Bab Al af’al bag 1

📚 Dars 24

Bismillahirrahmanirrahim

قَالَ الْمُصَنِّفُ رحمه الله تعالى

بَابُ الْأَفْعَالِ : الْأَفْعَالُ ثَلاَثَةٌ : مَاضٍ ،وَمُضَارِعٌ ، وَاَمْرٌ، نَحْوُ : ضَرَبَ وَيَضْرِبُ وَاضْرِبْ ;فَالْمَاضِي مَفْتُوْحُ الآخِرِ أَبَدًا

Berkata Mushannif, yaitu Ibnu Ajurum Ash-Shonhajiy, rahimahullahu Ta’ala, bab tentang fi’il-fi’il

🔶 Fi’il itu ada tiga:

  1. Fi’il madhi
  2. Fiil mudhari
  3. Fiil amr

Contohnya: ضَرَبَ – يَضْرِبُ – اِضْرِبْ

فَالْمَاضِي مَفْتُوْحُ الآخِرِ أَبَدًا

Maka fiil madhi itu difathahkan akhirnya selama-lamanya

الشَّرْحُ :

Penjelasan :

يَنْقَسِمُ الْفِعْلُ إِلَى : مَاضٍ وَ مُضَارِعٍ وَ اَمْرٍ ، فَالْمَاضِي نَحْوُ : ضَرَبَ ،وَ الْمُضَارِعُ نَحْوُ : يَضْرِبُ ، وَ الاَمْرُ نَحْوُ : اِضْرِبْ ،وَ لِكُلِّ فِعْلٍ مِنْ هَذِهِ الْأَفْعَالِ أَحْكَامٌ خَاصَّةٌ بِهِ

Fiil itu terbagi menjadi fiil madhi, fiil mudhari, dan fiil amr.

Maka madhi contohnya:  ضَرَبَ

Dan mudhari, contohnya:  يَضْرِبُ

Dan amr, contohnya:  اِضْرِبْ

Dan bagi setiap fiil ini memiliki hukum² yang khusus.

1⃣ أَوَّلاً : اَلْفِعْلُ الْمَاضِي : حُكْمُهُ : يُبْنَى دَائِمًا،

Fiil madhi itu hukumnya dimabniykan selama²nya.

Artinya fiil madhi dari هو sampai نحن, seluruhnya adalah mabniy. Hanya saja mabniynya ini nanti beda-beda, ada yg mabniynya fathah  (مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ), ada yang  مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ  (mabniy dhammah), ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ (mabniy sukun).

وَ لَهُ ثَلاَثُ حَلاَتٍ :

Dan kondisi mabniynya itu ada tiga keadaan.

🌹 Kondisi yang pertama:

١. يُبْنَى عَلَى الْفَتْحِ

dimabniykan di atas fathah,

Kapan fiil madhi itu dimabniykan atas fathah?

: إِذَا لَمْ يَتَّصِلْ بِهِ شَيْءٌ ،نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى {قَالَ رَبُّكَ}

🌸 Yang pertama apabila tidak bersambung dengannya sesuatu apapun.

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : قَالَ رَبُّكَ  Dalam surat Al Baqarah ayat 30.

Lihat disini, قَالَ Lam-nya jelas-jelas fathah.

Maka kita katakana مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ

🌸 Kemudian yang kedua:

أَوْ اتَّصَلَتْ بِهِ تَاءُ التَّأْنِيْثِ السَّاكِنَةُ

Atau apabila bersambung dengan ta’ ta’nist yang sukun.

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى {قَالَتْ نَمْلَةٌ}

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : قَالَتْ نَمْلَةٌ Ini dalam Surat An Naml ayat 18.

Lihat,  قَالَتْ Ini lam-nya tetap berharakat fathah.

قَالَتْ Makanya kita katakana مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ

🌸 Kemudian yang ketiga

أَوْ اَلِفُ الإِثْنَيْنِ ،

Atau alif mutsanna

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ Ini dalam surat An Naml ayat 15.

Perhatikan..

قَالَا Ini lam-nya bersambung dengan alif mutsanna…

Kalau kita tasrif itu kan,

قَالَ – قَالَا – قَالُوا

Maka قَالَا Ini مَبْنِيٌ عَلَى الفَتحِ

Karena lam-nya itu jelas² fathah.

🌹 Kemudian yang kedua, keadaan dimana fi’il madhi itu dimabniykan atas dhammah

٢ – يُبْنَى عَلَى الضَّمِّ :

Kapan? Hanya pada satu keadaan saja, yaitu:

إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ وَاوُ الجَمَاعَةِ ،

🍀 Apabila bersambung dengan wawu jama’ah

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : { وَقَالُوا سَمِعْنَا } Ini dalam surat Al Baqarah ayat 285

Perhatikan. قَالُوا  Lam-nya ini dhammah, makanya kita katakan  مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ

🌹 Kemudian yang ketiga:

٣- يُبْنَى عَلَى السُّكُوْنِ :

Dimabniykan atas sukun, kapan saja?

إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ تَاءُ الفَاعِلِ ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى : { مَاقُلْتُ لَهُمْ }

🌸 Yang pertama apabila bersambung dengan ta’ fail.

Contohnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : مَاقُلْتُ لَهُمْ Ini surat Al Maidah ayat 117

Lihat perhatikan, قُلْتُ لَهُمْ Lam-nya sukun, makanya kita katakan مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

Dan definisi ta’ fail itu ada banyak. Kalau dalam fiil madhi, ta’ fail itu mencakup dari أنت  sampai أنتنّ, bahkan أناnya pun masuk ya. Jadi misalkan kalau نَصَرَ Berarti ta’ failnya itu :

نَصَرْتَ

نَصَرْتُمَا

نَصَرْتُمْ

نَصَرْتِ

نَصَرْتُمَا

نَصَرْتُنَّ

نَصَرْتُ

Pokoknya semua ta’ itu disebut dengan ta’ fail.

Lihat مَاقُلْتُ لَهُمْ

قُلْ Lam-nya sukun makanya kita katakan مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

🌸 Kemudian yang kedua, keadaan yang mengharuskan fiil madhi mabniy atas sukun

أَوْ نَا الفَاعِلِيْنَ ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى : { وَقُلْنَا لَهُمْ }

Atau bersambung dengan نَا fail.

Contohnya firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَقُلْنَا لَهُمْ Ini dalam surat An Nisa ayat 154

قُلْنَا Lihat, sukun lam-nya

🌸 Kemudian yang ketiga,

أَوْ نُوْنُ الإِنَاثِ ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى : { وَقُلْنَ حَاشَ لِلّهِ }

Atau bersambung dengan nun muannats

Contohnya firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَقُلْنَ حَاشَ لِلّهِ

Lihat, قُلْنَ Ini lam-nya sukun, makanya kita katakan  مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ Ini surat Yusuf ayat 31

————————————————–

فَوَاءِدُ وَتَنْبِيْهَاتٌ

Faedah² dan catatan khusus

الفَائِدَةُ الأولَى

1⃣ Faidah yang pertama,

١ـ مِنَ العُلَمَاءِ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّ المَاضِيَ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ فِيْ سَائِرِ أَحْوَالِهِ

Diantara para ulama nahwu ada yang berpendapat bahwasanya fiil madhi itu dimabniykan atas fathah pada seluruh keadaannya.

Tadi di syarah kita lihat, fiil madhi itu ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ ada yang عَلَى الضَمِّ ada yang عَلَى السُّكُونِ.

Tapi ada diantara ulama nahwu yang berpendapat, bahwasanya fiil madhi itu apapun keadaannya, kita bilangnya مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ Alasannya apa?

Disini dikatakan:

لَكِنَّ الفَتْحَ

Akan tetapi fathahnya itu

إِمَّا ظَاهِرٌ كَضَرَبَ،

Adakalanya dzhahir,  nampak, seperti ضَرَبَ Ini kan fathahnya nampak

أَوْ مُقَدَّرٌ لِلتَّعَذُّرِ كَرَمَى،

Atau fathahnya itu ditakdirkan karena udzur, seperti: رَمَى

أَوْ لِلثِّقَلِ كَضَرَبْتُ،

Atau karena berat, seperti  ضَرَبْتُ

Ini kan berat ya, memberikan harakat fathah menjadi ضَرَبَتُ, misalkan. Ini berat disini.

أَوْ لِلْمُنَاسَبَةِ كَضَرَبُوْا

Atau karena untuk menyesuaikan harakat seperti ضَرَبُوْا

Ini kan kalau kita cari tau alasannya, kenapa ضَرَبُوْا Dibaca ضَرَبُوْا Karena menyesuaikan wawunya.

Sebagaimana kalau alif itu sebelumnya fathah, ya’ sebelumnya kasrah, maka wawu sebelumnya dhammah.

Jadi bagi yang berpendapat bahwasanya fiil madhi itu selalu مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ Ini alasannya.

Jadi dia tetap mengatakan مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ Cuma ada yang

🔷 ظَاهِرٌ , ada yang

🔷 التَّعَذُّرِ , ada yang

🔷 الثِّقَلِ , ada yang

🔷 الْمُنَاسَبَة

وَقَدْ سَارَ الْمُصَنِّفُ عَلَى هَذَا المَذْهَبِ كَمَا هُوَ ظَاهِرُ قَوْلِهِ : ( المَاضِيْ مَفْتُوْحُ الآخِرِ أَبَدًا )

Dan sungguh Mushannif, yaitu Ibnu Ajurum Ashshonhaji, pengarang  kitab Jurumiyyah, ia memilih pendapat ini.

Sebagaimana nampak dalam perkataannya  المَاضِيْ مَفْتُوْحُ الآخِرِ أَبَدًا (Fiil madhi itu, difathahkan akhirnya selamanya).

لَكِنَّ الَّذِيْ ذَكَرَنَاهُ  فِيْ الشَرْحِ هُوَ الأَيْسَرُ عَلَى المُبْتَدِئِيْنَ، فَاخْتَرَنَاهُ لِذَالِكَ.

Akan tetapi telah kami sebutkan dalam syarah, maksudnya yang dalam penjelasan bahwasanya fiil madhi itu ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ, ada yang عَلَى الضَمِّ, ada yang عَلَى السُّكُونِ

Ini merupakan pendapat yang paling mudah untuk المُبْتَدِئِيْنَ (Untuk para pemula).

Oleh karena itulah kami memilih pendapat ini.

Yakni, pendapat yang mengatakan bahwa fiil madhi itu ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ, عَلَى الفَتحِ, dan عَلَى السُّكُونِ

Kemudian  الفَائِدَةُ الثَّانِية

2⃣ Faidah yang kedua,

٢ـ ( رَمَوا ، وَدَعَوْا ، وَتَوَاصَوْا )

رَمَوا Ini yang bersambung dengan wawu jamaah

رَمَى –  رَمَيَا –  رَمَوا

دَعَا – دَعَوَا – دَعَوْا

تَوَاصَى – تَوَاصَا – تَوَاصَوْا

أَفْعَالٌ مَاضِيَةٌ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الضَّمِّ المُقَدَّرِ

Adalah fiil madhi, mabniy atas dhammah yang ditakdirkan.

__________________

. يُنْظَرُ جَامِعُ الدُّرُوْسِ (١٦٧/٢).

Silahkan dilihat kitab Jaami’ Durus jilid 2 halaman 167.

__________________

Tadi kan dikatakan kalau fiil madhi bersambung dengan wawu jamaah, maka dia dimabniykan atas dhammah , seperti  قَالُوا

Lalu bagaimana kalau kasusnya seperti

رَمَوا ، وَدَعَوْا ، وَتَوَاصَوْا

Ini kan nampaknya,lihat رَمَوا Mim-nya fathah

دَعَوْا ‘ain-nya fathah

تَوَاصَوْا Shad-nya fathah

Jadi bukannya رَمُوا  , دَعُوْا  , تَوَاصُوْا

Ini menurut pengarang kitab Al-Mumti’ ini,

رَمَوا – دَعَوْا – تَوَاصَوْا

Ini fiil madhi → مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ المُقَدَّرِ

Yang ditakdirkan

——————————————————————

2⃣ ثَانِيًا : الْفِعْلُ الأَمْرُ :

🔶  _Yang kedua : Keadaan Fiil Amr_ 🔶

Jadi tadi sudah dijelaskan keadan fi’il madhi, kalau fiil madhi semua mabniy, tinggal ada yang مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتحِ,yang عَلَى الضَمِّ, dan عَلَى السُّكُونِ.

Sekarang fiil amr

ثَانِيًا : الْفِعْلُ الأَمْرُ :

Ini ada suatu musykilah disini, karena fiil amr itu, agak sulit kalau kita membacanya

الْفِعْلُ الأَمْرُ Karena sulit kita menerjemahkan fiil yang amr

Yang tepat insya Allah adalah  فِعْلُ الأَمْرِ  Bukan الْفِعْلُ الأَمْر

قَالَ الْمُصَنِّفُ : وَالأَمْرُ : مَجْزُوْمٌ أَبَدًا

Berkata Mushannif, dan Amr itu dijazmkan selama-lamanya

الشَّرْحُ :

💠 Penjelasan :

فِعْلُ الأَمْرِ  (Fiil amr)

حُكمُهُ : يَكُونُ مَبْنِيًّا دَائِمًا

Sama seperti fiil madhi, fiil amr pun

مَبْنِيًّا دَائِمًا

Dimabniykan selama-lamanya.

وَلَهُ اَرْبَعُ حَالَاتٍ :

Dan fiil amr itu punya 4 keadaan:

1⃣ Yang pertama:

١ـ يُبْنَى عَلَى السُّكُوْنِ

Dimabniykan atas sukun.

Kapan fil amr dimabnikan atas sukun?

: إِذَا كَانَ صَحِيْحَ الآخِرِ وَلَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيءٌ

==> Yang pertama apabila ia merupakan fiil yang shahih akhirnya, artinya bukan fiil mu’tal naqish.

وَلَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيءٌ

Dan tidak bersambung dengan akhiran sesuatu apapun.

أَوِ اتَّصَلَتْ بِهِ نُوْنُ الإِنَاثِ،

==> Atau  bersambung dengan nun muannats

نَحْوُ قَولِهِ تَعاَلَى: وَاذْكُرْ رَبَّكَ

Ini dalam surat Al Kahfi ayat 24

اُذْكُرْ Lihat ra-nya sukun. Maka dikatakan مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

Dan juga firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَقَولِهِ  : وَاذْكُرْنَ مَا يُطْلَى Ini dalam surat Al Ahzab ayat 34

Perhatikan, وَاذْكُرْنَ Ini kan bersambung dengan nun muannats

اُذْكُرْنَ Lihat  ra-nya sukun. Maka kita katakan اُذْكُرْنَ Ini مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

💐 Jadi ada dua keadaan dimana fiil amr

مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ

  1. Kalau fiilnya shahih akhirnya dan tidak bersambung dengan sesuatu, contohnya: اُذْكُرْ
  2. Kalau fiil tersebut bersambung dengan nun muannats, contohnya اُذْكُرْنَ

Itu kita bilang mabniy atas sukun.

2⃣ Kemudian keadaan  yang kedua

٢ـ يُبْنَى عَلَى حَذْفِ حَرْفِ العِلَّةِ

Dimabniykan atas membuang huruf illat, kapan?

: إِذَا كَانَ مُعْتَلَّ الآخِرِ،

==> Apabila ia diakhiri oleh huruf illat, maksudnya fiil mu’tal naqish.

 

نَحْوُ قَولِهِ تَعَالَى : اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ Ini dalam surat An Nahl ayat 125

Asalnya kalau fi’il mudharinya : يَدْعُو  Ada wawu-nya.

Ketika fiil amr اُدْعُ Kalau kita I’rab, kita katakan

اُدْعُ : فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ حَرْفِ العِلَّةِ

Seperti itu kita mengi’rabnya.

وَقَولِهِ

Dan firman Allah Subhānahu wa Ta’āla :

اِتَّقِ اللّٰهَ

Asalnya fi’il mudharinya يَتَّقِي  Kemudian karena dia fiil amr, dibuang ya’nya, jadi اِتَّقِ

Ini dalam surat Al Baqarah ayat 206

وَقَولِهِ: وَاِنْهَ عَنِ المُنْكَرِ

Dan juga firman Allah Subhānahu wa Ta’āla : وَاِنْهَ عَنِ المُنْكَرِ

Kita katakan

اِنْهَ : فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ حَرْفِ العِلَّةِ

Dan ini contoh yang sangat lengkap.

اُدْعُ  Ini mewakili yang membuang huruf illat wawu

اِتَّقِ  Ini membuang huruf illat ya.

اِنْهَ  Ini yang membuang huruf illat alif.

3⃣ Kemudian keadaan yang ketiga

٣. يُبْنَى عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ

Dimabniykan atas membuang nun. Kapan?

: إِذَا اتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ الاثْنَيْنِ أَوْ وَاوُ الجَمَاعَةِ أَوْ يَاءُ المُخَاطَبَةِ،

==> Apabila bersambung dengan alif mutsanna, atau wawu jama’, atau ya’ mukhatabah.

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى  : وَكُلَا مِنْهَا

Contohnya firman Allah Subhānahu wa Ta’āla :وَكُلَا مِنْهَا Ini dalam surat Al Baqarah ayat 35.

كُلَا  Ini contoh  fiil amr yang bersambung dengan alif tatsniyah/mutsanna

كُلَا مِنْهَا

Maka dia kita katakana مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ

Kemudian,

وَقَوْلِهِ

Dan juga firman Allah Subhānahu wa Ta’āla :

كُلُوا وَاشْرَبُوا

كُلُوا Dan اِشْرَبُوا Disini merupakan contoh  مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ . Dan ini bersambung dengan wawu jamaah.

وَقَوْلِهِ : فَكُلِي وَاشْرَبِي

كُلِي –  وَاِشْرَبِي

Ini merupakan contoh untuk yang bersambung dengan ya mukhatabah.

Cara mengi’rabnya kita katakan  ::

كُلِي: فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ

4⃣ Kemudian keadaan yang keempat fiil amr,

٤. يُبْنَى عَلَى الفَتْحِ

Dimabniykan atas fathah. Kapan?

إِذَ اِتَّصَلَتْ بِهِ نُوْنُ التَّوْكِيْدِ

==> Apabila bersambung dengan nun taukid

نَحْوْ : اُشْكُرَنَّ اللَّهَ

Contohnya اُشْكُرَنَّ اللَّهَ  Asalnya  اُشْكُرْ

شَكَرَ – يَشْكُرُ – اُشْكُرْ

Ini bersambung dengan nun taukid.

*Nun taukid adalah nun yang memberi pengaruh pada penekanan makna*.

Kalau kita katakan اُشْكُرِ اللَّهَ Ini maknanya biasa, bersyukur kepada Allah

Tapi kalau ada nun taukid dibelakangnya,

اُشْكُرَنَّ اللَّهَ  Maka ini adalah penekanan, hendaknya kamu benar-benar bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Maka kalau fiil amr bersambung dengan nun taukid, kita katakan dia مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ

Keterangan tentang dimabniykan atas fathah ini, bisa dilihat  di:

حَاشِيَةُ الْخُضَرِيَ

Jilid 1 halaman 50

Kemudian dalam kitab اَلْقَوَاعِدُ اَلأَسَاسِيَّةُ, halaman 42

Dan juga dalam kitab اَلنَّحْوُ اَلوَافِي, jilid 1 halaman 80

—————————————————————

الفَوَائِدُ وَتَنْبِيْهَاتٌ:

🔶 Faidah-faidah dan catatan khusus (peringatan) :

1⃣ ١. اُعْتُرِضَ عَلَى المُصَنِّفِ قَوْلُهُ: الأَمْرُ مَجْزُوْمٌ،

Disini mushanif, ditolak perkataannya,

اَلأَمْرُ مَجْزُوْمٌ

Maksudnya, ada sesuatu dalam perkataannya.

اَلأَمْرُ مَجْزُوْمٌ

Padahal fiil amr merupakan mabniy, tapi kenapa beliau, yakni Ashshonhaji, pengarang kitab Jurumiyyah, mengatakan

وَالأَمْرُ : مَجْزُوْمٌ

Seakan-akan fiil amr itu tidak mabniy melainkan mu’rab karena dikatakan majzum.

Istilah marfu, manshub, majrur, majzum, tidaklah diberikan kecuali kepada sesuatu yang mu’rab.

Lalu kenapa  Ashshonhaji, mengatakan الأَمْرُ مَجْزُوْمٌ

Karena ada disini jawabannya:

وَأُجِيْبُ عَنْهُ بِأَنَّ المُصَنِّفَ جَرَى عَلَى مَذْهَبِ الكُوْفِيِّيْنَ القَائِلِيْنَ بِأنَّ الأَمْرَ قِطْعَةٌ مِنَ المُضَارِعِ مَجْزُوْمٌ عَلَى مَا يُجْزَمُ بِهِ مُضَارِعُهُ. الفُتُوْحَاتُ القَيُّوْمِيَّةُ ص (٨٩)

Jadi alasan kenapa pengarang Jurumiyah mengatakan :

الأَمْرُ مَجْزُوْمٌ

Dijawab bahwasanya Mushannif, yakni Ibnu Ajurum Ashshonhaji, ia memilih pendapat madzhab Ulama Kufah, yang mengatakan bahwasanya fiil amr merupakan bagian dari fiil mudhari, yang dijazmkan sebagaimana fiil mudharinya dijazmkan.

Dan ini merupakan salah satu pendapat ya.

Hanya saja yang kuat Insya Allah, yang mengatakan, bahwasanya fiil amr itu mabniy. Dan mabniynya itu sesuai dengan kondisi fiil mudharinya.

2⃣ Kemudian, faidah yang kedua

الفَائِدَةُ الثَّانِية

٢. يَنْبَغِيْ لِلْمُعْرَبِ أَنْ يَقُوْلَ فِيْ إِعْرَابٍ نَحْوُ: (وَاغْفِر ْلَنَا) اِغْفِر ْ: فِعْلُ دُعَاءٍ وَلَا يَقُوْلُ فِعْلُ أَمْرٍ؛ تَأَدُّبًا.

Afwan ini bukan مُعْرَبِ , tapi يَنْبَغِيْ لِلْمُعْرِبِ

Seyogyanya atau sepatutnya bagi orang yang melakukan i’rob, yang mengi’rab, agar ia berkata, ketika mengirab, misalkan ayat

وَاغْفِرلَنَا

Dan ampunilah kami

وَاغْفِر ْلَنَا ذُنُوبَنَا

misalkan ini kan doa kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Maka sebagai bentuk, تَأَدُّبًا, sebagai bentuk adab kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla. Ketika kita mengi’rab

اِغْفِر ْلَنَا

Ini jangan dibilang,

اِغْفِر : فِعْلُ أَمْرٍ

Tapi bilangnya

فِعْلُ دُعَاءٍ

Jadi kita kitakan

اِغْفِر : فِعْلُ دُعَاءٍ

Fiil yang menunjukkan makna doa, permohonan.

وَلَا يَقُوْلُ فِعْلُ أَمْرٍ

Dan janganlah ia mengakatan fiil amr

تَأَدُّبًا Sebagai bentuk adab kita kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Tapi ini hanya salah satu pendapat saja.

Jadi, kalau ada perintah dalam alquran yang bentuknya merupakan doa kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla jangan dibilang fiil amr.

Kenapa? Karena tidak mungkin kita sebagai seorang hamba memerintah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla. Yang ada kita berdoa. Makanya jangan dibilang fiil amr, tapi فِعْلُ دُعَاءٍ

Tapi ini merupakan salah satu qaul.

_________________

Yang ketiga

3⃣ الفَائِدَةُ الثَّالِثَة

٣. تَوْكِيْدُ فِعْلِ الإَمْرِ بِالنُّوْنِ لَمْ يَقَعْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ. دِرَاسَاتٌ لِأُسْلُوْبِ القُرْآنِ (١٧/١)

Taukid fiil amr dengan nun tidak ada dalam Al Qur’an, lihat pada Dirosat li Uslubil Qur’an juz 1 halaman 17.

✒ Materi Program BINAR

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s