Al Mu’rabat Bilhuruf 2 – Jamak Mudzakkar Salim

📚 Dars 20

Bismillahirrahmanirrahim

ثَانِيًا : جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ (۱)

Kedua : Jamak Mudzakar Salim

——————————————————–

Kita lihat catatan kakinya:

۱) سُمِّىَ بِالسَّالِمِ، لِأَنَّهُ يَسْلَمُ مُفْرَدُهُ مِنَ التَّغْيِيْرِ عِنْدَ جَمْعِهِ أَيْ: يَبْقَى عَلَى حَالَتِهِ الأَصْلِيَّةِ

Dinamakan dengan salim, jamak mudzakkar salim kan namanya jamak mudzakkar salim, kenapa ada kata salim dibelakangnya?

لِأَنَّهُ يَسْلَمُ مُفْرَدُهُ مِنَ التَّغْيِيْرِ

Karena bentuk mufradnya itu selamat dari perubahan

عِنْدَ جَمْعِهِ

ketika jamaknya

أَيْ: يَبْقَى عَلَى حَالَتِهِ الأَصْلِيَّةِ

Artinya dia tetap dalam keadaannya yang asli.

وَ إِنَّمَا يُزَادُ عَلَيْهِ وَاوٌ وَ نُوْنٌ أَوْ يَاءٌ وَ نُوْنٌ عِنْدَ الجَمْعِ فَيُقَالُ فِيْ جَمْعِ (مُسْلِمٌ) مُسْلِمُوْنَ فِيْ حَالَةِ الرَّفْعِ، وَمُسْلِمِيْنَ فِيْ حَالَتِيْ النَّصْبِ وَالجَرِّ

Hanya saja dia ditambahkan ”wawu dan nun” atau “ya dan nun” ketika jamak. Maka dikatakan pada jamaknya مُسْلِمٌ

مُسْلِمُوْنَ فِيْ حَالَةِ الرَّفْعِ،

ketika rofa’ مُسْلِمُوْنَ

وَمُسْلِمِيْنَ فِيْ حَالَتِيْ النَّصْبِ وَالجَرِّ

Dan مُسْلِمِيْنَ pada keadaan nashab dan jar.

Jadi ini lah kenapa jamak mudzakkar salim dinamakan salim. Karena lihat  مُسْلِمٌ menjadi  مُسْلِمُوْنَ

kata مُسْلِمٌ nya tidak berubah sama sekali, tetap مُسْلِمٌ hanya saja ditambahkan wawu dan nun dibelakangnya, ya’ dan nun dibelakangnya.

Ini berbeda dengan jamak taksir.

Kalau jamak taksir, contohnya  بَابٌ, ini betul² berubah, dari  بَابٌ menjadi  أَبْوَابٌ.

Jadi tidak ada unsur بَابٌ nya lagi, betul² berubah. Begitupun كِتَابٌ misalkan, dari كِتَابٌ menjadi كُتُبٌ, ini benar-benar berubah bentuknya.

تَعْرِيْفُهُ : هُوَ مَا دَلَّ عَلَى أَكْثَرَ مِنِ اثْنَيْنِ بِزِيَادَةِ وَاوٍ وَنُوْنٍ أَوْ يَاءٍ وَنُوْنٍ عَلَى مُفْرَدِهِ (۲)

Definisi dari jamak mudzakkar salim adalah kata yang menunjuki atas makna lebih dari dua, dengan menambahkan wawu dan nun atau ya’ dan nun ke bentuk mufradnya.

——————————————————–

Kita lihat catatan kakinya:

۲) وَ هَذِهِ الزِّيَادَةُ تُغْنِيَ عَنِ الإِتْيَانِ بِوَاوِ العَطْفِ وَتَكْرِيْرِ الإِسْمِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يُقَالَ: جَاءَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ، يُقَالُ: جَاءَ الزَّيْدُوْنَ

Dan penambahan ini, yakni penambahan wawu dan nun, dan ya dan nun, mencukupkan dari mendatangkan wawu athaf dan mengulang-ulang isim. Maka sebagai ganti dari kita mengatakan

جَاءَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ

Dikatakan حَاءَ الزَّيْدُوْنَ.

Jadi fungsi jamak mudzakar salim itu untuk meringkas.

Karena ketika kita mengatakan جَاءَ المُسْلِمُوْنَ misalkan, maka itu sebetulnya kita meringkas dari perkataan,

جَاءَ المُسْلِمُ وَالمُسْلِمُ وَالمُسْلِمُ.

Ketika kita mengatakan جَاءَ الزَّيْدُوْنَ, maka ini kita meringkas dari جَاءَ زَيْدٌ وَزَيْدٌ وَزَيْدٌ.

Inilah yang dimaksud dengan تُغْنِيَ عَنِ الإِتْيَانِ بِوَاوِ العَطْفِ وَتَكْرِيْرِ الإِسْمِ.

Mencukupkan dari mendatangkan wawu athaf dan mengulang-ulang isim.

Ini keadaanya sama dengan mutsanna kemarin ya.

——————————————————-

مِثَالُهُ : ( المُؤْمِنُوْنَ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ)

Contohnya, المُؤْمِنُوْنَ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ,

“orang-orang yang beriman”

وَ (الزَّيْدُوْنَ، وَالزَّيْدِيْنَ)،

Ini jamaknya زَيْدٌ

Dan ini kaidahnya, *kalau kita ingin menjamak nama atapun membuat ia mutsanna, harus diberi alif lam*.

Misalkan = زَيْدٌ ini mufrad, kalau mutsanna الزَّيْدَانِ, harus pakai al didepannya.

Ketika jamak harus الزَّيْدُوْنَ.

Tidak boleh kita mengatakan, زَيْدٌ – زَيْدَانِ – زَيْدُوْنَ .

Karena kalau tanpa al, ini tidak menunjukkan makna mutsanna.

Kalau kita katakana زَيْدَانِ,  berarti ada orang yang namanya زَيْدَانِ .

Tapi kalau pakai al الزَّيْدَانِ ini maksudnya زَيْدٌ وَزَيْدٌ

Begitu pula الزَّيْدُوْنَ Ini yang benar. Ini maknanya ada banyak zaid.

Tapi kalau kita katakana زَيْدُوْنَ tanpa al, Ini maknanya ada orang yang namanya زَيْدُوْنَ

Jadi untuk membedakan mana yang bermakna mutsanna dan jamak dan mana yang memang namanya seperti itu, kita menggunakan al.

وَ (الصَّادِقُوْنَ، وَالصَّادِقِيْنَ)

“Dan orang-orang yang benar”

حُكْمُهُ : يُرْفَعُ بِالوَاوِ، وَيُنْصَبُ وَ يُجَرُّ بِالْيَاءِ

Hukumnya, dirofa’kan dengan wawu dan dinashabkan dan dijarkan dengan ya’.

Ini sering kita pelajari, bahwa jamak mudzakkar salim itu ketika rofa’ wawu, ketika nashab dan jar sama-sama ya’ ي.

مُسْلِمُوْنَ Ini untuk rofa’

مُسْلِمِيْنَ Ini untuk nashab dan jar

فَمِثَالُ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ المَرْفُوعِ: قَوْلُهُ تَعَالَى {قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُوْنَ} (۳)

Maka contoh jamak mudzakkar salim yang marfu’ adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla: قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُوْنَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”

——————————————————

Kita lihat catatan kakinya:

المُؤْمِنُوْنَ مِنَ الايَة (١)

Ini surat Al-Mu’minun ayat 1, i’rabnya

🔍  قَدْ : حَرْفُ تَحْقِيْقٍ

Qad itu i’rabnya harfu tahqiiqin

🔍  أَفْلَحَ: فِعْلٌ مَاضٍ , مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ

🔍  المُؤْمِنُوْنَ: فَاعِلٌ مرْفُوعٌ  وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ

Ini insya Allah mudah i’rabnya

——————————————————–

فَ ( المُؤْمِنُوْن )

Maka المُؤْمِنُوْن, dari ayat قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُوْنَ

جَمْعُ مُذَكَّرٍ سالِمٌ مَرْفُوعٌ؛ لِأَنَّهُ فَاعِلٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَمَّةِ

jadi failnya dia “sungguh beruntung orang beriman”

maka orang yang beriman disini menjadi fail.

عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَمَّةِ

Dan tanda rofa’nya adalah wawu sebagai ganti dari dhammah.

Karena tanda asal rofa’ adalah dhammah. Makanya dikatakan

نِيَابَةً عَنِ الضَمَّةِ

Sebagai ganti dari dhammah

وَمِثَالُ جَمْعٍ المُذَكَّرِ السَّالِمِ المَنْصُوْبِ: قَوْلُهُ تَعَالَىَ: (وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ) (٤)

Maka contoh jamak mudzakkar salim yang manshub adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:  وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ

—————————-

Kita lihat catatan kakinya:

٤) البَقَرَة مِنَ الآيَةِ (۲۲۳)

Ini surat Al-Baqarah ayat 223

🔍  بَشِّرِ: فِعْلٌ أَمْرٍ مَبْنِيٌ عَلَى السُّكُوْنِ

Fiil amr dimabnikan atas sukun

— وَإِنَّمَا كُسِّرَ لِالتِّقَاءِ السَّاكِنِيْنَ,

Adapun ia dikasrahkan, (kan diayatnya وَبَشِّرِ, bukan وَبَشِّرْ, tapi وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ), karena bertemunya dua sukun.

Ini kaidah ya, kalau ada dua sukun وَبَشِّرْ المُؤْمِنِيْنَ (wabasysyir almu’miniina) ini tidak bisa dibaca, karena sama-sama sukun.

Bisa jika waqaf, وَبَشِّرْ- اَلمُؤْمِنِيْنَ (wa basysyir – almu’miniina)

Kalau kita mau washal, maka harus dikasi harakat وَبَشِّرْ dikasi harakat menjadi وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ, (wa basysyiril mu’miniina) biar bisa dibaca.

—  وَ الفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِيْرُهُ أَنْتَ

Jadi kalau dhamirnya mukhattab, memang dia وُجُوْبًا , تَقْدِيْرُهُ أَنْتَ

🔍 المُؤْمِنِيْنَ: مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ

Dan ini, cara mengi’rabnya seperti ini ya.

Jadi dikatakan  نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ

Karena dia manshub, dan tanda asal nashab itu fathah, makanya dikatakan

نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ

—————————————————–

فَ ( المُؤمِنِيْنَ)

Yakni dari ayat وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ,

جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ مَنْصُوْبٌ؛ لِأَنَّهُ مَفْعُوْلٌ بِهِ

Adalah jamak mudzakkar salim yang manshub karena dia adalah maf’ulbihnya.

وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ

“Dan berilah kabar”. Siapa yang diberi kabar? المُؤْمِنِيْنَ, orang-orang yang beriman, maka ini adalah maf’ulbih

وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ

وَمِثَالُ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ المَجْرُوْرِ: قَوْلُهُ تَعَالَى {رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ} (٥)

Maka contoh jamak mudzakkar salim yang majrur adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:

👈  رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ

Dalam surat Al-Fath ayat 18, i’rabnya

🔍  رَضِيَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ

🔍  اللّٰهُ: لَفْظُ الجَلَالَةِ، فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ

🔍  عَنْ: حَرْفُ جَرٍّ

🔍  المُؤْمِنِيْنَ: اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِعَنْ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِْ الكَسْرَةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ

فَ( المُؤمِنِيْنَ)

Yakni dari lafadz رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ

جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ مَجْرُوْرٌ؛

Adalah jamak mudzakkar salim yang majrur.

لِأَنَّهُ سُبِقَ بِحَرْفٍ جَرٍّ

Karena ia didahului huruf jar

وَ عَلاَمَةُ جَرِّهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

Dan tanda jarnya adalah ya’ sebagai ganti dari kasrah

————————————————-

فَوَائِدُ وَتَنْبِيْهَاتٌ:

Faidah-faidah dan catatan-catatan :

🔷 Yg pertama

١- لَا يَجْمَعُ جَمْعُ المُذَكَّرِ السَّالِمُ إِلَّا الأَسْمَاءَ الدَّالَةَ عَلَى العُقَلَاءِ مِنَ الذُّكُوْرِ

_Tidaklah di jamak menjadi jamak mudzakkar salim, kecuali isim² yg menunjukkan atas yang aqil (yg berakal), مِنَ الذُّكُوْرِ_

Jadi jamak mudzakkar salim itu khusus untuk kata yg mudzakkar dan juga yg ‘aqil.

Jadi kalau ghairu aqil tidak boleh jamaknya mudzakkar salim.

Jadi khusus jamak mudzakkar salim, untuk kata yg mudzakkar dan lilaqil.

— فَلَا يُقَالُ: نَصَحْتُ النِّسَاءَ المُتَزَوِّجِيْنَ،

Maka tidak boleh dikatakan, saya menasehati para wanita yg menikah. Tidak boleh المُتَزَوِّجِيْنَ Karena المُتَزَوِّجِيْنَ  adalah jamak mudzakkar, adapun النِّسَاءَ Ini muannats. Maka tidak boleh disifati dengan jamak mudzakkar salim.

— وَلَا رَفَعْتُ الكُتُبَ

المَوْضُوْعِيْنَ

Dan tidak boleh kita mengatakan, “aku mengangkat buku-buku yg berjudul-judul.

Ini tidak boleh juga Karena , الكُتُبُ merupakan ghairu ‘aqil.

Adapun tadi النِّسَاءُ bukannya mudzakkar tapi muannats.

— بَلْ يُقَالُ النِّسَاءُ المُتَزَوِّجَاتُ

Bahkan yang benar, dikatakan, النِّسَاءُ المُتَزَوِّجَاتُ

“Wanita-wanita yg menikah.”

وَالكُتُبُ المَوْضُوعَةُ

“Dan kitab² yg berjudul², atau disusun²”

Jadi jamak mudzakkar salim ini khusus untuk:

  1. Mudzakkar
  2. Lil’aqil, yang berakal

٢- لَيْسَ مِنْ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ: (شَيَاطِيْنُ وَمَسَاكِيْنُ)

Bukanlah jamak mudzakkar salim, kata :

شَيَاطِيْنُ وَمَسَاكِيْنُ

sekalipun ada ya’ dan nun

— وَإنَّمَا هُمَا مِنْ جَمْعِ التَّكْسِيْرِ؛

Alasannya keduanya adalah jamak taksir, bukan jamak mudzakkar salim. kenapa?

— لِأَنَّ نُوْنَهُمَا أَصْلِيَةٌ

Karena nun keduanya adalah asli. Jadi nun dalam lafadz شَيَاطِيْنُ – مَسَاكِيْن

Bukan tambahan, dia adalah asli. Dari  شَيْطَان , menjadi شَيَاطِيْنُ

dari مِسْكِيْن menjadi مَسَاكِيْن

لِوُجُوْدِهَا فِيْ المُفْرَدِ: شَيْطَانٌ وَمِسْكِيْنٌ

Karena keberadaan nunnya pada mufrad.

شَيْطَانٌ- مِسْكِيْنٌ

Lihat ada nunnya, jadi ini memang asli bukan tambahan.

Jadi bukan jamak mudzakkar salim

وَنُونُ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ لَا تَكُوْنُ إِلَّا زَائِدَةً مَفْتُوحَةً

Dan nun jamak mudzakkar salim, tidak layak, kecuali bersifat tambahan dan ia difathahkan

قَالَ تَعَالَى : Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

{۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا ٌ} [التوبة : 60]

Sesungguhnya shadaqah itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan para ‘amil (yg mengurusi shadaqah).

✒ Materi Program BINAR

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s