Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga

Jika dilihat dalam rujukan fatwa para ulama mengenai hukum dasar ibu bekerja semua menyimpulkan boleh dengan syarat. Syarat tersebut yang berkaitan dengan hal-hal yang menjaga kemuliaan para wanita agar jangan sampai wanita bekerja justru menghilangkan status kemuslimahannya. Intinya boleh, apalagi bagi wanita yang pekerjaannya dibutuhkan oleh umat, seperti dokter kandungan atau perawat dan pekerjaan lain yang memang membutuhkan wanita. “Mana yang lebih utama?” Jika membahas tentang keutamaan maka bukan berarti pilihan yang lainnya merupakan kehinaan. Keutamaan hanya menunjukkan lebih tinggi dengan yang lain, itupun dengan syarat. Sebab banyak hadits yang membahas tentang keutamaan-keutamaan. Misal hadits “muslim yang kuat lebih dicintai daripada muslim yang lemah”. Apakah muslim yang lemah itu hina? TIDAK. Hanya memang lebih utama muslim yang kuat. Begitupun perihal ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Maka jawabannya berdasarkan Al-qur’an dalam surat Al Ahzab: 33 “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, ….”

Ibu lebih utama di rumah. Apakah keutamaan ini terikat satu poin saja, tidak, sebab bersyarat. Ibu di rumah lebih utama jika menjalankan fungsi keibuan. Ibu rumah tangga akan mendapatkan sisi yang positif, mendapatkan derajat yang baik jika menjalankan fungsi keibuan.

Apa yg harus dimiliki seorang ibu terkait fungsi keibuan??
Dalam sebuah H.R. Muslim, Rosul menyebutkan,”Nikahilah olehmu seorang wanita yang
a. Al Walud (subur, untuk perbaikan keturunan agar bisa dibanggakan Rosulullah di hari akhir); dan
b. Al Wadud, akar katanya Al Wudd (Q.S Maryam : 96 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”) Memiliki makna yang sama dengan al mawaddah (Q.S ArRum ayat 21″…Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang…”).

Jika Al Mawaddah bermakna kasih dan sayang untuk pasangan, maka Al Wadud bermakna kasih dan sayang untuk anak yang menyebabkan seorang anak ingin selalu mendekat kepada ibu.

Indikator saat kita menjalankan fungsi keibuan adalah ketika anak selalu ingin menempel pada ibunya. Inilah yang akan kita bahas dan kita evaluasi apakah ibu rumah tangga dan ibu bekerja memiliki Al Wadud ini.

Jika fungsi keibuan yaitu Al Wadud dijalankan, ciri keberhasilannya adalah apakah ibu dirindukan atau tidak? Sebab petaka pertama pengasuhan adalah ketika ibu tak lagi dirindukan. Ibu bekerja dan ibu rumah tangga sama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi ibu yang dirindukan. Bukan lagi membahas mana yang lebih utama, karena saat ini banyak ibu rumah tangga namun tak dirindukan sebab hilangnya sifat Al Wadud.

Awal seorang ibu memiliki anak sifat Al Wadud masih kuat. Bagaimana agar Al Wadud terjaga? Agar ibu tetap menjadi yang dirindukan, anak selalu ingin bersama ibunya, maka lihat ciri-cirinya. Saat anak dipeluk atau didekati apakah ia menolak atau merasa nyaman? Indikasi kedua ketika anak tak mau bercerita karena kecelakaan bagi orang tua adalah ketika anak tak lagi bercerita dan memiliki wilayah privasi yang orang tua tidak boleh mengetahuinya. Misi pertama ibu adalah mengikat hati anak agar anak takluk hatinya. “Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota tubuh ibarat anggotanya” (Majmu al Fatawa)

Tips Mengikat Hati Anak:

1. Senantiasa berpikir dan berperasaan positif

Terlepas ibu adalah seorang pekerja atau yang di rumah, jika emosi ibu negatif seperti bau busuk yang membuat anak tak mau mendekat. Anak membaca bahasa tubuh ibu. Maka tugas ibu adalah senantiasa berpikir dan berperasaan positif. Ketika ibu mulai memiliki perasaan negatif, maka menghindar dari anak adalah lebih baik. Sekaligus ibu mencari cara bagaimana agar ibu bisa berpikir dan berperasaan positif. Ibu harus memiliki beberapa skill salah satunya menulis, terutama bagi ibu-ibu yang memiliki kecenderungan berpikir dan berperasaan negatif. Ibu yang sering menulis emosinya lebih stabil. Seperti perkataan Iman An-Nawawi “menulis itu mencerahkan pikiran dan mencerahkan batin”. Sebab jika ibu tidak menulis kecenderungan untuk melakukan hal buruk pada anak sangat besar.

2. Belajar menjadikan anak prioritas

(Al-‘Isrā’):26 – Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, ….
(Ar-Rūm):38 – Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, ….
Jika ibu bekerja bisa bersabar menghadapi klien maka seharusnya bisa lebih sabar dalam menghadapi anak. Jika ibu bekerja sebagai guru TK dan sangat sabar menghadapi murid-murid, maka semestinya anak ibu lebih berhak mendapatkan kesabaran ibu.
Cara melatih agar anak selalu menjadi prioritas adalah sering melihat wajah anak ketika bayi. Jika sudah muncul amarah pada anak, mengingat wajah bayinya membuat kita akan menjadi lebih sabar.

3. Manajemen waktu

  • Me time adalah hak wanita, istri Rosulullah memiliki ‘me time’ untuk solat, berdoa, berpuasa dan ibadah lain saat ia tidak mendapat giliran. Ibu berhak solat, membaca alqur’an tanpa harus diburu oleh tangisan anak, dan ibu berhak melakukan kesenangan yang dibolehkan oleh agama ini. Suami ambil alih sementara untuk menjaga anak.
  • Couple time, untuk memberikan kekuatan energi pada ibu. Penting bagi ibu untuk punya waktu berdua dengan suami untuk berdiskusi, bercengkerama, bercanda tanpa menyertakan anak. Saat ibu mulai kehilangan al wadudnya, yang pertama kali harus dievaluasi adalah suami, sebab artinya itu mewakili perasaan bahwa ia sedang tidak bahagia dengan suaminya. Penting bagi suami membuat ibu bahagia agar al wadud tak hilang dari ibu.
  • Family time, berkumpul dengan keluarga.
  • social time, ibu berhak untuk berkumpul bersama teman-temannya.

4. Skill dasar seorang ibu

  • Memasak, hal yang membuat anak selalu rindu kepada ibu adalah masakan ibu.
  • Menulis (sudah dibahas)
  • Memijat, agar anak selalu merasa dekat pada ibu. Sebab ketika anak nyaman dipijat oleh ibu di daerah tertentu, seperti perut, punggung dan telapak tangan, maka anak akan lancar bercerita dan cenderung terbuka.
  • Mendengar, jadilah pendengar setia dengan respon terbaik, bukan sekadar menasehati ketika anak bercerita.

5. Merebut golden moment

Ada 3 waktu yang ibu tidak boleh absen, terutama bagi ibu yang bekerja.

  • Hadirlah saat anak sedih, sebab ketika anak sedih ia memerlukan sandaran jiwa, siapapun yang hadir saat itu akan dianggap sebagai pahlawannya, maka ibu wajib menjadi pahlawan yang mendengar kesedihannya apapun dan bagaimanapun kondisi ibu saat itu. Jika tidak mendapati ibunya, maka ia akan mencari ‘orang lain’ yang bisa jadi berbahaya bagi dirinya. Dicontohkan oleh Rosulullah yang hadir saat ada seorang anak yang sedih karena kehilangan burung pipitnya.
  • Hadirlah saat anak sakit, saat anak sakit yang sakit bukan sekadar fisiknya tapi juga jiwanya.
  • Hadirlah saat anak unjuk prestasi, anak akan tidak percaya pada ibunya jika ibu tidak datang saat anak unjuk prestasi. Maka bagi ibu yang bekerja, serepot apapun agendakan dengan sekolah sang anak kapan jadwal unjuk prestasi. Hal ini dicontohkan oleh Rosulullah yang selalu hadir saat anak sedang mementaskan prestasinya, Rosulullah hadir saat bani Aslam sedang melakukan lomba memanah.

Maka ibu wajib menjadikan 5 poin ini sebagai pegangan, sudahkah dirindukan, sudahkah anak dekat dengan kita.
Membahas kesadaran bersama bagi para ibu yaitu bahwa anak adalah prioritas. Profesi ibu adalah yang utama, sisanya SAMBILAN saja.

Ada 7 indikasi yang ditunjukkan anak sebagai syarat bahwa mau tidak mau ibu harus kembali ke rumah, ibu tidak bisa memaksakan bekerja saat sudah tampak bahwa anak memiliki 7 indikasi kerusakan;

  1. Anak selalu membangkang
    Ibu yang gagal mengikat hati anak karena sibuk bekerja, indikasinya adalah anak selalu membangkang. Sebab anak yang dekat dengan ibunya akan taat meskipun dalam keadaan terpaksa.
  2. Anak tidak hormat pada ibunya terutama ketika ibu dalam keadaan marah. Jika ibu marah dan anak tambah melawan dan membantah, maka sangat disarankan lebih baik off bekerja daripada kehilangan momen.
  3. Anak punya privasi, saat anak memiliki banyak rahasia maka ini menunjukkan indikator bahaya. jika anak memiliki banyak rahasia dari ibunya, hak tersebut adalah tanda bahwa anak tidak nyaman dengan ibunya.
  4. Ketika anak tidak pernah mendengar nasehat ibunya sebagau rujukan. Indikator anak yang dekat dengan ibunya adalag ketika anak selalu menjadikan ibu sebagai rujukan.
  5. Saat anak tidak betah ada di rumah. Sebab rumah memiliki ratu bernama ibu, jika ibu tak lagi dirindukan maka anak tidak akan betah di rumah.
  6. Anak sudah berani mengatakan kriteria jodoh “asal bukan seperti ibu”.
  7. Ketika anak tak memahami bahasa tubuh orang tua, bahkan cenderung membiarkan kita tersakiti.

Indikator-indikator ini mohon jadikan sebagai bahan evaluasi. Jangan menunggu 7 hal ini terjadi, selalu perbaiki kedekatan bersama anak agar menjadi ibu yang dirindukan.

Kenapa banyak ibu yang dimusuhi anaknya “sebab ada peran yg tertukar” antara ibu dengan ayah. Peran ibu adalah sebagai pemberi rasa aman, sedangkan peran ayah sebagai penegak aturan. Q.S An Nisa: 34 “laki-laki adalah pemimpin bagi wanita…”
Makna pemimpin dari ayat ini adalah sebagai penegak aturan. Ibu jangan mengambil alih peran ini.

Para ayah wajib bantu istri agar tidak kehilangan al wadudnya. Istri jangan mengambil wilayah aturan. Suami wajib mengingatkan istri bahwa yang menegakkan aturan adalah suami, maka jika ibu ingin memiliki aturan untuk anak, sampaikan pada suami. Istri hanya memberikan usulan. Anak rusak, itu tanggung jawab suami.

Semoga hal ini bisa menjadikan perbaikan bagi rumah tangga, ketika ibu dan ayah menjalankan fungsinya. Ibu dengan kasih sayang, ayah dengan ketegasannya.
Lakukan diskusi bersama. Penting agar ibu dan ayah selalu melakukan harmonisasi. Sebab biasanya permasalahan anak hanya 20% sisanya karena komunikasi ibu dan bapak yang tak selesai. Banyak anak yang tidak patuh pada orang tuanya karena sering melihat pemandangan konflik antara ibu dan ayahnya. Ayah wajib bantu ibu menjadi yang dirindukan terlepas ibu bekerja atau di rumah dengan memfasilitasi agar ibu memiliki pikiran dan perasaan yang positif.

Oleh : Ustadz Bendri Jaisyurrahman

Al Mu’rabat Bag 3 – Jamak Taksir

📚 Dars 16

Bismillahirrahmanirrahim

🍃 ثَنِيًا: جَمْعُ التَكْسِيْرِ:

Adalah jamak taksir

🔹yang mu’rob dengan harokat:

1⃣ yang pertama isim mufrad

2⃣ yang kedua jamak taksir

تَعْرِيْفُهُ :

🔸Definisi jamak taksir :

هُوَ مَا دَلَّ عَلَى أَكْثَرَ مِنِ اثْنَيْنِ أَوْ اثْنَتَيْنِ مَعَ تَغَيُّرٍ فِيْ صِيْغَةِ مُعْرَدِهِ.

Definisi dari jamak taksir adalah kata yang menunjuki atas makna yang lebih dari dua, beserta adanya perubahan dari bentuk mufradnya.

☘ Jika jamak taksir itu bandingkan mufradnya dengan jamak taksirnya. Itu ada perubahan,

📌 misalkan بَابٌ berubah menjadi ➡ أَبْوَابٌ.

Lihat! ini beda dengan mutsanna dan jamak.

☘ Jika mutsanna asalnya

📌 misalkan بَابٌ menjadi ➡ بَابَانِ/ بَابَيْنِ .

Lihat! Mufradnya sama dengan jamaknya. Sama-sama ba, alif, ba bedanya tambahkan alif nun dan ya’ nun.

☘ Begitu juga jamak mudzakkar salim, misalkan

📌 asalnya مُسْلِمٌ menjadi ➡ مُسْلِمُوْنَ , مُسْلِمِيْنَ .

Lihat urutannya mim, sin, lam, mim. Jadi sebatas mufrad yang ditambahkan waw nun atau ya’ nun dibelakangnya.

☘ Tapi jika jamak taksir, ini sangat berbeda.

📌 Misalkan قَلَمٌ menjadi ➡ أَقْلَامٌ.

Jadi beda sekali, قَلَمٌ menjadi أَقْلَامٌ. Ini definisi dari jamak taksir. Ada perubahan dari صِيْغَة dari bentuk mufradnya.

____________

حُكْمُهُ:

🔸Hukum I’robnya

يُرْفَعُ باِلضَّمَِّةِ، وَيُنْصَبُ بِالْفَتْحَةِ، وَيُجَرُّ بِالكَسْرَةِ

Jamak taksir ini sama seperti isim mufrad, dia tanda i’robnya selalu yang asli,

– dirafa’kan dengan dhommah,

– dinashobkan dengan fathah,

– dijarkan dengan kasroh.

مِثَالُهُ: رِجَالٌ، وَكُتُبٌ، وَزَيَانِبُ.

📌 Contohnya رِجَالٌ jamaknya ➡ رَجُلٌ dia laki-laki,

📌 كُتُبٌ jamaknya ➡ كِتَابٌ, buku-buku.

📌 Dan زَيَانِبُ ini jamaknya (dari) زَيْنَبُ “Zainab”

زَيَانِبُ Zainab-Zainab. Mungkin satu kelas yang namanya Zainab ada banyak. Makanya dibuat jamak taksir زَيَانِبُ .

فَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الْجُمُوْعِ تَغَيَّرَتْ فِيْهِ صُوْرَةُ الْمُفْرَدِ حَالَ الْجَمْعِ عَنْ حَالِهَا الأَصْلِيَّةِ قَبْلَ الْجَمْعِ

Maka jamak macam ini, yaitu jamak taksir

تَغَيَّرَتْ فِيْهِ صُوْرَةُ الْمُفْرَدِ

berubah gambaran mufradnya ketika jamak

حَالَ الْجَمْعِ عَنْ حَالِهَا الأَصْلِيَّةِ قَبْلَ الْجَمْعِ

dari kedaannya yang semula sebelum jamak.

📝 Artinya kalau jamak taksir, ketika mufrad dan jamak taksir, itu beda bentuknya. Seperti tadi saya jelaskan بَابٌ menjadi أَبْوَابٌ bukannya بَابٌ ditambahkan suatu seperti musanna dan jamak mudzakkar salim. Tapi jika jamak taksir betul-betul beda.

📌 بَابٌ menjadi ➡ أَبْوَابٌ

📌 قَلَمٌ menjadi ➡ أَقْلَامٌ

📌 مَدْرَسَةٌ menjadi ➡ مَدَارِسُ

Jadi adanya perubahan صِيْغَة bentuknya

فَمَثَلاً: (رِجَالٌ) مُفْرَدُهُ (رَجُلٌ)

Contohnya رِجَالٌ ini jamak taksirnya, tunggalnya adalah رَجُلٌ .

تَغَيَّرَتْ فِيْهِ صُوْرَةُ مُفْرَدِهِ:

Berubah bentuk mufradnya

بِكَسْرِ الرَّاءِ وَفَتْحِ الْجِيْمِ، وَزِيَادَةِ الأَلِفِ قَبْلَ اللاَّمِ.

Dengan mengkasrohkan ro’ dengan asalnya رَجُلٌ fathah menjadi ri’. Kembali ke وَفَتْحِ الْجِيْمِ، asalnya ju’ رَجُلٌ ju’, jimnya dhommah tapi ketika jamak jadi fathah رِجَا. Bukan رِجُ tapi رِجَا.

وَزِيَادَةِ الأَلِفِ قَبْلَ اللاَّمِ

dan penambahan alif sebelum lam. Jadi kalau mufradanya رَجُلٌ tidak ada alifnya, ketika jamak ada alifnya.

وَ مِنْ أَجْلِ هَذَا التَّغَيُّرِ الَّذِيْ يُشْبِهُ تَكْسِيْرَ الشَّيْءِ بَعْدَ أَنْ كَانَ صَحِيْحًا يُسَمَّى هَذَا النَّوْعُ مِنَ الْجُمُوْعِ جَمْعَ تَكْسِيْرٍ (١), وَهُوَ يُعْرَبُ بِالْحَرَكَاتِ

Dikarenakan perubahan ini yang menyerupai تَكْسِيْرَ الشَّيْءِ  taksir itu kata كَسَرَ, berantakan. Artinya : Membuat sesuatu itu jadi berantakan. Asalnya رَجُلٌ menjadi رِجَالٌ , ini berubah banget.

بَعْدَ أَنْ كَانَ صَحِيْحًا

Setelah sebelumnya dia shohih, asalnya baik menjadi berantakan.

يُسَمَّى هَذَا النَّوْعُ مِنَ الْجُمُوْعِ جَمْعَ تَكْسِيْرٍ

Maka dinamakanlah jamak jenis ini sebagai jamak taksir.

📝 Jadi alasan kenapa jamak taksir disebut sebagai jamak taksir karena, dia tidak beraturan. Jadi dia merubah sesuatu yang asalnya seperti :

📌 رَجُلٌ menjadi berantakan ➡ رِجَالٌ

📌  ٌقَلَم menjadi أَقْلَامٌ

Jadi tidak ada aturannya.

____________________

Disini kita lihat catatan kakinya

١ـ وَأَنْوَاعُ التَّغْيِيْرِ الوَاقِعِ فِيْ جَمْعِ التَّكْسِيْرِ سِتَّةٌ، تُنْظَرُ فِيْ غَيْرِ هَذَا الْمُخْتَصَرِ .

Atau boleh juga kita baca تَنْظُرُ

Dan macam-macam perubahan yang terjadi pada jamak taksir itu ada enam.

Jadi ada enam jenis perubahan pada jamak taksir yang kamu bisa lihat atau kalau kita bacanya تُنْظَرُ  “yang bisa dilihat” perubahannya ini  pada kitab selain yang ringkas ini.

Jadi menurut beliau istilahkan, “rujuk !” kitab-kitab lain yang panjang lebar menjelaskan materi ini.

Karena memang kitab Al Mumti’ ini disajikan secara ringkas. Oleh karena itu beliau tidak ingin berpanjang lebar tentang masalah ini silahkan kita rujuk sendiri.

وَهُوَ يُعْرَبُ بِالْحَرَكَاتِ

🔹 dan jamak taksir itu mu’rabnya dengan harokat

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَ [ اَلرِّجَالُ قَوَّمُوْنَ عَالَنِّسَآءِ ]

contohnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa

[ اَلرِّجَالُ قَوَّمُوْنَ عَالَنِّسَآءِ ]

laki-laki itu pemimpin atas wanita. Ini dalam surah Annisa ayat 34.

📌 Ini I’robnya disebutkan dalam footnotenya yaitu catatan kakinya

🔍 الرِّجَالُ: مُبْتَدَأُ،

🔍 وَقَوَّامُوْنَ: خَبَرُ المُبْتَدَأ مَرْفُوْعٌ بِالوَاوِ؛.لِاَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍِ سَلِمٍ

الرٍجَالُ: مُبْتَدَأُ،

قَوَّامُوْنَ: خَبَرُ

yang dirofa’kan dengan wawu karena dia jamak mudzakkar salim ketika rofa’ tandanya adalah wawu.

ف ( الرِّجَالُ ) : جَمْعُ تَكْسِيْرِ مَرْفُوْعٌ،

maka الرِّجَالُ merupakan jamak taksir dirofa’kan

لأَنَّهُ مُبْتَدَأٌ

karena ini sebagai mubtada

وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ

dan tanda rofa’nya adalah dhommah.

وَ قَوْلِهِ تَعَالَى:

☘ dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa

(وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَلًا)

dan Allah ciptakan dari keduanya رِجَلًا (laki-laki)

Nah رِجَلًا  disini kita lihat dalam catatan kaki ini

وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَلًا

merupakan surah Annisa ayat 1

I’robnya

🔍 بَثَّ : فِعْلٌ مَاضٍ ،

🔍 وَفَاعِلُهُ مُسْتَتِرٌ

🔍 بَثَّ : فِعْلٌ مَاضٍ

dan fa’ilnya itu tersembunyi, yakni kembali kepada Allah

وَ مِنْهُمَا : جَارٌ وَ مَجْرُوْرٌ ،

jadi huma nya jar majrur

وَ رِجَالًا : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ

dan رِجَالًا itu sebagai maful bih yang manshub.

فَ (الرجال) : جَمْعُ تَكْسِيْرٍ   مَنْصُوْبٌ؛ لِأَنَّهُ مَفْعُوٌلٌ بِهِ وَ عَلَامَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ

📌 Maka رِجَالًا dari ayat

وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَلًا

ini adalah jamak taksir yang dinashobkan karena dia adalah maful bih dan tanda nashobnya adalah fathah.

وَ قَولِهِ تَعَلَى : {وَ لِلرِجَالِ عَلَيهِنَّ دَرَجَةٌ}

☘ dan juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa

{وَ لِلرِجَالِ عَلَيهِنَّ دَرَجَةٌ}

dan bagi laki-laki itu yang memiliki derajat diatas wanita.

فَـ (الرِجَالِ) : جَمعُ التَكسِيرِ مَجرُورٌ، لِأَنَّهُ سُبِقَ بِحَرفِ جَرٍّ وَ عَلَامَةُ جَرِّهِ الكَسرَةُ

☘ Maka الرِجَالُ dalam ayat

وَ لِلرِجَالِ عَلَيهِنَّ دَرَجَةٌ

Ia merupakan jamak taksir yang dijarkan.

Kenapa dijarkan? Karena dia didahului oleh huruf jar dan tanda jarnya adalah kasroh.

وَ لِلرِجَالِ عَلَيهِنَّ دَرَجَةٌ

ini ada dalam surah Al Baqoroh ayat 228.

I’robnya

٤) البَقَرَةُ : مِنَ الآيَةِ (٢٢٨)

🔍 . لِلرِّجَالِ : الَّامُ : حَرْفٌ جَرٍّ ، وَ الرِّجَالُ : اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ ، وَالجَارُ و المَجْرُوْرُ خَبَرٌ مُقَدَّمٌ

jadi الرِجَالِ dalam

وَ لِلرِجَالِ عَلَيهِنَّ دَرَجَةٌ

merupakan jar majrur sebagai khobar muqoddam. Ini contoh khobar yang didahulukan.

📝Hukum asalnya mubtada dulu baru khobar, tapi ada keadaan dimana khobar boleh dikedepankan bahkan ada keadaan dimana khobar wajib dikedepankan.

Contohnya dalam ayat ini, karena mubtadanya nakiroh  دَرَجَةٌ adalah mubtadanya دَرَجَةٌ mu’akhor. Mubtada yg diakhirkan دَرَجَةٌ karena dia nakiroh, maka khobarnya wajib didahulukan.

📌 وَ لِلرِجَالِ عَلَيهِنَّ دَرَجَةٌ ini wajib. ✔

Tidak boleh 📌 دَرَجَةُ لِلرِجَالِ. ❌

Ini memang harus 📌 لِلرِجَالِ دَرَجَةٌ ✔ seperti itu.

🔍 وَعَلَيْهِنَّ : جَارٌ وَمَجْرُوْرٌ

dan ayat  وَعَلَيْهِ جَارٌ وَمَجْرُوْرٌ

🔍 وَدَرَجَةٌ : مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ مَرْفُوْعٌ وَعَلاَمَةُ رَفْعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلىَ ا‌َخِرِهِ.

Dan دَرَجَةٌ merupakan mubtada mu’akhor, mubtada yang diakhirkan, marfu’ yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya adalah dhommah yang nampak pada akhirnya.

Jadi jelas دَرَجَةٌ itu yang nampak pada akhirnya.

____________________

فَوَائِدَ وَتَنْبِيْهاَتٌ :

Faidah-faidah dan catatan penting

١. يُعْرَبُ جَمْعُ التَّكْسِيْرِ باِلْحَرَكاَتِ الُمُقَدَّرَةِ ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى : وَتَرَى النَّاسَ سُكَٰرَىٰ وَماَهُمْ بِسُكَٰرَى

1 Jamak taksir ada juga yang mu’robnya dengan harokat muqoddaroh tentunya kalau kita bicara muqoddaroh, selalu kita bicara pada kata yang diakhiri oleh huruf illat, dalam ayat ini

وَتَرَى النَّاسَ سُكَٰرَىٰ,

📌سُكَٰرَىٰ ini ada alifnya. Maka kita katakan سُكَٰرَىٰ yakni, muqoddaroh.

📌 الُمُقَدَّرَةٌ alal alifi, ada alif maqsurohnya.

2 Kemudian yang kedua

يَجْرِ جَمْعُ التَّكْسِيْرِ بِالْفَتْحَةِ نِيَابَهُ عَنِ الْكَسْرَةِ إِذَا كَانَ غَيْرُ  مُنْصَرِفُ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى :<< لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ

Contohnya dalam ayat

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ

sungguh Allah benar-benar telah menolong kalian dibanyak negara/wilayah, dibanyak bumi.

Contoh adalah مَوَاطِنَ, bentuknya merupakan shigot muntahal jumu’.

Dan shigot muntahal jumu’ termasuk ghoiru munshorif.

Makanya ketika dia didahului huruf jar

📌 tidak dibaca  فِي مَوَاطِنِ ❌

📌 tetap فِي مَوَاطِنَ.

Dan juga وَ قَوْلِهِ تَعَالَى contohnya juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa :

وَلَقَدْ زَيَّنَّ  السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

Sungguh kami telah menghiasi langit dunia dengan مَصَابِيحَ jamaknya (misbah) lampu, tapi yang dimaksud adalah bintang-bintang.

📌 مَصَابِيحَ ini ghoiru munshorif, kenapa? karena dia shigot mumtahal jumu’.

Intinya yang ingin disampaikan oleh pengarang kitab Al Mumti’, Syaikh Salim, bahwa cara mengi’robnya sama seperti isim mufrod.

✒ Jika isim mufrod diakhiri oleh huruf illat, maka dia muqoddaroh.

✒ Kemudian kalau isim mufrod dan jamak taksir tandanya bukan tanda aslinya tetapi tetap harokat.

Maka kita katakan نِيَابَة . Jadi kalau kita mengi’rob tadi

فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ :

فِي حَرْفٌ جَرٍّ

مَوَاطِنَ مَجْرُوْرٌ بِ(فِيْ) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ ” فَتْحَةٌ نِيَابَةً ” عَنِ الْكَسْرَةِ

dan tanda jarnya adalah fathah,

نِيَابَةً عَنِ الْكَسْرَةِ

sebagai ganti dari kasroh.

✒ Materi Program BINAR

Al Mu’rabat Bilharakat 2 – Isim Mufrad

📚 Dars 15

Bismillahirrahmanirrahim

المُعْرَبَاتُ بِالحَرَكَات

⭕ Mu’rabnya dengan harakat,

وَهِيَ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ:

Yaitu ada 4 macam :

1⃣ أَوَّلًا: الْاِسْمُ المُفْرَدُ

1⃣. Pertama; Isim mufrod

تَعْرِيْفُهُ : Defenisi dari isim mufrod adalah:

هُوَمَا لَيْسَ مُثَنًّى ، وَلاَ مَجْمُوْعًا،  وَلَا مِنَ الأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ.

Isim mufrad adalah:  yang bukan mutsanna,  bukan pula jamak dan  bukan pula isim yang lima.

Ini adalah definisi yg sangat sederhana, mufrad itu artinya tunggal bukan dua, bukan jamak, dan bukan pula isim yg lima.

حُكْمُهُ (Hukum-hukumnya)

Yakni hukum yang berkaitan dengan isim mufrad

يُرْفَعُ بِالضَمَّةِ، وَيُنْصَبُ بِالفَتْحَةِ، وَيُجَرُّ بِالكَسْرَةِ.

🔹Di rofa’kan dengan dhommah

🔹Di nashabkan dengan fathah

🔹Di jarkan dengan kasroh.

Kalau kita lihat dari sini, ini berarti isim mufrad itu tanda i’robnya tanda i’rob asli semua,  rafa dengan dhommah, nasabnya dengan fathah dan jar-nya dengan kasroh.

مِثَالُهُ: رَجُلٌ، وَمُؤْمِنٌ، وَمُؤْمِنَةٌ

Contoh-contohnya:

📌 رَجُلٌ mufrad seorang laki2

📌 وَمُؤْمِنٌ  seorang mukmin

📌 وَمُؤْمِنَةٌ  seorang mukminah

فَهَذَا النَوْعُ مِنَ الأَسْمَاءِ يُطْلِقُ عَلَيْهِ النَّحْوِيُوْنَ: اَلاِسْمَ المُرَدَ،لِأَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى وَاحِدٍ أَوْ وَاحِدَةٍ، وَلَيْسَ مُثَنًّى وَلاَ مَجْمُوْعًا، وَهُوَ يُعْرِبُ بِالْحَرَكَاتِ،

Maka, isim-isim dari jenis ini dimutlakkan oleh para ulama nahwu (maksudnya semua ini) disebut isim yg mufrad karena ia menunjuki makna satu.

📌  وَاحِدٍ ini satu mudzakkar dan

📌 وَاحِدَةٍ satu muannats.

Dan bukan pula mutsanna dan bukan pula jamak. Dan isim mufrad ini murabnya dengan harokat.

نَحْوُ : قَوْلِهِ تَعَالَى :

Contohnya firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

( قَالَ رَجُلٌ )

(Dalam surah Ghofir ayat 28)

🍁 ( قَالَ رَجُلٌ ) – فَرَجُلٌ : اِسْمٌ مُفْرَدٌ مَرْفُوْعٌ ، لِأَنَّهُ فَاعِلٌ وَ عَلَامَةُ رَفْعِهِ الضَّمَةُ

Maka  رَجُلٌ dalam kalimat ٌقَالَ رَجُل

(berkata seorang laki2)

🔸adalah isim mufrad yg marfu, karena dia sebagai failnya. Dan tanda rofanya adalah dhommah.

وَقَوْلِهِ : ( أَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا )

(Dalam surah Ghofir ayat 28)

“Apakah kalian membunuh seorang laki2?”

🍁 ( أَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا ) – رَجُلًا : اِسْمٌ مُفْرَدٌ مَنْصُوْبٌ ، لِأَنَّهُ مَفْعُوْلٌ بِهِ وَ عَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ

Kata رَجُلًا dalam kalimat  أَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا

🔸 ini adalah isim mufrad yg dinashabkan karena dia sebagai maful bih dan tanda nashab nya adalah fathah.

وَقَوْلِهِ : أَوْحَيْنَآ إِلٰى رَجُلٍ

(Dalam surah Yunus ayat 2)

🍁 أَوْحَيْنَآ إِلٰى رَجُلٍ : اِسْمٌ مُفْرَدٌ مَجْرُوْرٌ ؛ لِأَنَّهُ سُبِقَ بِحَرْفِ جَرٍّ ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ

Rajul dalam kalimat أَوْحَيْنَآ إِلٰى رَجُل

🔸 adalah “Kami wahyukan kepada seorang laki2” رَجُلٍ disini sebagai isim mufrad yg di jarkan.

Kenapa?  لِأَنَّهُ سُبِقَ بِحَرْفِ جَرٍّ, Karna dia di dahului oleh huruf jar dan tanda jarnya nya adalah kasroh.

_____________

فَوَاءِدُ وَتَنْبِيْهَاتٌ

Faedah-faidah dan perhatian penting:

💦 ١ – يُعْرَبُ الاِسْمُ المُفْرَدُ بِا الحَرَكَاتِ المُقَدَّرَةِ، اِذَاكَانَ مُعْتَلاًّ. , نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَي ,فَأَلْقَى مُوْسَى عَصَاهُ

1⃣ Isim mufrad itu, mu’rab nya dengan harokat muqaddarah apabila ia diakhiri oleh huruf illat.

Contohnya Firman Allah Ta’alaa :

فَأَلْقَى مُوْسَى عَصَاهُ

“Maka Musa melempar tongkatnya”

Lihat yang menjadi syahid dalam ayat ini adalah kata Musa. Kata *muusaa* ini merupakan isim mufrad yg di akhiri oleh huruf ilat yaitu alif dan kalo kita ngi’rob musa, misalkan:

🔹جَاءَ مُوْسَى

🔹رَأَيْتُ مُوْسَى

🔹مَرَرْتُ بِمُوْسَى

Secara dzohir tidak tampak adanya perbedaan, sama-sama مُوْسَى ,

jadi bukan مُوْسَيُ, مُوْسَيَ, مُوْسَيِ,  ❌

tapi sama-sama musa, mau dia rofa, nashab atau pun jar.

Jadi saat kita mengi’rob tetap kita bilang tanda nya dhommah, hanya saja  dhommah muqaddaroh kalau dia rofa. Misalkan:

↩ جَاءَ مُوْسَى

Setelah kita mengi’rab,

📌 جَاءَ nya = fi’il madhi

📌 مُوْسَى nya =  فَاعِلٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ضَمَّةٌ … ⬅

Tapi dilanjutkan,

➡ … مُقَدَّرَةٌ عَلَى الأَلِفِ

” Ditakdirkan atas alif ”

Kemudian :

↩ رَأَيْتُ مُوْسَي

Kita katakan tanda nashobnya apa? Fathah.

Musa (sebagai) maf’ulbih, ini manshub.

dan tandanya apa? Tentunya Fathah, cuma muqaddaroh.

مُوْسَى : مَفْعُولٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ *فَتْحَةٌ مُقَدَّرَةٌ عَلَي الأَلِف

Begitupun ketika majrur, tetep kita bilang dia kasroh,

↩  مَرَرْتُ بِمُوْسَى

بِمُوْسَى : البَاءُ حَرْفُ جَرٍّ،

مُوْسَى : مَجْرُوْرٌ بِالبَاءِ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ *كَسْرَةٌ مُقَدَّرَةٌ عَلَى الأَلِفِ

Kalau dalam versi irob yang lebih lengkap di tambahkan,.  ُمِنْ ظُهُوْرِهَا التَّعَذُّر

yang mencegah dari penampakan dhommah, penampakan kasroh, dan penampakan fathah, apaa ?  التَّعَذُّرُ “Udzur”.

📌 Yang namanya udzur tidak akan bisa muncul harokatnya,  kenapa? Karena yg nama nya alif tidak akan bisa di kasih harokat. Kalau alif dikasih harokat nama nya bukan alif, tapi nanti namanya hamzah.

Faedah yang kedua:

💦 ٢. يُجَرُّ الاِسْمُ المُفْرَدُ بِاالفَتْحَةِ نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ إِذَا كَانَ غَيْرَ مُنْصَرِفٍ وَلَهُ مَوَاضِعُ ذَكَرْنَاهَا فِيْ آخِرِ الكِتَابِ، مِنْهَا إذَا كَانَ عَلَمًا أَعْجَمِيًّا

👈 نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى :

📌 وَاَوْحَيْنَآ إِلَى إِبْرَاحِيْمَ أَوْ كَانَ عَلَمًا لِمُؤَنَّثٍ، نَحْوُ، إِنَّ أَوَّلَ بَيْتِ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا

2⃣ Isim mufrad itu dijarkan dengan fathah sebagai ganti dari kasroh.

Ini nanti irob itu ada yg :  مُقَدَّرَةٌ dan نِيَابَةً .

📝 Kapan isim mufrad ini irobnya

نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ ؟

إِذَا كَانَ غَيْرَ مُنْصَرِفٍ

Apabila dia adalah ghairu munsharif.

Jadi apabila Isim mufradnya ia  ghairu munsharif, tanda jarnya adalah fathah

نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

sebagai ganti dari kasroh.

Dan keadaan ini memiliki beberapa tempat. Yang kami sebutkan pada akhir kitab ini.

Jadi nanti kata beliau, beliau akan menjelaskan keadaan dimana ghairu munsharif dari isim-isim yg mufrad. Nanti dijelaskan apa saja yg ghairu munsharif.

__________________

مِنْهَا إذَا كَانَ عَلَمًا أَعْجَمِيًّا

Jadi isim mufrad itu ada munsharif dan ghairu munsharif, nanti Insya Allah oleh pengarang kitab al Mumti’ akan dijelasakan pada akhir kitab.

Yang termasuk ghairu munsharif:

🅰 إِذَا كَانَ عَلَمًا أَعْجَمِيًّا،

🔘 Apabila isim mufrad tersebut merupakan nama أَعْجَمِيًّا nama orang non arab.

نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى :

Contohnya firmah Allah Ta’ala :

( وَاَوْحَيْنَآ إِلَى إِبْرَاحِيْمَ )

“Dan kami wahyukan kepada Ibrahim”.

Ibrahim ini bukan bahasa arab.

✒ Nama-nama yg bukan bahasa arab, nama-nama ْأَعْجَم  yang lebih dari 3 huruf, itu ghairu munsharif.

Contoh nya:

وَ اَوْحَيْنَآ إِلَى إِبْرَاحِيْمَ  ✅

bukan

وَ اَوْحَيْنَآ إِلَى إِبْرَاحِيْمِ ❌

Ini menunjukkan bahwa ibrahim merupakan ghairu munsharif dan tanda jar nya adalah fathah. Dan cara mengi’rab nya seperti ini:

إِلَى : حَرْفُ جَرٍّ

إِبْرَاحِيْمَ: مَجْرُوْرٌ بِ( إِلَى) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ فَتْحَةٌ نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

Perhatikan cara mengi’rab

Kalau isim mufrad diakhiri oleh huruf illat, kita katakan tanda irob nya adalah tanda asli nya tapi muqaddarah.

Seperti tadi misalnya musa موسى, kita katakan kalau dia rofa’ kita katakan ضَمَّةٌ tapi muqaddarah عَلَى الأَلِفِ.

Tapi kalau dia ghairu munsharif, kita katakan dia tandanya sebagaimana yang kita lihat

📌 إِلَى إِبْرَاحِيْمَ ini kan fathah,

Kita katakan bahwa tanda jarnya adalah fathah tapi bukan muqaddarah karena tidak di takdirkan,

tapi نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ .

Jadi ini kaidah cara mengibrob.

وإِلَى إِبْرَاحِيْمَ:

إِبْرَاحِيْمَ : مَجْرُوْرٌ بِ( إِلَى) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ فَتْحَةٌ نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

Yang kedua, yang juga termasuk dari ghairu munsharif adalah

🅱 أَوْ كَانَ عَلَمًا لِمُؤَنَّثِ

🔘 Nama bagi muannats ➖ nama bagi wanita.

Semua nama untuk wanita kecuali هِنْدٌ itu juga ghairu munsharif, muannats disini baik untuk manusia “perempuan”, ataupun muannats yang dianggap perempuan.

Kebetulan disini contoh yg diambil :

نَحْوُ : إِنَّ أَوَّلَ بَيْتِ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَك

Nama kota. بِبَكَّةَ

“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia adalah Makkah atau ka’bah yg di berkahi”

Jadi yg menjadi contoh بِبَكَّةَ kalau kita irob ghairu munsharif ini,

الباءُ: حَرْفُ جَرٍّ

بَكَّةَ: مَجْرُوْرٌ بِالبَاءِ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ فَتْحَةٌ نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

Sebagai ganti dari kasrah. Jadi kita tidak bilang muqaddarah, tidak ditakdirkan, tapi gantinya kasrah.

وَعَلَامَةُ جَرِّهِ فَتْحَةٌ نِيَابَةً عَنِ الكَسْرَةِ

“Dan tanda jarnya adalah fathah sebagai ganti bagi kasrah.”

✒ Materi Program BINAR

Al Mu’robat Bag. 1

📚 Dars 14

Bismillahirrahmanirrahim

قَلَ المُصَنِّفُ ( رحم الله تعالى) :

Berkata Pengarang, semoga Allah merahmatinya

فَصْلٌ : المُعْرَبَاتُ قِسْمَانِ : قِسْمٌ يُعْرَبُ بِالحَرَكَاتِ، وَقِسْمٌ يُعْرَبُ بِالحُرُوفِ

Fasal, sebuah pembahasan.

المُعْرَبَاتُ قِسْمَانِ

Kata yang mu’rab itu ada 2 kelompok.

1⃣ Kelompok yang pertama, mu’rab dengan harakat dan

2⃣ Kelompok yang kedua, mu’rab dengan huruf.

Jadi bab المُعْرَبَاتُ ini merupakan intisari dari

bab ( معرفة علامات الإعراب )

Jadi ini merupakan intisari dari bab mengenal tanda-tanda i’rab, dimana kalo di bab mengenal tanda-tanda irab, kita membahas tentang tanda asli dan tanda far’i dari setiap i’rab, dari mulai rofa’, nashab, jar dan jazm.

Adapun fokus pembahasan dari bab al-mu’robat  ini, untuk menjelaskan bahwasannya diantara kata yang mu’rab itu, ada yang mu’rabnya dengan harakat, ada yang mu’rabnya dengan huruf.

Artinya ada yang berubah-ubah harakatnya, hurufnya tidak, adapula yang berubah hurufnya, tapi harakatnya tidak berubah.

Jadi ini adalah inti  pembahasan dari bab al-mu’robat

فَالَّذِ يُعْرَبُ بِالحَرَكَاتِ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ

Maka yang mu’rabnya dengan harakat itu ada 4 macam,

: الاسْمُ المُفْرَدُ، وَجَمْعُ التَّكْسِيْرِ، وَجَمْعُ المُؤَنَّثِ السَّالِمُ، وَالفِعْلُ المُضَارِعُ الَّذِي لَمْ يَتَّسِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ

📒 4 kata yang mu’rabnya dengan harakat, adalah

🔹1. Yang pertama isim mufrad, kemudian

🔹2. Jamak taksir,

🔹3. yang ketiga Jamak muannats salim

🔹4. Dan yang keempat adalah Fiil mudhari’ yang tidak bersambung dengan akhiran sesuatu.

Sebagai contoh.

1.🔹Isim mufrod ini yang berubah-ubah adalah harakat nya.  Seperti:

جَاءَ زَيْدٌ.

رَأَيْتُ زَيْدًا.

مَرَرْتُ بِزَيْدٍ.

Lihat harakatnya jelas berubah. Zaidun, Zaidan, Zaidin.

2.🔹Begitu pula jamak taksir. Misalnya :

جَاءَ الرِّجَالُ

رَأَيْتُ الرِّجَالَ

مَرَرْتُ بِالرِّجَالِ

Lihat harakatnya berubah-ubah. Dhommah, fathah, kasrah.

3.🔹Yang ketiga jamak muannats salim, contohnya:

جَاءَتِ المُسْلِمَاتُ

رَأَيْتُ المُسْلِمَاتِ

مَرَرْتُ بالمُسْلِمَاتِ

Lihat harakatnya berubah-ubah, dhommah dan kasrah. Dan memang jamak muannats salim ini termasuk yang unik, karena jamak muannats salim ini anti-fathah.

Dia hanya ada dua pilihan dhommah atau kasrah. Ketika rofa’ dia dhommah, ketika jar jelas dia kasrah, tapi ketika nashab bukannya fathah tapi dia malah kasrah juga.

4.🔹Kemudian yang ke empat adalah Fi’il mudhari’ yang tidak bersambung dengan akhiran sesuatu. Contohnya, yang lazim aja, misalnya:

يَذْهَبُ زَيْدٌ

لَنْ يَذْهَبَ زَيْدٌ

لَمْ يَذْهَبْ زَيْدٌ

Lihat disini fi’il mudhori’ يَذْهَبُ berubah-ubah,

– ada yang dhommah يَذْهَبُ, kemudian

– ada yang fathah لَنْ يَذْهَبَ  karena didahului oleh huruf nashab.

Kemudian,

– ada yang sukun seperti لَمْ يَذْهَبْ karena didahului oleh huruf jazm.

Ini menujukkan bahwa keempat kelompok ini, isim mufrad, jamak taksir, jamak muannats salim, dan fi’il mudhori’ yang tidak bersambung dengan akhiran sesuatu, ini mu’rabnya dengan harakat, artinya yang berubah adalah harakatnya.

____________

Kemudian Mushonnif meneruskan

وَكُلُّهَا تُرْفَعُ بِا الضَّمَّةِ وَ تُنْصَبُ بِالفَتْحَةِ وَ تُخْفَضُ بِالكَسْرَةِ وَ تُجْزَمُ بِالسُّكُوْنِ،

Dan semuanya itu

– dirofa’kan dengan dhommah,

– di nashabkan dengan fathah,

– dijarkan dengan kasrah,

– dijazmkan dengan sukun.

Tentu yang disebutkan ini semuanya adalah tanda asli dari rofa, nashab, jar, dan jazm.

وَ خَرَجَ عَنْ ذَلِكَ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ :

Dan keluar dari kondisi yang asli demikian, tiga sesuatu.

Artinya,

– yang rofa’nya bukan dengan dhommah,

– yang nashabnya bukan dengan fathah,

– yang jarnya bukan dengan kasrah,

👉 ada tiga.

📓  جَمْعُ المُؤَنَّثِ السَّالِمُ يُنْصَبُ بِا الكَسْرَةِ،

🔸1. jamak muannats salim ini dinashabkan dengan kasrah, harusnya kan kalau kita bicara nashab tandanya fathah, tapi jamak muannats salim ini keluar dari kondisi asli, dimana dia ketika nashab tandanya malah kasrah.

📓 وَالْاِسْمُ الَّذِي لَايَنْصَرِفُ يُخْفَضُ بِالفَتْحَةِ

🔸2. Yang kedua, kata yang menyimpang dari keadaan awal, adalah isim ghairu munsharif itu di-jarkan dengan fathah, jadi bukannya dengan kasrah, isim ghairu munsharif dijarkan dengan fathah.

📓 وَالفِعْلُ المُضَارِعُ المُعْتَلُّ الٓاخِرِ يُجْزَمُ بِحَذْفِ آخِرِهِ

🔸3. Dan fi’il mudhori’ yang mu’tal akhirnya dijazmkan dengan membuang akhirnya. Yakni dengan membuang huruf illat nya.

☘ Kita ambil contoh jamak muannats salim itu ketika nashab bukannya ➡ رَأَيْتُ المُسْلِمَاتَ ❌

Tapi ➡ رَأَيْتُ المُسْلِمَاتِ ✔

☘ Begitupun isim ghairu munsharif ketika jar bukannya kasrah malah fathah.

Seperti ➡  مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ ✔

Bukan ➡ مَرَرْتُ بِأَحْمَدِ ❌

☘ Dan fi’il mudhori’ yang mu’tal akhirnya, ketika jazm itu bukannya dengan sukun, tapi dengan membuang huruf illatnya.

Contohnya misalkan :

Asalnya ➡ يَدْعُو , ketika ada لَمْ

Menjadi ➡ لَمْ يَدْعُ

➡ يَرْمِيْ   ada ي nya, ketika ada لَمْ dibuang ي nya

➡ لَمْ يَرْمِ .

Kemudian,

➡ يَخْشَى  ada alif maqshurohnya, ketika ada لَمْ menjadi :

➡ لَمْ يَخْشَ .

Jadi dibuang huruf ilat yang terakhir.

_________________

📓 الشَّرْحُ: هَذَا الفَصْلُ لَخَّصَ فِيْهِ المُصَنِّفُ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ فِي بَابِ عَلَامَاتِ الإِعْرَابِ.

Penjelasan.

Seperti yang ana jelaskan tadi, bahwasanya bab fashal tanda mu’rabati ini meringkas,  Mushonnif ini meringkas seluruh pembahasan yang telah terdahulu didalam bab mengenal tanda-tanda i’rab.

فَقَالَ : الْمُعْرَبَاتُ قِسْمَانِ

📝 Maka Mushonnif berkata, mu’rab itu ada dua kelompok.

📓 قِسْمٌ يُعْرَبُ بِالْحَرَكَاتِ,

Yang pertama mu’rab nya dengan harakat,

👈 : الضَّمَّةِ ، وَالْفَتْحَةِ ، والْكَسْرَةِ ، وَالسُّكُنِ

Harakat dhommah, fathah, kasrah, dan sukun

📓 وَقِسْمٌ يُعْرَبُ بِالْحُرُوْفِ

Dan satu kelompoknya lagi mu’rab nya dengan huruf

👈 : الْوَاوِ ، وَالْاَلِفِ ، وَالْيَاءِ ، وَالنُّوْنِ.

Baik hurufnya wawu, alif, ya, dan nun

📓 وَبَدَأَ الْمُصَنِّفُ بِذِكْرِ الْمُعْرَبَاتِ بِالْحَرَكَاتِ ؛ لِأَنَّهَا الأَصْلُ.

Dan Mushonnif yaitu pengarang memulai dengan menyebutkan yang mu’rab nya dengan harakat. Karena mu’rab dengan harakat merupakan asal.

📝 Jadi memang hukum asalnya kata itu berubah harakatnya.

Adapun hukum turunannya atau hukum cabangnya baru nanti berubah hurufnya. Seperti itu

📊 Disini kita bisa lihat ada tabel yang meringkas, disitu ada tabel yang meringkas bahwasannya yang mu’rab dengan harakat itu ada empat, yaitu :

1⃣. isim mufrad, kemudian

2⃣. jamak taksir,

3⃣. jamak muannats salim, dan

4⃣. fi’il mudhori’.

Kemudian disitu ada detail lagi,

1⃣. isim mufrad itu ada yang munsharif ada yang ghairu munsharif.  Yang munsharif seperti Zaidun, kemudian yang ghairu munsharif seperti Ahmadu.

☘ Kemudian ketika rofa’ isim mufrad yang munsharif

📌 tandanya dhommah,  جَاءَ زَيْدٌ.

Begitu pula ghairu munsharif sama

æ📌 جَاءَ أَحْمَدُ

☘ Kemudian ketika nashab isim mufrad yang munsharif ( yang bertanwin ) tandanya

📌 fathah, رَأَيْتُ زَيْدًا.

Begitu pula yang ghairu munsharif, sama

📌 fathah juga,  رَأَيْتُ أَحْمَدَ

☘ Perbedaannya terlihat ketika jar, kalo isim mufrad yang munsharif ketika majrur

📌dia kasrah  مَرَرْتُ بِزَيْدٍ.

Kalau ghairu munsharif ketika jar

📌dia malah fathah  مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ

2⃣. Yang kedua jamak taksir. Jamak taksirpun bisa kita bagi lagi menjadi dua. Ada jamak taksir yang munsharif, ada jamak taksir yang ghairu munsharif.

🌿 Yang munsharif seperti رِجَال , ketika rofa’ dia dhommah’.

📌 Contohnya  جَاءَ الرِّجَالُ , Ini dhommah

Kemudian yang ghairu munsharif, misalkan مَسْجِد jamaknya adalah مَسَاجِدُ  ini gak boleh tanwin, karena  مَسَاجِدُ wazannya sighot munthahal jumu’.

Misalkan kita mengatakan ,

📌 “ini adalah masjid-masjid”   هَذِهِ مَسَاجِدُ ✔

Nggak boleh  هَذِهِ مَسَاجِدٌ ❌

🌿 Kemudian ketika nashab,

📌dia fathah  رَأَيْتُ الرِّجَالَ

Ini untuk yang munsharif, fathah.

Begitupun yang ghairu munsharif ketika nashab fathah juga.

📌Misalkan  رَأَيْتُ مَسَاجِدَ

Bedanya dia tidak boleh tanwin,

✔ kalau tanpa al,  رَأَيْتُ مَسَاجِدَ ,

✔ Atau  رَأَيْتُ المَسَاجِدَ .

Keduanya boleh.

🌿 Bedanya terlihat ketika jar, kalau yang munsharif ketika jar tetap kasrah, kembali ke hukum asalnya

📌 seperti  مَرَرْتُ بِالرِّجَالِ

Tapi kalau ghairu munsharif ketika majrur dia bukannya kasrah malah fathah, karena semua yang ghairu munsharif baik dia mufrad maupun jamak taksir, ketika majrur dia fathah.

📌 Misalnya  أَنْظُرُ إلى مَسَاجِدَ

“Saya melihat kepada masjid-masjid”

Maka مَسَاجِدَ ini tidak dibaca “masaajidi”. Karena ghairu munsharif ketika jar fathah. Thoyyib

3⃣. Kemudian yang ketiga yang mu’rab dengan harakat sesuai dengan tabel ini, jamak muannats salim.

🍃 Jamak muannats salim ini ketika rofa’ dhommah,

📌contohnya  جَاءَتِ المُسْلِمَاتُ

🍃 Ketika nashab dia kasrah, dan ini memang *penyimpangan*. Jadi kita lagi bahas nashab bukannya fathah

📌 dia malah kasrah  رَأَيْتُ المُسْلِمَاتِ

🍃 Dan ketika jar dia tetap kasrah, kembali ke hukum asalnya

æ📌 مَرَرْتُ بِالمُسْلِمَاتِ

4⃣. Kemudian yang keempat yang mu’rab dengan harakat adalah fi’il mudhori’.  Tentunya fi’il mudhori’ yang tidak bersambung dengan akhiran sesuatu.

Fi’il mudhori’ ini ada 2,

✒1. ada fi’il mudhori’ yang shohih, maksud shohih disini bukannya shohih dari sisi huruf penyusunnya, tapi shohih akhir.

✒1. ada yang shohih akhir

✒2. ada yang mu’tal akhir.

☘ Fi’il mudhori’yang shohih akhirnya, ketika dia rofa’ tandanya dhommah.

Yang shohih contohnya يَذْهَبُ , huruf terakhirnya adalah ب dan ini adalah shohih, bukan mu’tal.

💧  يَذْهَبُ زَيْدٌ .

Begitupun yang mu’tal ketika rofa’ dia dhommah,

📌 misalkan  يَدْعُو زَيْدٌ

☘ Kemudian ketika nashab dia fathah, misalnya kemasukkan huruf لَنْ

لَنْ يَذْهَبَ زَيْدٌ

Kemudian untuk fi’il yang mu’tal akhirnya, ketika dia nashab dia juga fathah.

📌 Misalnya   لَنْ يَدْعُوَ زَيْدٌ

Hanya saja untuk fi’il yang mu’tal akhirnya  ini ada penjabarannya. Fi’il mu’tal akhir itu ada yang akhirnya alif, wawu, dan ya.

🔹📝 Kalo yang akhirnya alif, ini apapun yang terjadi, dibacanya yah seperti itu.

📌Misalnya يَخْشَى bacanya➡ لَنْ يَخْشَى

🔹Adapun kalo yang diakhiri و,

📌asalnya  يَدْعُو , ketika ada لَنْ

📌jadi fathah  لَنْ يَدْعُوَ

🔹Begitupun yang diakhiri ي,

📌  يَرْمِيْ , Ketika ada لَنْ dia dibacanya

📌  لَنْ يَرْمِيَ

Tapi kalo لَنْ يَخْشَى  selamanya  “yakhsya” sekalipun dia didahului oleh huruf nashab tetep bacanya  “yakhsya”.  Karena yang namanya alif, tidak mungkin kita kasih harakat, kalo alif dikasih harakat bukan alif, namanya hamzah.

☘Kemudian ketika jazm fi’il mudhori’ yang shohih itu sukun tandanya. Seperti

📌  يَذْهَبُ زَيْدٌ , ketika ada لَمْ (huruf jazm) menjadi

📌  لَمْ يَذْهَبْ زَيْدٌ

Adapun fi’il mudhori’ yang mu’tal akhirnya ketika ada لَمْ dibuang huruf illatnya.

📌  يَدْعُو  menjadi➡  لَمْ يَدْعُ

📌  يَرْمِي  menjadi➡  لَمْ يَرْمِ

📌 يَخْشَى menjadi➡ لَمْ يَخْشَ

✒ Materi Program BINAR

Penjelasan I’rab: Nashab, Jar, dan Jazm

📚 Dars 13

Bismillahirrahmanirrahim

مَعْرِفَةِ عَلاَمَاتِ الْإِعْرَابِ

Mengenal Tanda-tanda I’rab

NASHAB

قاَلَ المُصَنّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى:

Mushonnif berkata :

۞ وَ لِلنَّصْبِ خَمْسُ عَلَامَاتٍ : وَهِيَ : الفَتْحَةُ، وَالأَلِفِ، وَالكَسْرَةُ، وَاليَاءُ، وَحَذْفُ النُّوْنِ.

Dan nashab itu memiliki lima tanda,

1⃣   Fathah

2⃣   Alif

3⃣   Kasrah

4⃣   Ya’

5⃣   Membuang nun, حَذْفُ النُّوْن

_______________

📕 ١- الفَتْحَةُ : وَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلنَّصبِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ ،

وَهِيَ :

📌 الاِسْمُ المُفْرَدُ :

1. Yang pertama Fathah, dan ia menjadi tanda bagi nashab pada tiga tempat, yaitu:

1.🔸 Isim mufrad

نَحْوُ : أَفَادَ المُعَلِّمُ الطَّالبَ،

“Seorang guru memberi faidah kepada seorang siswa”

فَالطَّالِبَ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَ عَلَامَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ

Maka kata الطَّالبَ dalam lafadz أَفَادَ المُعَلِّمُ الطَّالبَ, menjadi maf’ulbih, dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah fathah.

📌 وَجَمْعُ التَّكْسِيْرِ:

Tempat yang kedua, yakni yang ketika nashab fathah adalah

2.🔸 Jamak Taksir

نَحْوُ: أَفَادَ المُعَلِّمُ الطُّلاَّبَ،

فَالطُّلَّابَ: مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ.

Contoh jamak taksir :

أَفَادَ المُعَلِّمُ الطُّلاَّبَ,

“Seorang guru memberi faidah kepada siswa²”.

Maka الطُّلاَّبَ dalam kalimat  أَفَادَ المُعَلِّمُ الطُّلاَّبَ, menjadi maf’ulbih, dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah fathah

📌 وَالْفِعْلُ المُضَارِعُ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِ نَاصِبٌ، نَحْوُ: لَنْ يَكْتُبَ الطَّالِبُ، فَيَكْتُبَ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَنْصُوْبٌ وَ عَلاَمَةُ نَصْبِهِ الفَتْحَةُ.

Yang ketiga, yakni yang ketika nashab tandanya fathah adalah

3.🔸 Fi’il mudhari apabila kemasukan amil nashab

Contohnya : لَنْ يَكْتُبَ الطَّالِبُ

” Seorang siswa tidak akan menulis.”

Maka يَكْتُبَ adalah fi’il mudhari yang dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah fathah.

📝 Tapi perlu diingat bahwa fi’il mudhari yang ketika nashab fathah, hanyalah fi’il mudhari yang:

1🔰    Kemasukan huruf nashab

2🔰    Dia tdk bersambung akhirnya dengan sesuatu, yakni yang bukan af’alul khamsah.

Karena kalau al af’alul khamsah, kemasukan huruf nashab seperti لَنْ, yang terjadi bukannya fathah tetapi dibuang nunnya.

Misalkan : يَكْتُبَانِ –  تَكْتُبَانِ – يَكْتُيُوْنَ –  تَكْتُبُوْنَ –  تَكْتُيِيْنَ,

Ini kalau ada لَنْ, nunnya dibuang,

لَنْ يَكْتُبَا – لَنْ تَكْتُبَا –   dan seterusnya

Jadi fi’il mudari yang ketika nashab tandanya fathah hanyalah fi’il mudhari yang akhirnya tidak bersambung dengan akhiran sesuatu, yaitu fi’il mudhari dhamir :

هُوَ – هِيَ – أَنْتَ – أنَا

______________

📕 ٢- الأَلِفُ:

2. Tanda nashab yang kedua adalah Alif

:  وَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي الاَسْمَاءِ الخَمْسَةِ

🔸Alif menjadi tanda bagi nashab hanya pada isim yang lima.

Jadi yang ketika nashab, alif itu cuma satu yaitu pada isim yang lima.

نَحْوُ:  أَفَادَ المُعَلِّمُ أَبَاكَ،

Contohnya, “seorang guru memberikan faidah kepada bapakmu”.

فَأَبَاكَ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الاَلِفِ .

Maka أَبَاكَ adalah maf’ulbih, yang dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah alif.

_______________

📕  ٣- الكَسْرَةُ : وَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي  جَمْعِ المُؤَنَثِ السَّالِم:

3. Tanda nashab yang ketiga adalah Kasrah

🔸Dan ia menjadi tanda bagi nashab hanya pada Jamak muannats salim.

Kita tahu bahwasannya kasrah ini merupakan tanda asli bagi jar. Jadi memang jamak muannats salim agak menyimpang dari kaidah umum.

نَحْوُ:  أَفَادَتْ هِنْدٌ الطَّالِبَاتِ:

“Hindun memberikan faidah kepada para siswi²”

فَالطَّالِبَاتِ: مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الكَسْرَةُ

Maka lafadz الطَّالِبَاتِ menjadi maf’ulbih, dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah kasrah.

______________

📕 ٤ – الياَءُ:

4⃣. Tanda nashab yang keempat adalah Ya’.

وَتَكُوْنُ عَلاَمَةً لِلنَّصْبِ فِيْ مَوْضِعَيْنِ

Dan ya’ ini menjadi tanda bagi nashob pada 2 tempat.

Artinya, ada dua jenis kelompok kata dalam kalimat yang ketika nashab tandanya adalah ya’. Yang pertama,

🔰 فِيْ  المُثَنَّى

1.🔹Pada mutsanna

: نَحْوُ : أَفَادَالمُعَلِّمُ الطَّالِبَيْنِ

Contohnya :  “seorang guru memberi faidah kepada dua orang siswa”.

فَالطَّالِبَيْنِ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوبٌ وَعَلاَمَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ

Maka الطَّالِبَيْنِ , maf’ul bih, dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah ya’.

Kita tahu bahwasanya mutsanna memiliki dua versi ya, versi yang alif, dan versi yang ya’.

Nah ketika nashab, mutsanna ini yang ya’, yang الطَّالِبَيْنِ, bukan yang الطَّالِبَانِ, karena الطَّالِبَانِ, ini merupakan versi yang rafa’.

🔰 وَفِى جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ

Kedua yang ketika nashab tandanya ya’ adalah

2.🔹 Jamak mudzakkar salim.

نَحْوُ: أَفَادَ المُعَلِمُ المُجْتَهِدِيْنَ

“Seorang guru memberikan faidah kepada orang-orang yang rajin/orang2 yang bersungguh-sungguh”

فَالمُجْتَهِدِيْنَ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ اليَاءُ

Maka lafadz المُجْتَهِدِيْنَ, maf’ul bih, dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah ya’.

_______________

Kemudian tanda yang kelima

📕 ٥- حَذْفُ النُّوْنَ:

5. Membuang nun

وَيَكُوْنُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِيْ الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ :

Ia menjadi tanda bagi nashab pada fi’il-fi’il yang lima:

نَحْوُ : لَنْ يَكْتُبَا، وَلَنْ يَكْتُبُوْا، وَلَنْ تَكْتُبِيْ

Contohnya :  لَنْ يَكْتُبَا، لَنْ يَكْتُبُوْا، لَنْ تَكْتُبِيْ,

Asalnya : يَكْتُبَانِ –  يَكْتُيُوْنَ–  تَكْتُيِيْنَ

Tapi ketika ada لَنْ, nunnya dibuang.

فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الأَفْعَالِ فِعْلٌ مُضَارِعٌ مِنَ الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ مَنْصُوْبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ حَذْفُ النُّوْنِ.

Maka setiap dari fi’il-fi’il yang lima ini, adalah  fi’il  mudhari’  dari kelompok al af’alul khamsah. Fi’il-fi’il yg lima dinashabkan, dan tanda nashabnya adalah membuang  nun.

__________________________

KHAFADH

📚  وَلِلْخَفْضِ: ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ

Dan khafadh/jar itu memiliki tiga tanda.

وَهِيَ : اَلْكَسْرَةُ، وَاَلْيَاءُ، وَاَلْفَتْحَةُ.

Yaitu:

1.    Kasrah

2.   Ya’, dan

3.    Fathah

Tentu tanda aslinya adalah kasrah. Adapun tanda far’inya adalah ya’ dan fathah.

📓 ١- اَلْكَسْرَةُ : وَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلْخَفْضِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ، وَهِيَ:

: الْاِسْمُ الْمُفْرَدُ

1.   Kasrah ini menjadi tanda bagi khafadh pada tiga tempat.

1.🚏 Yang pertama isim mufrad.

Isim mufrad ini memang langganan tanda asli ya. Ketika kita bahas rafa’, isim mufrad ini dhammah, ketika nashab, dia fathah, dan ketika jar, dia kasrah. Jadi memang isim mufrad ini selalu tandanya tanda asli.

نَحْوُ: سَلَّمْتُ عَلَى الطَّالِبِ:

Contohnya, “aku mengucapkan salam kepada seorang siswa”.

فَاالطَّالِبِ إِسْمٌ مَجْرُرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ

Maka الطَّالِبِ, dalam kalimat سَلَّمْتُ عَلَى الطَّالِبِ, adalah isim yang dijarkan, tentunya dengan huruf عَلَى  dan tanda jarnya adalah kasrah.

: وَجَمْعُ التَّكْسِيْرِ

2.🚏 Yang kedua, yang ketika khafadh tandanya kasrah, adalah Jamak taksir

نَحْوُ : سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلَّابِ :

Contohnya, “aku mengucapkan salam atas para siswa”

فَالطُّلَّابِ : إِسْمٌ مَجْرُرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ

Maka الطُّلَّابِ, isim yang dijarkan, dan tanda jarnya adalah kasrah.

3.🚏 Yang ketiga, yang ketika khafadh tandanya kasrah,

: وَجَمْعُ المُؤَنَّثِ السَّالِمُ

adalah Jamak muannats salim

نَحْوُ: سَلَّمَتْ هِنْدٌ عَلَى الطَّالِبَاتِ

Contohnya, “Hindun mengucapkan salam kepada para siswi”.

فَالطَّالِبَاتِ : اسْمٌ مَجْرُورٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الكَسْرَةُ

Maka الطَّالِبَاتِ, isim yang dijarkan, dan tanda jarnya adalah kasrah.

📓 ٢- اليَاءُ:

2⃣. Kemudian, tanda jar yang kedua adalah Ya’

وَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلْخَفْضِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ:

Dan ia menjadi tanda bagi khafadh, pada tiga tempat.

  • فِي الأسْمَاءِ الْخَمْسَةِ

1.☑ Yang pertama pada Isim yang lima.

Kita tahu bahwa isim yang lima ini merupakan kelompok kata yang paling banyak variasi perubahannya.

© Ketika rafa’ dia wawu, أَبُوْكَ – أَخُوْكَ – حَمُوْكَ,

© Kemudian ketika nashab dia alif, أَباكَ – أَخَاكَ – حَمَاكَ,

© Ketika jar dia ya’, أَبِيْكَ – أَخِيْكَ – حَمِيْكَ, dan sebagainya

:  نَحْوُ: سَلَّمْتُ عَلَى أَبِيْكَ

Contohnya  : “Aku mengucapkan salam kepada ayahmu.”

فَأَبِيْكَ:  اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْيَاءُ.

Maka أَبِيْكَ, isim yang dijarkan, dan tanda jarnya adalah ya’.

  • وَفِيْ المُثَنَّى

2.☑ Yang kedua, yang ketika jar tandanya ya’ adalah mutsanna

نَحْوُ: سَلَّمْتُ عَلَى الطَّالِبَيْنِ

“Aku mengucapkan salam kepada dua orang siswa”

فَاالطَّالِبَيْنِ: اِسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ

Maka الطَّالِبَيْنِ, isim yang dijarkan dan tanda jarnya adalah ya’.

Kesimpulannya mutsanna ini,

® Ketika rafa’ dia alif,جَاءَ الطَّالِبَانِ,

® Ketika nashab dan jar tandanya ya’,

√  رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ-

√  سَلَّمْتُ عَلَى الطَّالِبَيْنِ

Seperti itu.

  • وَفِي جَمْعِ المُذَكَّرِ السّالِم

نَحْوُ: سَلَّمْتُ عَلَى المُجْتَهِدِيْنَ

3.☑ Yang ketiga, yang ketika khafadh tandanya ya’, adalah Jamak mudzakkar salim.

Contohnya :  سَلَّمْتُ عَلَى المُجْتَهِدِيْنَ,

” aku mengucapkan salam kepada orang2 yang bersungguh-sungguh.”

فَالمُجْتَهِدِيْنَ: اسْمٌ مَجْرُوْرٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ اليَاءُ

Maka المُجْتَهِدِيْن adalah isim yang dijarkan majrur dan tanda jarnya adalah ya’.

Kesimpulannya untuk jamak mudzakkar salim,

© ketika rafa’ dia wawu, جَاءَ المُجْتَهِدُوْنَ,

© ketika nashab dan jar dia adalah ya’,

رَأَيْتُ المُجْتَهِدِيْنَ – سَلَّمْتُ عَلَى المُجْتَهِدِيْنَ

________________

📓 ٣-  الفَتحَةُ :

3⃣.  Tanda jar yang ketiga, adalah fathah

الفَتْحَةُ:  وَتَكُونُ عَلَامَةً لِلخَفضِ: فِي *الاسمِ الذِي لَا يَنصَرِفُ*

Fathah ini menjadi tanda bagi khofadh/jar pada isim yang tidak boleh bertanwin.

Jadi isim ghairu munsharif, ketika jar bukannya kasrah dia malah fathah.

Ini penyimpangan ya, seperti jamak muannats salim ketik nashab bukannya fathah malah kasrah. Dan ini kebalikannya. Isim ghairu munsharif, ketika jar bukannya kasrah tapi malah fathah.

أَي : الَّذِي لَا يَقبَلُ التَّنوِينَ وَ لَا الكَسرَةَ

Maksudnya, yang dimaksud dengan isim ghairu munsharif adalah yang tidak menerima tanwin dan tidak pula kasrah.

📝 Jadi definisi yg paling lengkap bagi ghairu munsharif, bukan hanya yang tidak boleh tanwin, tapi selain tidak boleh tanwin, dia juga tidak boleh kasrah.

Meskipun nanti, kalau kita pelajari lebih lanjut, ada keadaan yg membolehkan ghairu munsharif ketika jar itu tetap kasrah tapi insya Allah nanti ada pembahasannya.

نَحْوُ : سَلَّمتُ عَلَى إبرَهِيمَ:

Contoh:  سَلَّمتُ عَلَى إِبرَهِيمَ, aku mengucapkan salam kepada Ibrahim”.

فَإِبرَهِيمَ : اسمٌ مَجرُورٍ ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الفَتحَةُ.

Maka  إبرَهِيمَ, adalah isim dijarkan, dan tanda jarnya adalah fathah.

_____________________________

JAZM

I’rob terakhir adalah jazm.

وَ لِلجَزْمِ عَلاَمَةِ:

Ini sebagai tanbih (pengingat) kalau kita bicara khofadh maka dia tidak berlaku untuk fiil karena khofadh/jar itu tanda khusus isim. Tidak mungkin ada fiil yang majrur.

Begitupun jazm, jazm ini adalah tanda khusus fiil. Tidak ada isim yang majzum.

وَ لِلجَزْمِ عَلاَمَتَانِ

📌 وَ هُمَا السُّكُوْنُ وَ الحَذْفُ.

Jazm punya dua tanda :

1. SUKUN

2. dan الحَذْفُ MEMBUANG.

1⃣ ١. – السُّكُوْنُ:

وَ يَكُوْنُ عَلاَمَةً لِلجَزْمِ فِي الفِعْلِ المُضَارِعِ الصَّحِيْحِ الآخِرِ

← أَيْ: الَّذِي لَيْسَ آخِيْرُهُ حَرْفَ عِلَّةٍ: (أَلِفًا-أَوْ وَاوًا-أَوْ يَاءً)

Yang pertama sukun dia menjadi tanda jazm pada fiil mudhoori’ yang shohih akhirnya.

Jadi definisi dari fiil mudhoori’ shohih akhirnya,  bukan fiil mudhoori’ yang shohih, tapi yang akhirnya.  Jadi patokannya bukan -kalau kita bicara Fi’il shohih kan fiil yang tidak mengandung huruf illat- tapi yang dimaksud dalam pembahasan ini bukan huruf fa’ fiil dan ‘ain fiilnya , tapi yang lam-fiilnya.

=> Berarti yang huruf terakhirnya.

Jadi kalau ada fiil mudhoori’ yang shohih akhir maka ketika jazm dia sukun.

Apa itu fiil mudhoori’yang shohih akhir? ↓

← أَيْ: الَّذِي لَيْسَ آخِيْرُهُ حَرْفَ عِلَّةٍ: (أَلِفًا-أَوْ وَاوًا-أَوْ يَاءً)

_yang pada akhirnya tidak ada huruf illatnya_

Jadi pada huruf terakhirnya tidak ada huruf illatnya. Apa itu huruf illat? Disini disebut alif , wawu atau ya’.

نَحْوُ : لَمْ يَكْتُبْ:

Kita tahu bahwasanya :

يَكْتُبُ – Asalnya kan yaktubu , ketika ada Lam menjadi lam yaktub.

Yaktubu huruf terakhirnya adalah ba’ maka dia termasuk fiil mudhoori’shohih akhir.

Tapi nanti kalau ada fiil mudhoori’ yang diakhiri oleh huruf illat maka dia ketika jazm tidak sukun tapi tanda yang kedua yaitu *membuang*.

فَيَكْتُبْ فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُوْمٌ بِ(لَمْ) وَ عَلاَمَةُ جَزْمِهِ السُّكُوْنُ

Maka يَكْتُبْ fiil mudhoori’ yang dijazmkan dengan Lam لَمْ dan tanda jazmnya adalah sukun.

Ini tanda yang pertama.

Jadi kesimpulannya : yang ketika jazm tandanya sukun adalah fiil mudhoori’ yang shohih akhirnya.

Seperti kalau :

يَكْتُبُ -تَكْتُبُ – أَكْتُبُ، نَكْتُبُ ،

لَمْ يَكْتُبْ ، لَمْ تَكْتُبْ، لَمْ أَكْتُبْ ، لَمْ نَكْتُبْ ،

Adapun sisanya nanti mengikuti tanda yang kedua yaitu : الحَذْفُ membuang.

Sekarang kita bahas yang kedua :

2⃣ ٢.- الحَذْفُ: وَهُوَ عَلَى نُوعَيْنِ

Membuang  Ada dua macam. Jadi ada dua jenis pembuangan :

🌀  حَذْفِ حَرْفِ العِلَّةِ: وَ يَكُوْنُ فِي الفِعْلِ المُضَارِعِ  المُعْتَلِّ الآخِرِ

💧1. Yang pertama membuang huruf illat.

Ini terjadi pada fiil mudhoori’ yang mu’tal akhirnya. Bukan hanya fiil mudhoori’yang mu’tal saja, tapi fiil mudhoori’ yang mu’talnya diakhirnya.

Yaitu => fiil mudhoori’ naqish -mu’tal naqish-.

Fiil mudhoori’ yang mu’tal diakhirnya.

نَحْوُ: زَيْدٌ لَمْ يَسْعَ ،وَ لَمْ يَدْعُ ،وَ لَمْ يَمْشِ

Contohnya : “Zaid dia tidak berusaha, dan tidak berdoa , dan tidak jalan.”

Asalnya :

📌 يَسْعَى ، ada alif maqshuroh nya, Ketika ada لَمْ, jadi :

📌  َلَمْ يَسْع ، pendek dia, alif maqshurohnya dibuang

Asalnya =>

📌  يَدْعُوْ   ada wawunya , ketika ada لَمْ, jadi :

📌  لَمْ يَدْعُ  pendek jadinya

Asalnya =>

📌 يَمْشِي  ada ya’-nya , ketika ada لَمْ, ya’-nya dibuang :

📌 وَلَمْ يَمْشِ

Ini contoh fiil-fiil yang diakhiri oleh huruf illat alif ,wawu dan ya’.

Ketika ada huruf jazm di depannya dibuang huruf illatnya

لَمْ يَسْعَ ,َ لَمْ يَدْعُ، لَمْ يَمْشِ

فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الأَفْعَالِ فِعْلٌ مُضَارِعٌ مُعْتَلُّ الآخِرِ مَجْزُوْمٌ وَ عَلاَمَةُ جَزْمِهِ حَذْفُ حَرْفِ العِلَّةِ

Setiap dari fiil-fiil yang disebutkan ini adalah fiil mudhoori’  yang mu’tal akhirnya dijazmkan dan tanda jazmnya adalah membuang huruf illat.

Jadi kalau fiil-fiil yang diakhiri oleh huruf illat ketika jazm, tanda jazmnya adalah dibuang huruf illatnya.

Asalnya =>

📌 يَسْعَى  ⬅ لَمْ يَسْعَ

📌 يَدْعُوْ   ⬅ لَمْ يَدْعُ

📌 يَمْشِي  ⬅ لَمْ يَمْشِ

💧2. Kemudian “membuang yang kedua” jadi yang  pertama membuang huruf illat dan yang kedua حَرْفُ النُّونِ (membuang nun)

🌀 * وَ حَذْفِ النُّوْنِ: وَ يَكُوْنُ فِي الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ

Ini tentunya pada fiil-fiil yang lima

نَحْوُ:  لَمْ يَكْتُبَا، وَلَمْ يَكْتُبُوْا، وَلَمْ تَكْتُبِي

Asalnya =>

📌 يَكْتُبَانِ  jadi ⬅ لَمْ يَكْتُبَا

📌 يَكْتُبُوْنَ jadi ⬅ لَمْ يَكْتُبُوْا

📌 تَكْتُبِيْنَ  jadi ⬅ لَمْ تَكْتُبِي

📝 Dan perhatikan : khusus untuk keadaan jamak mudzakkar yaitu yang يَكْتُبُوْنَ itu _setelah wawu dikasih alif_.

📝 Kalau يَكْتُبَانِ itu tidak dikasih apa-apa , asalnya =>

📌يَكْتُبَانِ menjadi⬅  لَمْ يَكْتُبَا

( Tinggal nun-nya dibuang )

📝 Kalau تَكْتُبِيْنَ asalnya تَكْتُبِيْنَ, nun-nya dibuang تَكْتُبِي.

Tapi kalau يَكْتُبُوْنَ selain dia dibuang nun-nya kaidah penulisannya setelah wawu harus ditambahkan alif .

لَمْ يَكْتُبُوْا

📌 Alif ini pada lafadz لَمْ يَكْتُبُوْا ini untuk menandakan bahwasanya dia tanda bahwa fiil ini adalah fiil jamak.

Ini untuk membedakan antara mana , karena dikhawatirkan kalau kita hanya menuliskan :

لَمْ يَكْتُبُوْ.   (tanpa ada alifnya)

Nanti kita keliru. Kita anggap wawu ini wawu huruf illat.

📌 Padahal : لَمْ يَكْتُبُوْا adalah wawu jamak. Untuk membedakan wawu huruf illat dan wawu jamak maka setelah wawu ditambahkan alif.

Alif sebagai tanda bahwa dia adalah jamak.

فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الأَفْعَالِ فِعْلٌ مُضَارِعٌ مِنَ الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ مَجْزُوْمٌ وَ عَلاَمَةُ جَزْمِهِ حَذْفُ النُّوْنِ

Setiap dari fiil-fiil ini merupakan fiil mudhoori’ dari fiil yang lima dijazmkan dan tanda jazmnya adalah membuang nun.

___________________________

هُنَاكَ خَمْسُ عَلَامَةٍ تَكَرَّرَتْ فِي قَسْمَيْنِ مِنْ أَقْسَامِ الإِعْرَابِ:

Disana terdapat lima tanda yang berulang-ulang pada dua tempat dari pembagian-pembagian i’rab.

Jadi ada tanda irob yang menjadi tanda lebih dari satu tempat.

📭 Yang pertama : الفَتْحَةُ

✒ ١.  الفَتْحَةُ – فِي النَّصْبِ: وَ هِيَ عَلَامَةُ الأَصْلِيَةُ

Yang pertama fathah yaitu :

✒ pada  nashob  => merupakan tanda aslinya.

👈 -فِي الخَفْضِ: فِي الاِسْمِ الَّذِي لا يَنْصَرِفُ

Pada khofadh ia menjadi tanda pada isim ghairu munsharif.

Jadi fathah ini, selain menjadi tanda asli untuk nashob dia juga menjadi tanda untuk isim ghairu munsharif ketika jar.

📭 Yang kedua : الكَسْرَةُ

✒ ٢. الكَسْرَةُ -فِي الخَفْضِ: وَهِيَ عَلاَمَةُهُ الأَصْلِيَةِ

👈 فِي النَّصْبِ: فِي جَمْعِ المُؤَنَثِ  السَّالِمِ

Tanda yang kedua yang berulang pada dua tempat yaitu kasroh.

Ketika jar dia menjadi tanda asli dan pada kedudukan nashob dia menjadi tanda pada jamak muannats salim.

📭 Yang ketiga : الأَلِفُ

✒ ٣. الأَلِفُ:

👈 فِي الرَّفْعِ: عَلاَمَةٌ عَلَى رَفْعِ المُثَنَّى

👈 فِي النَّصْبِ: عَلاَمَةٌ عَلَى نَصْبِ

الأسْمَاءِ الْخَمْسَةِ

√ Alif itu pada kedudukan rofa’ menjadi tanda bagi rofanya mutsanna.

√ Pada kedudukan nashob menjadi tanda pada isim-isim yang lima.

Jadi alif selain dia menjadi tanda bagi mutsanna ketika rofa’.  Dia juga menjadi tanda bagi isim yang lima ketika nashob.

Seperti : رَأَيْتُ أَبَاكَ ، أَخَاكَ , حَمَاكَ، ذَامَالٍ

📭 Yang keempat : اليَاءُ

✒ ٤. اليَاءُ:

👈 فِي النَّصْبِ: عَلاَمَةٌ عَلَى نَصْبِ المُثَنَّى

👈 وَ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ

Ketika nashob dia menjadi tanda bagi kenashoban mustanna dan jamak mudzakkar salim. Misalkan :

√ رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ

√ رَأَيْتُ الْمُجْتَهِدِيْنَ

فِي الخَفْضِ:

👈عَلاَمَةٌ عَلَى خَفْضِ المُثَنَّى ،

👈وَ جَمْعِ المُذَكَّرِ السَّالِمِ،

👈وَ  الأَسْمَاءِ الخَمْسَةِ

Ketika jar dia menjadi tanda bagi khofadhnya mutsanna , jamak mudzakkar salim, dan isim yang lima.

📭 Kemudian yang kelima : حَذْفُ النُّوْنِ membuang nun. Membuang nun ini  :

✒ ٥. حَذْفُ النُّوْنِ:

👈 فِي النَّصْبِ : عَلاَمَةٌ عَلَى نَصْبِ الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ

Ketika nashob menjadi tanda atas kenashoban fiil yang lima

👈 فِي الجَزْمِ: عَلاَمَةٌ عَلَى جَزْمِ

الأَفْعَالِ الخَمْسَةِ

Ketika jazm menjadi tanda kejazman dari fiil-fiil yang lima.

Jadi pengarang kitab Al-Mumti’ ingin memberitahu bahwasanya dari tanda-tanda irob itu ada yang menjadi tanda pada dua tempat.

Dan ini adalah : fathah – kasroh -alif – ya’ – dan membuang nun.

Kemudian beliau menutup footnote nya dengan mengatakan :

يُلاَحَظُ أَنَّ العَلَامَاتِ الَّتِي تَكَرَّرَتْ هِيَ نَفْسُ عَلَامَاتِ النَّصْبِ

📝Disimpulkan bahwasanya tanda-tanda yang berulang-ulang itu hanyalah tanda-tanda nashob.

Jadi kalau kita perhatikan yang berulang ini fahah – kasroh –  alif – Ya’ – dan membuang nun.

Kita tahu bahwasanya semua adalah tanda-tanda dari nashob.

📝 Jadi seluruh tanda nashob, ini pasti selain menjadi tanda bagi nashob sendiri dia juga menjadi tanda bagi yang lainnya.

© Seperti fathah, selain menjadi tanda bagi nashob dia juga menjadi tanda bagi jar juga. Yaitu untuk isim ghairu munshorif.

© Kasroh , selain dia menjadi tanda asli jar, dia juga menjadi tanda bagi jamak muannats salim ketika nashob .

© Kemudian alif, selain tanda bagi rofa’ untuk mutsanna, dia juga menjadi tanda bagi isim yang lima ketika nashob.

© Begitupun ya’, dia menjadi tanda ketika nashob untuk mutsanna dan jamak mudzakkar salim, dan dia juga menjadi tanda bagi mutsanna, jamak mudzakkar salim dan isim yang lima ketika jar.

© Yang terakhir : membuang nun. Selain ia menjadi tanda bagi nashob untuk fiil yang lima, dia juga menjadi tanda ketika jazm untuk fiil-fiil yang lima juga.

📝 Kesimpulannya : yang memiliki dua tanda pada dua keadaan itu semuanya adalah tanda-tanda nashob. Karena kita tahu bahwasanya nashob tandanya ada lima yaitu: Fathah – kasroh – alif – ya’ dan membuang nun.

✒ Materi Program BINAR

 

Berkata Baik atau Diam

Tidak ada satu katapun yang terlontar dari lisan kita kecuali Allah Swt. mendengarnya. Dan, tidak ada satu kata pun yang kita ucapkan kecuali pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Oleh karena itu, beruntunglah orang yang senantiasa memelihara lisannya untuk tidak berkata kecuali yang benar dan baik saja. Sungguh beruntunglah orang yang memelihara lisannya untuk jauh dari perkataan yang sia-sia dan tiada berguna. Karena, menghindari ucapan yang sia-sia dan tiada berguna adalah ciri dari keimanan kepada Allah Swt.

Sesungguhnya ucapan kita bisa menunjukkan bagaimana kualitas diri kita. Ucapan kita menunjukkan bagaimana isi kita. Seperti moncong teko, ia hanya mengeluarkan apa yang ada di dalam teko. Maka, ketika kita banyak berkata kotor, kasar, tidak berguna, maka kita sebenarnya sedang menjatuhkan kehormatan diri kita sendiri.

Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap ucapan bani Adam itu membahayakan dirinya sendiri, kecuali kata-kata berupa amar ma’ruf dan nahyi munkar serta berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Tirmidzi).

Kata-kata itu jika sudah terlontar dari lisan kita, maka ia bagaikan anak panah yang sudah melesat dari busurnya. Ia tak bisa ditarik lagi. Apalagi jika sudah tertancap, maka jika dicabut pun ia akan meninggalkan bekas. Kata-kata yang tidak terjaga, bisa melukai perasaan orang. Dan, jika itu sudah terjadi, meminta maaf pun tidak bisa menghilangkan bekas lukanya. Bagaikan paku yang tertancap di tembok, ketika paku itu dicabut maka bekasnya tetap akan tertinggal di sana.

Oleh sebab itu, hati-hatilah dengan ucapan kita. Hindari celetak-celetuk tak karuan. Kurangi berbicara yang tidak perlu. Karena terlalu banyak berbicara yang tidak perlu akan membuat kita melantur, melebih-lebihkan cerita hingga akhirnya terjebak dalam kubangan dusta.

— Aa Gym

Doa Mohon Kesabaran dan Perlindungan

f78d520832da5d6eaa30476af9cf2044

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafr.” (QS Al-Baqarah :250)