Mu’rab Bil Huruf 3: Isim Yang 5

📚 Dars 21

Bismillahirrahmanirrahim

Saat ini kita masih dalam pembahasan Al Mu’rabat bil huruf. Kata yang mu’robnya dengan huruf sudah kita bahas sebelumnya yaitu:

  1. Mutsanna
  2. Jamak mudzakkar salim

Dan sekarang kita bahas yang ketiga, yaitu al asmaul khomsah.

ثَالِثًا: الأَسْمَاءُ الخَمْسَةُ:

Yang ketiga yakni mu’rob dengan huruf adalah isim-isim yang lima.

تَعْرِيْفُهَا:

definisi dari isim yang lima adalah

هِيَ أَبُوكَ، وأَخُوْكَ، وَحَمُوكَ، وَفُوكَ، وَذُوْمَالٍ.

Jadi isim yang lima itu apa saja

  1. أَبُوكَ (bapakmu)
  2. أَخُوْكَ (saudaramu)
  3. حَمُوكَ (iparmu)
  4. فُوكَ (mulutmu)
  5. وَذُوْمَالٍ (pemilik harta)

Ini tanbih, peringatan bahwa  ذُوْمَالٍ , ini yang menjadi contoh ذُوْ nya saja bukan ذُو ْمَالٍ nya.  Adapun mudhof ilaihnya bisa apa saja.

Bisa ذُوْمَالٍ , bisa ذُو بَيْتٍ  , bias ذُوْ جَمَلٍ

Dan apapun yang jelas yang jadi isim lima adalah ذُوْ nya pemilik. Adapun yg dimiliki apa, bisa مَالٍ , harta, bisa rumah بَيْتٍ misalkan dan sebagainya.

حُكْمُهَا:

Hukumnya:

تُرْفَعُ بِالْوَاوِ، وَتُنْصَبُ بِالأَلِفِ، وَتُجَرُّ بِاليَاء

Dan ini memang termasuk yang paling lengkap.

Jika mutsanna ketika rofa’ alif ketika nashab dan jar, sama-sama ya’. Jamak mudzakkar salim ketika rofa’ waw ketika nashab dan jar, sama-sama ya’.

Tapi jika isim yang lima ketika rofa’ waw, ketika nashab alif, ketika jar ya’. ini beda-beda semua. Paling lengkap dia.

تُرْفَعُ بِالْوَاوِ،

dirofa’kan dengan waw

وَتُنْصَبُ بِالأَلِفِ،

dinashabkan dengan alif

وَتُجَرُّ بِاليَاء

dijarkan dengan ya’

فَهِيَ تُعْرَبُ بِالْوَاوِ رَفْعًا: نَحْوُ قَوْلِ اللّٰهِ تَعَالَى: {قَالَ أَبُوْهُمْ}(١)، وَقَوْلِهِ: {قَالَ لَهُمْ أَخُوْهُم}(٢), وَقَوْلِهِ: {لِيُنْفِقْ ذُوْسَعَةٍ}(٣).

Maka isim yang lima itu dimu’robkan dengan wawu dalam keadaan rofa’ contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

قَالَ أَبُوْهُمْ

“Berkata bapak mereka.”  Ini dalam surah Yusuf ayat 94.

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

قَالَ لَهُمْ أَخُوْهُمْ

“Dan telah berkata saudara mereka kepada mereka.”  Ini dalam surah Asy-syuara’ dari ayat 106.

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

لِيُنْفِقْ ذُوْسَعَةٍ

“agar orang yang memiliki keluasan berinfaq.” Ini dalam surah Ath-Thalaq dari ayat 7.

وَتُعْرَبُ بِالْأَلِفِ نَصْبًا: نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى: {جَاءُوْا أَبَاهُمْ}(٤)، وَقَوْلِهِ:و {َنَحْفَظُ أَخَانَا}(٥)، وَقَوْلِهِ: {وَءَاتِ ذَاالْقُرْبَى حَقَّهُ}(٦).

Dan isim yang lima itu mu’rob dengan alif ketika nashab.

contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

جَاءُوْا أَبَاهُمْ

“Mereka mendatangi bapak-bapak mereka.”  Ini dalam surah Yusuf ayat 16.

Dan juga dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وََنَحْفَظُ أَخَانَا

“dan kami melindungi atau melihara atau menjaga saudara kami.” Ini dalam surah Yusuf juga dari ayat 65.

Dan juga dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وَءَاتِ ذَاالْقُرْبَى حَقَّهُ

“dan berikanlah orang-orang yang memiliki kedekatan kekerabatan haknya.” Ini surah Al-Isra’ dari ayat 26.

وَتُعْرِبُ بِاليَاءِ جَرًّا : نَحْوُقَوْلِهِ تَعَالَى : {رَجَعُوا إِلَى أَبِيْهِمْ} (٧)، وَقَوْلِهِ : {سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيْكَ} (٨)، وَقَوْلِهِ : {وَلِذِالْقُرْبَى}(٩)

Dan isim yang lima itu mu’rob dengan ya’ ketika jar. Contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ

dengan ya’ bukan dengan إِلَى أَبُوْهُمْ atau إِلَى أَبَاهُمْ

tapi dengan ya’. رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ

“mereka kembali kepada bapak mereka.” Ini surah Yusuf ayat 63.

Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيْكَ

ini dalam surah Al-Qashash dari ayat 35

dan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وَلِذِالْقُرْبَى

ini dalam surah Al-Anfal dari ayat 41

Diperhatikan ketika rofa’ dia wawu,  قَالَ أَبُوْهُمْ  bukan أَبَا atau أَبِيْ

dan ketika nashab dia alif.  جَاءُوْا أَبَاهُمْ bukan  أَبُوْ bukan أَبِيْ.

Kemudian ketika jar, dia ya’  رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ  bukan أَبُوْ bukan أَبَا.

Jadi isim yang lima ini masing-masing memiliki tanda yang berbeda. Ketika rofa’ wawu, ketika nashab alif dan ketika jar ya’.

وَاعْلَمْ أَنَّ الأَسْمَاءَ الخَمْسَةَ لاَتُعْرَبُ بِالحُرُوْفِ إِلاَّ إِذَا تَوَفَّرَ فِيْهَا أَرْبَعَةُ شُرُوْطٍ، نَذْكُرُهَا فِيْمَا يَلِى :

Dan ketahuilah bahwasannya isim yang lima itu tidak dimu’robkan dengan huruf kecuali apabila telah memenuhi empat syarat.

نَذْكُرُهَا فِيْمَا يَلِيْ :

Kami sebutkan sebagai berikut:

Ini adalah syarat-syaratnya.

Tapi sebelum kita baca syaratnya. Kita baca dahulu  فَوَائِدٌ وَ تَنْبِيْهَاتٌ dari halaman 49

🔷 Disini fawaidnya  :

١.(الحَمُو) قَالَ ابْنُ هِشَامُ: الحَمُو:  أَقَارِبُ زَوْجِ المَرْأَةِ، وَ رُبَمَا أُطْلِقَ عَلَى أَقَارِبِ الزَّوجَةِ. قَطْرُ النَّدَى ص( ٦٢)

Ibnu Hisyam berpendapat bahwasannya الحَمُو itu adalah أَقَارِبُ زَوْجِ المَرْأَةِ

yakni saudaranya suami wanita. Saudara dari suami wanita.

Jadi jika seorang wanita punya suami. Suaminya ini punya kakak punya adik. Ini disebut dengan حَمُو.

Makanya lebih tepatnya kita terjemahkan حَمُو ini ipar dan dia dikhususkan untuk wanita. Makanya dalam beberapa kitab bukannya حَمُوكَ tapi حَمُوكِ karena حَمُو sudah pasti untuk wanita.

وَرُبَمَا أُطْلِقَ عَلَى أَقَارِبِ الزَّوجَةِ

tapi terkadang dia dimutlakkan juga untuk saudara saudari dekat si istri. Liat dalam kitab Qothrun Nada halaman 62.

تَقُولُ:جَاءَ حَمُوكِ، وَرَأَيتُ حَمَاكِ، وَسَلَّمْتُ عَلَى حَمِيكِ. وَيَنْظُرُ الصَّبَانِ (١/ ٦٩).

Lihat dalam kitab Ash Shobani jilid I halaman 69

Jadi karena pendapat yang lebih kuat, mengatakan bahwasannya حَمُو ini saudaranya laki-laki. Karena dia saudara laki-laki maka khitabnya selalu wanita. Makanya jika kita katakan جَاءَ حَمُوكَ ini kurang tepat karena حَمُو itu lebih cocok ke ipar. Ipar bagi si istri. Makanya disini contohnya جَاءَ حَمُوكِ telah datang iparmu.

وَرَأَيْتُ حَمَاكِ

“aku telah melihat iparmu”

وَسَلَّمْتُ عَلَى حَمِيكِ

“dan aku telah memberi salam kepada”

حَمِيكِ.

🔷 Kemudian faidah yang kedua

٢ . (فُو) هُوَ الفَمُ ، وَيُشْتَرَطُ أَلَّا يَكُونَ بِالمِيمِ، نَحْوُ: فُوكَ نَظِيفٌ، نَظِّفْ فَاكَ، نَظَرْتُ إِلَى فِيكِ

(فُو) هُوَ الفَمُ

فُو itu artinya adalah mulut الفَمُ

وَيُشْتَرَطُ أَلَّا يَكُونَ بِالمِيمِ

dan disyaratkan jika mau jadi isim lima, tidak boleh dengan mim.

Jika فَمٌ tidak boleh dianggap sebagai isim yang lima.

Yang menjadi isim yang lima itu adalah yang tanpa mim فُو.

Jadi syaratnya فَمٌ dan فُو artinnya sama.

Bedanya kalau فَمٌ bukan isim yang lima. Isim yang lima adalah فُو, فَا, dan فِيْ seperti itu.

نَحْوُ: فُوكَ نَظِيفٌ  contohnya “mulutmu bersih”

نَظِّفْ فَاكَ  “bersihkanlah mulutmu”

نَظَرْتُ إِلَى فِيكِ  “aku melihat mulutmu”

🔷 Faidah yang ketiga

٣. (ذُو) بِمَعْنَى صَاحِبٍ، وَإِنَّمَا قَالَ ذُومَالٍ، وَلَمْ يَقُلْ ذُوْكَ؛ لِأَنَّ (ذُو) لَا تُضَافُ إِلَى الضَّمِيرِ، بَلْ إِلَى اسْمِ جِنْسٍ كَالِمَالِ

(ذُو) بِمَعْنَى صَاحِبٍ

ذُو  ini maknanya adalah shohib, pemilik.

وَإِنَّمَا قَالَ ذُومَالٍ

contohnya misalkan dikatakan  ذُومَالٍ (pemilik harta)

وَلَمْ يَقُلْ ذُوْكَ

dan tidak boleh dikatakan ذُوْكَ (pemilikmu). Tidak boleh.

لِأَنَّ (ذُو) لَا تُضَافُ إِلَى الضَّمِيرِ

*karena ذُو itu tidak boleh diidhofahkan kepada dhomir*

بَلْ إِلَى اسْمِ جِنْسٍ كَالْمَالِ

bahkan yang benar adalah dia diidhofahkan pada isim jenis seperti harta. Jadi ذُو tidak boleh diidhofahkan pada isim dhomir. ذُوْكَ, ذُوْهُ tidak boleh. Tetapi kepada nama-nama jenis seperti ذُومَالٍ pemilik harta, ذُوْبَيْتٍ pemilik rumah dan sebagainya.

🔷 Kemudian kaidah yang keempat

٤ – الكَلِمَةُ الَّتِي تَقَعَ بَعْدَالأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ تُعْرَبُ مُضَافًا إِلَيهِ دَائِمًا، سَوَاءً أَكَانَتْ اسْمًا ظَاهِرًا نَحوُ: رَضِيَ اللهُ عَنْ أَبِي بَكْرٍ، أَمْ ضَمِيرًا نَحْوُ: سَلِّمْ عَلَى أَبِيكَ.

Kata yang terletak setelah isim yang khomsah, isim yang lima itu dii’rob sebagai mudhof ilaih selamanya. Selalu mudhof ilaih. Jika ada isim yang lima, maka setelahnya pasti mudhof ilaih. Sama saja apakah dia isim yg dzhohir baik isimnya yang nampak seperti

رَضِيَ اللهُ عَنْ أَبِي بَكْرٍ.

بَكْرٍ ini isim dzhohir, maka بَكْرٍ adalah mudhof ilaih.

أَمْ ضَمِيرًا

ataupun yang dhomir contohnya سَلِّمْ عَلَى أَبِيكَ.

كَ  disini adalah dhomir maka dia adalah mudhof ilaih. Pokoknya setelah ada isim yang lima. Maka dii’robnya pasti mudhof ilaih.

شُرُوْطُ إِعْرَابِ الاَسْاءِ الخَمْسَةِ بِالحُرُوْفِ

📌 Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengi’rob isim yang lima dengan huruf

١ـ أَنْ تَكُوْنَ مُفْرَدَةً: فَإِنْ ثُنِّيَتْ أُعْرِبَتْ إِعْرَابَ المُثَنَّى

1⃣ Syarat yang pertama, harus dalam keadaan mufradnya.

Maka jika dia dimutsannakan, dia dii’rob dengan i’rob mutsanna.

نَحْوُ: جَاءَ الأَخَوَانِ، وَرَأَيْتُ الأَخَوَيْنِ، وَسَلَّمْتُ عَلَى الأَخَوَيْنِ

Jadi dia harus dalam keadaan mufrod, tidak boleh mutsanna, tidak boleh jamak.

Jadi yang dimaksud dengan isim yang lima. Hanya ketika mufrodnya.

أَبُوكَ, أَخُوْكَ, حَمُوكَ, فُوكَ, ذُوْمَالٍ  ketika mufrodnya.

Ketika أَبٌ berubah menjadi mutsanna ataupun jamak, maka dia tidak lagi menjadi isim yang lima. Dia dii’rob seperti ketika mengi’rob mutsanna.

Contohnya جَاءَ الأَخَوَانِ

kita katakan  الأَخَوَانِ

ini fail, tanda rofa’nya alif.

رَأَيْتُ الأَخَوَيْنِ

kita katakan الأَخَوَيْنِ

ini maful bih, tanda rofa’nya ya’.

Kemudian  سَلَّمْتُ عَلَى الأَخَوَيْنِ  kita katakan adalah isim yang majrur karena diketahui huruf jar, dan tanda jarnya adalah ya’.

Jadi yang disyaratkan bahwa isim yang lima itu harus dalam keadaan mufrod. Jika mutsanna maka dia dihukumi seperti hukum mutsanna.

وَإِنْ جُمِعَتْ أُعْرِبَتْ الجَمْعِ

Dan jika dijamakkan maka dia dii’rob seperti i’robnya jamak.

نَحْوُ: جَاءَ الآبَاءُ، وَرَأَيْتُ الآبَاءَ، وَسَلَّمْتُ عَلَى الآبَاءِ

Maka جَاءَ الآبَاءُ, الآبَاءُ  ini fail tanda rofa’nya dhommah

رَأَيْتُ الآبَاءَ, maful bih tanda nashabnya fathah

سَلَّمْتُ عَلَى الآبَاءِ , majrur tanda jarnya kasroh

📝 Jadi yang dimaksud dengan isim yang lima harus ketika mufrod, lau sudah berubah menjadi mutsanna seperti  أَخٌ telah berubah menjadi أَخَوَيْنِ.  أَبٌ menjadi أَبَوَيْنِ.

Maka أَخَوَيْنِ أَبَوَيْنِ tidak lagi dianggap sebagai isim yang lima.

2⃣ Kemudian yang kedua

٢ـ أَنْ تَكُوْنَ مُكَبَّرَةً

syarat yang kedua isim yang lima itu berlaku, harus mukabbaroh. Harus dalam keadaan mukabbaroh. Nanti kita akan belajar bahwa kata itu ada mukabbaroh ada mushoghghoroh.

أَبٌ

itu mukabbaroh, mushoghghorohnya (yang dikecilkannya) menjadi akhim menjadi أُخَيَّ,

abim menjadi أُبَيَّ

ini namanya tashghir (mengecilkan). Jadi kalau kita mengatakan akhim ini artinya saudaraku kalau ukhoyya artinya saudara kecilku.

فَإِنْ صُغِّرَتْ (كَأُخَيَّ ، وَأُبَيَّ) أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَاتِ الظَّاهِرَةِ

Maka jika dia ditashghirkan seperti أُخَيَّ dan أُبَيَّ maka dia dii’rob dengan harokat yang dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ)

نَحْوُ: جَاءَ أُخَيُّكَ وَ رَأَيْتُ أُخَيَّكَ وَ سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ

Perhatikan.

Kalau dia ditashghir dari أَخٌ menjadi  أُخَيَّ

dia dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ) i’robnya جَاءَ أُخَيُّكَ fail dhommah tandanya.

رَأَيْتُ أُخَيَّكَ

ya’ disini manfuh bih manshub fathah tandanya.

وَ سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ.

أُخَيِّ ini majrur kasroh tandanya.

Jadi syarat yang kedua harus dalam bentuk mukabbaroh lawan dari mushoghghoroh.

Kemudian yang ketiga,

۳- أَنْ تَكُوْنَ مُضَافَةً؛

bahwa isim yang lima itu harus menjadi mudhof

فَإِنْ لَمْ تُضَفْ أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَتِ الظَّاهِرَةِ

maka jika tidak diidhofahkan kepada kata yang selainnya maka dia dii’rob dengan harokat yang dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ).

Seperti نَحْوُ: جَاءَ أَبٌ وَ رَأَيْتُ أَبًا وَ سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

Jadi kalau hanya أَبٌ saja, ini bukan isim yang lima. Isim yang lima itu harus ada idhofahnya.

جَاءَ أَبُوْكَ idhofah kepada dhomir

جَاءَ أَبُوْ زَيْدٍ idhofah kepada isim yang dzhohir.

Tetapi kalau hanya begitu saja tanpa diidhofahkan seperti

جَاءَ أَبٌ, رَأَيْتُ أَبًا, سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

maka ini jelas dii’robnya i’rob yang dzhohir.

Kemudian syarat yang keempat.

٤- أَنْ تَكُوْنَ إِضَافَتُهَا إِلَى غَيْرِ الْيَاءِ

bahwasannya idhofahnya itu kepada selain ya’.

فَإِنْ أُضِيْفَتْ إِلَى اليَاءِ أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَاتِ المُقَدَّرَةِ

maka jika diidhofahkan kepada ya’ dia dii’rob dengan harokat yang muqoddaroh.

نَحْوُ: جَاءَ أَخِيْ، وَ رَأَيْتُ أَخِيْ ، وَسَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

jadi setelah yang ketiga dikatakan bahwa syaratnya harus mudhof-mudhof ilaih, kemudian yang keempat dibatasi lagi. Mudhof ilaihnya itu tidak boleh ya’ khususnya yang mutakallim kepemilikan.

Contohnya :

جَاءَ أَخِيْ

maka kalau جَاءَ أَخِيْ ini bukan isim yang lima.

وَ رَأَيْتُ أَخِيْ ، وَسَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

jadi kalau idhofahnya kepada ya’, maka dia i’robnya dengan harokat yang muqoddaroh.

Ini kita bisa lihat contoh-contoh i’robnya dicatatan kaki.

Disini dikatakan catatan kaki yang pertama

( ١) فَا لأَخَوَانِ : فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

Ini dalam contoh

جَاءَ لأَخَوَانِ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلَامَةُ رَفْعِهِ الأَلفُ

fail yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya adalah alif.

وَ فِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ الأَخَوَيْنِ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ

Jadi dalam contoh

رَأَيْتُ لأَخَوَانِ

yang menjadi maful bih yang dinashabkan

وَ عَلَامَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ

dan tanda nashabnya adalah ya’.

وَ فِيْ المِثَالِ الثَّالِثِ

dan pada contoh yang ketiga

وَ سَلَّمْتُ عَلَى لأَخَوَانِ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَ عَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ

adalah isim yang dijarkan dan tanda jarnya adalah ya’,

 

kemudian catatan kaki yang kedua

٢) فَلأَبَاءُ : فِي المِثَالِ  الأَوَّلِ فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّاةُ الظَّاهِرَةُ

Maka kata

الأَبَاءُ

dalam contoh yang pertama yaitu contoh جَاءَ الأَبَاءُ ini merupakan fail dirofa’kan dan tanda rofa’nya dhommah yang dzhohir.

وَ فِي  المِثَالِ الثَانِي

Pada contoh yang kedua رَأَيْتُ الأَبَاءَ

مَفْعُولٌ بِيْهِ مَنْصُوبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ

وَ فِي  المِثَالِ الثَالِثِ

pada contoh yang ketiga yaitu سَلَّمْتُ عَلَى الأَبَاءِ

إِسْمٌ مَجْرُورٌ وَ علاَمَةُ جَرِّهِ  الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ

Kemudian catatan kaki yang ketiga

Membahas contoh kalimat

جَاءَ أُخَيُّكَ

(٣) فَأُخَيُّكَ: فِي المِثَالِ  الأَوَّلُ فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّاةُ الظَّاهِرَةُ

Jadi jelas dzhohir

جَاءَ أُخَيُّكَ

وَ فِي  المِثَالِ الثَانِي

yakni

رَأَيْتُ أُخَيَّكَ

مَفْعُولٌ بِيْهِ مَنْصُوبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ، وَ فِي  المِثَالِ الثَالِثِ

pada contoh yang ketiga

سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ

إِسْمٌ مَجْرُورٌ وَ عَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ وَالكَافِ فِي  الجَمِيعِ

dan kaaf (ك ) dalam

أُخَيُّكَ أُخَيَّكَ dan أُخَيِّكَ

ضَمِيرٌ فِي مَحَلِّ جَرِّهِ مُضَافٌ إلَيهِ

Dhomir dalam keadaan jar menjadi mudhof ilaih. Thoyyib

Kemudian catatan kaki yang keempat

(٤) فَأَبٌ: فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

yakni dalam contoh

جَاءَ أَبٌ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ

ini jelas sekali.

وَفِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ،

وَفِي المِثَالِ الثَّالِثِ

dan pada contoh yang ketiga yakni

سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ

thoyyib kemudian catatan kaki yang terakhir

(٥) فَأَخِيْ

dalam kalimat

جَاءَ أَخِيْ

telah datang saudaraku,

فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ

lihat cara mengi’robnya.

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ المُقْدَرَةُ عَلَى مَا قَبْلَ يَاءِ المُتَكَلِّمِ لِاِشْتِغَالِ الْمَحَلِّ بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ

Jadi adalah fail yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya adalah dhommah muqoddaroh yang ditakdirkan atas apa yang sebelumnya ya’ mutakallim, karena berebutan tempat.

إِشْتِغَالِ

itu sibuk. Berebutan tempat

بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ

dengan harokat yang sesuai.

Jadi kenapa dibilang جَاءَ padahal  أَخٌ + ya’ mutakallim. Kenapa bukannya جَاءَ أَخُيْ tapi malah جَاءَ أَخِيْ

karena kasroh pada kho disini kenapa berubah dari dhommah, karena asalnya أَخٌ  tambah ya’ mutakallim.

Kenapa tidak jadi أَخُيْ saja tapi malah jadi أَخِيْ

karena dalam kaidah, yang namanya ya’ sukun bertemunya itu kasroh sebagaimana kalau ada waw sukun temannya sebelumnya adalah dhommah dan kalau ada alif sukun, sebelumnya adalah fathah. Karena ini ya’ sukun, maka sebelumnya adalah kasroh. Itulah kenapa, dikarenakan

لِاِشْتِغَالِ الْمَحَلِّ بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ.

وَفِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ

pada contoh yang kedua

رَأَيْتُ أَخِيْ

مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ المُقْدَرَةُ،

وَفِي المِثَالِ الثَّالِثِ

سَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ المُقَدَّرَةُ ، واليَاءُ فِيْ الجَمِيْعِ : ضَمِيْرٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ

Dan ya’ pada semuanya yakni

جَاءَ أَخِيْ, رَأَيْتُ أَخِيْ, سَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

seluruhnya adalah dhomir dalam keadaan jar menjadi mudhof ilaih.

✒ Materi Program BINAR

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s