Perasaan yang Mendahului Pernikahan

Oleh: Ust. Moh. Fauzil Adhim

DIA adalah Khadijah. Seorang wanita terhormat, bangsawan terpandang dari kalangan Quraisy, klan elit di Makkah. Ia berasal dari keluarga yang mempunyai kedudukan dan kemuliaan. Orang di masanya, pasti tahu siapa Khadijah. Mereka mengenal keagungan, kebesaran dan keutamaannya. Wanita pengusaha yang mandiri dan penuh pengorbanan.

Kalau kemudian ia menikah dengan Muhammad, pemuda miskin yang yatim piatu itu, bukan karena tak ada orang yang meminangnya. Telah banyak yang datang kepadanya, dan sebanyak itulah ia tidak bersedia menjadi istri. Padahal mereka adalah orang-orang kaya, orang-orang berpengaruh, orang-orang terhormat, orang-orang dari kalangan bangsawan dan orang-orang yang sangat diperhitungkan di antara kaumnya.

Ia memilih Muhammad karena ia menyukai. Ia memilih Muhammad karena ia tahu akhlak Muhammad yang tinggidan perilakunya halus. Kepada Muhammad ia mengatakan, “Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu.”

Ketika simpati itu ada, dan perasannya menguat, Khadijah mulai berketetapan bahwa Muhammadlah yang paling berhak untuk menjadi suaminya. Sebaik-baik orang yang pantas untuk didampingi dengan kesetiaan penuh dan kecintaan yang dalam adalah Muhammad.

Ketika perasaan itu menguat dan ketetapan sudah bulat, ia menyuruh pembantu laki-lakinya Maisarah untuk memperhatikan gerak-gerik Muhammad. Ia mengirim utusan kepada Muhammad untuk memintanya berangkat ke Syam membawa barang dagangan Khadijah dalam suatu kafilah.

Khadijah menyer¬takan Maisarah dalam kafilah itu agar dapat memperhatikan gerak-gerik dan tingkah lakunya dari dekat. Sehingga Khadijah memperoleh keterangan dari orang yang benar-benar mengetahui, tidak menurut kabar burung yang belum jelas kebenarannya.

Khadijah kemudian memberanikan diri untuk menawarkan diri kepada Muhammad. Ia berharap Muhammad akan menangapi pikiran dan perasaannya, tetapi ia tidak melihat tanda-tanda yang menunjukkan hal itu pada diri Muhammad. Ia ingin menjajagi bagaimana sesungguhnya pikiran dan perasaan Muhammad. Karena itu, Khadijah kemudian meminta temannya, Nafisah binti Munayyah, menemui Muhammad.

Di sejumlah buku sirah, kita dapati nukilan percakapan antara Nafisah binti Munayyah dengan Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu belum menjadi rasul. Saya tidak berani mengutipkan di sini karena percakapan tersebut tidak memiliki sandaran riwayat yang kuat. Karena itu, saya memilih untuk menyampaikan hal-hal pokok terkait peristiwa ini, yakni atas perantaraan Nafisah binti Munayyah, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam akhirnya berkenan menikah dengan Khadijah al-Kubra. Ketika Muhammad tidak memiliki harta yang cukup untuk disebut besar.

Tepat pada waktu yang telah ditetapkan bersama oleh keluarga dari kedua belah fihak, berangkatlah Muhammad bersama beberapa orang paman beliau, dipimpin oleh Abu Thalib, untuk secara resmi menyampaikan lamaran kepada Khadijah. Ketika masanya tiba, sejarah pun mencatat peristiwa akad nikah yang paling barakah. Tak ada yang lebih barakah dari pernikahan itu sesudahnya.

Begitu kisah pernikahan Siti Khadijah dan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Ada perasaan yang mendahului pada diri Khadijah karena terkesan oleh akhlaknya, kemudian diseriusi dengan usaha untuk mencapai pernikahan. Kelak dari pernikahan ini, lahir manusia-manusia suci yang dimuliakan Allah. Lahir Zainab yang memiliki putri Umamah. Lahir Fathimah yang dari rahim sucinya Allah mengaruniakan keturunan paling mulia, Al-Hasan dan Al-Husain.

Jadi, kalau suatu saat ada rasa simpati yang tumbuh kepada seorang ikhwan, tanyakanlah ke¬sungguhan hati Anda. Jika perasaan itu terus mekar dan memantapkan keinginan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya, periksalah akhlak dan agamanya. Anda bisa mencari seorang Maisarah yang dapat memperhatikan gerak-geriknya dari dekat, sehingga anda mendapatkan informasi mengenai akhlak, agama dan sikapnya dari orang yang memang mengetahui sendiri. Bukan dari cerita-cerita yang tak jelas sum¬bernya. Anda bisa mengingat kisah percakapan Umar dengan orang yang akan menyampaikan informasi mengenai seseorang.

Kalau Anda telah mendapatkan informasi yang semakin meyakinkan Anda, kini saatnya Anda bisa mencari seorang Nafisah binti Munayyah untuk menjajagi perasaan dan pikiran orang yang Anda harapkan. Seorang wanita yang matang lebih bisa membicarakan masalah-masalah gerak hati wanita dan menyelami pikiran laki-laki. Apalagi kalau sudah mempunyai beberapa anak.*

Makna Dzikir Menurut Syekh Ibnu Atha’illah

Menurut Syekh Ibnu Atha’illah, dzikir adalah melepaskan diri dari kelalaian dengan selalu menghadirkan kalbu bersama al-Haqq (Allah). Pendapat lain mengatakan bahwa dzikir adalah mengulang-ulang nama Allah dalam hati maupun melalui lisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengingat lafal jalalah (Allah), sifat-Nya, hukum-Nya, perbuatan-Nya atau suatu tindakan yang serupa. Dzikir bisa pula berupa doa, mengingat para rasul-Nya, nabi-Nya,wali-Nya, dan orang-orang yang memiliki kedekatan dengan-Nya, serta bisa pula berupa takarub kepada-Nya melalui sarana dan perbuatan tertentu seperti membaca, mengingat, bersyair, menyanyi, ceramah, dan bercerita.

Maka, dengan pemahaman seperti ini, mereka yang berbicara tentang kebenaran Allah, atau yang merenungkan keagungan, kemuliaan, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, atau yang mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesungguhnya—dengan berbuat demikian—mereka sedang melakukan dzikir. Dzikir bisa dilakukan dengan lisan, kalbu, anggota badan, ataupun dengan ucapan yang terdengar orang. Orang yang berdzikir dengan menggabungkan semua unsur tersebut berarti telah melakukan dzikir secara sempurna.

Menurut Syekh Ibnu Atha’illah, dzikir lisan adalah dzikir dengan kata-kata semata, tanpa kehadiran kalbu (hudhur). Dzikir ini adalah dzikir lahiriah yang memiliki keutamaan besar seperti yang ditunjukkan oleh beberapa ayat Al-Quran, hadis, dan atsar.

Dzikir lisan terbagi dalam beberapa bagian. Ada yang terikat dengan waktu dan tempat, serta ada pula yang bebas (tidak ditentukan tempat dan waktunya). Dzikir yang terikat, misalnya bacaan ketika shalat dan setelah shalat, bacaan ketika haji, sebelum tidur, setelah bangun, sebelum makan, ketika menaiki kendaraan, dzikir di waktu pagi dan petang, dan seterusnya.

Sementara yang tidak terikat dengan waktu, tempat, ataupun kondisi, misalnya pujian kepada Allah seperti dalam untaian kalimat, “Subhana Allah wa al-hamdu li Allah wa la ilaha illa Allah wa Allah akbar wa la hawla wa la quwwata illa bi Allah al-‘aly al-‘azhim (Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain-Nya, dan Allah Mahabesar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar).” Contoh lainnya adalah dzikir berupa doa seperti, “Rabbana la tu’akhidzna in nasina aw akhtha’na…,” atau munajat lainnya.

Selain itu, terdapat pula bacaan shalawat atas Nabi SAW yang akan memberi pengaruh lebih besar ke dalam kalbu para pemula daripada dzikir yang tidak disertai munajat. Sebab, orang yang bermunajat, kalbunya merasa dekat dengan Allah. Ia termasuk sarana yang memberikan pengaruh tertentu dan menghiaskan rasa takut pada kalbu.

Dzikir lisan ada yang bersifat ri’ayah misalnya ketika mengucapkan kalimat, “Allah bersamaku, Allah melihatku.” Ucapan tersebut mengandung usaha untuk menjaga kemaslahatan kalbu. Ia adalah dzikir untuk memperkuat kehadiran kalbu bersama Allah, memelihara etika di hadapan-Nya, menjaga diri dari sikap lalai, berlindung dari setan terkutuk, dan untuk bisa khusyuk dalam ibadah.”

— Syekh Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah

Mu’rab Bil Huruf 3: Isim Yang 5

📚 Dars 21

Bismillahirrahmanirrahim

Saat ini kita masih dalam pembahasan Al Mu’rabat bil huruf. Kata yang mu’robnya dengan huruf sudah kita bahas sebelumnya yaitu:

  1. Mutsanna
  2. Jamak mudzakkar salim

Dan sekarang kita bahas yang ketiga, yaitu al asmaul khomsah.

ثَالِثًا: الأَسْمَاءُ الخَمْسَةُ:

Yang ketiga yakni mu’rob dengan huruf adalah isim-isim yang lima.

تَعْرِيْفُهَا:

definisi dari isim yang lima adalah

هِيَ أَبُوكَ، وأَخُوْكَ، وَحَمُوكَ، وَفُوكَ، وَذُوْمَالٍ.

Jadi isim yang lima itu apa saja

  1. أَبُوكَ (bapakmu)
  2. أَخُوْكَ (saudaramu)
  3. حَمُوكَ (iparmu)
  4. فُوكَ (mulutmu)
  5. وَذُوْمَالٍ (pemilik harta)

Ini tanbih, peringatan bahwa  ذُوْمَالٍ , ini yang menjadi contoh ذُوْ nya saja bukan ذُو ْمَالٍ nya.  Adapun mudhof ilaihnya bisa apa saja.

Bisa ذُوْمَالٍ , bisa ذُو بَيْتٍ  , bias ذُوْ جَمَلٍ

Dan apapun yang jelas yang jadi isim lima adalah ذُوْ nya pemilik. Adapun yg dimiliki apa, bisa مَالٍ , harta, bisa rumah بَيْتٍ misalkan dan sebagainya.

حُكْمُهَا:

Hukumnya:

تُرْفَعُ بِالْوَاوِ، وَتُنْصَبُ بِالأَلِفِ، وَتُجَرُّ بِاليَاء

Dan ini memang termasuk yang paling lengkap.

Jika mutsanna ketika rofa’ alif ketika nashab dan jar, sama-sama ya’. Jamak mudzakkar salim ketika rofa’ waw ketika nashab dan jar, sama-sama ya’.

Tapi jika isim yang lima ketika rofa’ waw, ketika nashab alif, ketika jar ya’. ini beda-beda semua. Paling lengkap dia.

تُرْفَعُ بِالْوَاوِ،

dirofa’kan dengan waw

وَتُنْصَبُ بِالأَلِفِ،

dinashabkan dengan alif

وَتُجَرُّ بِاليَاء

dijarkan dengan ya’

فَهِيَ تُعْرَبُ بِالْوَاوِ رَفْعًا: نَحْوُ قَوْلِ اللّٰهِ تَعَالَى: {قَالَ أَبُوْهُمْ}(١)، وَقَوْلِهِ: {قَالَ لَهُمْ أَخُوْهُم}(٢), وَقَوْلِهِ: {لِيُنْفِقْ ذُوْسَعَةٍ}(٣).

Maka isim yang lima itu dimu’robkan dengan wawu dalam keadaan rofa’ contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

قَالَ أَبُوْهُمْ

“Berkata bapak mereka.”  Ini dalam surah Yusuf ayat 94.

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

قَالَ لَهُمْ أَخُوْهُمْ

“Dan telah berkata saudara mereka kepada mereka.”  Ini dalam surah Asy-syuara’ dari ayat 106.

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

لِيُنْفِقْ ذُوْسَعَةٍ

“agar orang yang memiliki keluasan berinfaq.” Ini dalam surah Ath-Thalaq dari ayat 7.

وَتُعْرَبُ بِالْأَلِفِ نَصْبًا: نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى: {جَاءُوْا أَبَاهُمْ}(٤)، وَقَوْلِهِ:و {َنَحْفَظُ أَخَانَا}(٥)، وَقَوْلِهِ: {وَءَاتِ ذَاالْقُرْبَى حَقَّهُ}(٦).

Dan isim yang lima itu mu’rob dengan alif ketika nashab.

contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

جَاءُوْا أَبَاهُمْ

“Mereka mendatangi bapak-bapak mereka.”  Ini dalam surah Yusuf ayat 16.

Dan juga dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وََنَحْفَظُ أَخَانَا

“dan kami melindungi atau melihara atau menjaga saudara kami.” Ini dalam surah Yusuf juga dari ayat 65.

Dan juga dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وَءَاتِ ذَاالْقُرْبَى حَقَّهُ

“dan berikanlah orang-orang yang memiliki kedekatan kekerabatan haknya.” Ini surah Al-Isra’ dari ayat 26.

وَتُعْرِبُ بِاليَاءِ جَرًّا : نَحْوُقَوْلِهِ تَعَالَى : {رَجَعُوا إِلَى أَبِيْهِمْ} (٧)، وَقَوْلِهِ : {سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيْكَ} (٨)، وَقَوْلِهِ : {وَلِذِالْقُرْبَى}(٩)

Dan isim yang lima itu mu’rob dengan ya’ ketika jar. Contohnya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ

dengan ya’ bukan dengan إِلَى أَبُوْهُمْ atau إِلَى أَبَاهُمْ

tapi dengan ya’. رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ

“mereka kembali kepada bapak mereka.” Ini surah Yusuf ayat 63.

Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيْكَ

ini dalam surah Al-Qashash dari ayat 35

dan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

وَلِذِالْقُرْبَى

ini dalam surah Al-Anfal dari ayat 41

Diperhatikan ketika rofa’ dia wawu,  قَالَ أَبُوْهُمْ  bukan أَبَا atau أَبِيْ

dan ketika nashab dia alif.  جَاءُوْا أَبَاهُمْ bukan  أَبُوْ bukan أَبِيْ.

Kemudian ketika jar, dia ya’  رَجَعُوْا إِلَى أَبِيْهِمْ  bukan أَبُوْ bukan أَبَا.

Jadi isim yang lima ini masing-masing memiliki tanda yang berbeda. Ketika rofa’ wawu, ketika nashab alif dan ketika jar ya’.

وَاعْلَمْ أَنَّ الأَسْمَاءَ الخَمْسَةَ لاَتُعْرَبُ بِالحُرُوْفِ إِلاَّ إِذَا تَوَفَّرَ فِيْهَا أَرْبَعَةُ شُرُوْطٍ، نَذْكُرُهَا فِيْمَا يَلِى :

Dan ketahuilah bahwasannya isim yang lima itu tidak dimu’robkan dengan huruf kecuali apabila telah memenuhi empat syarat.

نَذْكُرُهَا فِيْمَا يَلِيْ :

Kami sebutkan sebagai berikut:

Ini adalah syarat-syaratnya.

Tapi sebelum kita baca syaratnya. Kita baca dahulu  فَوَائِدٌ وَ تَنْبِيْهَاتٌ dari halaman 49

🔷 Disini fawaidnya  :

١.(الحَمُو) قَالَ ابْنُ هِشَامُ: الحَمُو:  أَقَارِبُ زَوْجِ المَرْأَةِ، وَ رُبَمَا أُطْلِقَ عَلَى أَقَارِبِ الزَّوجَةِ. قَطْرُ النَّدَى ص( ٦٢)

Ibnu Hisyam berpendapat bahwasannya الحَمُو itu adalah أَقَارِبُ زَوْجِ المَرْأَةِ

yakni saudaranya suami wanita. Saudara dari suami wanita.

Jadi jika seorang wanita punya suami. Suaminya ini punya kakak punya adik. Ini disebut dengan حَمُو.

Makanya lebih tepatnya kita terjemahkan حَمُو ini ipar dan dia dikhususkan untuk wanita. Makanya dalam beberapa kitab bukannya حَمُوكَ tapi حَمُوكِ karena حَمُو sudah pasti untuk wanita.

وَرُبَمَا أُطْلِقَ عَلَى أَقَارِبِ الزَّوجَةِ

tapi terkadang dia dimutlakkan juga untuk saudara saudari dekat si istri. Liat dalam kitab Qothrun Nada halaman 62.

تَقُولُ:جَاءَ حَمُوكِ، وَرَأَيتُ حَمَاكِ، وَسَلَّمْتُ عَلَى حَمِيكِ. وَيَنْظُرُ الصَّبَانِ (١/ ٦٩).

Lihat dalam kitab Ash Shobani jilid I halaman 69

Jadi karena pendapat yang lebih kuat, mengatakan bahwasannya حَمُو ini saudaranya laki-laki. Karena dia saudara laki-laki maka khitabnya selalu wanita. Makanya jika kita katakan جَاءَ حَمُوكَ ini kurang tepat karena حَمُو itu lebih cocok ke ipar. Ipar bagi si istri. Makanya disini contohnya جَاءَ حَمُوكِ telah datang iparmu.

وَرَأَيْتُ حَمَاكِ

“aku telah melihat iparmu”

وَسَلَّمْتُ عَلَى حَمِيكِ

“dan aku telah memberi salam kepada”

حَمِيكِ.

🔷 Kemudian faidah yang kedua

٢ . (فُو) هُوَ الفَمُ ، وَيُشْتَرَطُ أَلَّا يَكُونَ بِالمِيمِ، نَحْوُ: فُوكَ نَظِيفٌ، نَظِّفْ فَاكَ، نَظَرْتُ إِلَى فِيكِ

(فُو) هُوَ الفَمُ

فُو itu artinya adalah mulut الفَمُ

وَيُشْتَرَطُ أَلَّا يَكُونَ بِالمِيمِ

dan disyaratkan jika mau jadi isim lima, tidak boleh dengan mim.

Jika فَمٌ tidak boleh dianggap sebagai isim yang lima.

Yang menjadi isim yang lima itu adalah yang tanpa mim فُو.

Jadi syaratnya فَمٌ dan فُو artinnya sama.

Bedanya kalau فَمٌ bukan isim yang lima. Isim yang lima adalah فُو, فَا, dan فِيْ seperti itu.

نَحْوُ: فُوكَ نَظِيفٌ  contohnya “mulutmu bersih”

نَظِّفْ فَاكَ  “bersihkanlah mulutmu”

نَظَرْتُ إِلَى فِيكِ  “aku melihat mulutmu”

🔷 Faidah yang ketiga

٣. (ذُو) بِمَعْنَى صَاحِبٍ، وَإِنَّمَا قَالَ ذُومَالٍ، وَلَمْ يَقُلْ ذُوْكَ؛ لِأَنَّ (ذُو) لَا تُضَافُ إِلَى الضَّمِيرِ، بَلْ إِلَى اسْمِ جِنْسٍ كَالِمَالِ

(ذُو) بِمَعْنَى صَاحِبٍ

ذُو  ini maknanya adalah shohib, pemilik.

وَإِنَّمَا قَالَ ذُومَالٍ

contohnya misalkan dikatakan  ذُومَالٍ (pemilik harta)

وَلَمْ يَقُلْ ذُوْكَ

dan tidak boleh dikatakan ذُوْكَ (pemilikmu). Tidak boleh.

لِأَنَّ (ذُو) لَا تُضَافُ إِلَى الضَّمِيرِ

*karena ذُو itu tidak boleh diidhofahkan kepada dhomir*

بَلْ إِلَى اسْمِ جِنْسٍ كَالْمَالِ

bahkan yang benar adalah dia diidhofahkan pada isim jenis seperti harta. Jadi ذُو tidak boleh diidhofahkan pada isim dhomir. ذُوْكَ, ذُوْهُ tidak boleh. Tetapi kepada nama-nama jenis seperti ذُومَالٍ pemilik harta, ذُوْبَيْتٍ pemilik rumah dan sebagainya.

🔷 Kemudian kaidah yang keempat

٤ – الكَلِمَةُ الَّتِي تَقَعَ بَعْدَالأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ تُعْرَبُ مُضَافًا إِلَيهِ دَائِمًا، سَوَاءً أَكَانَتْ اسْمًا ظَاهِرًا نَحوُ: رَضِيَ اللهُ عَنْ أَبِي بَكْرٍ، أَمْ ضَمِيرًا نَحْوُ: سَلِّمْ عَلَى أَبِيكَ.

Kata yang terletak setelah isim yang khomsah, isim yang lima itu dii’rob sebagai mudhof ilaih selamanya. Selalu mudhof ilaih. Jika ada isim yang lima, maka setelahnya pasti mudhof ilaih. Sama saja apakah dia isim yg dzhohir baik isimnya yang nampak seperti

رَضِيَ اللهُ عَنْ أَبِي بَكْرٍ.

بَكْرٍ ini isim dzhohir, maka بَكْرٍ adalah mudhof ilaih.

أَمْ ضَمِيرًا

ataupun yang dhomir contohnya سَلِّمْ عَلَى أَبِيكَ.

كَ  disini adalah dhomir maka dia adalah mudhof ilaih. Pokoknya setelah ada isim yang lima. Maka dii’robnya pasti mudhof ilaih.

شُرُوْطُ إِعْرَابِ الاَسْاءِ الخَمْسَةِ بِالحُرُوْفِ

📌 Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengi’rob isim yang lima dengan huruf

١ـ أَنْ تَكُوْنَ مُفْرَدَةً: فَإِنْ ثُنِّيَتْ أُعْرِبَتْ إِعْرَابَ المُثَنَّى

1⃣ Syarat yang pertama, harus dalam keadaan mufradnya.

Maka jika dia dimutsannakan, dia dii’rob dengan i’rob mutsanna.

نَحْوُ: جَاءَ الأَخَوَانِ، وَرَأَيْتُ الأَخَوَيْنِ، وَسَلَّمْتُ عَلَى الأَخَوَيْنِ

Jadi dia harus dalam keadaan mufrod, tidak boleh mutsanna, tidak boleh jamak.

Jadi yang dimaksud dengan isim yang lima. Hanya ketika mufrodnya.

أَبُوكَ, أَخُوْكَ, حَمُوكَ, فُوكَ, ذُوْمَالٍ  ketika mufrodnya.

Ketika أَبٌ berubah menjadi mutsanna ataupun jamak, maka dia tidak lagi menjadi isim yang lima. Dia dii’rob seperti ketika mengi’rob mutsanna.

Contohnya جَاءَ الأَخَوَانِ

kita katakan  الأَخَوَانِ

ini fail, tanda rofa’nya alif.

رَأَيْتُ الأَخَوَيْنِ

kita katakan الأَخَوَيْنِ

ini maful bih, tanda rofa’nya ya’.

Kemudian  سَلَّمْتُ عَلَى الأَخَوَيْنِ  kita katakan adalah isim yang majrur karena diketahui huruf jar, dan tanda jarnya adalah ya’.

Jadi yang disyaratkan bahwa isim yang lima itu harus dalam keadaan mufrod. Jika mutsanna maka dia dihukumi seperti hukum mutsanna.

وَإِنْ جُمِعَتْ أُعْرِبَتْ الجَمْعِ

Dan jika dijamakkan maka dia dii’rob seperti i’robnya jamak.

نَحْوُ: جَاءَ الآبَاءُ، وَرَأَيْتُ الآبَاءَ، وَسَلَّمْتُ عَلَى الآبَاءِ

Maka جَاءَ الآبَاءُ, الآبَاءُ  ini fail tanda rofa’nya dhommah

رَأَيْتُ الآبَاءَ, maful bih tanda nashabnya fathah

سَلَّمْتُ عَلَى الآبَاءِ , majrur tanda jarnya kasroh

📝 Jadi yang dimaksud dengan isim yang lima harus ketika mufrod, lau sudah berubah menjadi mutsanna seperti  أَخٌ telah berubah menjadi أَخَوَيْنِ.  أَبٌ menjadi أَبَوَيْنِ.

Maka أَخَوَيْنِ أَبَوَيْنِ tidak lagi dianggap sebagai isim yang lima.

2⃣ Kemudian yang kedua

٢ـ أَنْ تَكُوْنَ مُكَبَّرَةً

syarat yang kedua isim yang lima itu berlaku, harus mukabbaroh. Harus dalam keadaan mukabbaroh. Nanti kita akan belajar bahwa kata itu ada mukabbaroh ada mushoghghoroh.

أَبٌ

itu mukabbaroh, mushoghghorohnya (yang dikecilkannya) menjadi akhim menjadi أُخَيَّ,

abim menjadi أُبَيَّ

ini namanya tashghir (mengecilkan). Jadi kalau kita mengatakan akhim ini artinya saudaraku kalau ukhoyya artinya saudara kecilku.

فَإِنْ صُغِّرَتْ (كَأُخَيَّ ، وَأُبَيَّ) أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَاتِ الظَّاهِرَةِ

Maka jika dia ditashghirkan seperti أُخَيَّ dan أُبَيَّ maka dia dii’rob dengan harokat yang dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ)

نَحْوُ: جَاءَ أُخَيُّكَ وَ رَأَيْتُ أُخَيَّكَ وَ سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ

Perhatikan.

Kalau dia ditashghir dari أَخٌ menjadi  أُخَيَّ

dia dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ) i’robnya جَاءَ أُخَيُّكَ fail dhommah tandanya.

رَأَيْتُ أُخَيَّكَ

ya’ disini manfuh bih manshub fathah tandanya.

وَ سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ.

أُخَيِّ ini majrur kasroh tandanya.

Jadi syarat yang kedua harus dalam bentuk mukabbaroh lawan dari mushoghghoroh.

Kemudian yang ketiga,

۳- أَنْ تَكُوْنَ مُضَافَةً؛

bahwa isim yang lima itu harus menjadi mudhof

فَإِنْ لَمْ تُضَفْ أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَتِ الظَّاهِرَةِ

maka jika tidak diidhofahkan kepada kata yang selainnya maka dia dii’rob dengan harokat yang dzhohiroh (ظَّاهِرَةِ).

Seperti نَحْوُ: جَاءَ أَبٌ وَ رَأَيْتُ أَبًا وَ سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

Jadi kalau hanya أَبٌ saja, ini bukan isim yang lima. Isim yang lima itu harus ada idhofahnya.

جَاءَ أَبُوْكَ idhofah kepada dhomir

جَاءَ أَبُوْ زَيْدٍ idhofah kepada isim yang dzhohir.

Tetapi kalau hanya begitu saja tanpa diidhofahkan seperti

جَاءَ أَبٌ, رَأَيْتُ أَبًا, سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

maka ini jelas dii’robnya i’rob yang dzhohir.

Kemudian syarat yang keempat.

٤- أَنْ تَكُوْنَ إِضَافَتُهَا إِلَى غَيْرِ الْيَاءِ

bahwasannya idhofahnya itu kepada selain ya’.

فَإِنْ أُضِيْفَتْ إِلَى اليَاءِ أُعْرِبَتْ بِالحَرَكَاتِ المُقَدَّرَةِ

maka jika diidhofahkan kepada ya’ dia dii’rob dengan harokat yang muqoddaroh.

نَحْوُ: جَاءَ أَخِيْ، وَ رَأَيْتُ أَخِيْ ، وَسَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

jadi setelah yang ketiga dikatakan bahwa syaratnya harus mudhof-mudhof ilaih, kemudian yang keempat dibatasi lagi. Mudhof ilaihnya itu tidak boleh ya’ khususnya yang mutakallim kepemilikan.

Contohnya :

جَاءَ أَخِيْ

maka kalau جَاءَ أَخِيْ ini bukan isim yang lima.

وَ رَأَيْتُ أَخِيْ ، وَسَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

jadi kalau idhofahnya kepada ya’, maka dia i’robnya dengan harokat yang muqoddaroh.

Ini kita bisa lihat contoh-contoh i’robnya dicatatan kaki.

Disini dikatakan catatan kaki yang pertama

( ١) فَا لأَخَوَانِ : فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

Ini dalam contoh

جَاءَ لأَخَوَانِ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلَامَةُ رَفْعِهِ الأَلفُ

fail yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya adalah alif.

وَ فِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ الأَخَوَيْنِ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ

Jadi dalam contoh

رَأَيْتُ لأَخَوَانِ

yang menjadi maful bih yang dinashabkan

وَ عَلَامَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ

dan tanda nashabnya adalah ya’.

وَ فِيْ المِثَالِ الثَّالِثِ

dan pada contoh yang ketiga

وَ سَلَّمْتُ عَلَى لأَخَوَانِ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَ عَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ

adalah isim yang dijarkan dan tanda jarnya adalah ya’,

 

kemudian catatan kaki yang kedua

٢) فَلأَبَاءُ : فِي المِثَالِ  الأَوَّلِ فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّاةُ الظَّاهِرَةُ

Maka kata

الأَبَاءُ

dalam contoh yang pertama yaitu contoh جَاءَ الأَبَاءُ ini merupakan fail dirofa’kan dan tanda rofa’nya dhommah yang dzhohir.

وَ فِي  المِثَالِ الثَانِي

Pada contoh yang kedua رَأَيْتُ الأَبَاءَ

مَفْعُولٌ بِيْهِ مَنْصُوبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ

وَ فِي  المِثَالِ الثَالِثِ

pada contoh yang ketiga yaitu سَلَّمْتُ عَلَى الأَبَاءِ

إِسْمٌ مَجْرُورٌ وَ علاَمَةُ جَرِّهِ  الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ

Kemudian catatan kaki yang ketiga

Membahas contoh kalimat

جَاءَ أُخَيُّكَ

(٣) فَأُخَيُّكَ: فِي المِثَالِ  الأَوَّلُ فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّاةُ الظَّاهِرَةُ

Jadi jelas dzhohir

جَاءَ أُخَيُّكَ

وَ فِي  المِثَالِ الثَانِي

yakni

رَأَيْتُ أُخَيَّكَ

مَفْعُولٌ بِيْهِ مَنْصُوبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ، وَ فِي  المِثَالِ الثَالِثِ

pada contoh yang ketiga

سَلَّمْتُ عَلَى أُخَيِّكَ

إِسْمٌ مَجْرُورٌ وَ عَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ وَالكَافِ فِي  الجَمِيعِ

dan kaaf (ك ) dalam

أُخَيُّكَ أُخَيَّكَ dan أُخَيِّكَ

ضَمِيرٌ فِي مَحَلِّ جَرِّهِ مُضَافٌ إلَيهِ

Dhomir dalam keadaan jar menjadi mudhof ilaih. Thoyyib

Kemudian catatan kaki yang keempat

(٤) فَأَبٌ: فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

yakni dalam contoh

جَاءَ أَبٌ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ

ini jelas sekali.

وَفِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ،

وَفِي المِثَالِ الثَّالِثِ

dan pada contoh yang ketiga yakni

سَلَّمْتُ عَلَى أَبٍ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ

thoyyib kemudian catatan kaki yang terakhir

(٥) فَأَخِيْ

dalam kalimat

جَاءَ أَخِيْ

telah datang saudaraku,

فِيْ المِثَالِ الأَوَّلِ

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ

lihat cara mengi’robnya.

فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ المُقْدَرَةُ عَلَى مَا قَبْلَ يَاءِ المُتَكَلِّمِ لِاِشْتِغَالِ الْمَحَلِّ بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ

Jadi adalah fail yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya adalah dhommah muqoddaroh yang ditakdirkan atas apa yang sebelumnya ya’ mutakallim, karena berebutan tempat.

إِشْتِغَالِ

itu sibuk. Berebutan tempat

بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ

dengan harokat yang sesuai.

Jadi kenapa dibilang جَاءَ padahal  أَخٌ + ya’ mutakallim. Kenapa bukannya جَاءَ أَخُيْ tapi malah جَاءَ أَخِيْ

karena kasroh pada kho disini kenapa berubah dari dhommah, karena asalnya أَخٌ  tambah ya’ mutakallim.

Kenapa tidak jadi أَخُيْ saja tapi malah jadi أَخِيْ

karena dalam kaidah, yang namanya ya’ sukun bertemunya itu kasroh sebagaimana kalau ada waw sukun temannya sebelumnya adalah dhommah dan kalau ada alif sukun, sebelumnya adalah fathah. Karena ini ya’ sukun, maka sebelumnya adalah kasroh. Itulah kenapa, dikarenakan

لِاِشْتِغَالِ الْمَحَلِّ بِحَرْكَةِ المُنَاسَبَةِ.

وَفِيْ المِثَالِ الثَّانِيْ

pada contoh yang kedua

رَأَيْتُ أَخِيْ

مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ المُقْدَرَةُ،

وَفِي المِثَالِ الثَّالِثِ

سَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ المُقَدَّرَةُ ، واليَاءُ فِيْ الجَمِيْعِ : ضَمِيْرٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ

Dan ya’ pada semuanya yakni

جَاءَ أَخِيْ, رَأَيْتُ أَخِيْ, سَلَّمْتُ عَلَى أَخِيْ

seluruhnya adalah dhomir dalam keadaan jar menjadi mudhof ilaih.

✒ Materi Program BINAR

Al Mu’rabat Bilhuruf 2 – Jamak Mudzakkar Salim

📚 Dars 20

Bismillahirrahmanirrahim

ثَانِيًا : جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ (۱)

Kedua : Jamak Mudzakar Salim

——————————————————–

Kita lihat catatan kakinya:

۱) سُمِّىَ بِالسَّالِمِ، لِأَنَّهُ يَسْلَمُ مُفْرَدُهُ مِنَ التَّغْيِيْرِ عِنْدَ جَمْعِهِ أَيْ: يَبْقَى عَلَى حَالَتِهِ الأَصْلِيَّةِ

Dinamakan dengan salim, jamak mudzakkar salim kan namanya jamak mudzakkar salim, kenapa ada kata salim dibelakangnya?

لِأَنَّهُ يَسْلَمُ مُفْرَدُهُ مِنَ التَّغْيِيْرِ

Karena bentuk mufradnya itu selamat dari perubahan

عِنْدَ جَمْعِهِ

ketika jamaknya

أَيْ: يَبْقَى عَلَى حَالَتِهِ الأَصْلِيَّةِ

Artinya dia tetap dalam keadaannya yang asli.

وَ إِنَّمَا يُزَادُ عَلَيْهِ وَاوٌ وَ نُوْنٌ أَوْ يَاءٌ وَ نُوْنٌ عِنْدَ الجَمْعِ فَيُقَالُ فِيْ جَمْعِ (مُسْلِمٌ) مُسْلِمُوْنَ فِيْ حَالَةِ الرَّفْعِ، وَمُسْلِمِيْنَ فِيْ حَالَتِيْ النَّصْبِ وَالجَرِّ

Hanya saja dia ditambahkan ”wawu dan nun” atau “ya dan nun” ketika jamak. Maka dikatakan pada jamaknya مُسْلِمٌ

مُسْلِمُوْنَ فِيْ حَالَةِ الرَّفْعِ،

ketika rofa’ مُسْلِمُوْنَ

وَمُسْلِمِيْنَ فِيْ حَالَتِيْ النَّصْبِ وَالجَرِّ

Dan مُسْلِمِيْنَ pada keadaan nashab dan jar.

Jadi ini lah kenapa jamak mudzakkar salim dinamakan salim. Karena lihat  مُسْلِمٌ menjadi  مُسْلِمُوْنَ

kata مُسْلِمٌ nya tidak berubah sama sekali, tetap مُسْلِمٌ hanya saja ditambahkan wawu dan nun dibelakangnya, ya’ dan nun dibelakangnya.

Ini berbeda dengan jamak taksir.

Kalau jamak taksir, contohnya  بَابٌ, ini betul² berubah, dari  بَابٌ menjadi  أَبْوَابٌ.

Jadi tidak ada unsur بَابٌ nya lagi, betul² berubah. Begitupun كِتَابٌ misalkan, dari كِتَابٌ menjadi كُتُبٌ, ini benar-benar berubah bentuknya.

تَعْرِيْفُهُ : هُوَ مَا دَلَّ عَلَى أَكْثَرَ مِنِ اثْنَيْنِ بِزِيَادَةِ وَاوٍ وَنُوْنٍ أَوْ يَاءٍ وَنُوْنٍ عَلَى مُفْرَدِهِ (۲)

Definisi dari jamak mudzakkar salim adalah kata yang menunjuki atas makna lebih dari dua, dengan menambahkan wawu dan nun atau ya’ dan nun ke bentuk mufradnya.

——————————————————–

Kita lihat catatan kakinya:

۲) وَ هَذِهِ الزِّيَادَةُ تُغْنِيَ عَنِ الإِتْيَانِ بِوَاوِ العَطْفِ وَتَكْرِيْرِ الإِسْمِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يُقَالَ: جَاءَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ، يُقَالُ: جَاءَ الزَّيْدُوْنَ

Dan penambahan ini, yakni penambahan wawu dan nun, dan ya dan nun, mencukupkan dari mendatangkan wawu athaf dan mengulang-ulang isim. Maka sebagai ganti dari kita mengatakan

جَاءَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ

Dikatakan حَاءَ الزَّيْدُوْنَ.

Jadi fungsi jamak mudzakar salim itu untuk meringkas.

Karena ketika kita mengatakan جَاءَ المُسْلِمُوْنَ misalkan, maka itu sebetulnya kita meringkas dari perkataan,

جَاءَ المُسْلِمُ وَالمُسْلِمُ وَالمُسْلِمُ.

Ketika kita mengatakan جَاءَ الزَّيْدُوْنَ, maka ini kita meringkas dari جَاءَ زَيْدٌ وَزَيْدٌ وَزَيْدٌ.

Inilah yang dimaksud dengan تُغْنِيَ عَنِ الإِتْيَانِ بِوَاوِ العَطْفِ وَتَكْرِيْرِ الإِسْمِ.

Mencukupkan dari mendatangkan wawu athaf dan mengulang-ulang isim.

Ini keadaanya sama dengan mutsanna kemarin ya.

——————————————————-

مِثَالُهُ : ( المُؤْمِنُوْنَ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ)

Contohnya, المُؤْمِنُوْنَ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ,

“orang-orang yang beriman”

وَ (الزَّيْدُوْنَ، وَالزَّيْدِيْنَ)،

Ini jamaknya زَيْدٌ

Dan ini kaidahnya, *kalau kita ingin menjamak nama atapun membuat ia mutsanna, harus diberi alif lam*.

Misalkan = زَيْدٌ ini mufrad, kalau mutsanna الزَّيْدَانِ, harus pakai al didepannya.

Ketika jamak harus الزَّيْدُوْنَ.

Tidak boleh kita mengatakan, زَيْدٌ – زَيْدَانِ – زَيْدُوْنَ .

Karena kalau tanpa al, ini tidak menunjukkan makna mutsanna.

Kalau kita katakana زَيْدَانِ,  berarti ada orang yang namanya زَيْدَانِ .

Tapi kalau pakai al الزَّيْدَانِ ini maksudnya زَيْدٌ وَزَيْدٌ

Begitu pula الزَّيْدُوْنَ Ini yang benar. Ini maknanya ada banyak zaid.

Tapi kalau kita katakana زَيْدُوْنَ tanpa al, Ini maknanya ada orang yang namanya زَيْدُوْنَ

Jadi untuk membedakan mana yang bermakna mutsanna dan jamak dan mana yang memang namanya seperti itu, kita menggunakan al.

وَ (الصَّادِقُوْنَ، وَالصَّادِقِيْنَ)

“Dan orang-orang yang benar”

حُكْمُهُ : يُرْفَعُ بِالوَاوِ، وَيُنْصَبُ وَ يُجَرُّ بِالْيَاءِ

Hukumnya, dirofa’kan dengan wawu dan dinashabkan dan dijarkan dengan ya’.

Ini sering kita pelajari, bahwa jamak mudzakkar salim itu ketika rofa’ wawu, ketika nashab dan jar sama-sama ya’ ي.

مُسْلِمُوْنَ Ini untuk rofa’

مُسْلِمِيْنَ Ini untuk nashab dan jar

فَمِثَالُ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ المَرْفُوعِ: قَوْلُهُ تَعَالَى {قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُوْنَ} (۳)

Maka contoh jamak mudzakkar salim yang marfu’ adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla: قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُوْنَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”

——————————————————

Kita lihat catatan kakinya:

المُؤْمِنُوْنَ مِنَ الايَة (١)

Ini surat Al-Mu’minun ayat 1, i’rabnya

🔍  قَدْ : حَرْفُ تَحْقِيْقٍ

Qad itu i’rabnya harfu tahqiiqin

🔍  أَفْلَحَ: فِعْلٌ مَاضٍ , مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ

🔍  المُؤْمِنُوْنَ: فَاعِلٌ مرْفُوعٌ  وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ

Ini insya Allah mudah i’rabnya

——————————————————–

فَ ( المُؤْمِنُوْن )

Maka المُؤْمِنُوْن, dari ayat قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُوْنَ

جَمْعُ مُذَكَّرٍ سالِمٌ مَرْفُوعٌ؛ لِأَنَّهُ فَاعِلٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَمَّةِ

jadi failnya dia “sungguh beruntung orang beriman”

maka orang yang beriman disini menjadi fail.

عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَمَّةِ

Dan tanda rofa’nya adalah wawu sebagai ganti dari dhammah.

Karena tanda asal rofa’ adalah dhammah. Makanya dikatakan

نِيَابَةً عَنِ الضَمَّةِ

Sebagai ganti dari dhammah

وَمِثَالُ جَمْعٍ المُذَكَّرِ السَّالِمِ المَنْصُوْبِ: قَوْلُهُ تَعَالَىَ: (وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ) (٤)

Maka contoh jamak mudzakkar salim yang manshub adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:  وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ

—————————-

Kita lihat catatan kakinya:

٤) البَقَرَة مِنَ الآيَةِ (۲۲۳)

Ini surat Al-Baqarah ayat 223

🔍  بَشِّرِ: فِعْلٌ أَمْرٍ مَبْنِيٌ عَلَى السُّكُوْنِ

Fiil amr dimabnikan atas sukun

— وَإِنَّمَا كُسِّرَ لِالتِّقَاءِ السَّاكِنِيْنَ,

Adapun ia dikasrahkan, (kan diayatnya وَبَشِّرِ, bukan وَبَشِّرْ, tapi وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ), karena bertemunya dua sukun.

Ini kaidah ya, kalau ada dua sukun وَبَشِّرْ المُؤْمِنِيْنَ (wabasysyir almu’miniina) ini tidak bisa dibaca, karena sama-sama sukun.

Bisa jika waqaf, وَبَشِّرْ- اَلمُؤْمِنِيْنَ (wa basysyir – almu’miniina)

Kalau kita mau washal, maka harus dikasi harakat وَبَشِّرْ dikasi harakat menjadi وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ, (wa basysyiril mu’miniina) biar bisa dibaca.

—  وَ الفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِيْرُهُ أَنْتَ

Jadi kalau dhamirnya mukhattab, memang dia وُجُوْبًا , تَقْدِيْرُهُ أَنْتَ

🔍 المُؤْمِنِيْنَ: مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ

Dan ini, cara mengi’rabnya seperti ini ya.

Jadi dikatakan  نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ

Karena dia manshub, dan tanda asal nashab itu fathah, makanya dikatakan

نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ

—————————————————–

فَ ( المُؤمِنِيْنَ)

Yakni dari ayat وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ,

جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ مَنْصُوْبٌ؛ لِأَنَّهُ مَفْعُوْلٌ بِهِ

Adalah jamak mudzakkar salim yang manshub karena dia adalah maf’ulbihnya.

وَبَشِّرِ المُؤْمِنِيْنَ

“Dan berilah kabar”. Siapa yang diberi kabar? المُؤْمِنِيْنَ, orang-orang yang beriman, maka ini adalah maf’ulbih

وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ

وَمِثَالُ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ المَجْرُوْرِ: قَوْلُهُ تَعَالَى {رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ} (٥)

Maka contoh jamak mudzakkar salim yang majrur adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:

👈  رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ

Dalam surat Al-Fath ayat 18, i’rabnya

🔍  رَضِيَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ

🔍  اللّٰهُ: لَفْظُ الجَلَالَةِ، فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ

🔍  عَنْ: حَرْفُ جَرٍّ

🔍  المُؤْمِنِيْنَ: اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِعَنْ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِْ الكَسْرَةِ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ

فَ( المُؤمِنِيْنَ)

Yakni dari lafadz رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ

جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ مَجْرُوْرٌ؛

Adalah jamak mudzakkar salim yang majrur.

لِأَنَّهُ سُبِقَ بِحَرْفٍ جَرٍّ

Karena ia didahului huruf jar

وَ عَلاَمَةُ جَرِّهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

Dan tanda jarnya adalah ya’ sebagai ganti dari kasrah

————————————————-

فَوَائِدُ وَتَنْبِيْهَاتٌ:

Faidah-faidah dan catatan-catatan :

🔷 Yg pertama

١- لَا يَجْمَعُ جَمْعُ المُذَكَّرِ السَّالِمُ إِلَّا الأَسْمَاءَ الدَّالَةَ عَلَى العُقَلَاءِ مِنَ الذُّكُوْرِ

_Tidaklah di jamak menjadi jamak mudzakkar salim, kecuali isim² yg menunjukkan atas yang aqil (yg berakal), مِنَ الذُّكُوْرِ_

Jadi jamak mudzakkar salim itu khusus untuk kata yg mudzakkar dan juga yg ‘aqil.

Jadi kalau ghairu aqil tidak boleh jamaknya mudzakkar salim.

Jadi khusus jamak mudzakkar salim, untuk kata yg mudzakkar dan lilaqil.

— فَلَا يُقَالُ: نَصَحْتُ النِّسَاءَ المُتَزَوِّجِيْنَ،

Maka tidak boleh dikatakan, saya menasehati para wanita yg menikah. Tidak boleh المُتَزَوِّجِيْنَ Karena المُتَزَوِّجِيْنَ  adalah jamak mudzakkar, adapun النِّسَاءَ Ini muannats. Maka tidak boleh disifati dengan jamak mudzakkar salim.

— وَلَا رَفَعْتُ الكُتُبَ

المَوْضُوْعِيْنَ

Dan tidak boleh kita mengatakan, “aku mengangkat buku-buku yg berjudul-judul.

Ini tidak boleh juga Karena , الكُتُبُ merupakan ghairu ‘aqil.

Adapun tadi النِّسَاءُ bukannya mudzakkar tapi muannats.

— بَلْ يُقَالُ النِّسَاءُ المُتَزَوِّجَاتُ

Bahkan yang benar, dikatakan, النِّسَاءُ المُتَزَوِّجَاتُ

“Wanita-wanita yg menikah.”

وَالكُتُبُ المَوْضُوعَةُ

“Dan kitab² yg berjudul², atau disusun²”

Jadi jamak mudzakkar salim ini khusus untuk:

  1. Mudzakkar
  2. Lil’aqil, yang berakal

٢- لَيْسَ مِنْ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ: (شَيَاطِيْنُ وَمَسَاكِيْنُ)

Bukanlah jamak mudzakkar salim, kata :

شَيَاطِيْنُ وَمَسَاكِيْنُ

sekalipun ada ya’ dan nun

— وَإنَّمَا هُمَا مِنْ جَمْعِ التَّكْسِيْرِ؛

Alasannya keduanya adalah jamak taksir, bukan jamak mudzakkar salim. kenapa?

— لِأَنَّ نُوْنَهُمَا أَصْلِيَةٌ

Karena nun keduanya adalah asli. Jadi nun dalam lafadz شَيَاطِيْنُ – مَسَاكِيْن

Bukan tambahan, dia adalah asli. Dari  شَيْطَان , menjadi شَيَاطِيْنُ

dari مِسْكِيْن menjadi مَسَاكِيْن

لِوُجُوْدِهَا فِيْ المُفْرَدِ: شَيْطَانٌ وَمِسْكِيْنٌ

Karena keberadaan nunnya pada mufrad.

شَيْطَانٌ- مِسْكِيْنٌ

Lihat ada nunnya, jadi ini memang asli bukan tambahan.

Jadi bukan jamak mudzakkar salim

وَنُونُ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ لَا تَكُوْنُ إِلَّا زَائِدَةً مَفْتُوحَةً

Dan nun jamak mudzakkar salim, tidak layak, kecuali bersifat tambahan dan ia difathahkan

قَالَ تَعَالَى : Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

{۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا ٌ} [التوبة : 60]

Sesungguhnya shadaqah itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan para ‘amil (yg mengurusi shadaqah).

✒ Materi Program BINAR

 

Al Mu’rabat Bilhuruf, Mutsanna

📚 Dars 19

Bismillahirrahmanirrahim

🌴 اَلْمُعْرَبَاتُ بِالْحُرُوْفِ

Yaitu yang di mu’rab kan dengan huruf.

Kita telah membahas kelompok kata yang mu’rab nya dengan harakat, yaitu yang berubah itu harakatnya, dan sekarang kita akan bahas kata yang berubah hurufnya, jadi harakatnya sama, tapi hurufnya berubah-ubah.

قَالَ الْمُصَنِّفُ:

Mushonnif berkata,

وَالَّذِيْ يُعْرَبُ بِالحُرُوْفِ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ:

1⃣ التَّثْنِيَةُ،

2⃣ وَجَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ،

3⃣ وَ الأَسْمَاءُ الخَمْسَةُ،

4⃣ وَلأَفْعَالُ الخَمْسَةُ

⬅  وَهِيَ:  فْعَلاَنِ،  وَتَفْعَلاَنِ،  وَيَفْعَلُوْنَ، , وَتَفْعَلُوْنَ , وَتَفْعَلِيْنَ.

Dan yang mu’rab nya dengan huruf ada empat macam,

  1. yang pertama mutsanna atau tatsniyah
  2. Yang kedua jamak mudzakkar salim
  3. Yang ketiga isim-isim yang lima
  4. dan yang keempat adalah fi’il-fi’il yang lima

Apa saja fi’il-fi’il yang lima, yaitu

⬅ يَفْعَلاَنِ، وَتَفْعَلاَنِ، وَيَفْعَلُوْنَ، وَتَفْعَلُوْنَ، وَتَفْعَلِيْنَ.

☘ فَأَمَّا التَّثْنِيَةُ: فَتُرْفَعُ بِالأَلِفِ، وَتُنْصَبُ وَ تُخْفَضُ بِاليَاءِ

Adapun dengan tatsniyah dirofa’kan dengan “alif”, contohnya :

جَاءَ زَيْدَانِ , جَاءَ المُسْلِمَانِ

Dinashabkan dan di jar kan dengan “ya”. Contohnya : رَأَيْتُ المُسْلِمَيْنِ , مَرَرْتُ بالمُسْلِمَيْنِ

☘ وَأَمَّاجَمْعُ المُذَكَّرِالسَّالِمُ: فَيُرْفَعُ بِالْوَاوِ، وَيُنْصَبُ وَيُخْفَضُ بِاليَاءِ

Apapun jamak mudzakkar salim, dirofa’kan dengan wawu, contohnya : جَاءَ المُسْلِمُوْنَ

Dan di nashabkan dan di jarkan dengan ya, contohnya yang nashab : رَأَيْتُ المُسْلِمِيْنَ

Yang jar contohnya :  مَرَرْتُ بالمُسْلِمِيْنَ

📓 وَأَمَّا الأَسْمَاءُ الخَمْسَةُ : فَتُرْفَعُ بِالْوَاوِ، وَتُنْصَبُ بِالأَلِفِ، وَتُخْفَضُ بِاليَاءِ

Adapun isim yang lima, dirofa’kan dengan wawu. Contohnya:   جَاءَ أَبُوْكَ

Dinashabkan dengan alif, contohnya :  رأيتُ أَبَاكَ

Dan dijarkan dengan ya, contohnya :  مَرَرْتُ بِأَبِيْكَ

📓 وَأَمَّا الأَفْعَالُ الخَمْسَةُ: فَتُرْفَعُ بِالنُّونِ، وَتُنْصَبُ وَتُجْزَمُ بِحَذْفِهَا

Adapun fi’il-fi’il  lima, dirofa’kan dengan nun, maksudnya dengan ” ثُبُوْتُ النُّوْنِ ” tetap nun nya, contohnya يَفْعَلُوْنَ ، misalkan :  المُسْلِمُوْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ Disitu nun nya tetap.

📓 وَتُنْصَبُ وَتُجْزَمُ بِحَذْفِهَا

Dan di nashabkan serta di jazm kan dengan membuang nun nya, asalnya misalnya:

يَضْرِبَانِ ، تَضْرِبَانِ ، يَضْرِبُوْنَ ، تَضْرِبُوْنَ ، تَضْرِبِيْنَ

Ketika ada lam, dan lan sama-sama dibuang nun nya :

لَمْ يَضْرِبَا ، لَمْ تَضْرِبَا ، لَنْ يَضْرِبَا ، لَنْ تَضْرِبَا ،  dan seterusnya…

_________________________________

📓 اَلشَّرْحُ

Penjelasannya:

بَعْدَ أَنْ عَرَفْتَ الْمُعْرَابَاتِ بِالْحَرَكَاتِ بَقِيَ عَلَيْكَ أَنْ تَعْرِفَ الْمُعْرَبَاتِ بِالْحُرُوْفِ

Setelah kamu telah mengenal yang di mu’rab dengan harakat, maka tersisa pembahasan, masih ada pembahasan yang wajib kamu ketahui yaitu :

” اَلْمُعْرَبَاتُ بِالْحُرُوْفِ ”

> kata-kata yang mu’rab nya dengan huruf.

___ Sepertinya lebih cocok kalo kita bacanya di versi mujarrad nya ___ ini in syaa Allah lebih cocok, karena makna nya mengenal.

📓 وَهِيَ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ :

Dan yang mu’rab dengan huruf itu ada 4, ini disajikan dalam bentuk tabel yah.

اَلْمُعْرَبَاتُ بِالْحُرُوْفِ

Yang mu’rab dengan huruf itu ada empat:

  1. mutsanna المُثَنَّى ،
  2. jamak mudzakkar salim جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِ ،
  3. isim yang lima,
  4. Fi’il yang lima

Kemudian di kolom kedua :

📌 Mustanna ketika rofa’ yaitu alif.

📌 Adapun jamak mudzakkar salim ketika rofa’ wawu .

📌 Isim yang lima ketika rofa’ wawu, dan

📌 Fiil yang lima ketika rofa’ tsubutun nun (tetapnya nun)

Ketika nashob :

📌Mutsanna itu ketika nashob tandanya adalah ya’ ي

Contohnya : رَأَيْتُ المُسْلِمَيْنِ

📌 Jamak mudzakkar salim tandanya ya’ juga.

Contohnya : رَأَيْتُ المُسْلِمِيْنَ

📌 Kemudian isim yang lima ketika nashob alif ,

Contohnya : رَأَيْتُ أَبَاكَ

📌 Fiil yang lima ketika nashob dibuang nun-nya .

Contohnya :   زيدٌ و بَكْرٌ لَنْ يَذْهَبَا إلى المَدْرَسَةِ  .

Yang bisa menggunakan fiil yang lima ini adalah jumlah ismiyyah.

Kemudian ketika jar :

📌 Mutsanna itu tandanya ya’

Contohnya : مَرَرْتُ بِالمُسْلِمَيْن

📌 Jamak mudzakkar salim pun sama ya’.

Contohnya : مَرَرْتُ بِالمُسْلِمِيْنَ

📌 Isim yang lima, Contohnya : مـرَرْتُ بِأَبيكَ

📌 Adapun Fiil yang lima tentu tidak ada keadaan jarnya.

Karena jar itu khusus untuk isim. Makanya fiil tidak mungkin majrur.

Fiil yang lima ini tidak ada jar, adanya jazm. Ketika jazm fiil yang lima ini adalah dibuang nun-nya sama ketika nashob. Dibuang nun-nya.

Misalkan : الطُّلاَّبُ لَمْ يَذْهَبُوا إِلَى المَدْرَسَةِ

Asalnya => يَذْهَبُونَ menjadi – لَمْ يَذْهَبُوا Dibuang nun-nya.

أَوَّلًا: المُثَنَّى:

📓 Awalan : Al Mutsanna

Ini pembahasan pertama dari yang mu’rob dengan huruf. Kita bahas yang pertama

تَعْرِفُهُ : هُوَ مَا دَلَّ عَلىَ اثْنَيْنِ أَوِ اثْنَتَيْنِ بِزِيَادِةِ أَلِفٍ وَنُونٍ أَوْ يَائٍ  وَنُوْنٍ عَلَى مُفْرَدِهِ

Definisi dari mutsanna adalah kata yang menunjuki makna dua. Baik duanya mudzakkar atau muannats dengan menambahkan alif dan nun atau ya’ dan nun pada bentuk mufrod nya.

Jadi mutsanna adalah sebuah bentuk yang menunjukkan makna dua. Bagaimana caranya yaitu dengan cara menambahkan alif dan nun dan juga ya’ dan nun pada mufrodnya.

Misalkan :

مَسْجِدٌ ditambahkan alif dan nun 👈 مَسْجِدَانِ

Atau ditambahkan ya’ dan nun , 👈 مَسْجِدَيْنِ

Ini definisi mutsanna atau tatsniyah.

مِثَالُهُ : (رَجُلَانَ ، وَ رَجُلَيْنِ)

Contohnya : رَجُلَانَ dan رَجُلَيْنِ

و(أمرَأَتَانِ ، وَأمرَأَتَيْنِ) وَ (كِتَابَانِ، وكَتَابَيْنِ)

Ini contoh-contoh mutsanna. Insya Allah mudah.

Hukum i’robnya :

حُكْمُهُ : يُرْفَعُ بِالأَلِفِ وَ يُنْصَبُ وَيُجَرُّ بِاليَاءِ

Dirofa’kan dengan alif dan dinashobkan dan dijarkan dengan ya’.

Jadi mutsanna itu ketika rofa’ alif.

👈 جَاء المُسْلِمَانِ

Adapun ketika nashob dan jar dia sama-sama ya’.

👈 رَأَيْتُ المُسْلِمَيْنِ

👈 مَرَرْتُ بِالمُسْلِمَيْن

____________________

Kita lihat catatan kakinya yang nomer satu :

(1) وَهَذِهِ الزِيَادَةُ تُغْنِي عَن الإتِيَانِ بِوَاوِ العَطْفِ وَتَكْرِيْرِ الاسْمِ فَبَدَلًا مِن أن يُقَالَ: جَاءَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ

يُقَالُ : جَاءَ الزَّيْدَانِ , فَهُوَ أخْصَرُ وَ أَجْوَدُ.

Penjelasannya masya Allah.

Dan penambahan ini (penampahan alif nun dan ya’ dan nun) mencukupkan kita dari mendatangkan wawu athof dan mengulang isim.

Maka ini sebagai ganti dari dikatakan :  جَاءَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ

Jadi salah satu fungsi dari mutsanna adalah untuk meringkas.

Daripada kita mengatakan  جَاءَ مُسْلمٌ ؤ مُسْلمٌ lebih baik kita mengatakan :  جَاءَ المُسلمانِ

Justru dengan adanya bentuk mutsanna ini kita meringkas.

Daripada kita katakan :  جَاءَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ Kita ringkas menjadi :  جَاءَ الزَّيْدَانِ

“Telah datang dua orang Zaid”

📖 Ini fungsi dari mutsanna yaitu meringkas penggunaan huruf athof dan mengulang dua kata yang sama.

Ini kurang baik. Makanya disini dikatakan : فَهُوَ َأخْصَرُ وَ أَجْوَدُ.

Maka , جَاءَ الزَّيْدَانِ jelas lebih ringkas وَأَجْوَدُ dan juga lebih bagus.

Daripada kita katakan :  جَاءَ زَيْدٌ و زَيْدٌ

Ini orang Arab tidak menyukai pengulangan seperti ini , makanya mereka ringkas menjadi :  جَاءَ الزَّيْدَانِ

__________________

فَمِثَالُهُ المُثَنَّى المَرْفُوعِ :

قَولُهُ تَعَالَ ( قَالَ رَجُلَانِ) (2) فَ(رَجُلَانِ) مُثَنَّى مرْفُوعٌ ؛

لِأَنَّهُ فَاعِلٌ , وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الأَلِفُ نِيَابَةً َعَنِ الضَّمَةِ .

Maka contoh mutsanna firman Allah subhānahu wa Ta’āla :  قَالَ رَجُلَانِ

Maka رَجُلَانِ adalah mutsanna marfu’ karena dia adalah failnya. Dan tanda rofa’nya adalah alif sebagai ganti dari pada dhommah.

__________________________

Kita lihat catatan kakinya :

قَالَ رَجُلَانِ

Dalam surat Al-Maidah ayat 23.

🔍  قَلَ : فِعْلٌ مَاضٍ , مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ،

🔍وَ رَجُلَانِ: فَاعِلٌ مرْفُوعٌ وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَةِ لِأَنَّهُ مُثَنَّى.

Ini cara i’robnya, selalu kalau ada kata bukan tanda asli tapi tanda far’i ditambahkan niyaabatan.

__________________________

وَمِثَالُهُ المُثَنَّى المَنْصُبِ :

قَولُهُ تَعَالَ : (فَوَجَدَ فِيْهَا رَجُلَيْنِ) (3)

🔍 فَ(َرَجُلَيْنِ) مُثَنَّى مَنْصُوْبٌ؛ لِأَنَّهُ مَفْعُوْلٌ بِهِ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ.

Dan contoh firman Allah subhānahu wa Ta’āla :  (فَوَجَدَ فِيْهَا رَجُلَيْنِ)

“Maka dia mendapati di dalamnya ada dua orang laki-laki”

فَ (َرَجُلَيْنِ) مُثَنَّى مَنْصُوْبٌ

Maka رَجُلَيْنِ ini adalah mutsanna yang  manshub karena dia adalah maf’ul bihnya. Dan tanda nashobnya adalah ya’ sebagai ganti dari pada fat-hah.

________________________

Kita lihat catatan kakinya :

3) القَصَصُ مِنَ الآيَة (15)

Surat Al-Qashosh ayat 15

🔍 فَوَجَدَ الفَاءُ: عَلَى حَسَبِ مَاقَبْلَهَا :

Tergantung yang sebelumnya karena ini potongan ayat, maka tidak bisa kita mengi’rob kecuali setelah kita mengetahui ayat sebelumnya apa.

🔍 وَجَدَ فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الفَتْحِ, وَفَاعِلٌ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ جَوَازًا تَقْدِيْرُهُ هُوَ,

🔍  فِيْهَا : فِيْ حَرْفُ جَرٍّ, وَالهَاءُ ضَمِيْرٌ ِفِيْ مَحَلِّ جَرٍّ،

🔍 رَجُلَيْنِ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الفَتْحَةِ لِأَنَّهُ مُثَنَّى.

Kita diberikan cara i’rob oleh pengarang al-Mumthi’.

__________________________

وَمِثَالُهُ المُثَنَّى المَجْرُورِ :

قَولُهُ تَعَالَ: (يَمْشِى عَلَى رِجْلَيْنِ) (4)

فَ (رِجْلَيْنِ) مُثَنَّى مَجْرُورٌ؛ لِأَنَّهُ سُبِقَ بِحَرْفِ جَرٍّ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ اليَاءُ نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

Firman Allah subhānahu wa Ta’āla :

“Ia berjalan di atas dua kakinya.”

Maka رِجْلَيْنِِ adalah mutsanna yang majrur. Karena ia didahului oleh huruf jar.

Dan tanda jar-nya adalah ya’ , sebagai ganti dari pada kasroh.

يَمْشِى عَلَى رِجْلَيْنِ

Dalam surat An-Nur ayat 34.

Cara i’robnya :

Perhatikan يَمشِي ini fiil mudhoori’ yang diakhiri  oleh huruf illat.

*Perhatikan cara i’robnya*

🔍 يَمشِي : فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ , وَ عَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَةُ المُقَدَرَةُ  مَنَعَ مِنْ ظُهُوْرِهَا الثِّقَلُ,

Jika ada fi’lun mudhoori’ begitu pula isim yang diakhiri oleh huruf illat maka kita katakan dia مقدرة .

Ketika i’rob kita sebut tanda aslinya tapi مقدّرة.

👈 يَمشِي

Karena dia marfu’ maka kita katakan dia dhommah , tanda aslinya. Tapi مقدّرة :

🔍 مقدّرةٌ على الياءِ

Karena يَمشِي.

Kalau : يَدْعُو

🔍 مقدّرةٌ على الوَاوِ

Kalau يخشى misalkan :

🔍 مقدّرةٌ على الأَلفِ

Begini cara mengi’robnya.

🔍  وَالفَاعِلُ : ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ جَوَازًا تَقْدِيْرُهُ هُوَ,

🔍 عَلَى رِجْلَيْنِ : عَلَى حَرْفٌ جَرٍّ

🔍 وَرِجْلَيْنِ :  إِسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِعَلَى وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْيَاءُ ; لِأَنَّهُ مُثَنَّى .

___________________________

Faidahnya disebutkan disini :

📓  النُّوْنُ الَّتِيْ تَأْتِيْ تَالِيَةً لِلْمُثَنَّى وَ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ عِوَضُ عَنِ التَّنْوِيْنِ الَّذِيْ يَكُوْنُ فِيْ الاِسْمِ المُفْرَدِ

📓 وَ هَذِهِ النُّوْنُ تَكُوْنُ مَكْسُوْرَةً فِيْ المُثَنَّى مَفْتُوْحَةً فِي الْجَمْعِ

Faidah:

Nun yang ada pada mutsanna dan juga pada jamak mudzakkar salim -kita tahu bahwa jamak mudzakkar salim dua-duanya diakhiri nun-

Misalkan : 👈 مُسْلِمَانِ  👈 مُسْلِمَيْنِ 👈 مُسْلِمُوْنَ 👈 مُسْلِمِيْنَ

Sama sama diakhiri nun. Nun ini merupakan ganti dari tanwin.

الَّذِيْ يَكُوْنُ فِيْ الاِسْمِ المُفْرَدِ

yang ada pada isim mufrod.

Jadi ini masya Allah sesuatu yang membuat kita takjub dengan para ulama nahwu.

Mereka selalu menjelaskan kenapa ada seperti ini. Jadi mereka ingin berusaha menjelaskan ‘kenapa mutsanna sama jamak diakhiri oleh nun?’

Kata mereka :’ itu sebagai ganti dari tanwin pada mufrod.’

Ketika kita mengatakan , misal mufrodnya Muslim => مُسْلمٌ

Lihat! Kalau kita bilang مُسْلمٌ , lihat ada apa di ujungnya. Ada nun. Kita tahu bahwa definisi tanwin adalah :

=> نُونٌ سَاكنةٌ لَفظًا لَا خطًّا

Nun sakinah yang ada pada akhir sebuah kata secara lafadz tidak secara tulisan.

Artinya kalau kita menulis : مُسْلمٌ

Tentu menulisnya : م – س – ل – م

Setelah mim tidak ada nun-nya. Tapi dalam pengucapannya مُسْلمٌ itu ada nun-nya diakhirnya.

Kata ulama nahwu :

Nun yang ada pada mutsanna dan jamak itu merupakan ganti dari nun yang ada ketika kita mengucapkan mufrod.

Jadi Muslimun مُسْلمٌ ada nun-nya kan? Kedengaran , meskipun tulisannya enggak ada , secara tulisan خطا tidak ada.

Tapi secara lafadz kita mendengar ada nun-nya : مُسْلمٌ

Kata ulama lughoh, nun yang kita ucapkan mufrod ini adalah sebagai gantinya.

Ketika mutsanna ada nun-nya : مُسْلِمَانِ , مُسْلِمَيْنِ

Kemudian ketika jamak ada nun-nya : مُسْلِمُوْنَ , مُسْلِمِيْنَ

Masya Allah salah satu usaha yang dilakukan ulama lughoh dalam menjelaskan sesuatu mereka selalu mencari alasannya.

Thayyib, nun-nya ini ketika mutsanna dia dikasrohkan :

📖 وَ هَذِهِ النُّوْنُ تَكُوْنُ مَكْسُوْرَةً فِيْ المُثَنَّى

Dan nun-nya ini dikasrohkan ada kondisi mutsanna. مُسْلِمَانِ , مُسْلِمَيْنِ

Kasroh nun-nya.

📖  مَفْتُوْحَةً فِي الْجَمْعِ

Dan ketika jamak fathah : مُسْلِمُوْنَ , مُسْلِمِيْنَ

قَالَ ابْنُ مَالِكٍ :

Berkata Ibnu Malik dalam baitnya :

وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَابِهِ الْتَحَقْ

فَافْتَحْ  وَقَلَّ  مَنْ  بِكَسْرِهِ   نَطَقْ

Dan nun jamak (jamak mudzakkar salim) dan apa yang mulhaq dengannya

Jadi nanti ada istilah :

📌 jamak mudzakkar salim , ada

📌 Mulhaq biljam’i mudzakkar salim (yang mirip seperti jamak mudzakkar salim)

Faftah فَافْتَحْ! Maka fathahkanlah!

Nun-nya jamak mudzakkar salim itu , hukum asalnya adalah fathah.

👈 مُسْلِمُوْنَ

👈 مُسْلِمِيْنَ

وَقَلَّ  مَنْ  بِكَسْرِهِ  نَطَقْ

Dan sedikit yang mengucapkannya dengan kasroh.

Tapi ada, nanti ada salah satu qobiilah – salah satu pendapat dalam lughoh – yang mengatakan bahwasanya :

*Nun dalam jamak mudzakkar salim dikasrohkan*.

Jadi ada pendapat :

👈 مُسْلِمُوْنِ

👈 مُسْلِمِيْنِ

Ini ada. Dikatakan oleh Ibnu Malik.

وَنُوْنَ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلحَقِ بِهْ

بِعَكْسِ  ذَاكَ   اسْتَعْمَلُوْهُ  فَانْتَبِهْ

Dan Nun yang mutsanna dan yang mulhaq bil mutsanna itu kebalikannya itu  بِعَكْسِ  ذَاكَ   ,

اسْتَعْمَلُوْهُ  فَانْتَبِهْ

Pergunakanlah kaidah ini dan waspadalah. Hati-hatilah.

Maksudnya jangan sampai terbalik. Kalau jamak mudzakkar salim itu nun-nya itu fathah. مُسْلِمُوْنَ , مُسْلِمِيْنَ

Sedikit sekali yang membacanya dengan kasroh. Tapi ada. Ada yang mengatakan : مُسْلِمُوْنِ , مُسْلِمِيْنِ

Adapun nun pada mutsana , ini kebalikannya. Banyaknya kasroh. مُسْلِمَانِ , مُسْلِمَيْنِ

Tapi ada nanti, salah satu qoul yang mereka itu membacanya dengan fathah. Jadi : مُسْلِمَانَ , مُسْلِمَيْنَ

Tapi ini sekali lagi kita ikuti yang banyaknya saja. Yang masyhur saja.

Bahwa jamak mudzakkar salim nun-nya 👉  fathah.

👈 مُسْلِمُوْنَ

👈 مُسْلِمِيْنَ

Mutsanna dia nun-nya 👉 kasroh.

👈 مُسْلِمَانِ

👈 مُسْلِمَيْنِ

✒ Materi Program BINAR

Al Mu’rabat Bilharakat – Fiil Mudhoori’ yang tidak bersambung di akhirnya sesuatu

📚 Dars 18

Bismillahirrahmanirrahim

رابعًا : الفعلُ الْمُضَارِعُ

Yang ke-empat , yang mu’rob dengan harokat adalah fiil mudhoori’, yang berubah-ubah harokat nya adalah fiil mudhoori’.

Tentu yang dimaksud disini adalah :

الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ  الذي  لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ.

Fiil mudhoori’ yang pada akhirnya tidak bersambung di akhirnya dengan sesuatu apapun.

يُعْرَبُ الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ بِالْحَرَكَاتِ إِذَا لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ.

Fiil mudhoori’ itu di murabkan dengan harokat apabila tidak bersambung di akhirnya dengan sesuatu apapun.

📓 فَيُرْفَعُ بِالضَّمَّةِ إِذَا لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِ نَاصِبٌ أَوْ جَازِمٌ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى:  ﴿يَغْفِر اللهُ لَكُمْ ﴾ (١).

Fiil mudhoori’ itu dirofa’kan dengan dhommah apabila tidak kemasukan amil nashob, tidak pula amil jazm.

Contohnya : firman Allah subhānahu wa Ta’āla

=> ﴿يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ ﴾ (١).

Disini يَغْفِرُ tidak diawali oleh huruf nashob atau amil nashob. Tidak pula diawali amil jazm. Makanya dia kembali ke hukum asalnya.

👉 Hukum asal fiil mudhoori’ marfu’.

Jadi sederhana sekali pokoknya jika  tidak ada amil nashob dan amil jazm maka dia marfu’.

يَغْفِر اللهُ لَكُمْ  (١).

Ini dalam surat Yusuf ayat 92.

I’robnya :

🔍 يَغْفِرُ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ،

🔍 اللهُ: لَفْظُ الْجَلاَلَةِ: فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ،

🔍  لَكُمْ: اللاَّمُ: حَرْفُ جَرٍّ، وَالْكَافُ: ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ بِحَرْفِ الْجَرِّ.

Ini kurang mim.

🔍 والمِيْمُ علامة الجَمْعِ

Ini mungkin beliau lupa menambahkan والمِيْمُ علامة الجَمْعِ .

📓  وَيُنْصَبُ بِالْفَتْحَةِ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِ نَاصِبٌ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى:

👈 لَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ  (٢).

Dan dinashobkan dengan fathah apabila kemasukan amil nashob.

Contohnya firman Allah subhānahu wa Ta’āla :

√ لَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ ﴾ (٢).

Asalnya ~> يَغْفِرُ , didahului Lan, Lan ini huruf nashob maka menjadi fathah.

√ لَنْ يَغْفِرَ

Kita lihat i’robnya :

Ini dalam surat Al Munaafiqun ayat 6 ,irobnya :

🔍 لَنْ يَغْفِرَ

لَنْ: حَرْفُ نَصْبٍ، يَغْفِرَ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَنْصُوْبٌ بِلَنْ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ،

🔍  اللهُ : لَفْظُ الْجَلاَلَةِ: فَاعِلٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ،

🔍  لَهُمْ : اللاَّمُ: حَرْفٌ جَرٍّ، وَالْهَاءُ: ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ بِحَرْفِ الْجَرِّ.

🔍 والمِيْمُ علامة الجَمْعِ

📓  وَيُجْزَمُ بِالسُّكُوْنِ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِ جَازِمٌ نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى:

👈 وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ  (٣).

Dan dijazmkan dengan sukun apabila kemasukan amil jazm , contohnya firman Allah subhānahu wa Ta’āla :

√ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ  (٣).

“Dan jika Engkau ampuni mereka.”

Disini إنْ termasuk ‘amil jazm dengan catatan dia sebagai إنْ syarthiyyah. Fiil jawab syarat.

Jadi إِن termasuk menjazmkan dua fiil :

👈 إنْ وَ , لَمَّا,و أَلَمْ, و أَلَمَّا, و مَا , و مَنْ,و مَهْمَا, و إِذْمَا,و أَيُّ, و مَتَى,و أَيَّانَ,و أَيْنَ,و أَنَّى,و حَيْثُمَا, و كَيْفَمَا,

Ini semua menjazmkan dua fiil.

Kita lihat disini di surat Al-Maidah ayat 118:

👈 وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ  (٣).

Irobnya :

Cara bacanya  begini ↓

وَإِنْ: الوَاوُ: حَسَبُ مَا قَبْلَهَا،

Cara irob wawu disini tergantung apa yang sebelumnya karena disini ayatnya kan :

√ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ

Karena ayatnya sepotong seperti ini maka kita enggak tahu wawu ini wawu apa. Wawu athof kah? Wawu isti’nafkah? Karena hanya potongan saja.

Jadi memang pada keadaan dimana kita mendapati wawu dalam kutipan dan kutipannya tidak utuh , seperti dalam kalimat ini :

√ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ

Kita enggak tahu kalimat sebelumnya seperti apa maka kita tidak bisa menetapkan disini sebagai wawu athof atau apakah sebagai wawu isti’naf.

Makanya dikatakan :

🔍 الوَاوُ: حَسَبُ مَا قَبْلَهَا،

🔍 إِنْ: حَرْفُ شَرْطٍ وَجَزْمٍ،

In huruf syarat dan Huruf jazm.

🔍 تَغْفِرْ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ فِعْلُ الشَّرْطِ مَجْزُوْمٌ بِإِنْ وَعَلاَمَةُ جَزْمِهِ السُّكُوْنُ

Dan تَغْفِرْ ini fiil mudhoori’ dan juga fiil syarat dengan In , dan tanda jazmnya adalah sukun.

🔍 وَالْفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِرُهُ أَنْتَ،

Dan failnya adalah dhomir yang tersembunyi secara wajib, taqdirnya adalah anta.

🔍 لَهُمْ: اللاَّمُ: حَرْفٌ جَرٍّ، وَالْهَاءُ: ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِيْ مَحَلِّ جَرٍّ بِحَرْفِ الْجَرِّ.

🔍 والمِيْمُ علامة الجَمْعِ

______________________

وَخَرَجَ عَنْ ذَلِكَ الْمُضَارِعُ الْمُعْتَلُّ الْآخِرِ الْمَجْزُوْمُ؛ فَإِنَّهُ يُجْزَمُ بِحَذْفِ حَرْفِ الْعِلَّةِ – الْأَلِفِ أَوِ الْوَاوِ أَوِ الْيَاءِ .

👈  نَحْوُ: لَمْ يَسْعَ(٤)، وَلَمْ يَدْعُ، وَلَمْ يَمْشِ.

Keluar dari fiil mudhoori’ dari maksud disini.

Kita sedang berbicara tentang fiil mudhoori’ yang tidak bersambung dengan akhiran sesuatu , yang dimaksudkan oleh Al-Mushonnif keluar dari pembahasan ini adalah fiil mudhoori’yang mu’tal akhirnya ketika dijazmkan.

👈 فَإِنَّهُ يُجْزَمُ بِحَذْفِ حَرْفِ الْعِلَّةِ –

Maka dia dijazmkan dengan membuang huruf illatnya.

Yakni : alif ا،wawu و، atau ya’ي .

Contohnya : 👈  لَمْ يَسْعَ(٤)،

Asalnya ~> يَسْعَى , panjang ada alif maqshuroh-nya jadi ~> لَمْ يَسْعَ

Kemudian : ولمْ يَدْعُ asalnya ~> يَدْعُو  menjadi :

👈  لَمْ يَدْعُ

> لَمْ يَسْعَ : tidak berusaha

> لَمْ يَدْعُ  : tidak berdoa

> وَلَمْ يَمْشِ :

Asalnya =» يَمْشِيْ ada ya’-nya ketika ada lam menjadi : > لَمْ يَمْشِ :

————————–

Kita lihat catatan kakinya :

لَمْ يَسْعَ cara mengirob nya

🔍 (٤) لَمْ يَسْعَ: لَمْ: حَرْفُ جَزْمٍ،

🔍 يَسْعَ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُوْمٌ بِـ (لَمْ) وَعَلاَمَةُ جَزْمِهِ حَذْفُ حَرْفِ الْعِلَّةِ وَهُوَ الْأَلِفُ، وَالْفَتْحَةُ دَلِيْلٌ عَلَيْهَا.

Dan لَمْ يَسْعَ  mengirobnya ini :

🔍 Lam harfu jazm ,

🔍 Yas’a يَسْعَ fiil mudhoori’ yang dijazmkan dengan lam dan tanda jazmnya membuang huruf illat yaitu alif dan fathah pada ‘ain ع itu petunjuknya.

Ini membuktikan bahwa  لَمْ يَسْع ini ada yang dibuang.

Ini yang dikasih contoh cuma satu saja  i’robnya, adapun :

لَمْ يَدْعُ ، لَمْ يَرْمِ sama.

Tinggal dibilang kalau : لَمْ يَدْعُ حَذْفُ حَرْفِ الْعِلَّةِ وَهُوَ الوَاوُ

Kalau : لَمْ يَمْشِ : وَهُوَ اليَاءُ

وَخَرَجَ عَنْ ذَلِكَ الْمُضَارِعُ إِذَا اتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ الْاثْنَيْنِ أَوْ وَاوُ الْجَمَاعَةِ أَوْ يَاءُ الْمُخَاطَبَةِ؛ فَإِنَّهُ يُعْرَبُ بِالْحُرُوْفِ، كَمَا سَيَأْتِيْ بَيَانُهُ، إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.

Keluar dari pembahasan ini yaitu fiil mudhari yang bersambung dengan alif mutsanna atau wawu jamak, atau ya’ mukhotobah.

Yakni Af’alul khomsah : يَفْعَلَانِ , تَفْعَلَانِ , يَفْعَلُونَ , تَفْعَلُونَ , تَفْعَلِينَ

Kelima fiil ini yang mu’robnya bukan dengan harokat.

فَإِنَّهُ يُعْرَبُ بِالْحُرُوْفِ،

Karena Af’alul khomsah mu’robnya dengan huruf.

كَمَا سَيَأْتِيْ بَيَانُهُ، إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.

Sebagaimana nanti akan dijelaskan insya Allahu Ta’āla.

_____________________________

وَخَرَجَ عَنْ ذَلِكَ الْمُضَارِعُ إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ نُوْنُ التَّوْكِيْدِ أَوْ نُوْنُ الْإِنَاثِ؛ فَإِنَّهُ يُبْنَى كَمَا سَيَأْتِيْ بَيَانُهُ – إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى – فِيْ بَابِ الْأَفْعَالِ.

Begitu pula keluar dari pembahasan ini fiil mudhoori’ yang bersambung dengan nun taukid, atau nun muannats.

Maka sesungguhnya ia yubna.

Jadi fiil mudhoori’yang diakhiri oleh nun taukid dan nun muannats seperti : *hunna dan antunna*.

👈 يَضْرِبْنَ & تَضْرِبْنَ

Ini tidak mu’rob dengan harokat , tidak berubah harokatnya itu adalah mabniy.

Begitu pula fiil yang diakhiri nun taukid : 👈 يَضْرِبُ  menjadi يَضْرِبَنَّ  Ini juga mabniy.

Jadi setiap fiil yang diakhiri nun taukid  atau nun muannats maka dihukumi mabniy.

✒ Materi Program BINAR

Al Mu’rabat Bilharakat – Jamak Muannats Salim

📚 Dars 17

Bismillahirrahmanirrahim

🍁 ثَالِثًا: جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ:

Yang ketiga, yakni yang mu’rabnya dengan harakat, adalah jamak muannats salim:

🍁 تَعْرِيْفُهُ:

Definisinya adalah:

🍃 هُوَ مَا جُمِعَ بِأَلِفٍ وَتَاءٍ مَزِيْدَتَيْنِ عَلَى مُفْرَدِهِ (١).

Jamak muannats salim adalah jamak yang menjadi jamak dengan adanya alif dan ta’ tambahan dari bentuk mufradnya.

Dan ini definisi sederhana dari jamak muannats salim. Yaitu jamak yang dibentuk dengan cara apa? Dengan cara menambahkan alif dan ta’ dari bentuk mufradnya. Jadi misalkan bentuk مُسْلِمٌ , ditambahkan

🍁 حُكْمُهُ:

Hukumnya, yakni hukum I’rabnya

يُرْفَعُ بِالضَّمَّةِ وَيُنْصَبُ وَيُجَرُّ بِالْكَسْرَةِ.

Di-rafa’-kan dengan dhammah, di-nashab-kan dan di-jar-kan dengan kasrah.

Dan ini memang termasuk yang aneh. Artinya dia tidak mengikuti tanda asli. Ketika rafa dia dhammah, betul. Ketika jar dia kasrah. Namun ketika nashab dia tetap kasrah, bukannya fathah malah kasrah.

🍁 مِثَالُهُ

Contohnya: yakni yang termasuk jamak muannats salim مُؤْمِنَاتٌ، وَزَيْنَبَاتٌ، وَسَمَوَات…

Contohnya مُؤْمِنَاتٌ, ini jamak مُؤْمِنَة artinya wanita beriman, kemudian زَيْنَبَاتٌ, jamaknya زَيْنَب. Jadi kalau misal ada banyak Zainab pada suatu tempat ini jamaknya seperti ini زَيْنَبَاتٌ. Kemudian وَسَمَوَاتٌ ini jamaknya langit.

🍃 وَمِثَالُ جَمْعِ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ الْمَرْفُوْعِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ ﴾ (٢).

Dan contoh jamak muannats salim yang marfu’: adalah firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala: إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ – apabila wanita-wanita beriman mendatangimu.

🍁 فَالْمُؤْمِنَاتُ: جَمْعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ مَرْفُوْعٌ؛ لِأَنَّهُ فَاعِلٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.

Maka lafadz الْمُؤْمِنَاتُ, adalah jamak muannats salim, dirafa’kan karena dia adalah fail, dan tanda rafa’nya adalah dhammah yang dhahir pada akhirnya. Jadi جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ, dalam ayat ini الْمُؤْمِنَاتُ merupakan fail.

Nah ayat إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ ini adalah Surat Al Mumtahanah ayat 12.

I’rabnya

🍁 إِذَا: ظَرْفٌ لِمَا يُسْتَقْبَلُ مِنَ الزَّمَانِ،

Nah ini salah satu faidah yang bisa kita ambil dari buku Al-Mumti’ ini adalah beliau memberikan contoh cara-cara ngi’rab. Jadi إِذَا ini cara ngi’rabnya

ظَرْفٌ لِمَا يُسْتَقْبَلُ مِنَ الزَّمَانِ

Idza adalah termasuk dzaraf, untuk menjelaskan kejadian dimasa mendatang

🍁جَاءَكَ: جَاءَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ،

Dan جَاءَ adalah fi’il madhi dimabniykan atas fathah

🍁 وَالْكَافُ: ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ فِيْ مَحَلِّ نَصْبٍ مَفْعُوْلٌ بِهِ مُقَدَّمٌ،

Dan kaf pada lafadz جَاءَكَ, merupakan dhamir yang bersambung dimabniykan atas fathah, dalam kedudukan nashab menjadi maf’ulbih yang didahulukan, مُقَدَّمٌ.

Biasanya dalam kalimat, susunannya adalah fiil – fail – maf’ulbih, tapi dalam kasus إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ ini setelah fiil, mafulbih dulu baru fail.

Dan ini memang harus seperti itu. Kalau failnya dzahir, dan maf’ul-bihnya dhamir, maka maf’ul bihnya didahulukan.

إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَات.

🍁 الْمُؤْمِنَاتُ: فَاعِلٌ مُؤَخَّرٌ مَرفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.

Adapun الْمُؤْمِنَاتُ, adalah fail yang مُؤَخَّرٌ, yang diakhirkan, dirafa’kan, dan tanda rafa’nya adalah dhammah yang nampak pada akhirnya

🍃 وَمِثَالُ جَمْعِ المُؤَنَّثِ السَّالِمِ الْمَنْصُوْبِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ﴾ (٣).

Dan contoh jamak muannats salim yang manshub: adalah firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala: إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ, apabila kalian telah menikahi para wanita beriman. Ini dilihat di surat Al-Ahzab ayat 49.

I’rabnya:

إِذَا: ظَرْفٌ لِمَا يُسْتَقْبَلُ مِنَ الزَّمَانِ،

Ini sama cara ngi’rabnya

نَكَحْتُمُ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنُ،

Jadi cara ngi’rab نَكَحْتُمُ, dicicil ya, نَكَحَ nya dulu, fi’il madhi mabniy atas sukun

🍁 وَالتَّاءُ: ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ،

Dan ta’nya, yakni نَكَحْتُمُ, setelah ح kan ada ta’, nah ta’ ini adalah failnya.

وَالْمِيْمُ عَلاَمَةُ عَلَى جَمْعِ الذَّكُوْرِ،

Dan mimnya, نَكَحْتُمُ, setelah ta ada mim, itu merupakan tanda bahwa dia adalah mudzakar.

Dan ini merupakan salah satu cara ngi’rab yang dicicil, detail, نَكَحْتُمُ, dicicil, ta’nya apa, mimnya apa. Dalam sebuah pendapat boleh juga kita katakan تُمُ saja, jadi kita katakan:

🍁 تُمُ: ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنُ فِيْ مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ

Boleh seperti itu atau dicicil, kita katakan, ta’nya failnya, mim nya adalah tanda jamak mudzakkar.

🍁 الْمُؤْمِنَاتِ: مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الْكَسْرَةُ نِيَابَةٌ عَنِ الْفَتْحَةُ؛ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ.

Kata الْمُؤْمِنَاتِ, dalam lafadz إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ, adalah maf’ul bih yang dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah kasrah sebagai ganti dari fathah.

Jadi semua I’rab yang bukan I’rab aslinya ditambahkan kata نِيَابَةٌ dibelakangnya.

نِيَابَةٌ عَنِ الْفَتْحَةُ؛ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ

Sebagai ganti dari fathah, karena dia adalah jamak muannats salim. Dan ini cara ngi’rabnya.

🍁 فَالْمُؤْمِنَاتِ: جَمْعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ مَنْصُوْبٌ؛ لِأَنَّهُ مَفْعُوْلٌ بِهِ، وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.

Maka الْمُؤْمِنَاتِ, dalam إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ, merupakan jamak muannats salim yang dinashabkan, karena dia adalah maf’ulbih, dan tanda nashabnya adalah kasrah yang nampak.

Ini jelas kita lihat ada kasrah, إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ, ti, jelas kasrahnya.

🍃 وَمِثَالُ جَمْعِ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ الْمَجْرُوْرِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنَاتِ ﴾ (٤).

Dan contoh jamak muannats salim yang dijarkan/majrur: adalah firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala: وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنَاتِ, “dan katakanlah kepada para wanita beriman”. Ini kita lihat catatan kakinya, surat Nuur ayat 31.

🍁 قُلْ: فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ،

وَالْفَاعِلُ ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ وُجُوْبًا تَقْدِرُهُ أَنْتَ.

Dan failnya adalah dhamir mustatir, dhamir yang tersembunyi, وُجُوْبًا, dalam keadaan wajib, takdirnya adalah أَنْتَ . Jadi nanti dhamir mustatir ini ada جَوَازًا, ada  وُجُوْبًا.

Kalau dhamir yang mukhathab dan mutakalim itu وُجُوْبًا. Kenapa? Karena mukhatab dan mutakalim itu sudah sangat jelas siapa pelakunya. Seperti قُلْ, tidak lain selain أَنْتَ. Misalkan lagi fi’il mudhari’, أَقُوْمُ, tidak lain selain أَنَا.

Tapi kalau dhamir mustatir jawaz, itu berlaku dhamir yang ghaib, yaitu kata ganti orang ketiga هُوَ – هُنَّ. Lebih khususnya lagi adalah dhamir هُوَ dan هِيَ. Karena kalau dhamir هُمَا, هُمْ, dan هُنَّ, masing-masing sudah memiliki fail yang nempel pada fiilnya.

Tapi kalau yang هُوَ , seperti misalkan يَذْهَبُ, kita katakan dhamir mustatir jawazan, kenapa jawazan? Karena jawaz, jawaz  itu artinya boleh, yang menjadi fail bisa siapa aja, boleh zaid, boleh umar, boleh dia, dsb. Itu maksud dari جَوَازًا, dan  وُجُوْبًا.

🍁 لِلْمُئْمِنَاتِ: اللاَّمُ: حَرْفٌ جَرٍّ، الْمُئْمِنَاتِ: اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِاللاَّمِ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ

🍁 فَالْمُؤْمِنَاتِ: اسْمٌ مَجْرُوْرٌ؛ لِأَنَّهُ سُبِقَ بِحَرْفِ جَرٍّ وَهُوَ اللاَّمُ وَعَلاَمَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ الظَّاهِرَةُ.

Maka الْمُؤْمِنَاتِ, dalam kalimat وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنَاتِ, adalah isim yang dijarkan, karena ia didahului oleh huruf jar, yaitu huruf jar lam, dan tanda jarnya adalah kasrah yang الظَّاهِرَةُ, kasrah yang nampak.

—————————————

🌾 فَوَائِدُ وَتَنْبِيْهَاتُ:

Faidah-faidah dan catatan khusus

🍃 ١ – سُمِىَ هَذَا الْجَمْعُ بِالسَّالِمِ؛ لِسَلاَمَةِ بِنَاءِ مُفْرَدِهِ مِنْ التَغَيُّرِ غَالِبًا.

Dinamakan jamak ini sebagai jamak yang salim, karena selamat bentuk mufradnya dari perubahan secara umum.

Artinya, kenapa jamak muannats salim disebut dengan jamak muannats salim? Karena bentuk mufradnya selamat dari perubahan. Tidak seperti jamak taksir.

Coba kalau kita lihat jamak taksir, بَابٌ menjadi أبْوَابٌ, lihat ini tidak selamat dari perubahan. Asalnya بَابٌ jadi أبْوَابٌ . Tapi kalau jamak muannats salim, asalnya مُسْلِمٌ menjadi مُسْلِمَاتٌ . Tetep مُسْلِمٌ hanya saja ditambahkan alif dan ta’ dibelakangnya.

يُنْظَرُ شَرْحُ الْأَزْهَرِيِّ عَلَى الْآجُرُوْمِيَّةِ.

Silahkan lihat di kitab syarah Al-Azari atas kitab Al- Ajurrumiyyah

—————————————

Kemudian fawaid yang kedua, faidah yang kedua:

🍃٢ – قَالَ ابْنُ مَالِكٍ فِيْ أَلْفِيَّتِهِ:

Berkata Ibnu Malik dalam bait Alfiyahnya,

وَمَا بِتَا وَأَلِفٍ قَدْ جُمِعًا

يُكَسَرُ فِيْ الجَّرِّ وَفِيْ النَّصْبِ مَعًا

Dan apa yang dijamak dengan ta’ dan alif, maksudnya adalah jamak muannats salim, dia dikasrahkan ketika jar, dan ketika nashab bersamaan.

Artinya dia dikasrahkan tidak hanya pada jar saja, tapi juga ketika nashab. Memang ini termasuk kekhususan pada jamak muannats salim, ketika nashab dia bukannya fathah malah kasrah.

—————————————

Kemudian yang ketiga

🍃٣ – لَيْسَ مِنْ جَمْعِ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ: (أَبْيَاتٌ، وَأَوْقَاتٌ، وَأَصْوَاتٌ) لِأَنَّ تَاءَاتِهَا أَصْلِيَّةٌ لِوُجُوْدِهَا فِيْ مُفْرَدَاتِهَا أَصْلِيَّةٌ. بَيْتٌ وَوَقْتٌ وَصَوْتٌ، وَتَاءُ جَمْعِ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ زَائِدَةً . يُنْظَرُ قَطْرُ النَّدَى ص(٧۹).

Bukanlah termasuk jamak muannats salim, kata-kata seperti أَبْيَاتٌ, rumah-rumah, jamaknya بَيْتٌ, أَوْقَاتٌ, jamaknya وَقْتٌ, waktu, أَصْوَاتٌ, suara-suara, jamaknya صَوْتٌ.

لِأَنَّ تَاءَاتِهَا أَصْلِيَّةُ لِوُجُوْدِهَا فِيْ مُفْرَدَاتِهَا أَصْلِيَّةُ: بَيْتٌ وَوَقْتٌ وَصَوْتٌ،

Karena ta’nya, yaitu ta’ pada أَبْيَاتٌ –  أَوْقَاتٌ-  أَصْوَاتٌ, ini adalah ta’ yang asli, karena dia ada ketika mufradnya. Jadi أَبْيَاتٌ –  أَوْقَاتٌ-  أَصْوَاتٌ, bukan jamak muannats salim tapi jamak taksir, karena asalnya

بَيْتٌ- أَبْيَاتٌ

وَقْتٌ- أَوْقَاتٌ

صَوْتٌ- أَصْوَاتٌ.

لِوُجُوْدِهَا فِيْ مُفْرَدَاتِهَا أَصْلِيَّةُ: بَيْتٌ وَوَقْتٌ وَصَوْتٌ،

Karena ta’nya itu asli, ia ada pada mufradnya secara asli, contohnya apa? Yaitu  بَيْتٌ , وَقْتٌ , صَوْتٌ. Ta pada أَبْيَاتٌ –  أَوْقَاتٌ-  أَصْوَاتٌ, ini diambil dari bentuk mufradnya بَيْتٌ , وَقْتٌ , صَوْتٌ.

وَتَاءُ جَمْعِ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ زَائِدَةً

Dan ta’ jamak muannats salim tidak boleh kecuali ta’nya itu merupakan ta’ tambahan.

يُنْظَرُ قَطْرُ النَّدَى ص(٧۹). Silahkan lihat Kitab Qatrun Nada halaman 69.

✒ Materi Program BINAR