Membangun Keluarga Harus Punya Visi yang Jelas

Keluarga adalah lingkup terkecil dari sebuah komunitas kehidupan. Dalam keluarga terdapat tatanan model pemerintahan yang sederhana. Namun, kesederhanaan ‘pemerintahan’ tersebut tidak bisa dianggap remeh. Sebab, justru kesejahteraan sebuah negara, tergantung pada kesejahteraan tatanan sosial, yang dibentuk dari ‘pemerintahan’ terkecil, yakni keluarga.

Selama ini setiap muslim yang menikah, sangat sedikit sekali yang memahami esensi dari sebuah pernikahan tersebut. Pemahaman menikah hanya sebatas sebuah kebutuhan biologis atas dasar cinta dengan lawan jenis untuk mencari kebahagiaan dan ketentraman hati. Tidak salah memang, namun nilai ketauhidannya sungguh kurang, sehingga banyak sekali kasus yang tidak seharusnya timbul dalam kerumahtanggan, timbul.. seperti tingkat perceraian yang tinggi, orientasi berumah tangga yang tak jelas, kesibukan dan kebutuhan yang tak kunjung selesai kepadatannya seiring berjalannya roda kehidupan, dan kasus-kasus lain. Penyebabnya adalah ilmu. Kurangnya ilmu menyebabkan salahnya tujuan dan salah dalam praktik untuk mencapai tujuan.

Manusia itu memiliki kecenderungan yang terbagi menjadi 3, yaitu intimacy, passion, and commitment. Intimacy adalah rasa cinta kepada saudara, keluarga, dan teman. Rasa itu menghasilkan sebuah ikatan emosional dalam tatanan sosial skala umum dengan intensitas masing-masing, seperti rasa cinta pada keluarga memiliki feel yang berbeda dengan cinta kepada teman, namun masih dalam lingkup intimacy.

Lalu Passion adalah rasa cinta atau gairah yang menggebu terhadap sesuatu. “Perasaan cinta inilah yang mengawali fitrah manusia suka kepada lawan jenisnya. Apabila tidak terkendali, maka akibatnya adalah melakukan pacaran, penuh nafsu.”

Terakhir commitment, yakni tekad terhadap sesuatu untuk suatu alasan. Konteks commitment di sini adalah tekad terhadap pasangan membangun keluarga, untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan lahir dan batin.

“Di sinilah keluarga itu terbentuk. Rasa cinta yang disalurkan secara benar dengan komitmennya terhadap pasangan adalah dibuktikan dengan sebuah pernikahan, bukan pacaran,”

Sejatinya, secara ilmiah dalam tubuh manusia, ketika kita merasakan perasaan cinta, nyaman, bugar, bergairah, terdapat hormon yang bekerja. Hormon tersebut bernama endorphine. Ketika hormon ini bekerja, di sinilah letak persimpangan kemana akan menuju, apakah cara yang berkah atau tidak.

Cara yang berkah tentunya adalah cara yang sesuai dengan syariat, dan akan sulit ditempuh jika tidak memiliki pemahaman tauhid yang murni di dalam dada. Jadi, dasar pokok agar rasa cinta kita menuju pernikahan yang penuh berkah, adalah dengan tauhid (berketuhanan) yang bukan sekedar tauhid (iman) biasa, namun juga yang murni, yaitu yang seluruh tuntunan syariat, terpenuhi dengan baik sehingga visi hidupnya jelas. Sementara cara yang tidak berkah adalah sebaliknya, yang tidak sesuai dengan syariat.

Memilih pasangan harus dengan iman. Bencana terbesar di dunia pernikahan dalam hidup adalah ketika memilih pasangan yang tak beriman, tidak menegakkan ibadah-ibadah yang menunjukkan keimanannya seperti ibadah basic/pokok yang termaktub pada rukun islam.

Setelah menikah nanti, dalam memilih tempat tinggal juga harus menggunakan ketajaman mata hati dengan penuh pertimbangan keimanan. “Pilihlah rumah yang lebih utama adalah berdekatan dengan masjid, dan bertetangga dengan orang-orang shalih, bukan rumah yang walau bebas banjir tapi di lingkungan kafir”

Dra. Wirianingsih, Msi. memberikan tips bagaimana membangun keluarga, yakni harus memiliki visi yang jelas. Tidak Cuma modal cinta, tapi sebuah tanggung jawab dan kerja sama antara suami dan istri yang saling mendukung.

Bu Wiwi sempat bercerita tentang keluarganya. Ia bersyukur mampu mendidik anak-anaknya untuk mencintai Al-Qur’an sejak dini. Alhamdulillah hampir seluruh putra putrinya mampu menghafalkan 30 juz. Subhanallah!

“Anak-anak pada usia 0 – 7 adalah masa-masa emas, seperti tanah lempung, di mana kita bisa membentuk sesuai yang kita fikirkan dan arahkan sebagaimana hadist nabi : Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi.”

Bu Wiwi juga memberikan tips mengatur jadwal untuk anak-anak dan keluarga. “Buatlah jadwal yang konsisten untuk putra putri kita, kalau perlu ditulis dan ditempelkan”, paparnya. “Jadwal saya dengan anak-anak mengaji dan tidak bisa diganggu gugat adalah ba’da maghrib dan ba’da subuh. Di dalam jadwal itu, ada mengaji dan talaqi serta murajaahnya anak-anak.”

“Ini berkat kedekatan kita dengan Al-Qur’an, Dia (Al-Qur’an) itu sumber inspirasi yang tak pernah habis, apalagi jika ditambahkan dengan sirah nabawiyah serta cerita-cerita para orang shalih seperti Imam Maliki, Imam Ghazali, Imam Syafi’i, dan lain-lain. Dengan meneladani kisah-kisah mereka, insya Allah kita bisa sukses dalam kehidupan ini.”

Sumber : Ar-Rahman Pre Wedding Academy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s