan harmonis antara seorang ayah dan anaknya. Meskipun Ibrahim meyakini bahwa perintah menyembelih anaknya itu mesti dilaksanakan, akan tetapi Ibrahim tetap melakukan dialog bersama putranya untuk meminta pendapatnya. Inilah barangkali yang mulai hilang dari keluarga muslim saat ini. Posisi anak dalam keluarga cenderung diabaikan dan dipandang sebelah mata. Anak seolah hanya berkewajiban untuk sekedar menuruti segala perintah orang tua tanpa memiliki hak bicara dan berpendapat sedikitpun. Akhirnya hubungan orang tua dengan anak ibarat hubungan atasan dengan bawahan. Hubungan seperti ini apabila dibiarkan terus berlanjut akan menghambat perkembangan karakter dan pribadi anak. Anak cenderung menjadi penakut dan tidak percaya diri. Atau kepatuhan yang ditampilkannya pada orang tua yang bersikap seperti ini hanyalah kepatuhan yang semu, sementara di dalam jiwanya ia menyimpan sikap penentangan dan pembangkangan yang luar biasa. Ia hanya mampu memendam sikap penentangan itu tanpa mampu melampiaskannya. Sikap penentangan ini akan menjadi bom waktu dalam jiwa anak yang suatu saat akan meledak jika situasi dan kondisinya mendukung.

Agar semua ini tidak terjadi, perlu dibangun komunikasi dan dialog yang harmonis antara orang tua dan anak. Kebiasaan orang tua yang selalu meminta pendapat anaknya -khususnya yang berhubungan langsung dengan dirinya- akan memberikan rasa percaya diri yang besar dalam jiwa anak. Ia akan merasa keberadaannya dalam keluarga dihargai dan diperhatikan. Selanjutnya, perasaan ini akan menumbuhkan sikap kreatif dan proaktif dalam jiwa anak di tengah-tengah masyarakat.

Dua:

Kesabaran Ismail dalam menjalankan perintah Allah untuk menyembelih dirinya. Adalah sesuatu yang teramat berat untuk menjalankan perintah seperti ini, apalagi dari seorang anak yang masih sangat belia. Tentu saja ini adalah hasil dari sebuah didikan yang luar biasa. Pendidikan yang mampu menumbuhkan sikap tawakal yang luar biasa dalam jiwa anak. Pendidikan yang membuat anak bersedia menjalankan apapun perintah Allah, sekalipun akan mengorbankan nyawanya. Namun hal itu tidaklah mustahil, karena dalam rentang sejarah Islam juga banyak anak-anak yang sangat dewasa dalam menjalankan perintah Allah. Diriwayatkan bahwa anak-anak para salafusshaleh sering berpesan kepada ayahnya sebelum ayahnya pergi mencari nafkah: “Ayah, carilah rezeki yang halal, karena sesungguhnya kami mampu bersabar dalam kelaparan tapi kami tidak akan mampu bertahan dalam siksa neraka.”  Tentunya sikap seperti ini hanya dapat dihasilkan melalui pendidikan yang serius sejak dini dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam jiwa anak sedari kecil.

Tiga:

Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah akan selalu mendatangkan hasil terbaik. Ketika Ibrahim dan Ismail bersikap sabar dan tabah dalam menjalankan perintah Allah, meskipun itu sangat berat, Allah swt. menerima pengorbanan mereka dan menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga pilihan di alam semesta. Mereka telah lulus menjalani sebuah ujian yang sangat berat. Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah itu hanya dapat diperoleh dengan keimanan yang kuat dan keyakinan yang kokoh bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik meskipun bertentangan dengan hawa nafsu manusiawi.

Empat:

Cinta pada anak adalah ujian. Oleh karena itu Allah swt. berfirman bahwa anak-anak dan istri bisa menjadi musuh bagi seseorang jika semua itu akan melalaikannya dari mengingat Allah swt. (at-Taghaabun:14). Bagaimanapun cintanya orang tua kepada anaknya, hal itu tidak boleh menyamai apalagi melebihi cinta mereka kepada Allah. Ketika istri, anak-anak dan keluarga lebih dicintai daripada Allah, saat itulah mereka akan berubah menjadi musuh di akhirat kelak. Bahkan cinta kepada anak-anak tidak boleh melebihi cinta kepada Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya.”

Ketiga: Keluarga Luqman

Ulama berbeda pendapat apakah Luqman seorang Nabi atau hanya seorang yang bijak bestari. Pendapat terkuat adalah bahwa Luqman bukanlah seorang Nabi melainkan seorang ahli hikmah (hakiim). Namanya diabadikan menjadi nama salah satusurat dalam Al-Qur’an. Sebagian besar ayat-ayat dalam surat Luqman bercerita tentang nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya. Pelajaran berharga yang dapat kita ambil di sini adalah seyogyanya pendidikan dasar pertama yang diterima oleh anak adalah datang dari orang tuanya sendiri. Orang tualah yang paling bertanggung jawab untuk mendidik dan mengarahkan anaknya ke jalan yang baik. Adapun sekolah hanyalah sebagai sarana pendukung dalam proses pendidikan anak secara formal. Jadi, selayaknya orang tua selalu memberikan nasehat-nasehat berharga kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Karena di masa-masa itu, ingatan mereka masih sangat kuat untuk merekam apa saja yang disampaikan kepada mereka. Dalam usia-usia tersebut, mereka ibarat kertas putih yang bisa ditulis dengan apa saja. Alangkah baiknya bila orang tua memanfaatkan masa-masa itu untuk membentuk karakter dan pribadi anak-anaknya dalam bingkai keimanan dan akhlak yang mulia.

Ada beberapa nasehat yang diberikan Luqman kepada anaknya seperti yang tercantum dalam surat Luqman ayat 13 – 19:

Satu:

Jangan mempersekutukan Allah. Ini merupakan pelajaran aqidah yang paling mendasar yang mesti diberikan kepada anak sejak dini. Jika iman dan aqidah sudah tertanam dengan kuat dalam dirinya, niscaya ia akan tumbuh menjadi anak yang konsisten, penuh tanggung jawab dan tegar menghadapi segala cobaan hidup.

Dua

Berbakti pada kedua orang tua. Orang tua sebagai faktor lahirnya anak ke muka bumi adalah orang yang paling berhak untuk diberikan bakti oleh anak-anak. Begitu pentingnya berbakti kepada orang tua sampai-sampai dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw. bersabda: “Keridhaan Allah terletak di atas keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah terletak di atas kemurkaan orang tua.”

Tiga:

Mendirikan shalat dan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Pembiasaan ibadah kepada anak-anak sejak kecil sangat berguna untuk memberi kesadaran kepada mereka bahwa keberadaan mereka di dunia ini semata-mata hanyalah untuk mengabdi kepada Allah swt. Dengan demikian ia akan hidup dengan sebuah misi dan target yang jelas. Misinya adalah berubudiyah kepada Allah, sementara targetnya adalah mencapai ridha Allah.

Hal ini sekaligus juga akan menumbuhkan dalam diri anak keberanian memikul sebuah tugas dan tanggung jawab serta mampu bersikap disiplin. Sebab, semua jenis ibadah yang diajarkan oleh Islam mengajarkan kita untuk berani memikul amanah dan disiplin dalam menjalankannya. Di samping itu, yang dituntut dalam melaksanakan sebuah ibadah bukan sekedar lepas kewajiban, melainkan yang terpenting adalah pembentukan pribadi dan karakter yang baik yang tampak nyata dalam aktivitas sehari-hari sebagai buah yang positif dari rutinitas ibadah yang dikerjakan.

Empat:

Jangan berlaku sombong. Nasehat ini sangat berharga bagi anak-anak sebagai bekal dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Jika ia ingin diterima oleh masyarakat, ia mesti menjauhi segala pantangan pergaulan dalam masyarakat. Karena, jika ia bersikap sombong maka secara tidak langsung sesungguhnya ia telah merendahkan orang lain. Dan siapapun orangnya sudah pasti memiliki harga diri dan tidak akan rela bila dipandang enteng dan diremehkan. Maka, modal utama pergaulan dalam masyarakat adalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dan tidak menganggap diri lebih dari orang lain.

Keempat: Keluarga Nabi Ya’qub AS.

Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishak dan cucu Nabi Ibrahim. Ia mempunyai putra yang juga seorang Nabi yaitu Yusuf as., sehingga Nabi Yusuf digelari dengan al-Karim ibnu al-Karim ibnu al-Karim (orang yang mulia putra dari orang yang mulia dan cucu dari orang yang mulia).

Kisah Nabi Ya’qub as. bersama anak-anaknya dimuat dalam surat Yusuf secara sempurna. Kisah tersebut dijuluki oleh Allah sebagai ahsanul qashash (kisah terbaik). Di samping jalan ceritanya yang menarik, kisah ini juga mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat berharga. Kisah keluarga Ya’qub ini diawali dengan mimpi yang dialami oleh Yusuf kecil. Ia melihat sebelas bintang, matahari dan bulan sujud kepadanya. Yusuf menceritakan mimpinya itu kepada ayahnya. Nabi Ya’qub mengetahui bahwa anaknya ini kelak akan menjadi orang besar dan terpandang. Oleh karena itu, Nabi Ya’qub meminta anaknya untuk merahasiakan mimpinya itu dari saudara-saudaranya yang lain.

Sejak saat itu, kasih sayang dan perhatian Nabi Ya’qub kepada anaknya Yusuf semakin bertambah. Hal itu kemudian membuat anak-anak Nabi Ya’qub lainnya merasa iri pada Yusuf. Akhirnya, setelah mengelabui sang ayah, mereka melemparkan Yusuf ke dalam sumur tua. Mereka pulang dengan membawa baju Yusuf yang telah dilumuri darah kambing, lalu mengadukan pada ayah mereka bahwa Yusuf telah dimakan serigala.

Yusuf kemudian dipungut oleh kafilah dagang yang sedang menuju negeri Mesir. Yusuf dijual sebagai seorang budak. Ia dibeli oleh seorang pejabat istana kerajaan Mesir. Setelah melalui berbagai cobaan (seperti digoda oleh istri tuannya yang membuatnya dijebloskan ke penjara karena menolak rayuan maut itu) Yusuf akhirnya menjadi tokoh berpengaruh di Mesir. Ia mendapatkan posisi penting dalam mendistribusikan kebutuhan pokok pada segenap warga selama musim paceklik melanda. Ternyata paceklik juga menimpa keluarga Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub menyuruh anak-anaknya meminta bantuan kepada penguasa Mesir yang sesungguhnya adalah putranya sendiri. Akhirnya setelah beberapa kali pertemuan, Nabi Yusuf baru memberitahukan kepada saudara-saudaranya yang datang meminta bantuan pangan itu bahwa dialah Yusuf yang dulu mereka lemparkan ke dalam sumur tua. Tak berapa lama setelah itu, Nabi Ya’qub berjumpa kembali dengan putranya tercinta dan keluarga Nabi Ya’qub diboyong ke Mesir untuk hidup bersama Nabi Yusuf yang telah menjadi seorang pembesar dan tokoh berpengaruh di negeri itu.

Ada beberapa pelajaran yang ingin kita petik dari kisah keluarga Nabi Ya’qub ini:

Satu:

Adalah sesuatu yang lumrah dan manusiawi bila hati seorang ayah atau ibu lebih condong kepada salah seorang anaknya dibanding yang lain. Rasa sayang yang lebih itu bisa jadi karena anak tersebut lebih patuh, lebih cerdas, lebih santun dan sebagainya. Hal itu tidak menjadi dosa bagi orang tua. Karena Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa tidak seorangpun yang mampu berbuat adil secara sempurna (an-Nisa`: 129). Yang dituntut oleh Islam dari orang tua adalah adil secara lahir. Artinya, meskipun secara batin dan di dalam hatinya ia lebih menyukai dan menyayangi salah seorang di antara anak-anaknya, akan tetapi dalam hal-hal yang tampak nyata ia wajib berlaku adil, seperti dalam mendidik, memberi nafkah, mencukupi segala kebutuhannya dan lain sebagainya. Orang tua akan berdosa seandainya rasa sayangnya yang berlebih pada beberapa orang anaknya membuatnya membeda-bedakan mereka dalam hak-hak secara lahir seperti pendidikan yang layak, uang belanja yang cukup, melengkapi kebutuhan sehati-hari dan sebagainya. Pada intinya, orang tua harus pandai dan bijak dalam membagi perhatiannya terhadap anak-anaknya sehingga tidak menimbulkan kecemburuan yang negatif dalam hati sebagian mereka.

Dua:

Rasa cemburu yang berlebihan dan tak dapat dikendalikan bisa menjadi faktor yang sangat berbahaya dalam menghancurkan sebuah keluarga. Rasa cemburu ini dapat menghinggapi siapa saja. Suami cemburu pada istri atau sebaliknya, kakak cemburu pada adik atau sebaliknya dan seterusnya. Seorang yang merasa cemburu cenderung akan berusaha melampiaskan perasaannya dengan berbagai cara meskipun akan membahayakan jiwa saudaranya sendiri. Dalam kisah keluarga Nabi Ya’qub di atas, rasa cemburu telah menjerumuskan saudara-saudara Yusuf ke dalam lingkaran dosa yang panjang; mereka tega mencelakakan saudara sendiri, melanggar janji mereka semula untuk menjaga Nabi Yusuf, berbohong kepada ayah mereka dengan mengatakan bahwa Yusuf diterkam serigala dan seterusnya. Seorang ayah mesti menyikapi perasaan cemburu diantara anak-anaknya dengan baik dan penuh bijaksana. Sikap yang dipilih oleh Nabi Ya’qub menghadapi anak-anaknya yang dihinggapi perasaan cemburu yang berlebihan itu adalah bersabar. Beliau hanya mengatakan: fashabrun jamiil (maka sabarlah yang lebih baik). Seandainya Nabi Ya’qub mengusir anak-anaknya yang telah menyia-nyiakan putra kesayangannya, tentu hal itu bukan sebuah solusi bijak dalam mendidik mereka, karena akhirnya mereka akan semakin lari atau bahkan membenci ayah mereka sendiri.

Kelima: Keluarga Nabi Daud AS.

Awalnya, Nabi Daud adalah salah seorang tentara dalam pasukan yang dipimpin oleh Thalut. Karena keberhasilan Daud membunuh Jalut (al-Baqarah: 251) bintangnya mulai berkibar dan akhirnya ia menjadi seorang raja besar Bani Israil. Putranya, Sulaiman juga seorang Nabi dan Rasul yang kelak mewarisi kekuasaan ayahnya. Jadi, bisa dibilang keluarga Nabi Daud adalah potret keluarga elit kekuasaan yang taat kepada Allah. Nabi Daud selalu menyuruh keluarganya untuk senantiasa mengerjakan shalat dan berzikir. Dikisahkan bahwa Nabi Daud memiliki waktu-waktu tertentu dimana ia bermunajat dan berzikir kepada Allah di mihrabnya. Di saat seperti itu, tak seorangpun yang boleh dan berani mengganggu beliau. Ternyata kekuasaan besar yang diberikan kepadanya sama sekali tidak menghalanginya untuk mengkhususkan sebagian waktunya tenggelam dalam lautan zikir kepada Allah.

Selain nuansa ibadah dan zikir, keluarga Nabi Daud juga kental dengan nuansa ilmu pengetahuan. Sudah jamak diketahui bahwa Nabi Daud adalah manusia pertama yang mampu mengolah besi dengan tangannya untuk berbagai keperluan terutama persenjataan perang. Di samping itu, Nabi Daud juga dikenal sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana yang mampu memecahkan berbagai permasalahan yang paling rumit sekalipun dengan baik. Tentunya semua itu membutuhkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Sifat ini kemudian diwarisi oleh putranya, yaitu Nabi Sulaiman. Bahkan dalam beberapa kasus, Allah swt. memberikan pemahaman yang lebih kepada Nabi Sulaiman, sehingga berkat ilmu dan kecerdasannya kasus-kasus tersebut dapat diselesaikan dengan penuh keadilan. Jadi, sebelum mereka berkuasa dengan kekuatan fisik dan senjata, mereka telah berkuasa lebih dahulu dengan kekuatan ilmu dan kecerdasan.

Keenam: Keluarga Nabi Syu’aib AS. Bersama Kedua Puterinya

Setelah lari dari Mesir untuk menghindari pengejaran tentara Fir’aun, Nabi Musa as. tiba di sebuah negeri yang bernama Madyan. Di sana ia melihat kerumunan manusia yang sedang berdesak-desakan untuk mengambil air dari sebuah sumur. Tak jauh dari kerumunan itu tampak dua orang gadis sedang berdiri menunggu hingga kerumunan itu bubar. Musa mendekati kedua gadis tersebut dan bertanya,“Kenapa dengan kalian?” Keduanya menjawab, “Kami tidak bisa mengambil air sampai mereka semua selesai, sementara ayah kami sudah sangat tua”. Tanpa pikir panjang lagi, Nabi Musa segera membantu kedua orang gadis itu untuk mengambil air.

Tidak berapa lama setelah itu, Nabi Musa diundang untuk datang oleh ayah kedua gadis itu yang tak lain adalah Nabi Syu’aib as.  Dalam surat al-Qashash ayat 25 disebutkan bahwa salah seorang dari kedua gadis yang disuruh oleh ayahnya untuk mengundang Nabi Musa itu datang sambil malu-malu. Ia tidak termasuk tipe gadis salfa’ (gadis yang terlalu berani pada laki-laki). Rasa malu gadis itu dibalas oleh Nabi Musa dengan penuh bijak dan berwibawa ketika ia meminta gadis itu untuk berjalan di belakangnya untuk menjaga pandangan dan bisikan hati dari hal-hal yang dihembuskan oleh setan dan hawa nafsu.Muru`ah (harga diri) seorang laki-laki muslimlah yang telah mendorong Nabi Musa untuk menjaga hati dan juga ‘iffah (kesucian diri) gadis itu.

Ternyata ayah sang gadis bermaksud menawarkan Nabi Musa untuk menikahi salah seorang puterinya. Tawaran itu pun dibalas oleh Nabi Musa dengan penuh mulia yaitu pengabdian selama lebih kurang delapan tahun sebagai mahar dari pernikahan tersebut.

Dari petikan kisah ini ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari Keluarga Nabi Syu’aib AS.:

Satu:

Nabi Syu’aib as. telah mengambil sebuah keputusan yang penuh bijaksana dan berani ketika ia ingin menikahkan salah seorang puterinya dengan seorang pemuda asing yang tidak memiliki apa-apa selain agama. Inilah faktor utama yang mendorong bagi Nabi Syu’aib untuk mengambil Nabi Musa sebagai menantu. Faktor ini pulalah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama bagi setiap orang tua muslim dalam mencarikan jodoh untuk anaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan,“Apabila datang kepadamu pemuda yang kamu sukai agamanya maka nikahkanlah ia (dengan puterimu), karena kalau tidak akan timbullah fitnah”. Ketika orang tua tidak lagi memperdulikan faktor agama, tapi lebih melihat kepada status sosial maka saat itu akan timbullah bencana dan malapetaka. Hubungan suami istri adalah hubungan sakral yang akan terjalin untuk selama-lamanya. Seandainya orang tua tidak pandai-pandai memilih calon pasangan untuk anak-anaknya maka sulit untuk mengharapkan mereka akan memperoleh kehidupan yang bahagia, damai dan harmonis dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Faktor lain yang juga menjadi pertimbangan bagi Nabi Syu’aib untuk menikahkan puterinya dengan Nabi Musa adalah bahwa ternyata Nabi Musa adalah seorang pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Hal ini tampak dari bantuan yang diberikannya pada kedua gadis puteri Nabi Syu’aib itu dalam mengambil air dan juga mahar yang diberikannya dalam bentuk pengabdian kerja pada Nabi Syu’aib selama delapan tahun. Maka, ibadah ritual yang rajin tentu saja tidak cukup bila tidak diikuti okeh aplikasi nyata tehadap nilai-nilai agung yang terkandung dalam ibadah itu sendiri.

Kedua:

Bukanlah sebuah aib ketika orang tua menawarkan puterinya kepada seorang pemuda yang ia kagumi pribadi dan agamanya. Bahkan itu sudah menjadi hal yang lumrah di masa Rasulullah saw. dan salafusshaleh. Diriwayatkan bahwa Umar r.a. menawarkan puterinya, Hafshah kepada Abu Bakar, tapi Abu Bakar tidak memberikan jawaban. Kemudian Umar menawarkannya kepada Utsman, tetapi Utsman mohon maaf tidak bisa menerima tawaran tersebut. Umar sempat merasa kurang enak memperoleh reaksi yang demikian dari kedua sahabatnya tersebut. Ternyata di balik usaha Umar untuk mencarikan suami yang saleh bagi puterinya, Allah swt. telah menakdirkan seorang suami terbaik dan paling ideal untuk putrinya yaitu Rasulullah saw.

Di masa itu bahkan ada seorang wanita yang dengan berani menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah saw. Meskipun Rasulullah tidak jadi menikahinya tapi wanita itu telah mengajarkan makna kesucian diri yang sesungguhnya. Adalah lebih suci dan mulia ketika seorang wanita menawarkan dirinya kepada seorang yang saleh dan bertakwa untuk dinikahi dari pada menjalin hubungan yang tidak syar’i dengan seorang yang –sudah tentu- diragukan kualitas keagamaannya. Tak ada kata malu untuk menjalankan syariat Allah dan mencari ridha-Nya meskipun dalam pandangan manusia hal itu masih menjadi sesuatu yang tabu. Karena pada hakikatnya, baik atau buruknya sesuatu itu diukur dari kacamata syariat. Segala sesuatu yang diperintahkan dalam syariat adalah baik meskipun dalam pandangan manusia hal itu masih aneh dan janggal. Dan setiap yang dilarang syariat adalah buruk meskipun manusia sudah menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Hati nurani manusia sering ditutupi oleh nafsu dan syahwat sehingga ia sulit melihat cahaya kebenaran dalam wujud yang sesungguhnya.

Ketiga:

Didikan yang baik dari orang tua dapat menumbuhkan karakter yang baik dan kecerdasan pada diri anak. Hasil didikan Nabi Syu’aib terhadap puterinya tampak pada sifat malu dalam diri sang puteri saat ia disuruh ayahnya untuk mengundang Nabi Musa. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ketika pergi memanggil Nabi Musa ia mengenakan cadar untuk menutupi wajah dan menjaga ‘iffahnya. Di samping pemalu, puteri Nabi Syu’aib juga seorang yang cerdas. Terbukti dari saran yang disampaikannya kepada ayahnya untuk mengupah Nabi Musa as. Ia berkata: “Sesungguhnya orang terbaik yang ayah upah adalah laki-laki yang kuat dan dapat dipercaya.” Perkataan puteri Nabi Syu’aib ini mengajarkan kita bahwa kriteria utama yang mesti diperhatikan dalam memilih tenaga kerja dalam bidang apa saja adalah: al-qawiyy (punya kemampuan atau skill) dan al-amiin (dapat dipercaya).

Sumber : Yendri Junaidi, Lc

 

Kisah Nabi Adam A.S

Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh – tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kekhawatiran Para Malaikat.

Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah s.w.t.: “Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu.”

Allah berfirman, menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:
“Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya.”
Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Iblis Membangkang.

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.

Tuhan bertanya kepada Iblis:”Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?”
Iblis menjawab:”Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur.”
Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
“Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah.”

Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.

Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:”Cubalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam.”
Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:”Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:”Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Adam Menghuni Syurga.

Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:”Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?”

Berkatalah Adam:”Seorang perempuan.”Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya.”Siapa namanya?”tanya malaikat lagi.”Hawa”,jawab Adam.”Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?”,tanya malaikat lagi.
Adam menjawab:”Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.”

Allah berpesan kepada Adam:”Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini.”

Iblis Mulai Beraksi.

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya.Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.

Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka.Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.Ia membisikan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal.Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya.Sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.

Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: “Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata.”
Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar.Seraya menyesal berkatalah mereka:”Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami.”

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.

Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.

Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu.Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah,hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahawa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya,akan dikuasai kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu.Berfirmanlah Allah kepada mereka:”Turunlah kamu ke bumi sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disan sampai waktu yang telah ditentukan.”

Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali.Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Kisah Adam dalam Al-Quran.

Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A’raaf ayat 11 sehingga 25

Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam.

Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah akan menciptakan manusia – keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.

Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan kekuatan fizikal dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu.Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali.Rahmat allah dan maghfirah-Nya dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.
Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan.Lihatlah Iblis yang turun dari singgahsananya dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.